Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Urusan Jadi Mudah dengan Sedekah

Kalau saja kawan bertanya tentang apakah aku percaya bahwa sedekah itu dapat melapangkan dan memudahkan urusan. Maka, jawabannya adalah sangat percaya. Ya, saya percaya bahwa sedekah itu dapat mempermudah urusan karena saya telah pernah merasakan dan mengalaminya sendiri.

Beberapa bulan yang lalu saya diajak oleh kawan-kawan di FoSSEI Sumbar untuk bisa bergabung dengan tim peneliti dari IMZ Jakarta untuk meneliti distribusi zakat dalam mengentaskan kemiskinan di kota Padang. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut. Hitung-hitung buat menambah pengalaman, begitu pertimbangan sederhana kala itu. Setelah mendapatkan instruksi dan teknis kerja dari koordinator tim, maka mulailah kami melakukan penelitian dengan berbekal data alamat-alamat para mustahik yang kami dapatkan dari beberapa lembaga pengelola zakat di kota ini. Kami harus mewawancarai para mustahik yang alamatnya sudah ada di tangan kami.

Ketika itu hari Selasa, adalah hari ketiga saya melaksanakan penelitian. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30 WIB. Langsung menuju daerah Padang Selatan. Karena memang target penelitian hari itu adalah sekitar kecamatan Padang Selatan. Dengan bermodalkan selembar kertas yang di dalamnya telah tertulis dengan rapi alamat yang harus dikunjungi hari itu, saya susuri gang demi gang. Namun, hingga siang menjelang tak satupun alamat yang tertera dalam kertas itu ditemukan. Saya nyaris putus asa dan patah arang. Akhirnya, saya putuskan untuk shalat zuhur dulu di sebuah mesjid. Setelah shalat aku segera menuju sebuah kedai nasi untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.

Setelah makan, saya pun segera membayar di kasir dengan menyodorkan uang lembaran Rp. 20.000,- dan di kembalikan oleh kasir Rp. 7000,- rupiah. Tanpa pikir panjang aku memeberikan semua kembalian uang tadi kepada pengemis yang biasa duduk di depan kedai nasi itu. Aku berlalu menuju sepeda motor dan segera melanjutkan penelitian dengan tetap pada target mencari alamat yang sudah saya tulis dalam selembar kertas.

Ajaib, mungkin kata itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya ketika sebuah alamat yang tertulis dalam kertas dengan begitu mudah aku temukan dan disambut dengan baik oleh calon responden yang akan saya wawancarai. Penelitian kembali dilanjutkan, kurang dari sepuluh menit saya menemukan kembali alamat calon responden yang harus diwawancarai. Singkat cerita, hari itu saya bisa mewawancarai seluruh responden yang alamatnya sudah tertera dalam kertas. Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam semua target terselesaikan.

Dalam perjalanan pulang saya berfikir, apakah ini adalah buah dari sedekah yang saya berikan pada pengemis tadi. Ya, saya yakin ini adalah buah manis dari itu semua. Kawan, ini adalah satu dari sekian pengalaman yang pernah saya rasakan selama ini terkait persoalan sedekah, sekaligus menjadi alasan nyata kenapa saya masih percaya bahwa sedekah itu bisa melapangkan dan memudahkan urusan.

Ketahuilah wahai kawan, bahwa sedekah bisa jadi instrument beramal yang maha dahsyat jika dikelola dengan cara yang baik dan tepat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan urusan sosial, sebenarnya bisa diselesaikan dengan instrument yang satu ini. Sejatinya, urusan sedekah adalah perkara hati dan keikhlasan para pelakunya. Sedekah menyimpan sejuta misteri dalam kehidupan manusia. Sedekah bisa mendatangkan berkah. Kadang memang sulit meyakini hal ini. Namun, kita bisa membutikan dengan mempraktekkan atau melakukan sendiri eksprimen tentang sedekah. Allah tidak akan pernah lupa dengan janji-Nya. Bersedekahlah dan rasakan hikmahnya.

Padang, 15 April 2012

[ Selengkapnya...]
Label:

Berjuang, Lalu Nikmati Kesuksesan

Kehidupan ini terdiri dari rangkaian demi rangkaian perjuangan untuk mengapai sesuatu. Ya, tak ada dalam hidup ini yang bisa didapatkan dengan instan, semua butuh proses dan perjuangan. Meski pun ada saya berani bertaruh kalau tidak akan tahan lama. Bersinar sebantar lalu redup dan padam. Sudah banyak contoh dipertontonkan oleh lakon kehidupan bahwa yang instan itu tidak akan bertahan lama. Sebut saja beberapa artis yang terkenal secara mendadak, tenar sebentar lalu redup dan menghilang. Kenapa itu terjadi? Alasanya adalah proses yang dijalani untuk sampai ke titik itu tidak cukup untuk membuat dia bertahan diterpa badai persaingan. Dan banyak contoh lain lagi.


Kawan tentu masih ingat dengan sebuah cerita yang mungkin sangat sering kita baca atau dengar ketika kita masih dudk di bangku sekolah dasar dulu. Kisah tentang dua ekor monyet yang yang berebut sebatang pohon pisang. Kira-kira ceritanya seperti ini. Pada suatu hari ketika dua ekor monyet sedang bermain di tepi sungai, mereka melihat sebatang pohon pisang yang hanyut. Dengan bersusah payah mereka menyeret batang pisang itu ke tepi sungai.

Ketika sudah sampai di tepi sungai, maka dua ekor monyet tadi sepakat untuk membagi batang pisang menjadi dua. Monyet pertama yang bermentalkan instan ingin mendapat bagian setengah ke atas. Kenapa? Alasannya sederhana kawan, karena pikirannya yang picik mengangap bahwa bagian atas dari pisang tadi telah berdaun dan tidak akan lama lagi tentu akan berbuah. Sementara monyet kedua harus berusaha legowo menerima jatah batang pisang setengah ke bawah yang masih memiliki akar sebagai cikal kehidupan si batang pisang. Setelah kata sepakat didapatkan, maka bergeraklah dua ekor monyet tadi ke kebun masing-masing dengan mengotong separoh dari batang pisang jatah masing-masing.

Pisang telah ditanam. Hari pertama belum ada perubahan. Pisang monyet pertama masih berdaun hijau. Sementara pisang monyet kedua belum memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Hari berganti dan waktu pun terus berjalan. Mulailah tanda-tanda kematian nampak pada pisang milik monyet pertama. Berbanding terbalik dengan pisan monyet kedua yang gurat kehidupan kian tampak jelas pada pisang yang ditanamya. Alhasil, pisang monyet kedua tumbuh dan berbuah, sedangkan monyet satu hanya merataipi pemikiranya yang salah dengan melihat kematian pisangnya. Harapan ingin cepat mandapatakan hasil malah menuai sebauh penyesalan.

Kawan, setidaknya kisah ini sudah bisa jadi pelajaran bagi kita. Bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu melewati beberapa proses sebelum menuai hasil sebagai wujud dari perjuangan kita dalam menapaki jalan menuju kesuksesan. Sejatinya proses inilah yang nantinya sangat menentukan bagaimana indahnya sebuah keberhasilan. Kita akan tahu manisnya sebuah kesuksesan dari pahitnya perjuangan yang telah kita lalui. Hidup adalah proses, maka mari kita nikmati proses itu.

Kadang sepintas lalu kesuksesan itu memang tampak mudah dan cepat. Karena kita menyaksikan di media-media yang diperlihatkan itu adalah keajaiban dari sebuah kesuksesan, bukan proses bagaimana kesuksesan itu dapat diraih. Sekali lagi saya katakan, sukses itu tidak instan, yang bisa kita lakukan hanyalah mempercepat prosesnya, bukan mengapainya dengan cara instan.

Dalam sebuah proses menuju kesuksesan perjuangan dan kesabaran mutlak diperlukan. Tanpa ini sulit kiranya kita akan sampai pada sebuah titik yang disebut dengan kesuksesan. Ada yang mengatakan bahwa orang tidak akan disebut sukses, jika belum melakukan perjuangan untuk meraih kesuksesannya. Dan sesuatu yang diperoleh tanpa usaha, sungguh itu bukanlah sebuah kesuksesan.
Mari berjuang lalu nikmati kesuksesan,..!!



Padang, 25022012

[ Selengkapnya...]
Label:

Teruslah Berbagi

Tidak ada manusia yang sempurna. Ya, tak seorang pun di dunia ini yang terlahir sebagai sesosok manusia yang sempurna. Saya, anda dan kita semua terlahir dengan berbagai kekurangan di tengah segelintir kelebihan yang kita miliki. Agaknya ini merupakan bagian dari takdir Maha Besar Allah, agar kita manusia bisa hidup saling berdampingan dan saling berbagi. Ya, kita memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin bisa untuk hidup sendiri di hamparan bumi Allah yang elok ini. Dengan alasan apapun kita tidak akan mungkin bisa mengingkari sunatullah ini. 

Apapun profesi kita, bagaimana pun status sosial kita dan seberapa pun tingginya pendidikan kita, serta tak peduli seberapa banyak gelar yang kita miliki, tetap saja kita akan membutuhkan orang lain untuk menunjang dan menjamin kelangsungan kehidupan kita di muka bumi ini. Di samping kita membutuhkan orang lain, kita juga dianjurkan untuk bisa berbagi dan membatu orang lain yang berada di sekeliling kita. Inilah bagian dari takdir Allah yang saya maksud di atas tadi. Allah tidak akan menciptakan sesuatu di kolong langit ini tanpa hikmah. Singkatnya, kita sangat dianjurkan untuk saling meberi dan menerima.

Manusia terlahir sudah ditakdirkan sebagai makhluk sosial. Itu artinya kita akan selalu saling berinteraksi antar sesama manusia dalam kehidupan ini. Di mana pun kita berada interaksi itu pasti akan terjadi. Bukankah keberadaan kita di dunia ini sangat terkait erat dengan lingkungan kita? Kita akan selalu bersosialisasi dengan orang yang ada di sekeliling kita. Nah, di dalam proses sosialisasi itulah adanya proses tukar menukar manfaat melalui kegiatan saling memberi dan menerima. Kita sangat butuh orang lain dan tidak tertutup kemungkinan oranglain juga sangat membutuhkan kita.

Karena kita sangat dianjurkan untuk memberi dan berbagi kepada sesama, maka alangkah sangat mulianya orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Bukankah baginda Rasulullah SAW pernah berpesan melalui haditsnya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan salah satu cara member manfaat kepada orang lain adalah dengan berbagi dan memberi.

Agaknya hadits Rasulluah di atas sudah cukup bagi kita untuk membuktikan bahwa kita sangat dianjurkan untuk bisa memberikan dan berbagi kepada orang lain dan lingkungan sekitar kita. Memberi dan berbagi tidak harus berupa uang atau materi. Banyak hal lain yang dapat kita berikan untuk orang di sekeliling kita. Apakah pemberian itu berbentuk ide, sumbangan pikiran, saran dan nasehat atau berupa tenaga misalnya. Apapun itu, selagi itu bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan kita, kenapa tidak kita bagi dengan orang lain.

Jika kita adalah seorang yang berilmu, maka berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Berilah manfaat orang dan lingkungan di sekeliling kita dengan ilmu yang kita punya. Ilmu jika tidak dimanfaatkan ibarat pohon tanpa buah. Tidak ada artinya. Tahukah kawan bahwa tidak ada orang yang serba tahu di dunia ini. Kita memiliki keterbatasan pengetahuan. Oleh sebab itu kita sangat dianjurkan untuk saling berbagi ilmu agar pengetahuan kita lebiah luas. Tidak ada untungnya menyembunyikan ilmu. Berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh. Jika berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh, lalu masih adakah alasan bagi kita untuk tidak berbagi ilmu? Jawablah dengan jujur dan setulus hati.

Jikalau seandainya kita adalah seseorang yang kebetulan diberikan kelimpahan materi oleh Allah, maka berbagilah dengan materi yang kita punya. Karena di dalam harta yang kita miliki itu juga terdapat hak orang lain. Gunakanlah harta dan kelimpahan materi yang kita punya itu untuk bisa membantu dan memberi maanfaat kepada orang yang hidupnya masih kurang beruntung ketimbang kita. Alangkah indahnya hidup ini jika kita mampu berbagi dengan sesama melalui kelebihan harta yang diberikan Allah kepada kita. Toh, kelebihan harta yang kita miliki juga tidak akan kita bawa mati bukan? Bukankah tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah?


Kemudian jika kita tergolong orang yang bijak, maka berbagilah dengan nasehat-nasehat yang baik yang dapat mecerahkan kehidupan seseorang. Lihatlah sekeliling kita. Pekalah terhadap lingkungan. Mungkin saja banyak orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan motivasi dan semangat dari kita.

Kalaupun kita tidak memiliki semua itu, dengan senyuman pun kita bisa berbagi. Tebarkanlah senyuman kedamaian dan persahabatan di lingkungan kita. Semoga dengan senyuman tersebut bisa memberikan kedamaian dan keharmonisan pergaulan kita di tengah-tengah masyarakat. Tetap berbagi, meskipun hanya dengan senyuman yang penuh kedamaian.

Apapun profesi dan kedudukan kita di tengah masyarakat, teruslah berbagi dan meberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Menjadi orang sukses itu memang baik dan terhormat, namun jauh lebih baik dan terhormat jika kesuksesan kita itu bisa juga dirasakan dan memberi manfaat bagi orang yang ada di sekitar kita. Dengan kata lain orang yang sukses sejati itu adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Memberi tidak akan membuat kita kekurangan. Belum ada sejarahnya orang miskin karena memberi. Juga belum ada tercatat dalam sejarah orang yang bodoh karena berbagi ilmu dengan orang lain. Namun, kenyataannya adalah sebaliknya. Dengan memberi kita akan hidup berkelimpahan. Melalui berbagi kehidupan kita akan terasa lebih bermakna.
Teruslah berbagi, dan rasakan keberkahannya…!!!

*Oleh: Heru Perdana P
Padang, 18 Oktober 2011, 14:08 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Berlayar Menuju Pulau Kesuksesan

Kawan tentu pernah bermain ke pantai, mampir ke dermaga serta pelabuhan, atau hanya sekedar lewat di tepian laut dan melihat kapal akan dan sedang berlayar mengharungi samudra. Apa yang kawan pikirkan ketika melihat pemandangan seperti itu? Ke mana pikiran kawan menerawang ketika menyaksikan pemandangan itu? Apa yang terlintas dipikiran kawan? Dan pelajaran apa yang dapat kawan petik dari proses berlayarnya sebuah kapal?

Mengenai pemandangan tetang berlayarnya sebuah kapal maka saya sangat sering melihat itu, karena memang jika akan pulang ke kampung halaman saya di pesisir bagian selatan Sumatera Barat sana, saya selalu melewati tepian laut yang menawarkan pemandangan seperti itu. Sampai suatu ketika mucul dipikiran saya bahawa proses berlayarnya kapal mengharungi samudra nan luas itu tidak ubahnya dengan bagaimana seharusnya kita mengharungi samudra kehidupan ini untuk mencapai kesuksesan. Ya, sama persis.

Kapal berlayar butuh persiapan dan harus ada tujuan. Begitu juga dengan hidup ini, butuh persiapan dan harus memiliki tujuan yang jelas. Kesuksesan seperti apa yang kita iginkan. Pulau kesuksesan seperti apa yang akan kita tuju. Dalam berlayar sebuah kapal tidak akan berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Tentu banyak halagan dan rintangan yang mau tidak mau, suka atau tidak suka mesti dihadapi demi menuju sebuah pulau yang akan dituju. Kenyataan seperti itu, tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita di dunia ini. Hidup tidak akan melulu berjalan mulus. Hidup selalu akan menawarkan masalah dan rintangan yang harus kita hadapi dan selesaikan. Hidup dan permasalahan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Lihatlah kapal yang akan berlayar itu, segala sesuatu telah dipersiapkan. Sebelum berlayar tujuanpun telah ditentukan. Agar tujuan bisa dituju dengan mudah maka dibutuhkan sebuah kompas penujuk arah dan selembar peta untuk menetukan di mana posisi kapal sedang berada. Jika tidak ada penunjuk arah maka sudah sangat dapat dipastikan bahwa kapal akan tersesat. Didalam perjalanan pun tidak sedikit hambatan yang akan ditemui. Mulai dari ombak samudra yang menggila hingga amukan badai yang siap menengelamkan kapal.

Jika kapal itu adalah kita, maka mulai saat ini kita sudah harus mulai mempersiapakan diri untuk mengharungi derasnya samudra kehidupan untuk menuju sebuah pulau kesuksesan. Kita harus tetapkan tujuan kita dari sekarang, bahwa tujuan kita hidup adalah untuk meraih kesuksesan, baik itu sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Teruslah belajar dan membaca tanda-tanda untuk menuju kesuksesan.

Kesuksesan selalu meninggkalkan petunjuk-petunjuk yang dapat kita ikuti. Petunjuk itu dapat kita lihat dan kita pelajari melalui orang-orang terdahulu yang telah merasakan manisnya madu kesuksesan setelah puas menelan pahitnya empedu kegagalan. Tidak ada salahnya meniru mereka dan menjadikan pengalaman hidup mereka sebagai kompas bagi kita agar kita tidak tersesat dan tidak terobang-ambing dalam mangharungi samudara kehidupan yang begitu deras dan keras untuk samapai ke pulau kesuksesan yang sangat kita impikan itu. Intinya, kesuksesan itu dapat kita tiru lalu ditularkan. Jalan kesuksesan itu dapat kita tiru lalu sedikit dimodifikasi, sehingga memudahkan kita untuk mencapainya, tidak perlu mencari dan meraba-raba kembali dari awal.

Selayaknya kapal yang akan berlayar, tentu kita juga butuh selembar peta perjalanan menuju pulau kesuksesan. Kita butuh sebuah peta rencana kesuksesan, agar energi dan pikiran kita tidak terbuang dengan sia-sia serta dapat menghemat waktu dalam menuju pulau kesuksesan yang menawarkan serta menjanjikan berjuta kebahagiaan. Dengan peta rancana kesuksesan tersebut kita bisa tahu sudah sejauh mana kita berlayar menuju pulau kesuksesan. Dengan peta tersebut kita sadar di mana posisi kita saat ini. Ya, peta tersebut sangat kita perlukan, bahkan sangat perlu agar kita tidak tersesat serta tengelam diterjang badai permasalahan dan terhempas diterpa obak kehidupan. Menyiapkan peta rencana kesuksesan adalah bagian dari cara mencapai kesuksesan hidup.

Ketahuilah wahai kawan, segala sesuatu memiliki cara dan arah untuk untuk meraihnya, termasuk juga mencapai kesuksesan hidup. Orang yang sukses adalah orang yang tahu dan mengerti akan kesuksesan itu dan paham dengan baik bagaimana cara mewujudkannya untuk kemudian dituangkan dalam peta rencana kesuksesan. Jika tujuan telah ditetapkan dan persiapan telah dilakukan, maka pelayaran menuju pula kesuksesan bisa dimulai. Jika kita mampu mengikuti cara itu dengan baik, maka kesuksesasan hanya perkara waktu. Cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan, berlabuh di dermaga kebahagiaan.

Kawan, dalam perjalanan menuju pulau kesuksesan itu jangan lupa bawa serta bekal kesabaran. Karena kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi terjagan ombak serta kerasnya terpaan badai permasalahan dalam mengharungi luasnya samudra kehidupan sebelum sampai di tepian pulau kesuksesan hidup. Telah banyak dipertontonkan di pentas kehidupan ini bahwa banyak manusia yang gagal sampai ke dermaga kesuksesan karena terlalu sedikit atau tidak membawa bekal kesabaran sama sekali. Hingga akhirnya meraka tengelam di tengah samudra keputus-asaan. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan.

Meraka tengelam gagal bukan karena buruknya peta perencanaan kesuksesan yang mereka susun, bukan juga karena kurangnya potensi yang mereka miliki, melainkan karena kurangnya bekal sabar yang mereka punya dan mereka bawa. Jadi, sudah jelas bagi kita bersama bahwa sikap sabar sangat penting kita miliki dalam rangka meraih kesuksesan hidup. Jika sekarang kita belum berhasil dan banyak menemukan berbagai gelombang permasalahan, tidak perlu berputus asa, tidak usaha bersedih hati dan menyalahkan Takdir Allah, karena bisa jadi ada yang salah dengan proses kerja dan usaha kita. Kesabaran bukanlah hal yang pasif, di mana kita hanya mempasrahkan diri kepada Allah. Sabar menuntut kita aktif dan berfikir untuk memperbaiki kesalahan yang ada, guna mewujudkan kesuksesan yang kelak kita harapkan dapat meberikan percikan kebahagiaan ke dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Mario Teguh pernah mengatakan, “kesabaran adalah kekuatan untuk berlaku tenang dalam penantian”.

Yakinlah wahai kawan, kesabaran itu akan membuahkan keberhasilan serta akan menghantarkan kita ke dermaga kesuksesan. Kita sadari atau tidak, jika kita mau berusahan dan terus berjuang, maka kita tidak akan mungkin terus berada dalam kesulitan. Di balik setiap gelombang kesulitan dan permasalahan pasti ada hamparan pasir jalan keluar. Kesabaran akan membawa kemudahan bagi setiap permasalahan yang kita hadapi. Dan ini telah dijanjikan Allah di dalan al-quran. Sekalai lagi saya tegaskan, jika kita sudah menetapkan tujuan yang jelas, berusaha dengan maksimal serta mengiringi setiap usaha tersebut dengan balutan kesabaran, maka cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan hidup nan indah.
Teruslah berjuang dan selamat berlayar menuju Pulau Kesuksesan..!!!



“Kesuksesan akan didapatkan dengan kesungguhan dan kegagalan terjadi akibat kemalasan bersungguh-sungguh”
~Sholahuddin As-Supadi, wafat 764 H~

*Oleh : Heru Perdana Putra
Padang, 19 September 2011, 15: 59 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

Rumput Tentangga memang selalu terlihat lebih hijau. Ya, sepenggal kalimat tersebut sangat cocok kiranya mengambarkan pandangan dan pikiran kita terhadap cara menyikapi hidup ini. Kehidupan tetangga selalu terlihat lebih bahagia ketimbang kehidupan kita. Pekerjaan orang lain selalu terlihat lebih baik dan enak ketimbang pekerjaan kita. Orang sekitar sering terlihat lebih kaya dan lebih besar penghasilannya ketimbang kita. Orang lain terilihat lebih berprestasi ketimbang kita. Pokoknya orang lain akan selalu terlihat lebih jika dibandingkan kita. Meski sebanarnya belum tentu demikian pada kenyataannya. Tapi pikiran picik kita telah terlanjur menciptakan perasaan seperti itu. Dan malangnya telah berhasil mengerogoti sebahagian besar dari hati dan perasaaan kita. 

Kita sadari atau tidak perasaan seperti tadi, perasaan yang melihat orang lain selalu lebih dari kita itu akan menciptakan sebuah virus berbahaya dalam hati kita. Virus berbahaya itu dinamakan iri dan dengki. Virus yang dapat melenyapkan kebahagian dari kehidupan kita. Virus yang akan mengikis habis dan tak bersisa rasa senang dan kepuasan dari dalam hati dan pikiran kita. Virus yang mungkin akan dapat dan mungkin bisa menciptakan sebuah virus baru yang juga berbahaya, yaitu rasa dendam. Na’uzubilahi min zalik,.!!

Tahukah kawan apa dengki itu? Secara sederhana iri atau dengki dapat diartikan sebagai sebuah emosi atau perasaan yang muncul ketika seseorang melihat dirinya memiliki kekurangan dan melihat orang yang didengkinya memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya. Kepemilikan orang yang didengki bisa berupa : kualitas kekayaan, kecerdasan, kepribadian, atau bahkan prestasi dan jaringan pertemanan atau komunitas soisal. Sebenarya sebab dasar timbulnya sikap iri dan dengki ini adalah karena didasari oleh rasa cemburu. Sebab lainnya adalah kurang mampu mensyukuri apa yang telah dianugrahkan Allah kepada kita sehingga berkat dari apa yang telah dimiliki tidak begitu terasa dan membekas dalam kehidupan. Akibatnya, pancaran kebahagian tidak bisa dirasakan oleh mereka yang menyimpan rasa iri dan dengki.


Aeschylus (525 SM - 456 SM) seorang dramawan Yunani kuno yang telah berhasil menulis lebih dari tujuh puluh naskah drama mengatakan “ Hanya sedikit orang yang bisa untuk menghormati keberhasilan orang lain tanpa rasa iri hati”. Ya, karena memang terkadang sangat sulit menerima kenyataan bahwa orang lain lebih sukses dan berhasil ketimbang kita. Dan sangat susah melihat orang lain lebih hebat daripada kita. Alasanya hanya satu, yaitu sikap egois yang masih bersemayam indah di hati dan jiwa kita manuisa. 


Iri hati hanya akan merusak dan merampas kebahagiaan dan keindahan hidup seseorang. Iri dan dengki akan menjauhkan kita dari rasa damai, sejahtera dan sukacita. Iri hati hanya akan mempersempit ruang kehidupan dan membuat penganutnya terjun bebas ke dalam jurang kesengsaraan. Hidup pengiri akan terasa hambar dan selalu dihantui oleh ketidaktenangan kerana terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki oleh orang lain sehingga lupa terhadap arti kehidupannya sendiri. Iri hati adalah virus yang mematikan. Setidaknya membuat hati kita mati dan tidak bisa bersyukur akan karunia dan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepada kita. 


Jika kita telah menyadari bahwa tidak ada untungnya menyimpan dan memelihara salah satu sifat buruk ini. Lalu, mengapa kita masih mau menyimpan sifat buruk itu? Kenapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Dan kenapa kita kita masih saja mau diperdaya olehnya? Mulai saat ini mari kita berusah untuk membuang sifat buruk itu. Ayo kita belajar menerima kelebihan orang lain yang ada di sekitar kita, karena terkadang kita harus mengakui kebenaran sepenggal kalimat bijak ini, “bahwa di atas langit masih ada langit”


Mari melihat kelebihan dan kesuksesan orang lain atau teman di sekeliling kita kita sebagai sebahagian dari kesuksesan kita. Karena dengan beranggapan seperti itu kita telah berusaha membunug sikap iri yang ada dalam diri kita. Setidaknya dengan bersikap seperti itu kita dapat bergaul dan belajar dengan mereka untuk menggapai kesuksesan dalam hidup kita. Yang pada akhirnya kita akan mampu menjadikan hal itu sebgai lecutan dan motivasi untuk bekerja lebih maksimal. Jika kita tetap memelihara sikap iri dan dengki tentu kita tidak akan mau bergaul dengan orang yang lebih dulu sukses dari kita atau seorang yang lebih baik dari kita. Jelas sifat seperti ini sangat merugikan diri kita.


Untuk mengikis habis sikap iri dari diri kita mari kita sibukkan diri kita untuk bersiap menjadi pribadi yang lebih baik dan berkualitas dari ke hari. Sehingga demikian kita tidak punya waktu lagi untuk merasa iri dengan orang lain di sekitar kita. Fokuslah untuk memperbaiki diri, bukan melihat kelebihan orang lain.


“Rasa iri menggerogoti suka cita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis”~Billy Graham

Oleh: Heru Perdana Putra
Padang, 25 Juli 2011, 00.19 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Mengatasi Rasa Kehilangan

*Pernah dimuat di HALUAN edisi Minggu, 26 juni 2011

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Rasa kehilangan umumnya sifatnya adalah pribadi. Kecuali jika kita menceritakannya pada orang lain. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Saya, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya. Ironisnya, tak seorangpun diantara kita yang tidak pernah merasakan kehilangan. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya. Dan inilah persoalan sesungguhnya dari sebuah pristiwa kehilangan.

Kehilangan akan tetap terjadi dalam setiap fase kehidupan kita. Karena memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan berubah dan selalu akan melibatkan “rasa kehilangan” dalam persoalan ini. Di samping itu, kehilangan ini merupakan bahagian dari takdir Allah yang harus kita terima selaku hamba Allah di muka bumi ini. Jika kehilangan itu tidak bisa kita hilangkan secara total dari kehidupan kita, tentu kita perlu mempersiapkan cara jitu agar kehilangan itu tidak membuat kita terkurung dalam lingkaran kesedihan yang tidak berujung dan akan membuat hari-hari kita begitu terasa sulit dan menjemukan.

Sebanarnya tidak ada cara baku dalam mengahadapi rasa kehilangan ini. Kerana seperti yang disinggung di awal tadi, rasa kehilangan adalah persoalan pribadi dan tentunya membutuhkan cara secara pribadi pula dalam mengatasi persoalan ini. Namun demikian setidaknya saya akan berbagi beberapa cara dalam mengatasi rasa kehilangan dan kesedihan karena kehilangan. Pertama, biarkan diri kita sejenak hanyut dalam luapan perasaan dan emosi ketika kehilangan. Emosi dan rasa sedih itu perlu pelampiasan. Namun ingat, kita juga harus melepasknnya dengan cara yang tepat. Mungkin menagis atau berbagi dengan orang lain adalah salah salah satu caranya. Dan yang paling penting, jangan biarkan diri kita terlalu lama dalam kondisi ini. Sepuluh menit saja mungkin cukup, setelah itu lemparkan rasa kehilangan dan kesedihan itu jauh-jauh dari diri kita. Lalu tatap masa depan!

Kedua, selalu melihat sebuah peristiwa dari sisi positifnya. Setidaknya dengan selalu berfikir positif dan melihat sebuah pristiwa dari sisi positifnya kita telah berusaha mengahadirkan energi positif ke dalam diri kita. Kehilangan yang awalnya menyakitkan jika dipandang dari sisi positif mungkin akan jadi sesuatu yang bisa membuat kita bisa belajar agar lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, yakinkan diri kita bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemapuan kita. Setiap hamba di muka bumi ini tentu tidak akan luput dari ujian dari Allah. Dan salah satu bentuk ujian itu adalah kehilangan. Jika kebetulan kehilangan itu mengahmpiri kita, berarti Allah menilai kita sanggup untuk menerima ujian tersebut sebagai sarana naik kelas menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik. Yakinlah setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan. Dan ini adalah janji Allah yang telah termaktub dalam Al-quran. Tidak usah bersedih dan hanyut dalam kesedihan.

Keempat, yakin bahwa Allah maha Pengasih dan Maha Penyayang. Firman Allah yang termaktub dalam surat al-Fatihah yang berbunyi,”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang” memberikan kekuatan kepada kita agar kita tidak berputus asa dan larut dalam kesedihan jika dilanda persoalan kehidupan, termasuk rasa kehilangan. Ayat ini memotivasi kita agar senantiasa berjuang, karena masih banyak rahmat dan nikmat Allah yang bisa kita raih di atas bumi ini.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan Allah dalam persoalan kehilangan. Jangan sampai kita menyalahkan diri sendiri dengan kehilangan yang melanda kita, karena hal itu hanya akan membuat kita makin terpuruk dalam jurang kesedihan. Kita juga jangan sampai menyalahkan Allah dalam masalah rasa kehilangan ini, karena hal itu akan memicu kita menjadi hamba yang mudah berputus asa dari nikmat dan karunia Allah.

Keenam, jangan fokuskan pikiran pada rasa kehilangan, tapi lihatlah berapa banyak nikmat dan Karunia Allah yang telah kita terima. Pernahkan kita merenungkan berapa banyak nikmat dan karunia Allah yang telah kita terima selama hidup di dinia ini? Ketika kita diuji oleh Allah dalam bentuk kehilangan sesuatu yang kita cintai, maka ingatlah masih banyak nikmat Allah yang lain yang patut kita syukuri. Berhentilah bersedih, lalu bersyukurlah!

Yang terakhir, perbanyaklah berdoa dan mengingat Allah, Rabb Yang Maha Berkehendak. Karena dengan memperbanyak mengingat Allah dan memasrahkan diri kepada-Nya adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dalam menerima kenyaataan hidup. Ingatlah, tidak ada kejadian yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tanpa hikmah, dan kehilangan merupakan bagian dari proses perubahan kehidupan kita.

Sekali lagi, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, setidaknya dengan merenungi beberapa hal di atas ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan itu antara lain, Belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Padang, 22 Juni 2011, 14.30 WIB
*Oleh: Heru Perdana



[ Selengkapnya...]
Label:

Hiduplah Bagaikan Padi

Ketika menamatkan pendidikan di sebuah madrasah, aku melanjutkan pendidikanku ke sebuah perguruan tinggi agama. Semenjak berubah status dari siswa menjadi mahasiswa ini aku mulai sering mengunjungi kampung halamanku alias pulang kampung. Sebuah kegiatan yang jarang aku lakukan ketika aku masih duduk di bangku madrasah dulu. Sekarang aku telah kuliah dan telah menjadi mahasiswa, momen ini aku gunakan untuk bisa lebih sering pulang kampung, karena memang jadwal kuliahku tidak sepadat jadwalku ketika sekolah dulu. Selain bisa lebih sering bertemu orang tuaku, rutinitas ini juga membuat aku bisa lebih merasa dekat dengan kawan-kawan kecilku dulu yang telah aku tinggalkan semenjak tamat SD. 

Suatu ketika, aku pulang kampung ketika orang di kampungku tengah sibuk menanam padi, di kamupungku momen itu diistilahkan dengan musim bertanam. Di kampungku memang kegiatan utama ekonomi masyarakat adalah bertani. Alasan aku pulang pun juga untuk membantu orang tuaku untuk menanam padi di sawah. Ya, karena aku tidak bisa pungkiri, aku bisa bersekolah seperti ini banyak sedikitnya adalah dari hasil sawah yang diolah oleh orang tuaku. 


Kira-kira dua setengah bulan berselang semenjak musim bertanam itu berlalu, padi yang kami tanam sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir yang akan berkembang menjadi buah padi. Semakin hari bulir tersebut semakin berisi. Aku pun masih sering pulang ke kampung dan menyaksikan perkembangan pertumbuhan padi itu.

Kawan, kali ini aku tidak akan membahas tentang masalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, karena aku bukanlah mahasiswa pertanian. Tapi ada satu hal menarik yang patut kita tiru dan kita contoh dari padi. Kawan tentu ingat dengan sebuah nesehat orang bijak ini, “jadilah seperti padi, semakin berisi semakin meruduk”. Nah, itulah yang akan coba aku bagi dengan kawan-kawan.

Kala itu, aku tengah duduk di belakang rumahku di suatu pagi yang cerah. Di belakang rumahku memang ada beberapa petak sawah dan salah satunya adalah sawah milik orang tuaku. Entah kenapa pagi itu aku tiba-tiba saja teringat perkatan habat orang bijak itu. Mungkin saja karena hanyut dengan pemandangan yang aku lihat ketika itu atau mungkin juga karena sebuah bacaan yang aku baca malam tadi. Dan juga tidak tertutup kamungkinan kedua alasan yang aku sebutkan tadi adalah penyebabnya. Tidak penting membahas itu, yang lebih penting adalah aku ingin berbagi dengan kawan melalui tulisan ini.

Allah yang Maha Kuasa melalui alam ciptaan-Nya memang telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita. Pelajaran itu tentu akan kita dapatkan jika kita benar-banar mau memperhatikan ciptaan-Nya. Padi adalah salah satu contoh ciptaan Allah yang patut kita tiru dan teladani.

Padi jika semakin berisi, maka akan semakin merunduk. Kita hendaknya selaku manusia juga harus bisa seperti itu. Idealnya semakin banyak kita tahu dan mememiliki ilmu bukan lantas membuat kita menjadi sumbong dan angkuh, lalu meremehkan orang lain. Berlakulah layaknya padi, semakin berisi dan berpengetahuan kita harus rendah hati.

Tahukah kawan bahwa penyebab kahancuran sesorang itu lebih banyak disebabkan oleh faktor dalam dirinya sendiri.? Kesombongan adalah salah satu sifat yang memberikan kontribusi terbesar dalam proses kehancuran itu, jika kita tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Kesombongan adalah awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul. Seperti gelas yang telah terisi penuh, orang sombong tidak akan mau menerima pengetahuan dan informasi baru dari orang lain, karena telah meresa dirinya hebat dan tidak butuh orang lain. Orang sombong juga sulit untuk membagi apa yang ia punya dengan orang lain, karena takut tersaingi oleh orang lain.

Berlakulah seperti padi yang semakin merunduk jika berisi. Kita harus selalu berlaku rendah hati, karena dengan demikian kita akan mudah memperoleh dan menrima informasi serta ilmu baru. Sehingga membuat kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dengan begitu kehidupan akan lebih terasa indah dan ringan untuk dijalani.

Selain semakin berisi semakin merunduk, ada lagi yang menarik dari padi. Padi adalah tanaman yang sangat banyak memberikan manfaat buat kita manusia. Sifat ini dari padi juga patut kita tiru. Kita harus jadi manusia yang memberikan manfaat buat orang dan lingkungan di sekitar kita. Bukankah manusia paling mulia itu adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain.?

Ya, kita harus siap menularkan ilmu dan kelebihan materi yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Kita tidak boleh menyimpan ilmu itu sendiri, karena hal itu akan bisa membuat kita terjerumus ke dalam jebakan-jebakan kesepian kehidupan. Ketika kita tidak mau lagi berbagi dengan orang lain tentu orang lain juga tidak akan mau lagi berinteraksi dengan kita, alhasil kita akan terjerembab kedalam jebakan kesepian yang kita ciptakan sendiri. Kalau sudah begini maka hidup dan dunia ini akan terasa sempit. Kawan, bagaimana pun juga manusia tidak akan bisa mengingkari fitrahnya sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial itu hidup membutuhkan orang lain.

Padi adalah tanaman hebat, yang bisa beradaptasi dengan lingkungan. Selain di sawah, padi juga bisa tumbuh di ladang atau perbukitan. Jika padi ditanam di sawah maka kehidupan padi itu relatif enak dan mudah karena pasokan air tersedia cukup. Lalu bagaimana dengan padi di ladang atau perbukitan? Padi juga bisa hidup di sana, walau harus ditanam pada musim hujan dan padi harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berat itu.

Lagi-lagi sifat seperti ini patut kita teladani dari tanaman yang bernama padi. Kita juga harus bisa menyesuikan diri dengan lingkungan. Kita harus tahan banting dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar tepat kita hidup. Karena hidup tidak melulu dihiasi dengan kesenangan belaka, selalu saja ada duka menyertainya. Kita harus siap dengan setiap kemungkinan kehidupan yang akan kita temui. Sesulit apapun kehidupan, kita harus berusaha tetap memberikan manfaat terhadap orang di sekeliling kita, layaknya padi tadi.

Sungguh luar biasa, pesan-pesan kehidupan itu disampaikan Allah melalui tanaman padi. Mari kita buka mata kita untuk selalu mempelajari ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari alam.


Oleh: Heru Perdana
Padang, 03 Juni 2011, 11: 15 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Antara Pinta dan syukur

Allah, Tuhan semesta alam adalah Rabb yang maha penggasih dan lagi Maha Penyayang kepada umatnya. Kasih dan sayang Allah itu tidak bertepi, tanpa batas. Bahkan pada saat tertntu, belum kita minta Allah sudah berikan untuk kita. Sebut saja udara dan air, dua elemen penting yang sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup setiap insan di muka bumi ini, Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma tanpa harus membayar. Coba kawan bayangkan, jika udara dan air itu harus kita bayar. Berapa rupiah yang harus kita keluarkan setiapa hari hanya untuk udara dan air, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Namun, persoalannya disini bukanlah soal bayar membayar, akan tetapi sudah sejauh mana kita bersyukur atas karunia Allah kepada kita selama ini.

Air dan udara adalah dua contoh kecil karunia Allah, namun bermanfaat sangat besar dalam kehidupan kita, yang diberikan kepada saya, anda dan kita semua tanpa harus kita minta dan tersedia sangat banyak di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan karunia Allah yang sering kita minta dan dikabulkan, apakah kita sudah bersyukur atas semua itu? Jawablah dengan setulus hati dan penuh kejujuran.

Allah itu Tuhan yang Maha mengabulkan pinta setiap hamba-Nya. Hal itu telah dijanjikan Allah kepada kita dan telah termaktub dalam kitab suci al-qur’an. ”Mintalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan”, begitu janji Allah kepada kita.
Namun perlu kita ketahui bersama bahwa tidak semua pinta hambaNya dikabulkan begitu saja oleh Allah.

Kita sering berdoa dan memohon pinta kepada Allah. Kita sadari atau tidak, kadang doa dan pinta kita itu terkesan menyuruh Allah. Begitu banyak doa yang telah kita panjatkan kepada Allah, namun kadang tak kunjung dikabulkan dan dijawab oleh Allah. Apakah Allah tidak lagi sayang kepada hambaNya? Belum tentu, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan dan langsung menuduh Allah tidak sayang kepada kita. Alangkah bijak rasanya jika kita mau bercermin diri, mungkin saja sebabnya ada pada diri kita sendiri yang mebuat doa dan pinta kita tak kunjung diijabah oleh Allah.

Ketika doa kita tidak dikabulkan oleh Allah, bukan berarti Allah tidak sayang lagi kepada kita. Juga tidak berarti Allah tidak mendengar doa kita. Allah itu Maha mendengar dan Maha Mengabulkan pinta hambaNya. Mungkin persolannya disini adalah kita terlalu sibuk meminta dan selalu berdoa sehingga lupa memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah berupa pengabulan doa. Kadang kita juga tidak ingat bersyukur akan karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Ketahuilah wahai kawan, syukur juga erat kaitannya dengan pengkabulan doa dan pinta kita.

Analoginya seperti ini, ketika kita meminta atau meminjam barang kepada seorang teman, katakanlah meminjam atau meminta sebuah buku. Lalu kita lupa untuk menjaganya sehingga buku yang kita pinjam itu rusak dan tidak terawat. Beberapa waktu kemudian, kita mau minta atau meminjam lagi barang yang lebih besar nilanya kepada teman tersebut sementara dia tahu kita tidak merawat peberian dan barang yang dipinjamkannya beberapa waktu yang lalu kepada kita. Maka sang teman tadi akan berpikir dua kali untuk meminjamkan atau memberikan sesuatu kepada kita lagi. Karena dia merasa kita belum pantas menerima pemberiannya. Teman kita itu akan mengira bahwa kita tidak bersyukur atas pemberiannya karena kita tidak merawat apa yang dia beri atau pinjamkan.

Jika manusia saja bisa berlaku seperti itu, apalagi Allah. Allah akan lihat seberapa banyak syukur yang kita panjatkan kepadaNya untuk mengabulkan doa dan pinta yang selalu kita mohonkan kepada Allah. Ya, semua kembali kepada kata “Syukur”, sebuah kata yang sangat ringan diucapkan, namun kadang sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan. Menurut dr. Andhyka P. Sedyawan, “Syukur tidak sekedar mengucapkan terimakasih terhadap sebuah sebuah pemberian, tapi cara kita bertanggung jawab terhadap pemberian itu”.

Terkait persoalan syukur ini Allah juga telah mengingatkan kita melalui firmanNya:
“Jika kamu bersyukur pasti akan Ku tamabah (nikmatKu) untukmu, dan apabila kamu ingkar maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)
Firman Allah dalam surat ibrahim ayat 7 tersebut tidak hanya sekedar janji kosong belaka, pasti Allah akan tepati janji-Nya itu. Oleh sebab itu, kita jangan hanya pandai meminta dan berdoa saja. Doa dan pinta itu perlu diiringi dengan rasa syukur.

Kawan, syukur itu memang sangat penting adanya. Tidak hanya ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan kita harus bersyukur, akan tetapi ketika kita tidak mendapatkan sesuatu atau gagal pun sejatinya kita harus bersyukur, karena dengan kegagalan itu kita bisa belajar untuk bisa lebih baik agar tidak gagal lagi di kemudian hari. Ketika kita berada pada saat-saat sulit, kita juga harus tetap bersyukur. Karena di masa itulah kita tumbuh dan memperkuat mental dalam mengharungi bahtera kehidupan yang sangat sulit untuk ditebak.

Kawan, ketika doa dan pinta kita ditolak jangan langsung putus asa dan mengumpat kepada Allah. Kadang Allah tidak berikan apa yang kita mau, namun Allah akan berikan apa yang kita butuh. Belum tentu apa yang kita minta dan baik menurut kita itu benar-benar baik untuk kehidupan kita. Berhentilah menyalahkan Allah jika keinginan kita tidak dikabulkan. Mari kita bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita seraya tetap memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah dalam bentuk pengabulan doa dan pinta kita.

Tahukah kawan di dalam buku the secret pernah ditulis, bahwa syukur adalah anak tangga mutlak untuk memastikan hadirnya kesuksesan dalam kehidupan kita. Kesuksesan sangat erat kaitannya denga “syukur”.

Mintalah, lalu pantaskanlah diri Anda untuk menerima anugrah pengabulan atas pinta Anda dari Allah dengan memperbanyak Syukur…!!!

Oleh: Heru Perdana
Padang, 18 Mai 2011, 18:13 WIB



[ Selengkapnya...]
Label:

Bak Ijuk Tak Bersaga

Jika kawan bertanya tentang seberapa penting kekuatan mental dalam mengharungi samudra kehidupan ini, maka jawaban terbaik yang bisa diberikan adalah” sangat penting”, dan bahkan lebih penting dari kehebatan kemampuan intelektual. Meskipun antara keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Kemampuan berfikir yang sangat hebat dan luar bisa tanpa didukung oleh kekuatan mental yang mupuni maka tidak akan berati apa-apa, alias tidak ada kekuatanya. Pepatah minang menyebutkan “bak ijuak indak basaga”. Tidak memiliki kekuatan.


Kita sadari atau tidak, hidup ini tidak melulu lurus-lurus saja. Hidup penuh lika-liku. Dalam hidup tentu ada halangan, yang lebih populer kita kenal dengan istilah masalah. Untuk mengahdapi masalah dalam kehidupan ini tentu tidak akan cukup hanya dengan kecerdasan pikiran saja tanpa didukung oleh kekuatan mental yang hebat pula. Banyak orang yang gagal karena tidak mampu menata mental dan emosi dengan baik.

Ada sebuah cerita tentang seorang kawan yang memiliki kecerdasan intelektual yang sangat luar biasa dan pantas diacungi jempol. Sebut saja namanya Uyung. Uyung adalah sesosok manusia cerdas yang pernah bersekolah di sebuah SMA faforit di kotanya. Semua pengahargaan dan prestasi akademik telah berhasil diraihnya. Tropi dan mendali hasil dari kecerdasannya juga telah berjejer rapi di lemari rumahnya. Namun, petaka mulai datang ketika Uyung menginjak masa-masa duduk di kelas tiga, ia memutuskan untuk tidak sekolah sampai selama delapan bulan hanya karena merasa tidak dihargai oleh teman-teman seangkatannya. Untung saja dia masih bisa mengikuti ujian karena pertimbangan keerdasannya dan segenap prestasi yang telah ditorehkannya untuk sekolahnya itu. Akhirnya ia bisa juga lulus dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Ketika kuliah di perguruan tinggipun Uyung memiliki cerita menarik sekaligus memilukan. Dia diterima di sebuah perguruan tinggi faforit yang juga masih berada di kotanya. Ia diterima pada pilihan keduanya, yaitu farmasi. Sebuah jurusan yang mungkin tidak semua orang mampu untuk mencapainya. Akan tetapi, Uyung hanya bertahan di sana tidak lebih dari dua semester saja. Alasan dia meninggalkan kampusnya itu juga masih desebabkan karena hal-hal “spele”. Kecerdasan Uyung yang luar biasa dapat perhatian khusus dari dosennya dan memicu kecemburuan sosial di kalangan kawan seangkatan dan para seniornya. Celakanya, Uyung tidak siap mental dengan keadaan itu. Padahal kalau saja dia bisa sedikit cerdas mengelola kekuatan mentalnya , mungkin keputusan “bodoh” meninggalkan kampusnya itu tak perlu ditempuhnya.

Akhirnya, Uyung memutuskan untuk memulai kembali kuliahnya disebuah perguruan tinggi agama, yang lagi-lagi masih di kotanya. Di sana ia mulai mendapati sedikit ketenangan dan bisa menikmati kecerdasannya. Namun sayang, hal itu juga tidak bisa bertahan lama. Ironisnya, Uyung mengalami “mimpi buruknya” kembali di saat-saat ia dan kawan-kawannya mulai menyusun tugas akhir sebelum diwisuda dan dinobatkan menjadi seorang sarjana. Uyung tidak cukup kuat mental dalam menghadapi birokrasi yang sedikit agak berbeli-belit dan “bertele-tele”.

Di saat kawan-kawannya mampu menata mental untuk mengahdapi itu semua, Uyung malah memilih mundur dan keluar dari jalur perjuangan menuju tangga sarjana, tidak melanjutkan kuliahnya lagi. Padahal hanya tinggal selangkah lagi untuk meniti tangga sukses di kampus itu. Ironis memang, tapi itulah yang terjadi dengan seorang Uyung yang begitu cerdas. Tapi sayang kecerdasannya yang laur biasa tidak didukung dengan kekuatan mental dan emosi yang mupuni. Sehingga ia mundur, dan mengalah pada nasib. Uyung bak ijuk yang tak bersaga. Semoga saja kita tidak menjadi Uyung-uyung selanjutnya.

Sepenggal kisah miris tentang seorang Uyung tadi sudah cukup kiranya bagi kita betapa pentingnya bagi kita menata kekuatan mental untuk menghadapi pergolakan permasalahan kehidupan ini. Kekuatan mental inilah yang sering disebut oleh para ahli kita dengan kecerdasan emosional (EQ). Yang dewasa ini dipercaya kedudukannya lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). 


Telah banyak juga dipertontonkan di pentas kehidupan bahwa mereka yang sukses itu adalah mereka yang memiliki kekuatan mental dan emosi yang hebat. Sebut saja sederetan nama besar seperti Andri Wongso seorang motivator ternama di Indonesia, Bob Sadino seorang pengusaha sukses yang selalu mengenakan celana pendek kemana pergi, Purdi Chandra pemilik lembaga bimbingan belajar primagama, dan banyak lagi mereka yang sukses karena kemampuan dalam menata mental dan emosi.

Nama-nama besar yang kita sebutkan di atas tadi, terbilang memiliki kemampuan intektual yang tergolong biasa-biasa saja, namun mereka mampu mengelola kekuatan mental dan emosi dengan baik. Kekuatan mental yang luar biasa itulah yang mereka gunakan untuk bangkit dari setiap kegagalan yang mereka terima. Kekuatan emosi yang bagus pula yang telah berhasil membuat mereka keluar dari segenap masalah kehidupan yang menerpa kehidupan mereka. Mereka memandang kegagalan dan masalah kehidupan bukanlah akhir dari segala-galanya, namun merupakan awal dari sebuah kehidupan yang lebih baik dan sarana pendewasaan diri.

Jadi, mari mulai saat ini kita tata kekuatan mental dan emosi kita dengan baik, agar kita tidak seperti ijuk tak bersaga.


*Oleh: Heru Perdana
Padang, 27 April 2011, 15:33 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Perbedaan Itu Indah

Perbedaan itu rahmat,.!!!

Ungkapan singkat namun sarat makna di atas tidak hanya sekedar ungkapan saja, akan tetapi lebih kepada janji Allah terhadap kita, jika kita mampu menyikapi perbedaan yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini dengan baik. Memang menyikapi dan menerima perbedaan itu kadang terasa sulit. Bahkan tidak sedikit juga di antara kita yang gagal dalam menyikapinya. Keyataan seperti itu tidak bisa kita pungkiri.

Kawan, coba mari kita buka mata lalu llihatlah sekeliling kita. Betapa indahnya hidup dan dunia ini dengan segala perbedaannya. Warna-warni bunga dan tanaman, aneka jenis satwa dengan segala keunikannya dan segala keragaman lain yang menambah indah dan menariknya hidup kita di dunia ini. Coba kawan bayangkan, jika saja di dunia ini kita hidup hanya dengan warna hitam atau putih saja tentu hidup ini terasa bosan dan menjemukan. Tanpa ada warna-warni linkungan tentu kita tidak akan bisa menikmati kehidupan seindah saat sekarang ini.

Nah, begitu juga sebenarnya dengan rona kehidupan manusia. Setiap insan di dunia ini selalu saja dihadapkan pada berbagai macam perbedaan dan warna-warni permaslahan hidup. bagaimanapun juga kita tidak akan mungkin terlepas dari kenyaatan seperti ini. Namun sayang, tidak semua orang yang berhasil menyikapi perbedaan ini dengan arif dan bijak. Kadang keegoisan manusialah yang membuat mereka menutup mata dengan indahnya perbedaan itu yang nyata-nyata hanya mengahantarkan mereka ke dalam jurang permasalahan. Akhirnya mereka sendiri yang tersiksa karena tidak mampu menikmati indahnya perbedaan.

Ironisnya lagi, segala bentuk kekerasan dan perpecahan yang terjadi dewasa ini merupakan wujud dari kegagalan dan keegoismean manusia dalam menyikapi perbedaan. Berbagai macam tindak kriminalitas dan kejahatan dimulai hanya karena alasan perbedaan. Apakah itu perbedan budaya, ras, bahasa, agama, tingkat ekonomi, prinsip, pandangan hidup, atau hanya sekedar pendapat. Dan tidak jarang juga berbagai bentuk kegagalan dalam menyikapi perbedaan ini berujung pada hilangnya nyawa seseorang atau sekelompok orang. Tragis bukan,.???

Perbedaan sangat sulit dihilangkan dari permukaan bumi ini, dan bahkan mungkin tidak akan mungkin diwujudkan. Pada dasarnya manusia ini terlahir sudah berbeda antara satu dan yang lainnya lengkap dengan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan bentuk fisik, warna kulit, pola pikir, hobi,kesukaan dan perbedaan lainnya. Allah punya rencana besar dengan penciptaan itu, agar kita bisa berfikir dan kehidupan kita bisa lebih hidup dan berwarna. Bukan malah menjadikankan perbedaan sebagai ajang perpecahan dan pertikaian.

Ketahuilah wahai kawan, tidak mungkin sesuatu hal di dunia ini sama. Dan kesamaanpun tidak selalu menguntungkan. Coba kawan bayangkan, jika saja didunia ini semua orang sama, apa yang akan terjadi? Jika semua orang adalah pedagang, lalu siapa yang akan membeli dagangannya? Jika semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam hal memimpin, maka siapa lagi yang akan dipimpin? Jika semua orang kaya di dunia ini, siapa lagi yang akan menerima zakat dan sedekah? Lalu siapa lagi yang akan bekerja jadi karyawan, jika semua orang ditakdirkan kaya dan punya modal? Inilah contoh kecil dari rencana besar Allah dalam menciptakan hidup kita dalam balutan perbedaan. Sekarang tergantung lagi bagaimana kita meneriman dan menyikapi perbedaan itu. jika kita mampu dengan baik menyikapinya, maka raahmat dan keberkahan hidup yang dijanjikan Allah akan bisa kita dapatkan.

Bahkan, tanpa kawan sadari kegiatan ekonomi yang terjadi di dunia ini juga diawali oleh “pebedaan”. Apakah kegiatan ekonomi yang melibatkan individu dengan individu, individu dengan kelompok atau perusahan, kelompok dengan kelompok, dan Negara dengan individu atau kelompok. Semua berawal dari adanya pihak yang membutuhkan dan pihak yang memiliki kelebihan sehingga terjadilah transaksi jual beli atau hanya sekedar pinjam meminjam. Sungguh indah bukan “perbedaan” jika kita sikapi dengan baik?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita teguk dari manisnya madu perbedaan. Karena perbedaan tidak mungkin kita hilangkan dan kita hindarkan, maka adalah penting bagi kita menata hati dan pikiran dalam menyikapi perbedaan itu. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan agar perbedaan itu betul-betul menjadi rahmat dalam kehidupan kita.

Kita harus merubah cara pandang kita terhadap perbedaan. Kita harus bisa menerima perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan hidup. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Kita harus bisa mengelola perbedaan dengan baik. Musyawarah dan mufakat adalah salah satu cara mewujutkan itu semua. Tidak meremehkan orang lain dalam bentuk apapun juga merupakan cara cerdas dalam menyikapi perbedaan di tengah derasnya gejolak egoisme kita sebagai manusia. Mengkoreksi diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain juga merupakan jalan terbaik menyikapi perbedaan. Yang jelas banyak cara dan jalan buat kita untuk merubah perbedaan menjadi rahmat dan anugrah. Sekaang tergantung kita mau atau tidak melakukannya.

*Oleh: Heru Perdana
Padang, 26 Maret 2011, 12.55 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Bermimpilah, Lalu Perjuangkan Mimpi Itu

Memiliki sebuah impian dalam kehidupan ini mutlak adanya. Jika kehidupan ini kita ibaratkan dengan sebuah proses pelayaran mengarungi samudra kehidupan, maka impian adalah kompas yang akan berfungsi sebagai petunjuk arah agar kita tidak tersesat dan tidak terombang-ambing oleh badai permasalahan. Dengan impian seseorang akan terdorong memiliki cita-cita. Orang yang tidak memiliki cita-cita kehidupannya akan hambar, tidak terarah, dan apa adanya seolah pasrah saja kepada nasib. Tentu saja kehidupan seperti ini akan terasa sepi dan menjemukan.

Dulu aku adalah seorang manusia yang terjebak dalam kehidupan seperti itu. Dulu bagiku biarkan saja hidup ini mengalir bagaikan air. Aku tinggal mengikutinya saja ke mana arus akan bawa arah kehidupanku. Akhirnya seiring berjalannya waktu, aku menyadari kekeliruan prinsip hidupku ini, dan aku sendiri yang membantahnya. Betapa bodohnya aku ketika itu dengan memegang prinsip yang lebih tepat disebut dengan sebuah bentuk kepasrahan yang tidak berdasar.

Sejatinya bukan nasiblah yang menentukan arah kehidupan kita, tapi kitalah yang menentukan sendiri arah kehidupan kita melalui sebuah impian dan cita-cita. Pilihan itu ada di tangan kita, kawan. Inilah sebuah prinsip yang aku yakini saat ini, dan membuatku harus menata ulang impianku. Aku menulis ini juga karena menyadari betul pentingnya sebuah impian dalam hidup kita. Jangan pasrahkan kehidupan kita ini kepada nasib. Memang nasib merupakan bagian dari takdir Tuhan, namun bukan berarti nasib tidak bisa diubah dengan sebuah impian melalui sebuah tekad dan perjuangan. Diubah dengan sebuah tekad untuk kehidupan yang lebih baik lalu diwujudkan dengan perjuangan yang terencana dengan matang melalui sebuah impian dan cita-cita.

Tahukah kawan bahwa impian itu akan mendorong kita untuk berusaha dan berjuang? Dengan imian saya, anda dan kita semua akan terdorong untuk berjuang dan berusah mewujudkan mimpi-mimpi kita sehingga lahirlah prestasi-prestasi yang membanggakan dan dicatat oleh sejarah. Minimal sejarah keluarga yang nantinya bisa dikenang oleh anak cucu kita.

Berikut ini ada penggalan cerita tentang beberapa orang yang telah berhasil menata impian-impiannya dengan baik yang telah mengkristal menjadi sebuah cita-cita, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan yang patut diacungi jempol dan diteladani. Kita selayaknya menjadikan semangat dan tekad mereka untuk mewujudkan impiannya itu sebagai cambuk pelecut semangat kita untuk meraih sukses. Mereka yang akan aku ceritakan ini bukanlah mereka yang memiliki kesempurnaan fisik seperti kita. Aku sebelumnya mendengar cerita yang mengakumkan ini langsung dari penuturan mereka dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu.

Bapak Tolhas Damanik, begitu nama beliau tertulis di layar televisi. Pria yang mengagumkan ini telah menderita kebutaan sejak kecil disebabkan oleh suatu penyakit yang dideritanya. Di usianya yang masih belia, beliau tidak lagi dapat menikmati indahnya pemandangan bumi Allah ini. Pada saat itu dunianya memang telah gelap, namun pancaran semangat telah berpijar dalam dirinya. Dengan semangat itu beliau merajut sebuah impian untuk sukses. Semangat telah jadi mata dalam kehidupannya.

Pria yang memiliki kekurangan dalam hal melihat itu telah mengantungkn impian yang tinggi. Lalu impin itu diwujudkan dengan sebuah usaha yang sangat luar biasa. Beliau memulai perjuangnnya dengan menempuh jejang pendidikan dari mulai TK, lalu lanjut ke SD dan sterusnya di pulau Bangka sana. Yang lebih megagumkan lagi semua jenjang pendidikan yang beliau tempuh itu adalah di sekolah biasa, bukan di sekolah luar biasa seperti kebanyakan anak-anak berkebutuhan khusus lainya. Karena memang hanya sekolah seperti itu yang ada di sana waktu itu.

Pria luar biasa yang sangat mencintai pendidikan ini telah meraih gelar Master di OHIO University di Amerika. Kesempatan kuliah di OHIO University beliau peroleh dari jalur seleksi dan kompetisi tanpa ada perlakuan khusus yang diterimanya dari panitia penyelenggara. Beliau juga mengatakan bahwa satu-satunya yang membedakan beliau dengan yang peserta lain hanya ketika presentasi karya tulis yang mereka buat saja. Di mana peserta ujian yang lain ketika masuk ruang ujian membawa tumpukan buku yang banyak, sementra beliau tidak membawa buku satu pun.

Selama kuliah, beliau menjalani hari-harinya sendiri di Amerika. Kita tentu bisa bayangkan bagaimana sulitnya beliau yang memiliki kekurangan dalam melihat itu dalam mengrus diri dan kebutuhan beliau di negeri orang sana. Tapi itu semua tidak beliau pedulikan, keinginan untuk sukses telah mengalahkan itu semua. Di sana beliau juga diperlakukan dengan baik oleh staf pengajarnya melebihi perlakuan yang beliau dapat ketika kuliah di Indonesia dulu. Akhirnya beliau bisa menyelesaikan pendidikannya di Amerika selama 2,5 tahun dengan IPK 3,9. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa dan telah membuat aku berdecak kagum dengan prestasi beliau itu. Semoga saja aku dan kawan-kawan semua bisa meneladani jejak perjuangan beliau itu.

Narasumber selanjutnya yang berkisah di acara tersebut adalah bapak DR.Saharudin Daming. Cerita pria yang juga tunanetra ini tidak jauh berbeda dengan kisah hidup bapak Tolahas Damanik. Hanya saja bedanya beliau mengalami kebutaan pada usia lima belas tahun. Jadi beliau sedikit lebih beruntung ketimbang bapak Tolahas. Ketika kebutaan telah menghingapinya dan dunia telah gelap gulita, tidak lantas membuat beliau patah arang dan menyerah kepada nasib.

Pria yang telah menyandang satus yatim semenjak umur enam tahun ini, tidak menyerah begitu saja pada nasib. Impian dan cita-cita yang telah dirajutnya sejak kecillah yang telah membakar semangatnya untuk tetap berjuang mengapai cita-cita dan impinnya itu di tengah keterbatasan penglihatan yang telah menyelimutinya. Ketika semangat telah jadi mata, maka kekurangan tidak lagi jadi masalah dalam mengapai cita-cita. Perlu kawan ketahui bahwa bapak DR.Saharudin Daming ini merupakan penyandang tunanetra pertama yang meraih gelar doktor di bidang hukum di Indonesia.

Ada cerita menarik tentang beliau dalam mengapai prestasi yang sangat membanggakan itu. Sebuah torehan prestasi yang belum tentu bisa kita dapatkan meski dalam keadaan berkecukupan. Beliau sempat ditolak masuk sebuah SMA ketika beliau ingin melanjutkan studinya. Namun, beliau tidak patah semangat dan terus memperjuangkan impian dan cita-citanya dengan menemui langsung kepla sekolah SMA tersebut,lalu beliau bertanya, “Pak, kenapa saya tidak diterima belajar di SMA ini?”. Kepala sekolah itu menjawab, “Kamu kan tunanetra, sebaiknya kamu cari saja sekolah luar biasa agar kamu bisa belajar dengan baik sesuai kebutuhanmu”. Lalu beliau menjawab,”apakah bapak tidak keliru berkata seperti itu? Logikanya, jika saya harus sekolah di SD luarbiasa, SMP luar biasa, dan SMA luar biasa juga, lalu setelah tamat harus melanjutkan kuliah di perguruan tinggi luar bisa lagi, kemudian jika tamat berarti saya harus kerja di lapangan kerja luar biasa juga dong? Apa pemerintah siap dengan semua ini? Lalu di mana letaknya keadilan?”. Kepala sekolah tidak punya alasan lagi untuk menolak beliau dan harus meluluskannya untuk sekolah di SMA itu.

Perjuangan beliau untuk tetap melanjutkan pendidiknnya tidak berakhir sampai di situ saja. Ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggipun beliau masih tetap tidak diterima. Beliau ditolak oleh kabag akademik waktu itu. ketika sang Kabag itu tahu bahwa yang mendaftar adalah seorang tunanetra lalu ia berkat, “sebaiknya kamu ikut kursus pijat saja ketimbang uliah di kampus ini”. Sebuah penolakan keras dan menyayat hati mereka yang haus ilmu telah beliau terima.

Ditolak seperti itu, beliau tidak langsung putus asa. Beliau segera menemui rector universitas tersebut. Ternyata di sana beliau diterima dengan bi oleh sang rektor. Setelah menceritakan semuanya, lalu rektor menelpon Kabag akademik tadi dan meminta agar DR.Saharudin Daming diluluskan. Begitulah lika-liku perjuangan yang telah beliau lalui untuk mengapai impian dan cita-citanya, hingga akhirnya beliau memperoleh gelar doktor dan sekarang bekerja di KOMNASHAM.

Cerita selanjutnya adalah tentang seorang wanita muda bernama Mimi yang juga tunanetra. Wnita pecinta ilmu pengetahuan ini adalah seorang yang memiliki impian dan cita-cita yang sangat tinggi dan mempunyai tekad yang kuat untuk memperjuangkan impiannya. Hingga beliau bisa melanjutkan pendidikannya dan mengambil program doktor di Belanda setelah sebelumnya menamatkan program masternya di Inggris. Luar biasa bukan? Hanya semangat dan cita-cita yang tinggi yang membuat seorang Mimi bisa meraih itu semuanya.

Kawan, dara yang menamatkan S1nya di Univesitas Indonesia itu mengalmi kebutaan semenjak berumur tujuh belas tahun. Akan tetapi, musibah itu tidak membuatnya surut belajar dan berjuang mengejar impianya. Berbagai cara dilakukan Mimi untuk mewujudkan impianya. Keterbatasan yang dialaminya membuat ia harus berkeliling dari satu saudara ke saudara yang lain, dari satu teman ke teman yang lain untuk mencari dan meminta bantuan mereka untuk membacakan buku-buku pelajaran, lalu direkam. Dengan rekaman itulah sehari-hari Mimi belajar untuk mengapai cita-citanya. Sampai kuliahpun metode ini masih tetap beliau pakai. Hingga akhirnya beliau telah menjadi dosen di UI dan beberapa perguruan tingi lain di pulau Jawa.

Melihat tayangan dan mendengar penuturan serta cerita dari beberapa orang tokoh yang dibalut kekurangan namun memiliki impian dan cita-cita besar itu membuat aku terkagum-kagum dan iri. Cerita mereka seolah telah “menampar” dan menyindirku, orang yang memiliki impian, akan tetapi masih masih kurang dalam memperjuangkan impiannya sendiri. Sering kali impian dan cita-citaku dikalahkan oleh kemalasanku sendiri.

Tiga tokoh yang aku ceritakan di atas telah membuktikan kebenaran sebuah ungkapan “man jadda wa jadda”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapat. Ya, keinginan dalam bentuk impian lalu mengkristal menjadi sebuah cita-cita telah diwujudkan dengan sebuah kesungguhan dan kegigihan yang tercermin melalui sebuah perjuangan yang luar biasa. Orang bijak juga pernah mengatakan, “di mana ada keinginan, maka di situ ada jalan”. Ungkapan itu juga telah terbukti lewat kisah tiga orang yang luar biasa tadi.

Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya saja lagi. Semua contoh dan bukti telah terkuak jelas di depan mata. Tidak ada salahnya untuk meniru sesuatu yang baik bukan? Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ketiga tokoh luar biasa itu, bahwa kesuksesan dan keberhasilan tidak akan terlepas dari sebuah mimpi, cita-cita dan perjuangan yang gigih. Keterbatasan dalam bentuk apapun tidak akan menghalangi untuk maju selagi kita masih mau dan bisa untuk berjuang.

Tahukah kawan mengapa orang-orang di belahan dunia barat sana lebih banyak meraih sukses? Jawabanya adalah semuanya berawal dari sebuah impian, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan dan tekad yang kuat untuk meraih impian itu. sebut saja dua bersaudara di Barat sana yang telah berhasil menemukan pesawat terbang meski belum sesempurna saat ini. Itu semua berawal dari sebuah impian untuk bisa terbang seperti burung di angkasa. Lalu mereka membuat sebuah pesawat luncur dan akhirnya terukirlah sejarah dengan ditemukannya pesawat terbang yang sampai saat ini masih bisa kita rasakan hasilnya. Dengan kenyataan seperti itu masihkah kita meragukan kekuatan sebuah mimpi dan cita-cita?

Kawan, impian merupakan bagian dari karunia Allah Swt yang patut kita syukuri. Melalui impian Allah ingin menuntun hamba-Nya untuk merangkak menuju tangga sukses. Namun, tidak semua hamba yang punya impian lalu serta-merta dia akan menuai kesuksesan. Hanya hamba yang mau bermimpi lalu berjuang dengan segenap daya dan upaya untuk meraih mimpinya itu yang akan merasakan manisnya madu kesuksesan. Karena antara impian dan perjuangan itu memiliki hubungan “berbanding lurus”. Semakin besar impian yang kita rajut, maka akan semakin besar perjungan yang harus kita lakukan.

Bermimpilah. Lalu berlari mengejar mimpi itu…!!!!! 

 





Pesisir Selatan, 10 Maret 2011, 14.25 WIB
*Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Hidup Dengan Bumbu Sukses dan Kegagalan

Kitika kita hidup di dunia ini, kita selalu dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatu itu diciptakan kebanyakan berpasang-pasang.ada yang tinggi dan ada yang rendah. Ketika ada pendakian, juga akan diikuti dengan penurunan. Kesusahan akan selalu disandingkan dengan kemudahan. Keindahan berpasangan dengan kejelekan. Adanya yang kaya juga membuat adanya yang miskin. Dan keadaan perpasangan yang lainnya. Semua telah diatur begitu indah oleh Yang Maha Kuasa dengan pasangannya masing-masing. 

Layaknya yang lain, adanya kesuksesan juga menghendaki adanya kegagalan. Karena memang itulah pasangannya. Kenyataan seperti itu juga sudah merupakan hukum alam yang akan selalu menghiasi alur kehidupan kita di hamparan bumi Allah yang indah ini. Kita tentu tidak mungkin mengecap manisnya madu kesuksesan tanpa tahu dahulu bagaiman pahitnya sebuah kegagalan.

Siapapun dia, saya, anda dan kita semua mungkin sudah sangat sering menemukan sebuah kenyataan yang sering disebut dengan istilah “kegagalan dan kesuksesan”. Dari mana pun kita berasal, dengan kondisi dan latar belakang keluarga bagaimanapun, dan apapun suku dan bangsa kita, kita tidak akan mungkin terlepas dari dua kata yang saling berpasangan itu. Suka ataupun tidak, rala atau terpaksa, kesuksesan dan kegagalan akan tetap menghampiri hidup kita. Mungkin saja intensitas dan kualitasnya saja yang akan berbeda-beda antara kita dan orang lain.

Kadang kita hanya suka dengan yang namanya “kesuksesan” saja tanpa mau menerima “kegagalan”. Jangankan untuk menerima lalu mersakan, bahkan untuk mendengar dan membicarakan kegagalan saja kita enggan. Kita terlalu takut dengan hadirnya kegagalan dalam hidup kita ini. Seolah kata kegagalan itu adalah momok paling yang menakutkan dalam hidup kita. Sehingga sering kali hal itu membuat kita lupa bahwa sebuah kesuksesan tidak akan serta-merta diraih tanpa hadirnya sebuah kenyataan pahit “kegagalan”. Sejatinya dari kegagalanlah kita tahu apa itu kesuksesan dan keberhasilan.

Memang sebagian besar jiwa manusia tidak suka akan hadirnya kegagalan, jiwa kita lebih cendrung kepada kesuksean saja. Karena memang begitulah sifat dasar manusia, maunya enak saja. Kita selalu berharap dalam setiap usaha yang kita lakoni dalam setiap babak kehidupan ini selalu dihiasi dengan kesuksesan, namun kenyataan seperti itu tidak pernah selalu terjadi. Tidak ada orang yang dalam hidupnya meraih seratus persen sukses, tatap saja ada kegagalan yang mengikuti gerak langkah hidupnya. Kita harus menyadari bahwa tidak semua akhir dari sebuah usaha adalah sukses, dan juga tidak akan selalu gagal. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan selau terjadi silih berganti dalam kehidupan insan di dunia ini.

Jika kita kembali menilik sejarah,memperhatikan perjalanan hidup orang-orang terdahulu yang sukses, yang telah memberikan kehidupan nan begitu indah kepada kita saat ini melalui kesuksesan yang diraihnya, maka kita akan banyak menemukan catatan-catatan kegagalan yang menemui setiap derap langkah perjuangan mereka, hingga akhirnya manisnya madu kesuksesan dapat direguknya dan diwariskannya kepada kita saat ini. kita jangan mengira bahwa kesuksesan yang mnereka raih itu adalah tanpa melalui kegagalan terlebih dahulu. Mereka yang sukses itu adalah mereka yang sudah kenyang dengan yang namanya kegagalan.

Sebut saja seorang fisikawan besar abad dua puluh, Albert Einsten yang telah puas dengan bumbu kegagalan dalam hidupnya. Ia pernah berkata tentang kegigihan dan ketekunan kerja yang ia jalani sepanjang karirnya. Einsten mengatakan, “ saya berfikir terus menerus, berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun . Sembilan puluh Sembilan dari kesimpulan saya adalah keliru. Namun kesimpulan saya yang keseratus saya berhasil dan sukses”.

Pernyataan Albert Einsten tadi telah menjelaskan secara gamblang kepada kita bahwa dalam sejarah panjang kehidupan seorang ilmuan besar seperti dirinya lebih banyak didominasi oleh kegagalan sebelum akhirnya ia berhasil meraih sukses yang telah berhasil membuat namanya dikenang sampai saat ini.

Belum lagi Thomas Alfa Edison, seorang ilmuan yang telah berhasil menemukan bola lampu pijar dan telah memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Pria ini juga tidak kalah dengan Albert Einsten dalam merasakan yang namanya kegagalan. Namun ia tidak patah arang dan berhenti melakukan penelitian dan percobaan. Ia juga pernah berkata, “Saya percaya, hidup merupakan sebuah perjuangan. Kegagalan adalah suatu jalan menuju pintu kesuksesan. Kita bisa belajar dari kegagalan”. Thomas Alfa Edison menemukan ribuan cara agar lampu tidak dapat menyala karena ia gagal beribu-ribu kali pula.

Jadi jelas, bahwa kesuksesan yang mereka perolah bukanlah hasil kerja kemaren sore. Itu semua mereka dapatkan dengan usaha yang luar biasa dan pengalaman kegagalan yang mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya. Bahkan nabi Muhammad Saw, orang yang begitu suci dan telah dijamin oleh Allah kehidupannya juga pernah mengecap yang namanya gagal. Beliau pernah gagal dalam beberapa perperangan yang terjadi, sebelum sukses dengan gilang gemilang dalam menaklukan kota Makah. Gagal dan sukses akan menghampiri siapa pun. Dia datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu dan melihat status sosial mereka.

Kita juga tidak bisa pungkiri bahwa sukses dan gagal yang hadir dalam kehidupan kita juga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh seberapa gigih serta giatnya kita bekerja dan berusaha. Mereka yang giat dan gigih dalam berusaha akan lebih berpeluang banyak memperoleh kesuksesan. Dan sebaliknya, bagi mereka yang lebih banyak malas dalam berusaha, maka akan berpeluang mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya. Kalau ia jadi siswa, ia akan jadi siswa yang gagal. Jika ia jadi mahasiswa, maka ia akan jadi mahasiswa yang gagal. Seandainya ia jadi pengusaha, maka ia juga akan jadi pengusaha yang gagal. Mungkin saja kalau ia berkeluarga, maka ia akan jadi suami, istri, ayah atau ibu yang gagal pula. Yang jelas bagi mereka yang malas sejarah hidupnya akan lebih banyak diwarnai oleh tinta “kegagalan”.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditentukan dengan uang atau materi. Memang secara teori , mereka yang kaya akan berpeluang untuk meraih sukses yang lebih banyak ketimbang mereka yang miskin. Namun pada kenyataannya dalam realita kehidupan tidak selalu demikian. Tidak selamanya orang kaya yang bergelimang materi itu selalu sukses. Dan juga tidak selamanya mereka yang kurang beruntung alias miskin selalu memperoleh kegagalan. Allah Yang Maha Kuasa akan memberikan sukses dan gagal itu kepada hambanya secara adil sesuai dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seorang hamba.

Sukses dan gagal tidak bisa diukur dengan uang dan materi saja. Sukses dan gagal itu mencakup semua hal. Betapa tidak, berapa banyak kita lihat mereka yang kaya dan berlimpah materi yang selalu bergelut kemewahan, namun kehidupan keluarganya kacau dan berantakan. Berapa banyak pula mereka yang berasal dari keluarga miskin dan hidup prihatin berhasil jadi pemimpin, penjabat, tokoh masyarakat, dan pengusaha yang sukses. Satu pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari sini, bahwa sukses dan gagal itu akan hadir menghampiri semua orang, apapun latar belakang kehidupan mereka.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditunjukan dengan hanya melihat dari satu sisi kehidupan saja. Boleh jadi seseorang itu gagal di satu sisi dan meraih sukses di sisi yang lain. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan terus terjadi dalam kehidupan kita sesuai dengan tingkat usaha yang kita lakukan.

Antara kesuksesan dan kegagalan ibarat dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dalam hidup kita. Jadi kita tidak usah terlalu takut dalam menghadapi kegagalan. Yang lebih penting dan yang harus kita tahu adalah bagaimana cara menghadapi, menerima serta menyikapi sebuah kegagalan. Agar kita bisa belalajar dari pahitnya kegagalan, lalu mereguk manisnya madu kesuksesan dengan belajar dari pengalaman kegagalan yang harus kita sikapi dengan cerdas dan dewasa.

Lalu bagai mana dengan kesuksesan? Kesuksesan juga bukan barang langka yang sulit kita rasakan dalam kehidupan kita. Selagi kita mau berusaha, maka harapan untuk sukses itu masih tetap ada. Kadang kawan, menyikapi sebuah kesuksesan itu jauh lebih sulit ketimbang meraihnya. Betapa banyak orang yang salah dan keliru dalam menyikapai kesuksesannya. Mereka gelap mata lalu sombong dan lupa bersyukur dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Seolah mereka lupa siapa yang memberikan kesuksesan itu kapada mereka. Jadi, layaknya kegagalan, kita juga harus bisa menyikapi kesuksesan dengan baik dan sesuai sehingga kesuksesan di dunia akan bisa menghantarkan kita kepada kebahagiaan di akhirat kelak.



*Oleh: Heru Perdana P.

[ Selengkapnya...]
Label:

Persahabatan dan lika-likunya

Manusia merupakan makhluk sosial. Itu artinya kita selaku manusia, tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena kita tidak akan mungkin mengigkari kodrat kita sebagai makhluk sosial. Bagaimana pun juga kita tetap memerlukan bantuan orang lain dalam kehidupan ini. Saya, anda dan kita semua butuh teman dan sahabat untuk melangsungkan kehidupan kita. Adalah bohong jika ada orang yang mengaku dia tidak butuh sahabat ataupun teman. Terlalu sombong seseorang jika mengatakan mampu hidup sendiri tanpa hadirnya seorang sahabat dan orang lain dalam kehidupannya.

Kehadiran seorang teman dan sahabat memang penting dalam kehidupan kita. Dengan alasan apapun itu tidak bisa kita pungkiri. Namun mencari seorang teman untuk dijadikan sahabat di kala suka dan duka bukanlah perkara mudah. Mencari seorang sahabat sejati itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Akan tetapi, mendapatkan seorang sahabat sejati juga bukan suatu hal yang mustahi. Hanya saja semuanya butuh proses dan usaha. Untuk mewujudkan itu hanya perkara waktu saja. Cepat atau lambat kita akan bisa menemukan sahabat sejati asal kita mau membuka diri. 

Dalam mencari dan memilih sahabat kita jugatidak boleh sembarangan saja. Karena ada orang bijak yang berpetuah seperti ini, “memilih seorang sahabat sama artinya dengan memilih masa depan kita”. Karena sahabat adalah cerminan diri kita sendiri. Teman yang ada ketika kita sedang bahagia, namu menghilang ketika kita sedang duka dan dirundung masalah bukanlah sahabat. Maka berhati-hatilah dam memilih dan menentukan sahabat.


Hadirnya seorang sahabat sangat berarti dalam hidup kita. Sahabat adalah orang yang nantinya kita harapkan ada ketika kita dirundung masalah kapan dan di mana pun kita berada. Ketika ada masalah dengan keluarga, ketika kita memiliki masalah di kampus, juga ketika kita ada masalah di lingkungan tempat tinggal kita dan dalam keadaan-keadaan sulit yang tidak mungkin kiranya kita lalui seorang diri. Hadirnya seorang sahabat akan sangat membantu buat kita dalam melewati masa-masa sulit. Sahabat bisa membarikan kita nasehat. Sahabat bisa menawarkan kita kenyamanan. Dan sahabat juga merupakan orang yang akan mendukung kita di kala sedang dilanda kesedihan. Ya, begitulah sejatinya sahabat. 


Kita harus sadari bahwa persahabatan tidak akan berjalan baik dan lancar-lancar saja. Kita juga harus siap bahwa konflik dan perselisihan akan turut serta mewarnai jalinan pershabatan kita, yang butuh kelapangn dada dan kejernihan pikiran dalam menyikapinya. Jika tidak pandai-pandai dalam menyikapinya maka hal itulah nantinya yang akan menjadi perusak dan bahkan bisa jadi pemutus tali pershabatan yang telah terjalin kuat. Namun jika kita bisa menyikapinya dengan arif lagi bijaksana maka konflik dan perselisihan itu kan menjadi bumbu penyedap dalam jalinan persahabatan. Bukan tidak mungkin jika disikapi dengan bijak hal itu akan menjadi lem perkat menambah eratnya tautan hati dalam persahabatan. Perselisihan pendapat dan konflik dalam persahabatan itu adalah hal biasa, yang penting itu adalah bagaiman cara kita menghadapi dan menyikapi konflik dan perselisihan itu.


Kadang kita sering kali lupa bahwa persahabatan itu perlu dijaga dan dipupuk layaknya tanaman. Jika tanaman dipupuk dengan pupuk buatan manusia, maka pershabatan juga harus dipupuk dengan saling mengahargai. Apabila tanaman disiram dengan air, maka persahabatan juga perlu disirami dengan kasih sayang dan timbang rasa secara dewasa. Jangan pernah mengabaikan sekecil apapun bantuan dari seorang sahabat, tanggapi dan hargailah secara wajar. Kadang kita hanya menuntut untuk dipahami tanpa mau memahami. Jika kita telalu lama tidak memupuk dan menyiram persahabatan, layaknya tanaman persahabatan itu juga bisa layu dan mati di dalam hati kita.


Sebelum persahabatan itu retak dan pecah berkeping-keping, maka sudah seharusnya kita menjaga dan merawatnya mulai dari sekarang. Orang bijak pernah mengatakan, “mencegah itu lebih baik dari mengobati”. Jagalah persahabatan dengan tetap berkomunikasi dengan teman. Di abad yang serba canggih ini tidak ada sulitnya untuk berkomunikasi dengan seorang sahabat walaupun dipisahkan oleh jarak, ruang dan waktu. Kita bisa gunakan bebagai media kumunikasi abad 21 untuk tetap menjaga hangatnya persahabatan. Telephone, hendphone, Facebook, dan saudara-saudaranya yang lain bisa membantu kita untuk melakukan itu semua. Tidak akan menyita waktu berjam-jam untuk mengirim sebuah SMS kepada seorang sahabat hanya untuk menyapa dan menanyakan kabarnya. Namun efeknya akan dapat mempererat tali persahabatan.


Berbicara dengan kepala dingin dan hati yang lapang dengan sahabat jika ada pertentangan pendapat atau konflik dalam persahabatan juga merupakan bagian dari cara menjaga utuhnya sebuah jalinan persahabatan. Ajaklah teman pergi jalan-jalan ke pantai atau hanya sekedar pergi minum kopi, lalu selesaikan dan bicarakan setiap persoalan dan permaslahan yang menganjal di hati dengan cerdas dan penuh kedewasaan. Jangan biasakan menyimpan dan memendam masalah sendiri apa lagi masalah itu menyangkut masa depan persahabatan, karena itu jika berlangsung lama maka akan berpotensi sebagai pemecah dan pemutus tali persahabatan.


Percayalah, tidak ada ruginya menjaga dan menjalin tali persahabatan.!!



*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Masalah dan Kehidupan

Kita tentu sering atau setidaknya pernah mendengar sebuah kalimat seperti ini, “Hidup itu adalah masalah”? sebuah kalimat yang terdengar klise, tapi sering kita dengar, baik itu dalam bercnda ketika bergaul atau mungkin ketika seorang sahabat memberikan nasehat kepada kita ketika kita mengeluhkan tentang hidup kepadanya. Memang terdengar klise, tapi itulah sejatinya hidup. Hidup dan msalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

Kehidupan kita tak akan pernah terlapas dari sebuah kata yang disebut “masalah” itu. Selagi kita masih hidup dan masih saja menghirup oksigen bumi Allah ini, maka masalah akan terus mengikuti gerak langkah kita. Jadi, jangan pernah terlalu berharap masalah akan pergi dari kehidupan kita. Apalagi mengutuki Tuhan ketika masalah itu menghampiri kita. 

Tidak sedikit juga dari kita yang mengutuki nasib ketika masalah datang. Ada yang megatakan Tuhan tidak adillah, ada yang mengatakan tuhan tidak sayang lagi pada meraka, dan banyak lagi kalimat lain yang bernada mengutuki nasib. Itu semua hanya pekerjaan sia-sia saja yang hanya akan buat kita semakin terpuruk. Jangan habiskan waktu kita untuk kalimat-kalimat yang tidak penting itu. Jika itu tetap kita lakukan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sebuah hal bodoh yang hanya memperbesar masalah saja. Coba saja kita berfikir mencari solusi ketika masalah itu datang mungkin saja kita akan bahagia dengan masalah itu.


Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini yang luput dari masalah. Saya, anda dan semua orang yang ada di sekitar kita tentu punya masalah masing-masing. Sebenarnya masalah akan mulai terasa ketika kita baru mengenal arti kehidupan ini. Karena masalah adalah bahagian dari kehidupan. Dalam kehidupan ini kita selalu dihadapkan pada berbagai kesempatan yang terselubung rapi dalam bentuk masalah yang selalu memerlukan sebuah jalan keluar cerdas.


Kenapa anak kecil terlihat tidak memikirkan masalah dalam kehidupannya. Mereka terlihat sangat menikmati kehidupannya. Mereka tertawa lepas tanpa beban. Ah, bahagia sekali kehidupan anak kecil itu. Masa kecil memang masa yang sangat indah. Mereka seperti itu karena mereka belum begitu paham arti dari sebuah kehidupan. Hanya persoalan waktu saja, sebelum mereka betul-betul mengenal arti hidup.


Dalam pikiran kita, tentu kita berharap kita akan terbebas dari segala bentuk belenggu masalah. Tapi itu semua hanya harapan sia-sia saja. Harapan yang kecil sekali kemukinannya akan terwujud atau bahkan tidak akan pernah terwujud sama sekali. Jadi, berhenti saja berharap yang aneh-aneh seperti itu. Karena masalah akan tetap ada. Semakin besar keinginan kita untuk membuang masalah dari kehidupan kita, maka semakin besar rasa itu akan menghantui kehidupan kita.


Beragam cara orang dalam menyikapi masalah dalam kehidupannya. Ada yang mengangap masalah sebagai sebuah hambatan dan akhirnya ia kan putus asa. Ada juga yang mengangap masalah sebagai sebuah tantangan dan selalu berusaha mencari cara untuk meleweti semua tantangan itu.


Sebenarnya besar atau kecilnya masalah itu tergantung cara pandang dan bagaimana cara kita dalam menyikapi masalah. Tidak ada kita yang benar-banar memiliki masalah yang besar, dan juga tidak ada kita yang benar-banar tidak punya masalah dalam hidup ini. Sesungguhnya pikiran kitalah yang menetukan semuanya. Pikran kitalah yang telah membesar-besarkan masalah. Dan pikiran kita juga yang bisa membuat hidup kita serasa tanpa masalah. Jadi, masalah hanya ada dalam pikiran kita saja. Masalah itu ada dalam diri kita sendiri, bukan pada orang lain dan bukan juga pada lingkungan kita. Kitalah yang menciptakan masalah melalui pikiran-pikiran yang selalu dipenuhi rasa takut. Pikiran takut susah, takut miskin, takut tidak lulus, takut dibenci, takut gagal dan ketakutan-ketakutan lainya.


Sebanarnya kita manusia ini adalah makhluk yang unik. Kita dirancang untuk memecahkan masalah dan menemukan cara baru dalam melakukan sesuatu dalam hidup ini. Masalah adalah bagian dari alam semesta dan kehidupan ini yang selalu memacu kita untuk belajar, mengalami dan mengerjakan sesuatu. Bukan justru memupuk pikiran dengan rasa takut yang tak berdasar yang hanya membuat kita merasa masalah itu adalah sebuah momok menakutkan dalam kehidupan ini.


Mulai saat ini, mari kita ubah cara kita dalam menyikapi dan menghadapi masalah karena masalah itu tidak akan mungkin kita singkirkan dari kehidupan kita. Para pemikir mengatakan bahwa masalah itu adalah kesempatan untuk belajar. Jadi, mari kita belajar untuk membuat hidup ini terasa lebih indah.


Jangan pernah takut Dengan MASALAH, tapi mari kita pikirkan cara terbaik dalam menyikapinya….!!!


*Oleh: Heru Perdana Putra (mahasiswa Ekonomi Islam IAIN Imam Bonjol Padang)

[ Selengkapnya...]
Label:

Berguru pada Masa Lalu

Masa lalu adalah masa yang sudah ditinggalkan. Masa yang tidak mungkin kita ulang lagi. Sebenarnya banyak istilah yang diberikan oleh orang-orang untuk menyatakan masa lalu ini. Ada yang menyebutnya masa silam. Ada yang manyebutnya waktu yang tak mungkin terulang, ada juga yang menyebutnya masa yang paling jauh dan banyak istilah lain tentang itu. Yang jelas intinya masa lalu itu merupakan masa yang sudah berlalu dan masa yang tak mungkin kembali persis sama ke dalam kehidupan kita lagi. Ya, itu lah sejatinya masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu. Saya, anda dan kita semua punya masa lalu. Tinggal lagi sejauh mana kita bisa mnyikapi masa lalu untuk masa depan kita. 

Beragam cara orang dalam menyikapi masa lalunya. Ada yang cuek, dan tidak terlalu acuh dengan masa lalu. Dan biasanya mereka yang tergolong ke dalam kelompok ini masa depannya cendrung monoton. Ada juga yang terlalu takut dengan masa lalu. Menjadikan masa lalu bak hantu yang manakutkan. Mereka selalu takut dan merasa dihantui oleh baying-bayang masa lalunya. Dan ada juga yang menjadikan masa lalu sebagai guru dalam menghadapi hari esok dan masa depan. Cara yang terakhir inilah idealnya cara kita dalam menyikapi masa lalu.

Bukankah mereka yang telah menemukan sebuah penemuan baru yang mambuat saya dan anda terkagum-kagum itu adalah orang yang belajar dari masa lalu.? Mereka adalah orang yang mau menjadikan masa lalunya sebagai guru. Mereka selalu memperbiki kesalahannya di masa lalu untuk bisa menemukan sebuah penemuan yang mengagumkan itu. Jika kita tidak bisa menemukan sebuah penemuan baru dengan belajar dari masa lalu, paling tidak kita bisa menjadikan masa lalu sebagi guru untuk mengahntarkan kita pada sebuah kehidupan yang lebih baik di masa depan.


Meskipun masa lalu telah berlalu, bukan berarti masa itu tidak berguna bagi kehidupn kita sekarang dan kehidupan kita yang akan datang. Masa lalu sangat berpengaruh sekali dalam menentukan kualitas kehidupan kita hari ini, besok dan seterusnya. Jadi, jangan main-main dengan masa lalu anda. Orang yang tidak menghargai masa lalu, berarti dia adalah tipe orang yang tak mau berubah dan tidak ingin ada perubahan dalam kehidupannya. Hargai masa lalu dan ambil pelajaran darinya.


Jika belajar dari masa lalu tidak penting, untuk apa ada mata pelajaran yang mengajarkan tentang masa lalu ini. Di bangku sekolah pelajaran yang mengajarkan tentang masa lalu kita kenal dengan pelajaran “sejarah”. Juga banyak para sarjana yang menghabiskan waktunya untuk belajar tantang masa lalu. Ini adalah bukti penting bahwa masa lalu sangat berarti dalam menetukan arah kehidupan kita di masa yang akan datang. Bukan hanya diri kita, bahkan arah masa depan bangsa juga ditentukan oleh sejauh mana warga dan para pemimpinnya mau belajar dari masa lalu.


Kita tentu pernah mendengar atau mungkin menbaca ungkapan seperti ini, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang manhargai masa lalunya”. Ungkapan itu adalah bukti bagi kita bahwa berguru pada masa lalu itu penting. Sejelek apapun masa lalu tetap pantas dijadikan guru. Jika tidak mau belajar dari masa lalu yang jelek, maka kehidupan kita yang akan datang juga akan selalu diiringi dengan berbagai kejelekan masa lalu yang pernah kita alami itu. Dengan belajar dari masa lalu yang jelek dan kelam, kita bisa tahu bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik.


“orang buta saja tidak mau jatuh di lobang yang sama untuk kedua kali”. Sebuah ungkapan yang luar biasa bukan? Jika kita mau jujur itu adalah sebuah ungkapan yang menganjurkan kepada kita untuk selalu belajar dari masa lalu. Kita tentu tidak mau pengalaman pahit dantang dua kali kepada kita, jika tidak maka bergurulah pada masa lalu. Jangan pandang emeh masa lalu.


Dulu saya adalah salah seorang yang pernah berfikiran bahwa masa lalu itu tidak penting. Masa bodoh dengan masa lalu. Jelek, bagus atau pahit masa lalu tidak terlalu saya hiraukan. Dalam pikiran saya dulu sempat terbangun sebuah pemahaman yang salah yang baru saya sadari beberapa tahun terakhir ini. Dulu saya berfikir, “buat apa belajar masa lalu? Yang berlalu biarlah berlalu”. Sebuah pemikiran dan pemahaman yang salah tentang menyikapi masa lalu. Dan saya sendiri akhirnya yang membantah itu semua. Sungguh bodoh rasanya saya kala itu, ketika melontarkan ucapan seperti itu. 


Kita memang harus hidup pada hari ini. Kita memang harus total dalam melibatkan diri kita pada kehidupan kita sekarang. Namun, bukan berarti kita harus melupakan dan mngabaikan masa lalu. Seburukdan sepahit apapun pengalaman hidup, tetap akan berguna sebagai
pengalaman hidup yang layak dan pantas untuk dijadikan pelajaran dalam
mengarungi bahtera kehidupan di masa depan.


Mulai saat ini, hargailah masa lalu anda, jadikan masa lalu guru untuk masa depan yang lebih baik.


*Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers