Ibu, Wanita berjuta Kasih

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa,.....

Sepenggal lirik lagu di atas kiranya sangat cocok dalam mengambarkan kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya.

Coba mari kita kembali merenung sejenak, sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini dan sudah berapa banyak kita membalas tulus kasih seorang ibu?
Apakah kita hadir ke dunia ini begitu saja? Jawabannya tentu saja “tidak”. Ada sesosok pribadi yang telah rela mempertaruhkan nyawanya, sehingga kita bisa menghirup udara segar di bumi Allah yang elok ini. Yah, dialah “ibu”. Seorang wanita berjuta kasih. Lewat pengorbanan dan perjuangan beliau kita bisa mengecap manisnya madu kehidupan. Bukan hanya darah, tetesan air mata dan juga peluh kesakitan, namun juga untaian do’a dan harapan disenandungkan untuk kesejahteraan dan kebahagian kita, anaknya.

Jangan kita mengira kalau perjuangan dan pengorbanan itu dimulai hanya dari semenjak kita lahir saja. Perlu kita sadari bersama, bahwa pengorbanan dan perjuangan itu sudah dimulai jauh sebelum tangisan pertama kita terdengar. Ya sembilan bulan sebelum itu seorang ibu telah mengandung dan membawa kita kemana-mana dengan penuh cinta dan kasih sayang. Belum lagi ketika melahirkan kita, seorang ibu harus bersabung nyawa antara hidup dan mati. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat luar biasa. Hanya wanita yang tangguh dan memiliki cinta kasih yang luar biasa yang mampu menjalani dan melewati itu semua. Cinta kasih itulah yang telah membuat seorang ibu mampu memikul beban yang luar biasa itu. Rasa itu jugalah yang telah membuat ibu sanggup menahan penat, lelah dan berjuta rasa tidak nyaman yang mendera ketika mengandung dan melahirkan kita.

Hari itu kita telah dilahirkan. Kelahiran yang disambut dengan suka cita oleh orang yang ada di sekeliling kita. Sesosok manusia munggil nan lucu telah lahir dari rahim seorang wanita yang tangguh dan penuh kasih sayang−dialah ibu kita−. Penat dan lelah serta rasa sakit seketika hilang ketika mendengar tangisan pertama kita, anaknya yang kelak diharapkan akan membawa sejuta harapan dari beliau. Sesaat setelah, itu sang ibu segera memberikan ASI pertamanya kepada anaknya. Ketika itulah kita akan meresakan hangatnya aliran cinta dan kasih sayang dari seorang ibu yang tidak akan mungkin terbalas sampai kapanpun. Seiring dengan kelahiran kita, itu artinya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang lebih berat akan segera dimulai kembali.

Waktu terus saja berjalan, kita telah tumbuh menjadi seorang bayi yang mungil dan lucu. Seorang ibu begitu telaten merawat dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus dan tak tergantikan. Ibu rela mengurangi waktu tidurnya demi kenyamanan tidur kita, anaknya terkasih. Seekor nyamuk pun tidak direlakan oleh ibu untuk hinggap dan menggigit tubuh anaknya. Ketika kita menangis, ibu pun dengan sigap mencari sebab kenapa buah hatinya menangis. Apakah kerena lapar dan haus atau karena popok anaknya basah dan harus diganti? Ah, sungguh luar biasa kasih sayangmu ibu.

Ibu adalah wanita yang hebat. Bahkan sangat hebat dan luar biasa. Tidak ada satu katapun yang pantas dan bisa untuk melukiskan kehebatan kasih sayang seorang ibu. Ibu adalah sosok pribadi yang pemberi. Seorang pemberi tanpa pambrih dan selalu diiringi dengan hangatnya kasih sayang. Mulai dari do’a, pengorbanan yang tulus, tenaga, fikiran, waktu, harta benda dan juga air mata telah diberikan oleh seorang ibu kepada kita. Hanya satu harapan beliau, yaitu supaya anak-anaknya bisa bahagia dan hidup sejahtera. Sederhana bukan? Ya, tapi tidak dengan pengorbanan ibu untuk kita, pegorbanan beliau sungguh luar biasa. Kadang agar kita bahagia, tidak jarang seorang ibu harus mengabaikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Ketika kita sudah memasuki usia sekolah dan baru saja belajar untuk menulis dan membaca. Seorang ibu dengan begitu sabar dan penuh kasih sayang mendampingi si buah hati dalam mengeja setiap huruf yang kita baca. Ibu juga dengan begitu telaten mengajarkan tangan kita untuk mengukir setiap goresan angka dan huruf di atas lembaran kertas putih. Hal itu terus berlangsung hingga kita pandai dan lancar membaca serta menulis.

Tidak terasa waktu begitu cepat berputar dan berlalu. Kita, bayi mungil nan lucu tadi telah tumbuh menjadi sesosok pribadi yang dewasa. Sekian tahun sudah berlalu semenjak tangisan pertama kita terdengar. Selama itu pula kita telah dibesarkan dan dididik dengan hangatnya sentuhan cinta dan kasih sayang dari seorang ibu. Bahkan sampai saat sekarang ini kita tetap saja merasakan hangatnya aliran kasih sayang ibu itu. Kasih sayang yang tidak akan pernah habis sampai kapanpun. Kasih sayang seorang ibu kepada kita ibarat matahari yang tiada jemu menyinari hamparan bumi Allah ini. Mengingat begitu besarnya jasa dan kasih sayang seorang ibu kepada kepada kita, rasanya tidak berlebihan Allah Tuhan Yang Maha Agung menganjar jasa beliau dengan meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu. Agar kita tidak lupa dan durhaka kepada beliau.

Begitu besar cinta, kasih dan sayang seorang ibu kepada kita. Apakah masih ada alasan buat kita untuk melukai hatinya? Apakah masih ada alasan bagi kita untuk tidak membahagiakan beliau? Tanyalah hati kecil kita masing-masing, dan jawablah dengan jujur setulus hati.

Mulai hari ini mari kita berkomitmen untuk tidak akan melukai hati seorang ibu. Mulai saat ini mari kita berjanji untuk tidak akan membuat seorang ibu meneteskan air mata, akibat luka karena sayatan pisau perbuatan buruk kita. Mulai detik ini mari kita tingkatkan bakhti kita kepada ibu, orang yang telah melahirkan kita. Ketika beliau sudah tiadapun kita masih harus berbakti melalui do’a. Do’a seorang anak yang shaleh.

Ingatlah, Kasih ibu itu sepanjang jalan dan sepanjang masa,….


*Oleh: Heru Perdana ──sebuah renungan──
22122012


[ Selengkapnya...]
Label:

Belajar Dari Jari Tangan

Sebagai seorang manusia normal tentu kita memiliki tangan. Pada tangan tersebut ada lima jari. Kelima jari itu memiliki nama yang berbeda dan dengan fungsi yang berbeda pula. Namun, pernahkah terfikir oleh kawan untuk belajar dari kelima jari itu? Ya, jika mau kita dapat belajar tentang kehidupan dari jari tangan kita sendiri. 

Jari tangan tidak hanya berfungsi untuk menggenggam. Juga tidak melulu digunakan untuk menunjang aktifitas kita sehari-hari. Ada fungsi lainnya yaitu untuk sarana belajar tentang kehidupan jika kita mau sedikit merenung dan berfikir. Tentu ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari bahagian tubuh yang ini. 

Mari kawan, kita perhatikan satu persatu dari lima jari tangan kita. Ibu jari yang berukuran paling besar melambangkan simbol yang bagus atau hebat. Hal ini tercermin ketika kita menggunakan ibu jari untuk memberi apresiasi pada sesuatu yang kita nilai baik, bagus, indah, canggih dan sebagainya. Akan tetapi, ibu jari yang gemuk itu akan kalah oleh jari kelingking yang lebih kecil, bahkan paling kecil ketimbang jari-jari yang lain dalam permaianan “suit-suitan”. Hal ini mengambarkan kepada kita bahwa orang besar, berkuasa, dan punya kelebihan tidak boleh sombong dan lupa diri, karena ada kalanya akan dapat dikalahkan oleh orang kecil yang lemah dan tak punya kekuasaan. Oleh sebab itu tidak perlu sombong, karena di atas langit masih ada langit. 

Kemudian coba kawan tengok jari manis. Di jari ini biasanya akan melingkar sebuah cincin, terutama cincin kawin. Jari inilah dengan cincinnya yang akan menandai seseorang itu sudah punya istri ataupun suami. Meskipun menyandang status jari yang paling “parlente” dengan bertenggernya perhiasan emas di sana, tak pernah jari manis merasa sombong dan menolak untuk berkerja sama dengan jari-jari yang lain. 

Agaknya, ini juga bisa kita jadikan pelajaran. Walaupun kita adalah orang yang berada -orang kaya- janganlah kita sampaikan melupakan bahwa kita juga harus tetap bisa bekerja sama dan menjalin hubungan baik dengan orang di sekitar kita. Karena bagaimanapun juga kita adalah makhluk sosial yang tak mungkin hidup sendiri. 

Selanjutnya, mari kita perhatikan jari telunjuk. Sesuai namanya jari yang satu ini berfungsi untuk menunjuk sesuatu, entah itu tempat, orang, benda dan lain sebagainya. Tak jarang juga telunjuk ini digunakan untuk menuding seseorang. Nah, sadarkah kita ketika telunjuk menunjuk untuk menuding seseorang, ada empat jari mengarah kepada kita. Pernahkah kita berfikir bahwa ini mengisyaratkan kepada kita agar jangan terlalu cepat menilai bahkan menghakimi orang lain. Siapa tahu kita sendiri lebih buruk ketimbang mereka. 

Beralih ke jari tengah. Jari ini biasa dan sering digunakan untuk menghina dan memaki seseorang. Setidaknya ketika seseorang mengacungkan jari tengah ke arah orang lain maka konotasinya itu adalah sebuah makian atau hinaan. Walaupun jari ini identik dengan kejelekkan dan makian, namun jari yang lain tidak pernah menolak untuk bekerja sama dengan jari yang satu ini. Hal ini juga pantas menjadi cerminan buat kita dalam hidup. Meskipun seseorang itu mememiliki catatan kelam, bukan berarti serta merta kita harus menjauhi dan menghakimi mereka. Karena sebejat apapun seseorang, tetap saja ada sisi baik dalam diri mereka. 

 Kawan, kita juga patut meniru bagaimana kompaknya jari-jari kita dalam melakukan apa yang diperintahkan oleh otak. Mereka bahu-membahu melakukannya sesuai dengan ukuran dan fungsi masing-masing. Layaknya jari tadi, kita harus bisa hidup kompak, rukun dan damai dalam kehidupan bermasyarakat di tengah beragam perbedaan yang ada. Lebih baik mencari persamaan di tengah perbedaan daripada menonjolkan perbedaan dalam banyak persamaan. Hidup rukun dan kompak itu indah kawan. Dan perbedaan itu adalah rahmat jika kita mampu menyikapinya dengan bijak. 

Guru kehidupan itu ada di mana-mana. Kita bisa belajar kapan dan di manapun, termasuk dari jari tangan. Semoga bermanfaat..!!


 -Heru Perdana-
 Padang, 27112012

[ Selengkapnya...]
Label:

Sentilan Tuhan

Hari ini, tepat satu minggu kejadian itu berlalu. Kejadian yang sempat mebuat air mataku berlinang. Kawan tentu bertanya, kejadian apa gerangan yang telah menimpaku, hingga aku terkesan seperti orang cengeng. Bukan bermaksud ber-lebai-lebay dengan menceritakan kejadian ini, namun setidaknya aku berharap dengan adanya tulisan ini kita bisa sama-sama mengambil hikmah dan pelajaran. 

 Begini ceritanya kawan, seminggu yang lalu aku baru saja ditimpa musibah. Leptop pemberian orang tuaku, yang diamanahkan kepadaku dan adikku untuk bisa dipergunakan dalam mengerjakan tugas-tiugas kuliah telah hilang digondol maling. Kejadiannya begitu cepat kawan. Mungkin hanya lima menit saja waktu yang diperlukan maling itu untuk membawa laptopku, sekaligus telah berhasil membuatku termenung dan tak tau harus berbuat apa. Yang jelas kecerobohan dengan meninggalkan leptop harus kubayar mahal.

 Terus terang kawan, seperti yang telah akau singgung tadi, aku sempat berlinangan air mata beberapa saat setelah kejadian itu. Bukan karena kehilangannya. Tapi lebih karena disebabkan respon orang tuaku ketika mendengar berita kehilangan dariku. Mereka kecewa kepadaku, seolah kepercayaan yang telah mereka berikan, aku sia-siakan begitu saja. Sungguh sedih hatiku kawan. Di saat aku sedang membutuhkan kepercayaan dari mereka dalam memulai usahaku, justru malah mengecewakan mereka dengan berita kehilangan leptop. Aku tak risau kehilangan apapun di dunia ini. Namun jujur saja, aku sangat takut kehilangan kepercayaan orangtua.

Barangkali hari itu Tuhan ingin menyentilku. Mungkin saja Tuhan sudah jenuh melihat segala bentuk kecerobohan yang telah begitu sering aku lakukan, baik yang disadari maupun tidak. Agaknya melalui musibah itu Tuhan ingin memperingatkan aku tentang pentingnya sikap kehati-hatian dan mawas diri. Karena apapun bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat dengan efek yang begitu komplit. 

Sebenarnya fenomena kehilangan kali ini bukan yang pertama aku alami. Sudah ada sederetan pristiwa kehilangan sebelumnya. Mulai dari kehilangan uang, handphone, helm, buku, dan yang lainnya. Sudah terlalu sering, bahkan aku tak bisa lagi menghitung urutan yang keberapa kehilangan kali ini. Yang jelas, kehilangan kali ini adalah musibah kehilangan dengan nominal terbesar dalam sejarah kehidupanku sampai detik ini. Dan aku tak berharap akan ada kejadian serupa menimpa ku. 

Kawan, mungkin barang yang hilang tidak akan pernah kembali lagi, kecuali ada keajiban yang diberikan Tuhan. Namun, setidaknya dengan kejadian ini aku bisa mengambil hikmah. Kalaupun tidak bisa terlihat dalam waktu dekat, aku akan terus mencari dan menyelami hikmah di balik tragedi yang baru saja menimpaku. Aku masih yakin bahwa tidak ada satu pun kejadian di bawah kolong langit Allah ini yang terjadi tanpa hikmah. 

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Aku, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan, jika kita tak pandai menata hati dalam menyikapinya. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya, tak terkecuali aku. 

Bagiku sakit yang diakibatkan oleh sayatan sembilu kehilangan bisa diatasi dengan cara mengikhlaskan. Kita boleh saja berbeda pendapat dalam hal ini kawan. Tapi bagiku mengikhlaskan adalah cara terbaik dalam menentramkan hati pasca musibah kehilangan. Mengikhlaskan memang tidak bisa marubah masa lalu, tapi setidaknya dengan mengikhlaskan dapat menceriakan hari ini dan membahagiakan hari esok. Dengan mengikhlaskan pikiran kita bisa lebih jernih untuk menyibak hikmah atas peristiwa kehilangan. 

Tuhan mengingatkan hamba-Nya dengan cara berbeda-beda. Tak jarang kadang dengan cara yang menurut kita agak sedikit ekstrim. Seperti yang aku alami, kehilangan laptop untuk bisa mengerti bagaimana pentingnya sikap hati-hati dan waspa. Aku mengangap musibah ini sebagai ujian kenaikan kelas agar menjadi pribadi yang lebih kuat. Mungkin saja Tuhan sedang mempersiapkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih besar untuk diberikan sesuatu yang lebih besar, tentunya dengan desertai tanggujawab yang besar pula. Sebelum itu diberikan, tentu Tuhan ingin memantaskan hamba-Nya menerima itu semua dengan beberapa ujian. 

Tuhan menyentilku agar akau tidak terlena dan hanyut dibawa arus kecerobohan. Tuhan mengingatkan agar aku segera sadar dan tahu bagaimana cara menghargai dan menjaga barang yang diamanahkan kepadaku. Meskipun sedih karena kehilangan, tapi aku masih bersyukur Tuhan masih mau mengingatkan ku, selaku hamba-Nya. Itu menandakan Tuhan masih sayang kepadaku dengan masih mau mengingatkan. Seperti halnya orang tua yang selalu menegur jika anaknya berbuat salah.

 Sekali lagi kawan, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Setidaknya dengan merenungi dan cerdas menyikapai takdir Tuhan, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan. Kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.


 Heru Perdana
 Padang, 10 September 2012, 08: 47

[ Selengkapnya...]
Label:

Urusan Jadi Mudah dengan Sedekah

Kalau saja kawan bertanya tentang apakah aku percaya bahwa sedekah itu dapat melapangkan dan memudahkan urusan. Maka, jawabannya adalah sangat percaya. Ya, saya percaya bahwa sedekah itu dapat mempermudah urusan karena saya telah pernah merasakan dan mengalaminya sendiri.

Beberapa bulan yang lalu saya diajak oleh kawan-kawan di FoSSEI Sumbar untuk bisa bergabung dengan tim peneliti dari IMZ Jakarta untuk meneliti distribusi zakat dalam mengentaskan kemiskinan di kota Padang. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut. Hitung-hitung buat menambah pengalaman, begitu pertimbangan sederhana kala itu. Setelah mendapatkan instruksi dan teknis kerja dari koordinator tim, maka mulailah kami melakukan penelitian dengan berbekal data alamat-alamat para mustahik yang kami dapatkan dari beberapa lembaga pengelola zakat di kota ini. Kami harus mewawancarai para mustahik yang alamatnya sudah ada di tangan kami.

Ketika itu hari Selasa, adalah hari ketiga saya melaksanakan penelitian. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30 WIB. Langsung menuju daerah Padang Selatan. Karena memang target penelitian hari itu adalah sekitar kecamatan Padang Selatan. Dengan bermodalkan selembar kertas yang di dalamnya telah tertulis dengan rapi alamat yang harus dikunjungi hari itu, saya susuri gang demi gang. Namun, hingga siang menjelang tak satupun alamat yang tertera dalam kertas itu ditemukan. Saya nyaris putus asa dan patah arang. Akhirnya, saya putuskan untuk shalat zuhur dulu di sebuah mesjid. Setelah shalat aku segera menuju sebuah kedai nasi untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.

Setelah makan, saya pun segera membayar di kasir dengan menyodorkan uang lembaran Rp. 20.000,- dan di kembalikan oleh kasir Rp. 7000,- rupiah. Tanpa pikir panjang aku memeberikan semua kembalian uang tadi kepada pengemis yang biasa duduk di depan kedai nasi itu. Aku berlalu menuju sepeda motor dan segera melanjutkan penelitian dengan tetap pada target mencari alamat yang sudah saya tulis dalam selembar kertas.

Ajaib, mungkin kata itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya ketika sebuah alamat yang tertulis dalam kertas dengan begitu mudah aku temukan dan disambut dengan baik oleh calon responden yang akan saya wawancarai. Penelitian kembali dilanjutkan, kurang dari sepuluh menit saya menemukan kembali alamat calon responden yang harus diwawancarai. Singkat cerita, hari itu saya bisa mewawancarai seluruh responden yang alamatnya sudah tertera dalam kertas. Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam semua target terselesaikan.

Dalam perjalanan pulang saya berfikir, apakah ini adalah buah dari sedekah yang saya berikan pada pengemis tadi. Ya, saya yakin ini adalah buah manis dari itu semua. Kawan, ini adalah satu dari sekian pengalaman yang pernah saya rasakan selama ini terkait persoalan sedekah, sekaligus menjadi alasan nyata kenapa saya masih percaya bahwa sedekah itu bisa melapangkan dan memudahkan urusan.

Ketahuilah wahai kawan, bahwa sedekah bisa jadi instrument beramal yang maha dahsyat jika dikelola dengan cara yang baik dan tepat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan urusan sosial, sebenarnya bisa diselesaikan dengan instrument yang satu ini. Sejatinya, urusan sedekah adalah perkara hati dan keikhlasan para pelakunya. Sedekah menyimpan sejuta misteri dalam kehidupan manusia. Sedekah bisa mendatangkan berkah. Kadang memang sulit meyakini hal ini. Namun, kita bisa membutikan dengan mempraktekkan atau melakukan sendiri eksprimen tentang sedekah. Allah tidak akan pernah lupa dengan janji-Nya. Bersedekahlah dan rasakan hikmahnya.

Padang, 15 April 2012

[ Selengkapnya...]
Label:

Berjuang, Lalu Nikmati Kesuksesan

Kehidupan ini terdiri dari rangkaian demi rangkaian perjuangan untuk mengapai sesuatu. Ya, tak ada dalam hidup ini yang bisa didapatkan dengan instan, semua butuh proses dan perjuangan. Meski pun ada saya berani bertaruh kalau tidak akan tahan lama. Bersinar sebantar lalu redup dan padam. Sudah banyak contoh dipertontonkan oleh lakon kehidupan bahwa yang instan itu tidak akan bertahan lama. Sebut saja beberapa artis yang terkenal secara mendadak, tenar sebentar lalu redup dan menghilang. Kenapa itu terjadi? Alasanya adalah proses yang dijalani untuk sampai ke titik itu tidak cukup untuk membuat dia bertahan diterpa badai persaingan. Dan banyak contoh lain lagi.


Kawan tentu masih ingat dengan sebuah cerita yang mungkin sangat sering kita baca atau dengar ketika kita masih dudk di bangku sekolah dasar dulu. Kisah tentang dua ekor monyet yang yang berebut sebatang pohon pisang. Kira-kira ceritanya seperti ini. Pada suatu hari ketika dua ekor monyet sedang bermain di tepi sungai, mereka melihat sebatang pohon pisang yang hanyut. Dengan bersusah payah mereka menyeret batang pisang itu ke tepi sungai.

Ketika sudah sampai di tepi sungai, maka dua ekor monyet tadi sepakat untuk membagi batang pisang menjadi dua. Monyet pertama yang bermentalkan instan ingin mendapat bagian setengah ke atas. Kenapa? Alasannya sederhana kawan, karena pikirannya yang picik mengangap bahwa bagian atas dari pisang tadi telah berdaun dan tidak akan lama lagi tentu akan berbuah. Sementara monyet kedua harus berusaha legowo menerima jatah batang pisang setengah ke bawah yang masih memiliki akar sebagai cikal kehidupan si batang pisang. Setelah kata sepakat didapatkan, maka bergeraklah dua ekor monyet tadi ke kebun masing-masing dengan mengotong separoh dari batang pisang jatah masing-masing.

Pisang telah ditanam. Hari pertama belum ada perubahan. Pisang monyet pertama masih berdaun hijau. Sementara pisang monyet kedua belum memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Hari berganti dan waktu pun terus berjalan. Mulailah tanda-tanda kematian nampak pada pisang milik monyet pertama. Berbanding terbalik dengan pisan monyet kedua yang gurat kehidupan kian tampak jelas pada pisang yang ditanamya. Alhasil, pisang monyet kedua tumbuh dan berbuah, sedangkan monyet satu hanya merataipi pemikiranya yang salah dengan melihat kematian pisangnya. Harapan ingin cepat mandapatakan hasil malah menuai sebauh penyesalan.

Kawan, setidaknya kisah ini sudah bisa jadi pelajaran bagi kita. Bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu melewati beberapa proses sebelum menuai hasil sebagai wujud dari perjuangan kita dalam menapaki jalan menuju kesuksesan. Sejatinya proses inilah yang nantinya sangat menentukan bagaimana indahnya sebuah keberhasilan. Kita akan tahu manisnya sebuah kesuksesan dari pahitnya perjuangan yang telah kita lalui. Hidup adalah proses, maka mari kita nikmati proses itu.

Kadang sepintas lalu kesuksesan itu memang tampak mudah dan cepat. Karena kita menyaksikan di media-media yang diperlihatkan itu adalah keajaiban dari sebuah kesuksesan, bukan proses bagaimana kesuksesan itu dapat diraih. Sekali lagi saya katakan, sukses itu tidak instan, yang bisa kita lakukan hanyalah mempercepat prosesnya, bukan mengapainya dengan cara instan.

Dalam sebuah proses menuju kesuksesan perjuangan dan kesabaran mutlak diperlukan. Tanpa ini sulit kiranya kita akan sampai pada sebuah titik yang disebut dengan kesuksesan. Ada yang mengatakan bahwa orang tidak akan disebut sukses, jika belum melakukan perjuangan untuk meraih kesuksesannya. Dan sesuatu yang diperoleh tanpa usaha, sungguh itu bukanlah sebuah kesuksesan.
Mari berjuang lalu nikmati kesuksesan,..!!



Padang, 25022012

[ Selengkapnya...]
Label:

Lomba menulis antologi FTS Motivasi: “Jangan Menyerah! Bertahan! Bangkit! Menang!”-oleh Kampung WR

Salam Inspirasi,
Mari menulis buku motivasi rame-rame!
Keren loh... selain dibukukan dan terbit Nasional, penulis akan mendapatkan banyak keuntungan.

Gambaran tema lomba:
Lomba menulis ini adalah wadah bagi penulis, untuk berbagi motivasi melalui tulisan yang berdasarkan kisah nyata. Kisah yang terkait dengan ikhtiar menjadi pemenang kehidupan. Dengan harapan, orang yang membaca tulisan tersebut, akan terinspirasi dan menemukani hikmah di balik kisah yang menggugah.

"Cobaan berupa kesedihan dan keterpurukan, menjadi penghalang untuk mewujudkan impian. Jika menyerah saat ujian itu datang, maka kita akan menuai kegagalan. Tapi jika bertahan, lalu bangkit, Insya Allah akan meraih kemenangan. Maka, jangan pernah menyerah! Bertahanlah! Lalu bangkit. Insya Allah kita akan jadi pemenang kehidupan." Ini salah satu pesan yang terkandung dalam buku antologi kita nanti.

Syarat dan Lomba:

  1. Lomba terbuka untuk umum. 
  2. Sesuai dengan jenis tulisan ( FTS), maka isi naskah tulisan adalah cerita yang diangkat dari kisah nyata pribadi atau orang lain.
  3. Naskah ditulis dalam bentuk narasi (gaya bercerita yang mengalir).
  4. Naskah ditulis dalam file MW 2003/2007, jenis kertas A4, spasi 2, batas margin 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi. Jumlah kata dalam naskah minimal 350 - maksimal 500, termasuk judul.
  5. Naskah adalah karya sendiri (bukan saduran) dan belum pernah dipublikasikan lewat media mana pun.
  6. Setiap peserta, melampirkan biodata berupa narasi maksimal 60 kata, lengkap dengan nama/akun fb, alamat lengkap. Yang ditulis di lembar bawah naskah (terpisah).
  7. Naskah FTS dikirim ke email: wrmotivasi@ymail.com berupa attachman, bukan di badan email.
  8. Tulis judul email: FTS MOTIVASI-Nama fb Penulis. Tulis nama file word: Judul FTS-Nama Penulis.
  9. Setiap peserta hanya bisa mengirimkan satu naskah FTS Motivasi terbaiknya.
  10. Lomba ini dibuka pada tanggal 12 Februari 2012 s.d 21 Maret 2012 (Jam 22:00 WIB)
  11. Hasil Lomba akan diumumkan tanggal 28 Maret 2012, Jam 20:12 WIB
  12. Naskah yang dikirim menjadi hak pelaksana lomba untuk dibukukan.
  13. Keputusan Dwan Juri mengikat.
  14. Tag info lomba ini ke minimal 10 orang sahabat fb.

Unsur-Unsur Penting yang dinilai dalam naskah:

  1. Kesesuaian isi tulisan dengan tema lomba. 
  2. Kaidah penulisan (EYD). 
  3. Kekuatan pesan motivasi yang disajikan, serta keunikan kisah yang diceritakan.


Apresiasi lomba:
Naskah FTS dari 100 orang nominator, akan dibukukan.
Hadiah uang tunai untuk pemenang:
Juara I = Rp. 100.000
Juara I =Rp. 75.000
Juara III =Rp. 50.000


Hadiah berupa beasiswa masuk Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO) Writing Revolution (WR) untuk 5 orang pemenang favorit.
100 orang nominator, akan mendapatkan e-Sertifikat


Ketentuan mengikat:

Sebagai upaya, untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan Insya Allah akan "membumi". Peserta lomba, yang berhasil lolos sebagai NOMINATOR antologi FTS Motivasi, diwajibkan untuk membayar dana “investasi” Rp.80.000 ke penyelenggara lomba. Info tentang proses pengiriman/transfer dana ke rekening bank, akan dibahas setelah diketahui nama-nama nominator lomba.

 

Berikut fasilitas untuk 100 orang nominator lomba, di antaranya:

  1. Nominator lomba akan mendapatkan 4 buku sebagai bukti terbit, dan dikirim bebas ongkir ke alamat masing-masing! 
  2. 100 orang nominator lomba, secara langsung melakukan amal kebaikan (sedekah). Karena 5 % dari dana investasi yang terkumpul, akan disumbangkan ke anak Panti Asuhan.
  3. Penulis (100 orang kontributor) dapat keuntungan lansung; dari penjualan 3 buku yang diterima (puluhan ribu rupiah) plus tabungan awal dalam KAS ROYALTI Para Penulis. Selain itu, ada Royalti juga dari Penerbit, yang 100 % akan dibagikan untuk Penulis.
  4. Dan banyak lagi keuntungan/kemudahan lainnya.

Penjelasan rencana pemasukan dan pengeluaran dana pelaksanaan lomba plus dana pendistribusian buku, akan disampaiakan secara transparan kepada nominator lomba. Setelah hasil lomba diumumkan.

Kitalah yang memulai, untuk mengapresiasi hasil pemikiran dan kerja keras kita sendiri.
Mari ber-Ibadah dan memetik kemudahan dengan mengumpulkan RP.80.000, Insya Allah, karya dijamin “membumi” dan modal awal segera kembali!!


Semua proses lomba ditangani secara Profesional. Insya Allah antologi kita juga bermutu, karena lahir dari sebuah kompetisi.

Demikian Info lomba ini kami sampaikan. Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua penulis yang berkenan ikut berpartisipasi.

Wassalam.
Kantor Rumah Motivasi Kelurahan WR, 11 Februari 2012

Penangung Jawab Lomba FTS Motivasi:
Shitie Fatimah Maniez dan Va Ayana Lubis

Ketua Penyelenggara Lomba Menulis: Lurah Kelurahan WR-Rumah Menulis
Erpin Leader

Mengetahui:
Kepala Pusat SMO WR: Hylla Shane Gerhana
Presiden Direktur SMO WR: Joni Lis Effendi
Sponsor Lomba: SMCO WR: http://menulisdahsyat.blogspot.com/2011/03/sekolah-menulis-cerpen-online-smco.html

*)Sumber: Kampung Writing Revolution-Rumah Penulis

[ Selengkapnya...]

Gelar dari Minang

Tersebutlah Usman Piliang, seorang supir camat di Kampung Hilir, meminta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu peruntungan. Setali tiga uang, ternyata permintaannya disetujui oleh Pak Camat Kampung Hilir. Dengan begitu berngakatlah dia ke Jakarta untuk melaksanakan niatnya.

Setibanya di Jakarta, mula-mula dia bekerja sebagai tukang angkat di Tanah Abang. Setelah dapat mengumpulkan sedikit modal, dia mulai berdagang. Dengan modal seadanya digelarlah dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya. Singkat cerita, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya. Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman Piliang, MSc.


Kabar kesuksesan Usman merebak dengan cepat di kampungnya. Mendengar kabar tersebut, ayahnya ingin berkunjung ke umahnya di rantau. Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang. Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama itu, "Nama itu artinya 'Disiko Rumahnyo Usman Piliang Mantan Supir Camat'."




Disiko= disini
nyo= nya

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters

Followers