Ibu, Wanita berjuta Kasih

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa,.....

Sepenggal lirik lagu di atas kiranya sangat cocok dalam mengambarkan kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya.

Coba mari kita kembali merenung sejenak, sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini dan sudah berapa banyak kita membalas tulus kasih seorang ibu?
Apakah kita hadir ke dunia ini begitu saja? Jawabannya tentu saja “tidak”. Ada sesosok pribadi yang telah rela mempertaruhkan nyawanya, sehingga kita bisa menghirup udara segar di bumi Allah yang elok ini. Yah, dialah “ibu”. Seorang wanita berjuta kasih. Lewat pengorbanan dan perjuangan beliau kita bisa mengecap manisnya madu kehidupan. Bukan hanya darah, tetesan air mata dan juga peluh kesakitan, namun juga untaian do’a dan harapan disenandungkan untuk kesejahteraan dan kebahagian kita, anaknya.

Jangan kita mengira kalau perjuangan dan pengorbanan itu dimulai hanya dari semenjak kita lahir saja. Perlu kita sadari bersama, bahwa pengorbanan dan perjuangan itu sudah dimulai jauh sebelum tangisan pertama kita terdengar. Ya sembilan bulan sebelum itu seorang ibu telah mengandung dan membawa kita kemana-mana dengan penuh cinta dan kasih sayang. Belum lagi ketika melahirkan kita, seorang ibu harus bersabung nyawa antara hidup dan mati. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat luar biasa. Hanya wanita yang tangguh dan memiliki cinta kasih yang luar biasa yang mampu menjalani dan melewati itu semua. Cinta kasih itulah yang telah membuat seorang ibu mampu memikul beban yang luar biasa itu. Rasa itu jugalah yang telah membuat ibu sanggup menahan penat, lelah dan berjuta rasa tidak nyaman yang mendera ketika mengandung dan melahirkan kita.

Hari itu kita telah dilahirkan. Kelahiran yang disambut dengan suka cita oleh orang yang ada di sekeliling kita. Sesosok manusia munggil nan lucu telah lahir dari rahim seorang wanita yang tangguh dan penuh kasih sayang−dialah ibu kita−. Penat dan lelah serta rasa sakit seketika hilang ketika mendengar tangisan pertama kita, anaknya yang kelak diharapkan akan membawa sejuta harapan dari beliau. Sesaat setelah, itu sang ibu segera memberikan ASI pertamanya kepada anaknya. Ketika itulah kita akan meresakan hangatnya aliran cinta dan kasih sayang dari seorang ibu yang tidak akan mungkin terbalas sampai kapanpun. Seiring dengan kelahiran kita, itu artinya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang lebih berat akan segera dimulai kembali.

Waktu terus saja berjalan, kita telah tumbuh menjadi seorang bayi yang mungil dan lucu. Seorang ibu begitu telaten merawat dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus dan tak tergantikan. Ibu rela mengurangi waktu tidurnya demi kenyamanan tidur kita, anaknya terkasih. Seekor nyamuk pun tidak direlakan oleh ibu untuk hinggap dan menggigit tubuh anaknya. Ketika kita menangis, ibu pun dengan sigap mencari sebab kenapa buah hatinya menangis. Apakah kerena lapar dan haus atau karena popok anaknya basah dan harus diganti? Ah, sungguh luar biasa kasih sayangmu ibu.

Ibu adalah wanita yang hebat. Bahkan sangat hebat dan luar biasa. Tidak ada satu katapun yang pantas dan bisa untuk melukiskan kehebatan kasih sayang seorang ibu. Ibu adalah sosok pribadi yang pemberi. Seorang pemberi tanpa pambrih dan selalu diiringi dengan hangatnya kasih sayang. Mulai dari do’a, pengorbanan yang tulus, tenaga, fikiran, waktu, harta benda dan juga air mata telah diberikan oleh seorang ibu kepada kita. Hanya satu harapan beliau, yaitu supaya anak-anaknya bisa bahagia dan hidup sejahtera. Sederhana bukan? Ya, tapi tidak dengan pengorbanan ibu untuk kita, pegorbanan beliau sungguh luar biasa. Kadang agar kita bahagia, tidak jarang seorang ibu harus mengabaikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Ketika kita sudah memasuki usia sekolah dan baru saja belajar untuk menulis dan membaca. Seorang ibu dengan begitu sabar dan penuh kasih sayang mendampingi si buah hati dalam mengeja setiap huruf yang kita baca. Ibu juga dengan begitu telaten mengajarkan tangan kita untuk mengukir setiap goresan angka dan huruf di atas lembaran kertas putih. Hal itu terus berlangsung hingga kita pandai dan lancar membaca serta menulis.

Tidak terasa waktu begitu cepat berputar dan berlalu. Kita, bayi mungil nan lucu tadi telah tumbuh menjadi sesosok pribadi yang dewasa. Sekian tahun sudah berlalu semenjak tangisan pertama kita terdengar. Selama itu pula kita telah dibesarkan dan dididik dengan hangatnya sentuhan cinta dan kasih sayang dari seorang ibu. Bahkan sampai saat sekarang ini kita tetap saja merasakan hangatnya aliran kasih sayang ibu itu. Kasih sayang yang tidak akan pernah habis sampai kapanpun. Kasih sayang seorang ibu kepada kita ibarat matahari yang tiada jemu menyinari hamparan bumi Allah ini. Mengingat begitu besarnya jasa dan kasih sayang seorang ibu kepada kepada kita, rasanya tidak berlebihan Allah Tuhan Yang Maha Agung menganjar jasa beliau dengan meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu. Agar kita tidak lupa dan durhaka kepada beliau.

Begitu besar cinta, kasih dan sayang seorang ibu kepada kita. Apakah masih ada alasan buat kita untuk melukai hatinya? Apakah masih ada alasan bagi kita untuk tidak membahagiakan beliau? Tanyalah hati kecil kita masing-masing, dan jawablah dengan jujur setulus hati.

Mulai hari ini mari kita berkomitmen untuk tidak akan melukai hati seorang ibu. Mulai saat ini mari kita berjanji untuk tidak akan membuat seorang ibu meneteskan air mata, akibat luka karena sayatan pisau perbuatan buruk kita. Mulai detik ini mari kita tingkatkan bakhti kita kepada ibu, orang yang telah melahirkan kita. Ketika beliau sudah tiadapun kita masih harus berbakti melalui do’a. Do’a seorang anak yang shaleh.

Ingatlah, Kasih ibu itu sepanjang jalan dan sepanjang masa,….


*Oleh: Heru Perdana ──sebuah renungan──
22122012


[ Selengkapnya...]
Label:

Belajar Dari Jari Tangan

Sebagai seorang manusia normal tentu kita memiliki tangan. Pada tangan tersebut ada lima jari. Kelima jari itu memiliki nama yang berbeda dan dengan fungsi yang berbeda pula. Namun, pernahkah terfikir oleh kawan untuk belajar dari kelima jari itu? Ya, jika mau kita dapat belajar tentang kehidupan dari jari tangan kita sendiri. 

Jari tangan tidak hanya berfungsi untuk menggenggam. Juga tidak melulu digunakan untuk menunjang aktifitas kita sehari-hari. Ada fungsi lainnya yaitu untuk sarana belajar tentang kehidupan jika kita mau sedikit merenung dan berfikir. Tentu ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari bahagian tubuh yang ini. 

Mari kawan, kita perhatikan satu persatu dari lima jari tangan kita. Ibu jari yang berukuran paling besar melambangkan simbol yang bagus atau hebat. Hal ini tercermin ketika kita menggunakan ibu jari untuk memberi apresiasi pada sesuatu yang kita nilai baik, bagus, indah, canggih dan sebagainya. Akan tetapi, ibu jari yang gemuk itu akan kalah oleh jari kelingking yang lebih kecil, bahkan paling kecil ketimbang jari-jari yang lain dalam permaianan “suit-suitan”. Hal ini mengambarkan kepada kita bahwa orang besar, berkuasa, dan punya kelebihan tidak boleh sombong dan lupa diri, karena ada kalanya akan dapat dikalahkan oleh orang kecil yang lemah dan tak punya kekuasaan. Oleh sebab itu tidak perlu sombong, karena di atas langit masih ada langit. 

Kemudian coba kawan tengok jari manis. Di jari ini biasanya akan melingkar sebuah cincin, terutama cincin kawin. Jari inilah dengan cincinnya yang akan menandai seseorang itu sudah punya istri ataupun suami. Meskipun menyandang status jari yang paling “parlente” dengan bertenggernya perhiasan emas di sana, tak pernah jari manis merasa sombong dan menolak untuk berkerja sama dengan jari-jari yang lain. 

Agaknya, ini juga bisa kita jadikan pelajaran. Walaupun kita adalah orang yang berada -orang kaya- janganlah kita sampaikan melupakan bahwa kita juga harus tetap bisa bekerja sama dan menjalin hubungan baik dengan orang di sekitar kita. Karena bagaimanapun juga kita adalah makhluk sosial yang tak mungkin hidup sendiri. 

Selanjutnya, mari kita perhatikan jari telunjuk. Sesuai namanya jari yang satu ini berfungsi untuk menunjuk sesuatu, entah itu tempat, orang, benda dan lain sebagainya. Tak jarang juga telunjuk ini digunakan untuk menuding seseorang. Nah, sadarkah kita ketika telunjuk menunjuk untuk menuding seseorang, ada empat jari mengarah kepada kita. Pernahkah kita berfikir bahwa ini mengisyaratkan kepada kita agar jangan terlalu cepat menilai bahkan menghakimi orang lain. Siapa tahu kita sendiri lebih buruk ketimbang mereka. 

Beralih ke jari tengah. Jari ini biasa dan sering digunakan untuk menghina dan memaki seseorang. Setidaknya ketika seseorang mengacungkan jari tengah ke arah orang lain maka konotasinya itu adalah sebuah makian atau hinaan. Walaupun jari ini identik dengan kejelekkan dan makian, namun jari yang lain tidak pernah menolak untuk bekerja sama dengan jari yang satu ini. Hal ini juga pantas menjadi cerminan buat kita dalam hidup. Meskipun seseorang itu mememiliki catatan kelam, bukan berarti serta merta kita harus menjauhi dan menghakimi mereka. Karena sebejat apapun seseorang, tetap saja ada sisi baik dalam diri mereka. 

 Kawan, kita juga patut meniru bagaimana kompaknya jari-jari kita dalam melakukan apa yang diperintahkan oleh otak. Mereka bahu-membahu melakukannya sesuai dengan ukuran dan fungsi masing-masing. Layaknya jari tadi, kita harus bisa hidup kompak, rukun dan damai dalam kehidupan bermasyarakat di tengah beragam perbedaan yang ada. Lebih baik mencari persamaan di tengah perbedaan daripada menonjolkan perbedaan dalam banyak persamaan. Hidup rukun dan kompak itu indah kawan. Dan perbedaan itu adalah rahmat jika kita mampu menyikapinya dengan bijak. 

Guru kehidupan itu ada di mana-mana. Kita bisa belajar kapan dan di manapun, termasuk dari jari tangan. Semoga bermanfaat..!!


 -Heru Perdana-
 Padang, 27112012

[ Selengkapnya...]
Label:

Sentilan Tuhan

Hari ini, tepat satu minggu kejadian itu berlalu. Kejadian yang sempat mebuat air mataku berlinang. Kawan tentu bertanya, kejadian apa gerangan yang telah menimpaku, hingga aku terkesan seperti orang cengeng. Bukan bermaksud ber-lebai-lebay dengan menceritakan kejadian ini, namun setidaknya aku berharap dengan adanya tulisan ini kita bisa sama-sama mengambil hikmah dan pelajaran. 

 Begini ceritanya kawan, seminggu yang lalu aku baru saja ditimpa musibah. Leptop pemberian orang tuaku, yang diamanahkan kepadaku dan adikku untuk bisa dipergunakan dalam mengerjakan tugas-tiugas kuliah telah hilang digondol maling. Kejadiannya begitu cepat kawan. Mungkin hanya lima menit saja waktu yang diperlukan maling itu untuk membawa laptopku, sekaligus telah berhasil membuatku termenung dan tak tau harus berbuat apa. Yang jelas kecerobohan dengan meninggalkan leptop harus kubayar mahal.

 Terus terang kawan, seperti yang telah akau singgung tadi, aku sempat berlinangan air mata beberapa saat setelah kejadian itu. Bukan karena kehilangannya. Tapi lebih karena disebabkan respon orang tuaku ketika mendengar berita kehilangan dariku. Mereka kecewa kepadaku, seolah kepercayaan yang telah mereka berikan, aku sia-siakan begitu saja. Sungguh sedih hatiku kawan. Di saat aku sedang membutuhkan kepercayaan dari mereka dalam memulai usahaku, justru malah mengecewakan mereka dengan berita kehilangan leptop. Aku tak risau kehilangan apapun di dunia ini. Namun jujur saja, aku sangat takut kehilangan kepercayaan orangtua.

Barangkali hari itu Tuhan ingin menyentilku. Mungkin saja Tuhan sudah jenuh melihat segala bentuk kecerobohan yang telah begitu sering aku lakukan, baik yang disadari maupun tidak. Agaknya melalui musibah itu Tuhan ingin memperingatkan aku tentang pentingnya sikap kehati-hatian dan mawas diri. Karena apapun bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat dengan efek yang begitu komplit. 

Sebenarnya fenomena kehilangan kali ini bukan yang pertama aku alami. Sudah ada sederetan pristiwa kehilangan sebelumnya. Mulai dari kehilangan uang, handphone, helm, buku, dan yang lainnya. Sudah terlalu sering, bahkan aku tak bisa lagi menghitung urutan yang keberapa kehilangan kali ini. Yang jelas, kehilangan kali ini adalah musibah kehilangan dengan nominal terbesar dalam sejarah kehidupanku sampai detik ini. Dan aku tak berharap akan ada kejadian serupa menimpa ku. 

Kawan, mungkin barang yang hilang tidak akan pernah kembali lagi, kecuali ada keajiban yang diberikan Tuhan. Namun, setidaknya dengan kejadian ini aku bisa mengambil hikmah. Kalaupun tidak bisa terlihat dalam waktu dekat, aku akan terus mencari dan menyelami hikmah di balik tragedi yang baru saja menimpaku. Aku masih yakin bahwa tidak ada satu pun kejadian di bawah kolong langit Allah ini yang terjadi tanpa hikmah. 

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Aku, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan, jika kita tak pandai menata hati dalam menyikapinya. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya, tak terkecuali aku. 

Bagiku sakit yang diakibatkan oleh sayatan sembilu kehilangan bisa diatasi dengan cara mengikhlaskan. Kita boleh saja berbeda pendapat dalam hal ini kawan. Tapi bagiku mengikhlaskan adalah cara terbaik dalam menentramkan hati pasca musibah kehilangan. Mengikhlaskan memang tidak bisa marubah masa lalu, tapi setidaknya dengan mengikhlaskan dapat menceriakan hari ini dan membahagiakan hari esok. Dengan mengikhlaskan pikiran kita bisa lebih jernih untuk menyibak hikmah atas peristiwa kehilangan. 

Tuhan mengingatkan hamba-Nya dengan cara berbeda-beda. Tak jarang kadang dengan cara yang menurut kita agak sedikit ekstrim. Seperti yang aku alami, kehilangan laptop untuk bisa mengerti bagaimana pentingnya sikap hati-hati dan waspa. Aku mengangap musibah ini sebagai ujian kenaikan kelas agar menjadi pribadi yang lebih kuat. Mungkin saja Tuhan sedang mempersiapkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih besar untuk diberikan sesuatu yang lebih besar, tentunya dengan desertai tanggujawab yang besar pula. Sebelum itu diberikan, tentu Tuhan ingin memantaskan hamba-Nya menerima itu semua dengan beberapa ujian. 

Tuhan menyentilku agar akau tidak terlena dan hanyut dibawa arus kecerobohan. Tuhan mengingatkan agar aku segera sadar dan tahu bagaimana cara menghargai dan menjaga barang yang diamanahkan kepadaku. Meskipun sedih karena kehilangan, tapi aku masih bersyukur Tuhan masih mau mengingatkan ku, selaku hamba-Nya. Itu menandakan Tuhan masih sayang kepadaku dengan masih mau mengingatkan. Seperti halnya orang tua yang selalu menegur jika anaknya berbuat salah.

 Sekali lagi kawan, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Setidaknya dengan merenungi dan cerdas menyikapai takdir Tuhan, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan. Kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.


 Heru Perdana
 Padang, 10 September 2012, 08: 47

[ Selengkapnya...]
Label:

Urusan Jadi Mudah dengan Sedekah

Kalau saja kawan bertanya tentang apakah aku percaya bahwa sedekah itu dapat melapangkan dan memudahkan urusan. Maka, jawabannya adalah sangat percaya. Ya, saya percaya bahwa sedekah itu dapat mempermudah urusan karena saya telah pernah merasakan dan mengalaminya sendiri.

Beberapa bulan yang lalu saya diajak oleh kawan-kawan di FoSSEI Sumbar untuk bisa bergabung dengan tim peneliti dari IMZ Jakarta untuk meneliti distribusi zakat dalam mengentaskan kemiskinan di kota Padang. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut. Hitung-hitung buat menambah pengalaman, begitu pertimbangan sederhana kala itu. Setelah mendapatkan instruksi dan teknis kerja dari koordinator tim, maka mulailah kami melakukan penelitian dengan berbekal data alamat-alamat para mustahik yang kami dapatkan dari beberapa lembaga pengelola zakat di kota ini. Kami harus mewawancarai para mustahik yang alamatnya sudah ada di tangan kami.

Ketika itu hari Selasa, adalah hari ketiga saya melaksanakan penelitian. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30 WIB. Langsung menuju daerah Padang Selatan. Karena memang target penelitian hari itu adalah sekitar kecamatan Padang Selatan. Dengan bermodalkan selembar kertas yang di dalamnya telah tertulis dengan rapi alamat yang harus dikunjungi hari itu, saya susuri gang demi gang. Namun, hingga siang menjelang tak satupun alamat yang tertera dalam kertas itu ditemukan. Saya nyaris putus asa dan patah arang. Akhirnya, saya putuskan untuk shalat zuhur dulu di sebuah mesjid. Setelah shalat aku segera menuju sebuah kedai nasi untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.

Setelah makan, saya pun segera membayar di kasir dengan menyodorkan uang lembaran Rp. 20.000,- dan di kembalikan oleh kasir Rp. 7000,- rupiah. Tanpa pikir panjang aku memeberikan semua kembalian uang tadi kepada pengemis yang biasa duduk di depan kedai nasi itu. Aku berlalu menuju sepeda motor dan segera melanjutkan penelitian dengan tetap pada target mencari alamat yang sudah saya tulis dalam selembar kertas.

Ajaib, mungkin kata itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya ketika sebuah alamat yang tertulis dalam kertas dengan begitu mudah aku temukan dan disambut dengan baik oleh calon responden yang akan saya wawancarai. Penelitian kembali dilanjutkan, kurang dari sepuluh menit saya menemukan kembali alamat calon responden yang harus diwawancarai. Singkat cerita, hari itu saya bisa mewawancarai seluruh responden yang alamatnya sudah tertera dalam kertas. Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua jam semua target terselesaikan.

Dalam perjalanan pulang saya berfikir, apakah ini adalah buah dari sedekah yang saya berikan pada pengemis tadi. Ya, saya yakin ini adalah buah manis dari itu semua. Kawan, ini adalah satu dari sekian pengalaman yang pernah saya rasakan selama ini terkait persoalan sedekah, sekaligus menjadi alasan nyata kenapa saya masih percaya bahwa sedekah itu bisa melapangkan dan memudahkan urusan.

Ketahuilah wahai kawan, bahwa sedekah bisa jadi instrument beramal yang maha dahsyat jika dikelola dengan cara yang baik dan tepat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan urusan sosial, sebenarnya bisa diselesaikan dengan instrument yang satu ini. Sejatinya, urusan sedekah adalah perkara hati dan keikhlasan para pelakunya. Sedekah menyimpan sejuta misteri dalam kehidupan manusia. Sedekah bisa mendatangkan berkah. Kadang memang sulit meyakini hal ini. Namun, kita bisa membutikan dengan mempraktekkan atau melakukan sendiri eksprimen tentang sedekah. Allah tidak akan pernah lupa dengan janji-Nya. Bersedekahlah dan rasakan hikmahnya.

Padang, 15 April 2012

[ Selengkapnya...]
Label:

Berjuang, Lalu Nikmati Kesuksesan

Kehidupan ini terdiri dari rangkaian demi rangkaian perjuangan untuk mengapai sesuatu. Ya, tak ada dalam hidup ini yang bisa didapatkan dengan instan, semua butuh proses dan perjuangan. Meski pun ada saya berani bertaruh kalau tidak akan tahan lama. Bersinar sebantar lalu redup dan padam. Sudah banyak contoh dipertontonkan oleh lakon kehidupan bahwa yang instan itu tidak akan bertahan lama. Sebut saja beberapa artis yang terkenal secara mendadak, tenar sebentar lalu redup dan menghilang. Kenapa itu terjadi? Alasanya adalah proses yang dijalani untuk sampai ke titik itu tidak cukup untuk membuat dia bertahan diterpa badai persaingan. Dan banyak contoh lain lagi.


Kawan tentu masih ingat dengan sebuah cerita yang mungkin sangat sering kita baca atau dengar ketika kita masih dudk di bangku sekolah dasar dulu. Kisah tentang dua ekor monyet yang yang berebut sebatang pohon pisang. Kira-kira ceritanya seperti ini. Pada suatu hari ketika dua ekor monyet sedang bermain di tepi sungai, mereka melihat sebatang pohon pisang yang hanyut. Dengan bersusah payah mereka menyeret batang pisang itu ke tepi sungai.

Ketika sudah sampai di tepi sungai, maka dua ekor monyet tadi sepakat untuk membagi batang pisang menjadi dua. Monyet pertama yang bermentalkan instan ingin mendapat bagian setengah ke atas. Kenapa? Alasannya sederhana kawan, karena pikirannya yang picik mengangap bahwa bagian atas dari pisang tadi telah berdaun dan tidak akan lama lagi tentu akan berbuah. Sementara monyet kedua harus berusaha legowo menerima jatah batang pisang setengah ke bawah yang masih memiliki akar sebagai cikal kehidupan si batang pisang. Setelah kata sepakat didapatkan, maka bergeraklah dua ekor monyet tadi ke kebun masing-masing dengan mengotong separoh dari batang pisang jatah masing-masing.

Pisang telah ditanam. Hari pertama belum ada perubahan. Pisang monyet pertama masih berdaun hijau. Sementara pisang monyet kedua belum memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Hari berganti dan waktu pun terus berjalan. Mulailah tanda-tanda kematian nampak pada pisang milik monyet pertama. Berbanding terbalik dengan pisan monyet kedua yang gurat kehidupan kian tampak jelas pada pisang yang ditanamya. Alhasil, pisang monyet kedua tumbuh dan berbuah, sedangkan monyet satu hanya merataipi pemikiranya yang salah dengan melihat kematian pisangnya. Harapan ingin cepat mandapatakan hasil malah menuai sebauh penyesalan.

Kawan, setidaknya kisah ini sudah bisa jadi pelajaran bagi kita. Bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu melewati beberapa proses sebelum menuai hasil sebagai wujud dari perjuangan kita dalam menapaki jalan menuju kesuksesan. Sejatinya proses inilah yang nantinya sangat menentukan bagaimana indahnya sebuah keberhasilan. Kita akan tahu manisnya sebuah kesuksesan dari pahitnya perjuangan yang telah kita lalui. Hidup adalah proses, maka mari kita nikmati proses itu.

Kadang sepintas lalu kesuksesan itu memang tampak mudah dan cepat. Karena kita menyaksikan di media-media yang diperlihatkan itu adalah keajaiban dari sebuah kesuksesan, bukan proses bagaimana kesuksesan itu dapat diraih. Sekali lagi saya katakan, sukses itu tidak instan, yang bisa kita lakukan hanyalah mempercepat prosesnya, bukan mengapainya dengan cara instan.

Dalam sebuah proses menuju kesuksesan perjuangan dan kesabaran mutlak diperlukan. Tanpa ini sulit kiranya kita akan sampai pada sebuah titik yang disebut dengan kesuksesan. Ada yang mengatakan bahwa orang tidak akan disebut sukses, jika belum melakukan perjuangan untuk meraih kesuksesannya. Dan sesuatu yang diperoleh tanpa usaha, sungguh itu bukanlah sebuah kesuksesan.
Mari berjuang lalu nikmati kesuksesan,..!!



Padang, 25022012

[ Selengkapnya...]
Label:

Lomba menulis antologi FTS Motivasi: “Jangan Menyerah! Bertahan! Bangkit! Menang!”-oleh Kampung WR

Salam Inspirasi,
Mari menulis buku motivasi rame-rame!
Keren loh... selain dibukukan dan terbit Nasional, penulis akan mendapatkan banyak keuntungan.

Gambaran tema lomba:
Lomba menulis ini adalah wadah bagi penulis, untuk berbagi motivasi melalui tulisan yang berdasarkan kisah nyata. Kisah yang terkait dengan ikhtiar menjadi pemenang kehidupan. Dengan harapan, orang yang membaca tulisan tersebut, akan terinspirasi dan menemukani hikmah di balik kisah yang menggugah.

"Cobaan berupa kesedihan dan keterpurukan, menjadi penghalang untuk mewujudkan impian. Jika menyerah saat ujian itu datang, maka kita akan menuai kegagalan. Tapi jika bertahan, lalu bangkit, Insya Allah akan meraih kemenangan. Maka, jangan pernah menyerah! Bertahanlah! Lalu bangkit. Insya Allah kita akan jadi pemenang kehidupan." Ini salah satu pesan yang terkandung dalam buku antologi kita nanti.

Syarat dan Lomba:

  1. Lomba terbuka untuk umum. 
  2. Sesuai dengan jenis tulisan ( FTS), maka isi naskah tulisan adalah cerita yang diangkat dari kisah nyata pribadi atau orang lain.
  3. Naskah ditulis dalam bentuk narasi (gaya bercerita yang mengalir).
  4. Naskah ditulis dalam file MW 2003/2007, jenis kertas A4, spasi 2, batas margin 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi. Jumlah kata dalam naskah minimal 350 - maksimal 500, termasuk judul.
  5. Naskah adalah karya sendiri (bukan saduran) dan belum pernah dipublikasikan lewat media mana pun.
  6. Setiap peserta, melampirkan biodata berupa narasi maksimal 60 kata, lengkap dengan nama/akun fb, alamat lengkap. Yang ditulis di lembar bawah naskah (terpisah).
  7. Naskah FTS dikirim ke email: wrmotivasi@ymail.com berupa attachman, bukan di badan email.
  8. Tulis judul email: FTS MOTIVASI-Nama fb Penulis. Tulis nama file word: Judul FTS-Nama Penulis.
  9. Setiap peserta hanya bisa mengirimkan satu naskah FTS Motivasi terbaiknya.
  10. Lomba ini dibuka pada tanggal 12 Februari 2012 s.d 21 Maret 2012 (Jam 22:00 WIB)
  11. Hasil Lomba akan diumumkan tanggal 28 Maret 2012, Jam 20:12 WIB
  12. Naskah yang dikirim menjadi hak pelaksana lomba untuk dibukukan.
  13. Keputusan Dwan Juri mengikat.
  14. Tag info lomba ini ke minimal 10 orang sahabat fb.

Unsur-Unsur Penting yang dinilai dalam naskah:

  1. Kesesuaian isi tulisan dengan tema lomba. 
  2. Kaidah penulisan (EYD). 
  3. Kekuatan pesan motivasi yang disajikan, serta keunikan kisah yang diceritakan.


Apresiasi lomba:
Naskah FTS dari 100 orang nominator, akan dibukukan.
Hadiah uang tunai untuk pemenang:
Juara I = Rp. 100.000
Juara I =Rp. 75.000
Juara III =Rp. 50.000


Hadiah berupa beasiswa masuk Sekolah Menulis Cerpen Online (SMCO) Writing Revolution (WR) untuk 5 orang pemenang favorit.
100 orang nominator, akan mendapatkan e-Sertifikat


Ketentuan mengikat:

Sebagai upaya, untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan Insya Allah akan "membumi". Peserta lomba, yang berhasil lolos sebagai NOMINATOR antologi FTS Motivasi, diwajibkan untuk membayar dana “investasi” Rp.80.000 ke penyelenggara lomba. Info tentang proses pengiriman/transfer dana ke rekening bank, akan dibahas setelah diketahui nama-nama nominator lomba.

 

Berikut fasilitas untuk 100 orang nominator lomba, di antaranya:

  1. Nominator lomba akan mendapatkan 4 buku sebagai bukti terbit, dan dikirim bebas ongkir ke alamat masing-masing! 
  2. 100 orang nominator lomba, secara langsung melakukan amal kebaikan (sedekah). Karena 5 % dari dana investasi yang terkumpul, akan disumbangkan ke anak Panti Asuhan.
  3. Penulis (100 orang kontributor) dapat keuntungan lansung; dari penjualan 3 buku yang diterima (puluhan ribu rupiah) plus tabungan awal dalam KAS ROYALTI Para Penulis. Selain itu, ada Royalti juga dari Penerbit, yang 100 % akan dibagikan untuk Penulis.
  4. Dan banyak lagi keuntungan/kemudahan lainnya.

Penjelasan rencana pemasukan dan pengeluaran dana pelaksanaan lomba plus dana pendistribusian buku, akan disampaiakan secara transparan kepada nominator lomba. Setelah hasil lomba diumumkan.

Kitalah yang memulai, untuk mengapresiasi hasil pemikiran dan kerja keras kita sendiri.
Mari ber-Ibadah dan memetik kemudahan dengan mengumpulkan RP.80.000, Insya Allah, karya dijamin “membumi” dan modal awal segera kembali!!


Semua proses lomba ditangani secara Profesional. Insya Allah antologi kita juga bermutu, karena lahir dari sebuah kompetisi.

Demikian Info lomba ini kami sampaikan. Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua penulis yang berkenan ikut berpartisipasi.

Wassalam.
Kantor Rumah Motivasi Kelurahan WR, 11 Februari 2012

Penangung Jawab Lomba FTS Motivasi:
Shitie Fatimah Maniez dan Va Ayana Lubis

Ketua Penyelenggara Lomba Menulis: Lurah Kelurahan WR-Rumah Menulis
Erpin Leader

Mengetahui:
Kepala Pusat SMO WR: Hylla Shane Gerhana
Presiden Direktur SMO WR: Joni Lis Effendi
Sponsor Lomba: SMCO WR: http://menulisdahsyat.blogspot.com/2011/03/sekolah-menulis-cerpen-online-smco.html

*)Sumber: Kampung Writing Revolution-Rumah Penulis

[ Selengkapnya...]

Gelar dari Minang

Tersebutlah Usman Piliang, seorang supir camat di Kampung Hilir, meminta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu peruntungan. Setali tiga uang, ternyata permintaannya disetujui oleh Pak Camat Kampung Hilir. Dengan begitu berngakatlah dia ke Jakarta untuk melaksanakan niatnya.

Setibanya di Jakarta, mula-mula dia bekerja sebagai tukang angkat di Tanah Abang. Setelah dapat mengumpulkan sedikit modal, dia mulai berdagang. Dengan modal seadanya digelarlah dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya. Singkat cerita, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya. Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman Piliang, MSc.


Kabar kesuksesan Usman merebak dengan cepat di kampungnya. Mendengar kabar tersebut, ayahnya ingin berkunjung ke umahnya di rantau. Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang. Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama itu, "Nama itu artinya 'Disiko Rumahnyo Usman Piliang Mantan Supir Camat'."




Disiko= disini
nyo= nya

[ Selengkapnya...]
Label:

Perjalanan Menapaki Guru Kehidupan

Ujian semester telah berakhir. Itu artinya aku telah bisa sedikit bernapas lega, setidaknya menjelang semester selanjutnya. Aku tengah bersiap menikmati libur semester ini yang terhitung hanya tiga minggu. Tak terlintas di pikiran ingin berlibur ke mana awalnya, hingga aku bercerita kepada seorang sahabat yang kebetulan juga sedang memasuki masa awal liburnya. Dalam pembicaraan itu, akhirnya terlintas di pikiranku untuk mangajak sahabat itu berlibur ke Pekanbaru.

Setali tiga uang, rupanya sahabatku tadi menyambut ide itu dengan antusias. Karena dia juga adalah seorang yang juga hobi jalan-jalan dan senag mencoba hal yang baru. Tanpa pikir panjang langsung disusun agenda perjalanan. Disepakati kami akan berangkat hari Kamis pagi. Perjalanan akan dimulai dari kota Padang dengan mengendarai sebuah sepeda motor keluaran Jepang dan akan mampir dulu di kota Payakumbuh untuk menyambangi seorang teman. Barulah dari Payakumbuh perjalanan dilanjutkan menuju Pekanbaru.

Kamis pagi adalah hari yang cerah. Mulai dari hari kamis itulah cerita perjalanan ini dimulai. Segala persiapan telah disiapkan dan kami pun siap malaju menuju Pekanbaru, ranah Lancang kuning. Setelah sarapan dengan segelas kopi dan sepotong roti, tepat pukul 8.30 WIB kami siap melaju di atas dua roda menuju kota Pekanbaru. Motor mulai dipacu dengan kecepatan sedang meliuk-liuk di atas aspal yang dihiasi sedikit lubang hadiah dari truk barang yang selalu kelebihan muatan.

Hangatnya mentari pagi mengiringi perjalanan kami ketika itu. Setelah mengisi bahan bakar di sebuah SPBU di Kayu tanam perjalanan kami lanjutkan kembali. Tujuannya adalah menjambangi seorang sahabat di Payakumbuh sebelum ke Pekanbaru. Tak ada hambatan yang berarti dalam perjalanan, hingga kami tiba di Payakumbuh tepat pukul 11.45 WIB dan mampir dulu di rumah seorang teman tadi.

Hampir empat jam kami habiskan waktu bercengkrama dengan dia. Setelah makan siang dan menikmati segelas kopi kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Pekanbaru. Kawan, dengan bermodalkan hobi jalan-jalan dan mencari suadara baru di berbagai daerah, kami tak perlu merogoh kocek untuk makan siang dan minum kopi. Ada seorang sahabat yang dengan senang hati menyediakan itu semua. Kiranya inilah keuntungan nyata menurutku dari hobi jalan-jalan, di samping pengalaman dan tambahan pengetahuan.

Rintikan hujan sempat menghadang kami sesaat setelah meninggalkan rumah seorang teman tadi. Berhenti sebentar, Setelah sedikit rintikan hujan tadi berakhir, cuaca kembali cerah, dan perjalanan kembali dilanjutkan. Motor kembali dipacu, kali ini kawankulah yang jadi joki. Giliran aku yang duduk manis di jok belakang sambil menyandang sebuah tas.

Kami begitu menikmati perjalanan ini. Jujur saja ini adalah perjalanan pertama buatku dan sahabatku tadi. Keindahan alam dan sejuknya udara begitu terasa ketika kami mulai memasuki kecamatan Harau. Motor terus dipacu meliuk-liuk menjejal setiap jengkal aspal hitam hingga berselang beberapa jam kami sampai di Kelok Sembilan. Pemandangan alam yang indah dan suasan pengerjaan jembatan layang di Kelok Sembilan memaksa kami untuk menghentikan laju sepeda motor dan berhenti sejenak untuk melakukan ritual berfoto ria. Setidaknya foto-foto tersebut bisa jadi jejak perjalanan kami di kemudian hari. Tak sampai lima belas menit kami habiskan waktu di sana. Perjalanan kembali dilanjutkan, karena kami harus mengejar target sampai di Pekanbaru menjelang isya.

Setiap rambu-rambu penunjuk arah tak luput dari perhatianku dalam perjalanan ini. Akulah yang berposisi sebagai penumpang merangkap navigator karena perhatian temanku harus fokus ke jalan, agar kami tak tamat kalimat di jalan raya akibat kelengahan dan juga tak tersesat dalam perjalanan. Yah, begitulah kesepakatan tak tertulis dalam perjalanan antara aku dan sahabatku.

Berselang satu jam semenjak kami berhenti di Kelok Sembilan tadi, akhirnya kami sampai di sebuah jembatan yang panjang melintasi danau Mingkuang. Di sana kami melihat banyak juga pengendara yang berhenti. Menyaksikan keadaan seperti itu, kami pun memutuskan untuk ikut serta berhenti. Menyaksikan pemandangan yang tak kalah menarik dengan pemandangan di kelok Sembilan, kamipun kembali melaksanakan aksi foto-foto. Dalam perjalanan kali ini mendadak kami kena virus narsis dan bawaanya pengen berfoto disetiap moman yang indah dalam perjalanan.

Setelah berhenti beberapa menit di jembatan tersebut dan sesi foto-foto kami anggap cukup, motor kembali dipacu menuju kota Pekanbaru yang jaraknya masih sekitar 100 kilometer lebih dari tempat kami berhenti itu. Kondisi jalan yang cukup bagus dan tidak terlalu ramai membuat temanku bisa memacu motor dengan agak kencang dari sebelumnya.

Di Bangkinang sahabatku tadi menepi, dan menyerahkan kendali sepeda motor kepadaku. tanpa banyak kata langsung aku gantikan posisinya. Dari Bangkinang ke Pekanbaru motor tidak bias lagi dipacu dengan kecepatan tinggi, karena arus lalu lintas sudah cukup ramai dan Susana sudah gelap karena mentari sudah kembali ke peraduannya. Tepat pukul 19.20 WIB kami menginjakan kaki di ranah lancing kuning. Tujuan utama kami terlebih dahulu adalah rumah salah seorang family.

Kami disambut dengan hangat oleh family dan para sahabat yang ada di Pekanbaru. Dan dengan senang hati mereka siap jadi tour guide kami selama di Pekanbaru. Kami menghabiskan waktu empat hari di Pekanbaru untuk jalan-jalan dan mengunjungi para sahabat di Pekan baru, sebelum akhirnya kami kembali ke kota Padang. Kami menginjakan kaki kembali di kota Padang tepat pada hari Senin, pukul 20.40 WIB.

Lelahnya perjalanan tak begitu kami rasakan. Perjalanan Padang-Pekanbaru tak menyematkan kepenatan yang berati di tubuh kami. Jika kawan bertanya mengapa? Maka jawabanya adalah karena kami melakukannya dengan hati senang. Apapun jika dilakukan dengan hati senang, tentu tidak akan menyisakan rasa letih. Nah, begitulah kiranya perjalanan kami kali ini.

Jujur saja kawan, banyak pelajaran yang dapat aku petik dari perjalanan kali ini. Sebenarnya ke Pekanbaru saat ini, bukanlah ke Pekanbaru yang pertama buatku. Namun, entah kenapa berkunjung ke Pekanbaru di kesempatan ini begitu terasa istimewa dari kunjungan-kunjungan sebelumnya. Mungkin karena banyak pelajaran yang aku dapat itulah alasanya.

Kalau boleh sedikit bercerita, maka dari perjalanan inilah aku mengetahui bagaimana kerasnya kehidupan di rantau orang yang dilakoni oleh sahabat-sahabatku yang tengah mengadu peruntungan di negeri Lancang kuning itu. Dari perjalanan ini jugalah aku semakin paham bahwa menjalin silaturrahim itu memudahkan reski dan melapangkan hidup. Perjalanan kali ini juga memperlihatkan kepadaku arti tulus sebuah persahabatan.

Kawan, sejatinya guru kehidupan itu ada di mana-mana. Melakukan perjalanan adalah salah satu cara menemui dan mengambil pelajaran darinya. Inilah ceritaku dalam perjalanan menapaki guru kehidupan, lalu apa ceritamu,..???


Padang, 22022012


[ Selengkapnya...]
Label:

Catatan Senin Sore

Hari ini adalah hari terkhir liburku, besok aku akan ujian. Harusnya aku menikmati hari libur ini, akan tetapi, entah kenapa hari ini kejenuhanku memuncak. Ketika orang-orang di luar sana bersuka cita menikmati hari liburnya, aku malah merana karena rasa suntuk yang melanda selama hari libur ini

Rasa suntuk hari ini berbeda dengan hari kemaren. Hari ini rasa suntuk itu sudah tak ketolongan dan sudah berhasil mengacaukan persipanku untuk menghadapi ujian hari esok. Jika rasa suntuk kemaren bisa aku enyahkan dari pikran ini dengan melakukan aksi bersih rumah lalu dikuti dengan duduk manis di depan televisi sembari menonton pertandingan sepak bola antara Semen Padang, tim kebanggaan urang awak melawan Arema Indonesia. Namun hari ini rasa suntuk itu tak bisa aku hilangkan dengan cara seperti itu. Akupun telah mencoba cara lain, sudah aku coba membaringkan diri di pembaringan sederhana di kamarku, berharap mata ini bisa terpejam barang satu atau dua jam. Lalu ketika bangun rasa suntuk itu sudah melayang dari pikiranku berganti dengan pikiran yang semangat. Tapi apalah daya, setelah hampir lima belas menit mencari posisi yang nyaman untuk tidur, mata ini tak juga kunjung terpejam. Bahkan rasa suntuk itu kian tajam menghujam di pikiran ini dan perasaan tak nyaman pun sudah mulai menghinggapi.

Tak mau rasa suntuk merajai pikiranku, akhirnya aku bangun dari tempat tidur. Kemudian aku putuskan untuk menyambangi Gramedia saja. Aku bergegas menuju kamar mandi, lalu bersiap meluncur ke tempat faforit untuk mengurai kejenuhan dan melepas suntuk. Setelah bekemas ala kadarnya, akupun mendorong sepeda motor kesayangan keluar dan memeberikan sedikit pemanasan sebalum aku paksa motor itu menggantarkan aku ke Gramedia.


Memang bukan kali ini saja gramedia sebagai tujuan bagiku untuk menghilangkan sara suntuk. Aku sudah terbiasa semanjak duduk di bangku kuliah menjambangi toko buku di kala suntuk menghingapi pikiran di sela-sela aktifitas kuliah. Karena dengan berkunjung ke toko buku ada semancam kesegaran tersendiri yang aku peroleh. Kesegaran yang cukup ampuh membuang rasa suntuk dari pikiranku. Dan tak jarang aku menemukan inspirasi-inspirasi baru sepulang dari berkunjung ke toko buku (gramedia).


Selang beberapa menit, aku telah berada di gramedia. Setelah memarkir motor dan menitipkan tas, aku segera bergegas ke lantai dua. Rak buku baru adalah tujuan utamaku. Buku pertama yang aku pegang adalah buku karangan Dahlan Iskan, mantan dirut PLN yang sekarang sudah jadi menteri. Sudah lama sebenarnya, aku menginginkan membaca buku yang ditulis oleh pria nan terkenal sederhana ini. Sebelumnya aku sudah mendengar bagaimana enaknya membaca tulisan beliau dari beberapa orang teman. Dan aku juga sudah pernah membaca beberapa tulisan beliau.

Tidak hanya satu, tiga buah buku Dahlan Iskan aku temukan hari ini. Semuanya bagus dan menggugah. Namun apalah daya, kali ini aku tak bisa memboyong ketiga buah buku itu sekaligus ke rumah, mengingat kondisi kantong yang sudah mulai meprihatinkan menjelang akhir bulan. Masalah klasik yang sudah tak terelakan bagi setiap anak kos, seperti aku ini.

Setelah menimbang-nimbang keadaan kantong, akhirnya aku putuskan untuk membeli satu dari tiga buku Dahlan Iskan tersebut. Meskipun aku sadar betul kosekuensi dari keputusan ini aku harus mengurangi alokasi dana untuk belanja harian. Meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu. Bagiku itu tak masalah. Menurutku dengan membeli buku sama saja kita sedang berinvestasi untuk masa depan. Kawan boleh saja tidak setuju dengan pendapatku, tapi yang jelas itulah prinsipku terkait persoalan ini.

Rasanya jika ke Gramedia, tidak cukup bawa uang hanya seratus atau dua ratus ribu saja. Kadang aku iri, melihat pengunjung yang dengan mudahnya membeli buku tanpa harus cemas dengan keadaan keuangan mereka. Jujur saja kawan, sempat terlintas di pikiranku suatu saat nanti aku akan bisa memebeli semua buku yang aku iginkan, tanpa terkendala urusan keungan. Bahkan aku juga punya impian suatu saat nanti aku akan punya sebuah toko buku. Aku sangat berharap impian ini bisa terwujud dan Allah meloloskan keinginan aku ini. Amiin.

Hari ini rasa suntuk dan kejenuhan yang bersemayam di pikiranku, telah aku tinggalkan di Gramedia. Seperti biasanya, mengunjungi toko buku masih terbukti ampuh menghapus rasa suntuk dari pikiranku. Di samping jalan-jalan, mengunjungi toko buku adalah caraku untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan kejenuhan. Ini caraku, apa caramu?

Padang, 23012012

[ Selengkapnya...]
Label:

Hati-Hatilah, Jika tak Ingin “Tamat Kalimat”

Segala sesuatu yang dikerjakan pasti akan menuai resiko. Ya, begitu juga dengan berkendaraan di jalan raya. Pasti ada resiko yang akan kita hadapi. Setidaknya ada tiga resiko yang harus siap kita terima. Kalau tidak ditabrak orang, maka akan menabrak atau jatuh terguling sendiri di jalan raya. Ketiga resiko itu juga akan bisa mengantarkan kita ke tiga tempat yang berbeda; ke rumah sakit, penjara, atau ke liang kubur. Meskipun demikan, bukan berarti resiko itu tidak dapat dihindarkan. Jika kita mau labih berhati-hati tentu resiko tersebut bisa diminimalisasi atau bahkan terelakan dengan sempurna.

Hidup dijaman yang serba canggih ini telah membuat orang enggan untuk berjalan kaki. Hal itu didukung dengan ketersediaan kendaraan yang siap untuk mengantarkan kita ke mana saja. Ditambah lagi saat ini memperoleh kendaraan juga tidak begitu sulit. Hanya dengan bermodalkan uang satu juta saja kita sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor, tentu dengan mencicil sejumlah uang setiap bulannya. Sadarkah kawan, bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan di zaman ini ada beberapa resiko yang siap menunggu para pengendara di jalan raya. Bahkan tak jarang resiko itu harus membuat pengendara yang malang meregang nyawa di jalan raya.

Masih segar dalam ingatan saya bagaimana seorang pengendara tergeletak di jalan arah ke lubuk minturun tadi malam. Seorang bapak terkapar di jalan setelah ditabrak sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah yang berlawanan. Bapak yang malang itu terkapar di jalan raya dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Ironisnya tak seorang pun dari orang yang menyaksikan kejadian itu berani untuk menolong si Bapak yang malang. Mereka hanya mematung menatap dengan wajah prihatin si Bapak yang tengah terkapar dengan darah mengalir deras dari kepalanya, sementara kaki sang bapak terjepit motornya yang sudah remuk sebahagian itu.

Jujur saja pemandangan seperti itu sempat membuat perut saya mual tak karuan. Bulu roma saya bergidik menyaksikan sang bapak yang seolah tak ada harapan lagi menikmati kehidupan dunia lebih lama. Terbesit rasa iba di hati saya, namun apalah daya saya juga tak bisa berbuat banyak untuk sang Bapak. Saya tak mungkin turun dari kendaraan ketika itu karena kami─segenap rombongan─ ketika itu juga harus sampai tujuan tepat waktu. Alhasil jadilah kami hanya menyaksikan sepintas kejadian naas itu.

Setidaknya meskipun sepintas lalu saja, pemandangan itu telah cukup memerikan pelajaran kepada saya dan mungkin juga buat kita semua agar selalu berhati-hati di jalan raya. Ketahuilah wahai kawan, berkendara di jalan raya juga memiliki aturan kosopanan yang mesti kita taati bersama, di samping prinsip kehati-hatian yang mesti selalu kita junjung tinggi. Karena jika kita lengah dan mengabaikan prinsip kehati-hatian akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri, dan bahkan buat orang lain. Serta juga tidak tertutup kemungkinan akan menimbulkan kerugian kepada keluarga orang lain yang salah satu anggota keluarganya kecelakaan.

Sedianya norma kesopanan di jalan raya tidak hanya milik seseorang, atau sekelompok orang saja. Tapi sejatinya harus dijunjung tinggi dan ditaati oleh seluruh mereka yang memakai dan berkendara di jalan raya. Karena bagai manapun juga, prilaku kita akan berakibat kepada orang yang ada di sekitar kita, atau bahkan kepada orang yang tidak ada hubungan langsung dengan kehidupan kita.

Di kesempatan lain, saya teringat dengan sepenggal kalimat seorang teman yang diucpakanya sembari bercanda, “ugal-ugalan di jalan raya, akan buat kita lebih dekat dengan Tuhan”. Saya pikir ucapan seorang teman tadi ada betulnya juga. Bagaimana tidak, dengan ugal-ugalan dan semberono di jalan raya tentu akan berpontensi menimbulkan kecelakaan. Juga tidak tertutup kemungkinan akan mengakibatkan kehilangan nyawa karena kecelakaan itu. Nah, ketika itu semua terjadi, artinya kita akan ketemu Tuhan bukan?

Jika tidak ingin tamat kalimat di jalan raya, prinsip kehati-hatian mutlak kita pegang. Memang kita tidak bisa pungkiri bahwa perkara ajal dan kematian adalah rahasia Allah dan bagian dari takdir kita. Namun selaku makhluk yang beriman kita bisa pilih bagaimana kita harus mati meskipun ajal kita memang hanya sampai waktu itu. Kita bisa pilih mati dengan cara yang baik, atau meregang nyawa di jalan raya hanya karena kita mengabaikan prinsip ‘hati-hati’ dan melanggar norma kesopanan di jalan raya. Renungkanlah!

Padang, 08012012

[ Selengkapnya...]
Label:

Unforgettable Moments
















TELAH TERBIT:

Judul: Unforgettable Moments
Penulis: Tri Lego Indah FN, Ahmed Ghoseen Al-Qohtany, & SYUMITY Lovers
Tebal: xvi + 374 Hlm
... ISBN : 978-602-19599-6-1
Harga : Rp. 60.000,- (belum termasuk Ongkir)

Dapatkan di TB. Gramedia Kesayangan Anda!!!
Cara Pemesanan Online
Ketik UM#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#No.Telp.
kirim ke 08197964001 / 0838 6918 0234


----------------------
ENDORSMENT:
----------------------
"Inspirasi bisa datang dari manapun, dan yang paling berkesan tentu datang dari pengalaman kita sendiri. Kumpulan kisah dalam buku ini akan memberi Anda suntikan inspirasi yang nyata, terjadi setiap hari, dan sangat dekat dengan pengalaman anda sendiri!"- Dedy Dahlan, Passion Coach. Penulis buku Best Selling "PASSION - Ubah Hobi jadi Duit”

----------------------
SINOPSIS :
----------------------
Kisah-kisah yang ada di buku ini, adalah kisah penuh warna yang dialami sendiri oleh para kontributornya. Based True Story yang menjadi keharusan naskah, menjadikan kisah yang ditulis menjadi berjiwa. Membaca setiap chapter di buku ini, membawa kita merefleksi satu tahun perjalanan hidup kita di 2011. Begitu banyak warna terserak yang mewarnai hidup kita. Dari segala kisah yang telah dibagi, kami sangat berharap, kisah-kisah tersebut dapat memberikan pelajaran, hikmah, inspirasi dan manfaat bagi para pembaca.

[ Selengkapnya...]
Label:

Di Persimpangan Kebimbangan

Sore itu hari begitu cerah, seolah mentari enggan untuk berhenti menyinari bumi tanah tumpah darahku. Namun tidak dengan hatiku, hatiku tidak secarah mentari kala itu. Hatiku saat itu dalam kebimbangan, hatiku saat itu dalam kegalauan. Kegalauan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Inilah kegalauan hati seoarang anak kelas enam SD yang baru saja selesai ujian EBTANAS.

Kegalauan hatiku saat itu bukan tanpa sebab, kawan. Ada dilema besar dan pergolakakan batin yang luar biasa merasuk ke dalam hati dan pikiranku. Aku harus memilih satu dari dua pilihan yang orang tuaku tawarkan padaku. Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah pilihan yang mudah, tapi tidak untukku.

Bagiku ini adalah pilihan yang sulit yang harus aku putuskan dalam memilih jalan yang harus aku tempuh demi masa depan dan nasibku kelak. Jujur saja, sungguh berat memutuskan semua ini buatku. Namun aku harus putuskan pilihan yang baik buatku dan baik buat ibu,ayah dan adik-adikku kelak.

Aku harus memilih antara melanjutkan sekolah di kampungku saja atau pergi merantau dan melanjutkan sekolahku di sebuah Pesantren. Pilihan sederhana sebenarnya, tapi entah kenapa begitu sulit untuk aku pilih dan putuskan.

Aku bimbang begini, sebenarnya alasanya sederhana sekali kawan. Aku masih agak enggan untuk meninggalkan kampung halamanku ini. Terlalu banyak kenangan indah yang sudah terlanjur aku ukir di kampungku ini. Sulit rasanya meninggalkan kebersamaan yang begitu indah dengan kawan-kawan kecilku.

Sulit rasanya berpisah dengan si Ardi yang lucu tapi usil, yang selalu buat kami belari tunggang-langgang di kejar pak Sabar karena telah merusak pematang sawahnya untuk mencari belut. Yudi temanku yang baik hati namun pendiam yang sering jadi objek keusilan Ardi. Pino si wajah lugu namun banyak akal yang sangat lihai menangkap ikan di sungai. Aku sangat salut dengan kelihaiannya dalam menangkap ikan. Dalam persoalan yang satu ini aku tak pernah bisa menandingi apa lagi mengalahkannya. Belum lagi, si Uyung sesosok manusia mungil yang tidak pernah kehabisan ide untuk buat kami tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah dan guyonannya yang lucu. Ketika bersamanya, seolah dalam hidup ini hanya ada rasa bahagia dan tertawa. Serta banyak lagi kawan-kawan kecilku yang harus aku tinggalkan jika memang aku harus pergi.

Ah, sulit sekali rasanya meninggalkan kampung ini. Sulit meninggalkan kawan-kawanku yang unik dengan berjuta kenangan bersama mereka. Dengan berbagai keunikan itu mereka telah berhasil membuat aku bimbang dan berkelahi dengan perasaanku sendiri dalam memutuskan arah masa depanku.

Namun di sisi lain, orang tuaku menganjurkan agar melanjutkan pendidikan ke kota saja, di sebuah Pondok Pesantren Modern di kota. Anjuran ini sebenarnya bemula dari cerita seorang teman ayahku yang anaknya sudah bersekolah di sana. Orang tuaku juga pernah melihat anak temannya itu beceramah. Tidak hanya itu saja, ditambah lagi cerita teman ibuku yang juga anaknya telah dulu bersekolah di sana dan telah tamat serta telah melanjutkan kuliah dengan jurusan yang menurut orang tuaku sangat bagus dan membanggakan.

Tidak adil rasanya ayah dan ibuku menyuruh aku melanjutkan sekolah ke kota hanya karena melihat anak temannya. Bagaiman pun juga aku masih berhak menentukan arah hidupku tanpa harus mengukuti anak teman beliau yang harus membuat aku berpisah dengan kawan-kawanku. Aku juga tidak ingin masa depanku adalah masa depan yang aku peroleh hanya karena ikut-ikutan saja.

Aku bingung, entah kenapa orang tuaku begitu ingin aku mengikuti jejak anak temannya itu. Ketika aku bertnaya, “kenapa ibu dan ayah begitu ingin aku melanjutkan sekolahku ke pesantren?”. Ayah dengan sedikt senyum menjawab, “kelak engkau akan tahu jawabannya ketika telah mengikuti anjuran kami ini”. Jawaban ayah buat aku makin bimbang.

***

Mentari telah tenggelam di balik bukit. Aku pulang setalah puas bermain dan mandi di sungai bersama teman-temanku. Ku lemparkan bajuku yang basah ke dalam sebuah ember dekat sumur. Aku ganti baju, lalu makan. Makan pun terasa tidak enak senja itu. Aku masih bingung. Selera makanku telah dikalahkan oleh kebingunganku sendiri. Dalam kebingungan itu aku mengutuki diriku sendiri. Kenapa aku begitu lemah. Memutuskan untuk melanjutkan sekolah saja aku harus bimbang dan kehilangan selera makan seperti orang sedang putus cinta.

Setelah makan aku pun mengambil sarung bersiap untuk pergi mengaji ke mesjid. Inilah kebiasaan kami anak-anak kampung setelah magrib, yaitu belajar mengaji di mesjid. Belajar mengaji dilakukan dalam bentuk halaqah dan dibimbing oleh seorang guru yang sudah tua dan sangat suka kopi. Aku tahu itu karena di saat mengajarkan kami beliau sering menyuruh salah satu di antara kami untuk memesankan kopi ke warung yang tidak jauh dari mesjid.

Biasanya kami mengaji hanya sampai waktu isya. Jika isya telah masuk maka proses belejar dihentikan, lalu shalat isya berjemaah. Kami baru boleh pulang setelah shalat isya dan menggulung kembali tikar yang kami duduki untuk belajar tadi.

Di rumah aku telah ditunggu oleh kedua orang tuaku. Tidak biasanya mereka menungguku seperti ini. Jelas saja keadaan ini menimbulkan sejuta tanda tanya dalam diriku. Aku coba lagi mengingat-ingat perangaiku sehari ini. Rasanya aku tidak ada melakukan salah. Pagi aku sekolah. Siangnya aku bermain berama teman-temanku dan tidak berkelahi. Sorenya aku telah menyiram tanaman, kerja rutinku setiap hari. Dan kali ini baru saja aku pulang mengaji. Aku tidak pernah libur mengaji, kecuali hujan lebat. Tapi kenapa aku di tungggu seperti itu oleh orang tuaku.

Belum hilang kebingunganku, ayahku berkata, “duduklah, kami perlu bicara denganmu”.
“ada apa ayah?”, aku masih belum mengrti apa yang akan dibicarakan orang tuaku.
Lalu ibuku menyahut, “kamu telah selasai ujian EBTANAS, dan besok pengumuman kelulusanmu akan keluar”.
Aku mulai paham kenapa ayah dan ibu menungguku seperti ini. Aku tahu persoalan yang akan dibicarakan tidak jauh dari soal kelanjutan sekolahku.

Aku tatap wajah mereka, “iya bu, tapi aku belum bisa putuskan, aku masih ragu”.
Lalu ibuku melanjutkan pembicaraanya, “kau harus cepat putuskan nak, karena pendaftarannya sudah dibuka dan hampir tutup. Kami sangat ingin kau melanjutkan sekolahmu ke kota, di sebuah pesantren”.

Lalu ayah menyela, “ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu juga”.
Ayah diam sejenak dan melanjutkan pembicaraanya kembali, “Jika tetap di kampung, maka temanmu hanya orang itu-itu saja. Pengalaman yang kau dapatkan juga tak akan banyak dan pola pikirmu juga tak akan banyak berubah. Namun, jika kau pilih untuk sekolah ke kota, maka pengalamanmu akan banyak bertambah. Kamu juga akan mendapatkan teman baru tanpa harus kehilangan teman-teman di kampung. Ayah yakin, pola pikirmu juga akan labih maju dan berkembang”.

Aku hanya menganguk takzim dengan penjelasan beliau. Tak berani lagi aku menjawab. Jangankan untuk menjawab, menatap wajah merekapun aku sudah tak kuasa. Alasan yang mereka berikan sangat tapat. Tak bisa lagi aku berkilah. Setidaknya dengan mendengar penjelasan ayah tadi kebimbanganku sudah agak sedikt berkurang, namun hati ini belum juga mantap mau menjatuhkan pilihan ke mana.

“Pikirkanlah, dan cepat putuskan!”, ayahku setengah mendesak lalu bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan aku bersama ibu.

Sepeninggal ayah, ibu mengusap kepalaku. Ibu melihat jam dinding usang yang menepel dengan anggun di dinding rumahku. Jam usang itu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas malam. Ibu lalu menyuruh ku tidur.
“tidurlah dulu, sudah malam! Pikirkan apa yang ayahmu katakan tadi. Yakinlah ini semua demi kebaikanmu nak. Ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu”.

Aku mengangguk menandakan paham, lalu bangkit dari tempat dudukku. Kemudian aku berlalu meninggalkan ibu dan segera menuju kamarku, tapatnya kamarku dan kamar dua orang adik laki-lakiku. Sampai di kamar aku pandangi adik-adiku yang telah lelap dan hanyut entah ke mana di bawa oleh mimpinya. Rona wajah mereka jelas sekali belum ada beban. Berbeda denganku yang tengah diamuk kebimbangan. Aku buka sarung yang ku pakai untuk mengaji tadi, lalu ku lipat dan aku letakkan di sandaran kursi yang ada di kamarku.

Malam itu aku tidak bisa benar-benar tidur nyenyak . aku hanya menerawang menatap langit-langit kamarku yang belum dipasang loteng itu. Pikiranku masih digangu oleh rasa binggung untuk memutuskan dua pilihan yang diberikan orang tuaku. Antara tetap di kampung atau merantau untuk melanjutkan sekolah. Jika tetap di kampung maka perngalaman yang aku dapat hanya itu-itu saja, tidak ada perubahan. Namun jika aku pilih untuk melanjutkan sekolah ke kota, aku harus meninggalkan kawan-kawanku dengan segenap keunikannya. Ah, aku bingung!

Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sumur, lalu aku berwudu’. Aku ingin mengadukan masalah ini pada Allah dengan melakukan shalat istikharah. Akan aku amalkan pelajaran yang pernah di berikan oleh guruku ketika belajar di MDA di sebelah mesjid tempat aku biasa mengaji. Aku bentangkan sajadah, aku shalat dua rakaat. Setelah itu aku mulai mengadukan kebingunganku pada Allah melalui untaian bait-bait do’aku. Do’a anak kelas enam SD. Aku berharap besok ketika bangun pagi aku sudah mendapatkan kemantapan hati untuk memutuskan akan melanjtkan sekolahku ke mana. Setelah mengadukan semuanya kepada Allah, aku baru sedikit tenang dan tertidur.



*Heru Perdana
Padang, 04012012

[ Selengkapnya...]
Label:

“Aku Bersyukur Hal itu Pernah Terjadi”

Hari itu hujan mengguyur bumi pertiwi dengan sangat deras dihiasi tiupan angin yang agak kencang. Praktis suasana terasa sedikit dingin dan membuat aku malas untu beraktifitas. Dalam suasana seperti itu, akupun duduk termenung dan entah kenapa pikiranku berkelana ke masa lalu dan terdampar pada sebuah bayangan peristiwa yang cukup berkesan dalam hidupku. Sebuah peristiwa yang belakangan ini aku syukuri pernah aku alami kala itu. Kalau saja peristiwa itu tidak terjadi entah bagaimana kehidupanku saat ini.

Tentu kawan bertanya, sebanarnya peristiwa apa yang terlitas di benakku saat itu. Perisitiwa itu adalah kejadian di mana ketika itu aku dan beberapa kawanku dihakimi oleh beberapa orang ustadz karena perkara merokok yang sudah jelas-jelas dilarang keras dilakukan di lingkungan pondok pesantren tempat aku bersekolah ketika itu. Walaupun begini keadaanku kawan, setidaknya aku dulu pernah menjadi seorang santri di sebuah pondok pesantren.

Pada saat itu usiaku memang sangat muda dan boleh dikatakan berada pada fase kanak-kanak akhir atau remaja awal. Pada usia itu adalah wajar rasanya ketika kita ingin mencoba untuk melakukan sesuatu yang baru. Dan bodohnya aku waktu itu mencoba hal yang dilarang oleh aturan kehidupan di pondok pesantren. Sehingga hasilnya jadilah aku terdakwa di depan para ustadz yang sudah siap menjatuhkan beberapa hukuman kepada aku dan beberapa kawanku terkait pelanggaran yang kami lakukan.

Masih segar dalam ingatanku, ketika itu aku dan beberapa temanku tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas setelah shalat magrib. Tiba-tiba datang seorang teman memanggil aku dan beberapa kawanku yang lain. Setelah mendapat izin dari ustadz yang mengajar ketika itu, kami pun keluar dan segera menuju ke mesjid pondok pesantren. Di sana sudah berdiri beberapa orang ustadz yang sudah siap mencerca kami dengan beberapa pertanyaan tentunya dengan nada yang sangat keras layaknya orang yang sedang marah.


Baru saja kami sampai di hadapan para ustadz itu, setelah berbaris dengan rapi layaknya para tentara yang sudah siap menerima perintah dari sang komandan, langsung saja dua buah tamparan bolak balik dengan sebuah peci mendarat dengan indah di kedua belah pipi kami, para terdakwah. Ah, rasanya tamparan itu seperti ucapan selamat datang saja kepada kami para pelanggar aturan pesantren saat itu. Namun bagaimana pun itu, tetap saja adalah sebuah wujud kasih sayang dari seorang guru kepada muridnya agar para murid tahu dan tidak mengulangi kesalahannya.

Setelah menerima tamparan selamat datang, masing-masing dua kali, selanjutnya kami dihadiahi satu batang rokok yang tidak boleh dipegang dengan tangan dan juga tidak boleh terlebas dari bibir kami. Kemudian pada akhir episode sidang kesalahan kami, rokok itu harus kami kunyah dan tahan beberapa saat dalam mulut. Kawan tentu bisa bayangkan bagaimana rasanya mengunyah tembakau dan menahannnya dalam mulut beberapa saat. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, yang jelas dengan mengunyah tembakau itu cukup membuat selera makanku tak enak selama tiga hari.

Menyesal, tapi sudah terlambat. Dan tidak penyesalan namanya kalau tidak datang di akhir. Semenjak kejadian itu aku berjanji dalam hati kecilku bahwa aku akan berusaha untuk sekuat tenaga tidak menghisap lagi benda selinder berukuran sekitar delapan centi meter barnama rokok itu. Alhamdulilah sejauh ini komitmen tersebut masih tetap terjaga dan aku berharap akan bisa selalu terjaga sampai akhir hayatku. Aku akui bahwa menjaga komitmen itu sangat sulit karena aku hidup di lingkungan para pengemar setia benda selinder itu. Tapi tak maslah, aku akan berusaha.

Sekali lagi aku katakan kawan, bahwa aku bersyukur mengalami kejadian seperti yang telah aku utarakan di atas tadi. Bagaimana tidak, menurut pengamatanku rata-rata kawan-kawanku yang merokok menghabiskan satu bungkus rokok dalam satu hari. Jika saja kita asumsikan harga satu bungkus rokok sepuluh ribu per bungkus, itu artinya mereka harus mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah perbulan dan tiga juta enam ratus ribu selama satu tahun hanya untuk rokok, benda selinder berbahan dasar tembakau.

Coba kawan bayangkan, jika saja mereka tidak merokok mungkin uang yang tiga ratus ribu rupiah itu bisa mereka pergunakan untuk membeli buku, baju, atau keperluan lainnya. Bisa saja uang itu mereka tabungkan dan membatu kawan yang tengah kesusahan dalam hal keuangan dalam bentuk pinjaman. Nah, menyadari hal ini lah, tidak berlebihan rasanya jika aku bersyukur dengan apa yang pernah aku alami delapan tahun yang silam.



*Padang, 20 Desember 2011

[ Selengkapnya...]
Label:

Pulang Kampung yang "Dramatis"

Mentari tak juga kunjung memancarkan sinarnya, masih saja bersembunyi malu-malu di balik gelapnya awan hitam yang mengucurkan air untuk membasahi bumi. Hari ini genap sudah empat hari hujan turun tanpa henti. Itu artinya sudah empat hari juga aku merindukan hangatnya sinar matahari. Mungkin tidak hanya aku, banyak juga orang di luar sana yang merasakan hal yang sama dengan diriku. 

Rintikan hujan kadang memang bisa menghibur jiwa yang sedang gundah. Hujan yang menitik membasahi bumi tak jarang menjadi hiburan tersendiri bagi sebahagian orang. Tapi jika sudah begini keadanya, siapa lagi yang akan terhibur dengan turunnya hujan? Jujur saja, bahkan aku sendiri sudah mulai agak muak dengan guyuran hujan ini. Rindu rasanya hati ini dengan hangatnya sinar matahari pagi, hangatnya terik mentari di kala siang dan rona keemasan di ufuk barat sana ketika mentari sudah mulai masuk ke peraduannya.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana genangan banjir menghadang perjalanan pulang menuju kampung halaman kemarin sore. Hampir saja surut niatku untuk pulang kampung melihat genangan banjir “oleh-oleh” dari langit yang tak kunjung surut kala itu. Kalau saja tidak karena ingin merayakan hari raya qurban bersama keluarga di kampung yang tahun kemarin tidak sempat aku rasakan, mungkin saja aku dan adikku segera balik kanan dan kembali ke kota Padang. Siapa yang tak ciut hatinya menunggu banjir yang mengenangi jalan setinggi pinggang orang dewasa. Belum lagi gelapnya gulugan awan hitam di hulu sana yang siap menumpahkan ribuan gallon air ke bumi, ranah tumpah darahku.

Kalau boleh sedikit ber-lebay-lebay, maka pulang kampung kali ini adalah pulang kampung yang pailing dramatis sepanjang sejarah kehidupanku. Tidak berlibihan rasanya pernyataan seperti itu aku lontarkan jika kawan ikut merasakan bagai mana rasanya menahan perut lapar sambil menunggu banjir yang tak kunjung surut. Mungkin tidak akan menjadi lebay jika kawan tahu bagaimana rasanya menunggu hampir lima jam di tengah rintikan hujan dan dinginnya hembusan angin malam yang menusuk tulang.
Untung saja aku tidak hanya berdua dengan adikku menikmati prosesi pulang kampung yang dramatis itu. Ada puluhan mahasiswa rantau lainnya yang bertujuan sama dengan aku dan adikku terjebak menunggu surutnya banjir yang mengenangi jalan menuju kampung kami. Hanya gelak canda yang sedikit bisa menghangatkan badan kami kala itu. Suasana senja hingga malam itu hanpir mirip dengan acara reunian para alumni SD, hanya saja tidak ada makanan dan orgen tunggalnya.

Kawan, sekali lagi aku bertanya, jika sudah seperti ini keadaannya apakah hujan ini masih manjadi berkah dan hiburan buat kita? Aku rasa jawaban yang paling pas untuk saat ini adalah “tidak”. Aku juga berani bertaruh bahwa kawan akan sepakat dengan jawabanku ini, jika kawan ikut menjadi salah satu rombongan yang menunggu banjir surut, dengan baju basah dan dalam keadaan perut kosong. Belum lagi gelapnya malam karena mati lampu menambah syahdunya suasana di malam itu. Nah, kalau sudah begini saya rasa sangat sulit memberikan jawaban “iya” terhadap pertanyaanku tadi.

Tapi malam itu aku dan segenap rombongan tetap saja sabar menunggu air surut. Mungkin alasan terkuat yang membuat kami tetap bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan itu adalah keinginan untuk bisa merayakan hari raya Qurban bersama keluarga di kampung halaman. Kalaupun ada alasan lain, namun ini adalah alasan utama yang memeberikan semangat tersendiri dalam penantian kami kala itu.

Jujur saja kawan, apa yang kami rasakan ini belum seberapa ketimbang saudara-saudara kita yang ada di belahan Pesisir Selatan arah ke selatan sana. Kami mungkin hanya terhalang untuk lewat ke rumah. Sementara mereka di sana sudah kehilangan rumah dan bahkan kehilangan anggota keluarga. Sungguh musim hujan kali ini telah memancing isak tangis sebahagian besar masyarakat Pesisir Selatan menjelang hari raya qurban.

Hampir lima jam berselang, akhirnya penantian kami berbuah hasil. Air yang menghalangi jalan kami berlahan sudah mulai surut. Hujan telah berhenti. Satu persatu mobil yang ikut dalam barisan rombongan menunggu banjir surut sudah mulai jalan. Namun kami yang mengendarai sepeda motor belum bisa berbuat apa-apa, karena genangan air masih cukup dalam untuk ukuran sepeda motor. Bersabar dan tetap menunggu, hanya itu yang dapat kami lakukan.

Hingga akhirnya penantian kami pun berbuah manis. Air surut dan sepeda motor sudah bisa lewat. Bukan kepalang rasanya girang hati ini, ketika jalan menuju rumah sudah bisa ditempuh. Aku pacu sepeda motorku menerjang genagan banjir yang masih tersisa di jalan. Alhamdulilah, Terimakasih ya Allah, sepenggal kalimat itu terbersit di lubuk hatiku yang paling dalam ketika melalui jalan yang masih digenangi air itu. Mungkin kawan-kawanku yang lain juga merasakan hal yang sama denganku.

Satu pelajaran yang bisa aku dan kita semua petik untuk saat ini, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak akan menjadi baik, dan bahkan akan merusak. Apapun itu, jika berlebihan pasti tidak akan baik. Tidak terkecuali dengan hujan. Hujan jika turun dengan porsi yang pas mungkin akan menjadi berkah buat kehidupan kita di bumi Allah yang elok ini. Akan tetapi, jika sudah berlebihan maka hujan akan menjelma menjadi sebuah bencana atau teguran buat kita. Seperti yang tengah aku, adiku dan segenap warga Pesisir Selatan alami saat ini.

Namun terlepas dari itu, ini adalah teguran Allah kepada kita. Mungkin saja kita sering lupa dan khilaf serta berbuat salah. Allah telah menegur, maka segeralah introspeksi diri dan berubah ke arah yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Semoga saja kita cukup cerdas untuk mengambil hikmah di balik bencana ini. Yakinlah, apapun yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tidak mungkin terjadi tanpa sebuah hikmah. Lihat, rasakan dan renungkan, lalu ambil hikmahnya.

Pesisir Selatan, 05 November 2011
-Ditulis sehari menjelang hari raya qurban dalam kondisi hujan dan banjir masih mengenangi jalan-

[ Selengkapnya...]
Label:

Hujan Menjelang Hari Raya Qurban

Beberapa hari ini hujan tak pernah bosan membasahi bumi pertiwi. Seolah persedian air di langit sana tak pernah habis untuk dikucurkan ke bumi. Sudah lama aku dan penduduk lainnya di negeri ini tak menyaksikan indahnya matahari di kala pagi, dan juga sudah lama kami tak merasakan hangatnya sengatan mentari pagi. Sudah rindu rasanya hati ini dengan panasnya terik matahari di kala siang.

Hujan menjelang hari raya Qurban ini telah meninggalkan kenangan yang sangat tidak enka buat warga di kampongku, kawan. Hujan ini telah merendam dan mengenangi kampong kami dengan banjir ini. Banjir yang telah menelan korban. Tidak hanya korban materi, tapi juga korban nyawa. Sedih memang mendengar berita ini, tapi ini suka atau tidak suka, mau atau tidak mau ini adalah bagian dari teguran Allah buat kita hambaNya yang sering lupa dan salah.

Entah apa yang salah, yang jelas banjir itu telah datang dan merendam segenap ranah kelahiranku dan juga telah berhasil merenggut beberapa nyawa. Itu artinya akan ada beberapa anak yatim atau piatu baru di kampungku setelah ini. Maungkin juga akan ada orang tua yang akan kehilangan anaknya. Tapi, semuanya telah terjadi kawan. Menyesalpun sudah terlambat. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah intropeksi diri dan mulai memperbaiki kesalahan. Yakinlah, Allah tidak mungkin menegur kalau kita tak salah.
Tuhan, marahkan Engkau kepada kami.???

Padang, 04 November 2011


[ Selengkapnya...]
Label:

Catatan Selasa Pagi

Sudah hampir dua minggu aku tak menulis sesuatu apapun. Entah apa masalahnya aku juga tak mengerti. Semangat untuk menulis tiba-tiba itu hilang entah ke mana. Gairah untuk menulis meredup dan nyaris padam rasanya. Entah apa yang salah dengan diriku ini, aku juga tak mengerti. Malas, dan malas mungkin itulah alasan paling pas untuk aku kemukakan. Namun jika kawan bertanya kembali, kenapa malas? Maka aku akan binggung sendiri menjawabnya. Jadi, tak usah lah bertanya lagi, kawan. 

Kadang aku sempat berfikir, bagaiamana sih para penulis hebat yang telah menghasilkan ribuan tulisan yang sangat hebat itu memotivai diri mereka untuk tetap dan terus menulis? Apakah mereka pernah kehilangan keinginan untuk menulis? Apakah mood menulis mereka pernah menguap dan menghilang? Ah, meskipun pernah tapi mereka tetap saja telah menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat dan indah. Dengan karya indah itu mereka telah berhasil mencatatkan nama mereka dalam sejarah.

Lalau bagaimana dengan aku? Aku tetap saja aku yang masih kehilangan semangat dan mood untuk menulis sampai saat sekarang ini. Ingin sekali rasanya aku mencoba untuk menulis kembali, mengukir rangkaian tulisan-tulisan di lembaran kertas putih. Berulang kali aku mencoba, dan berulang kali juga aku gagal untuk memulai. 


Dulu bagiku menulis adalah sarana pembabasan jiwa. Nah, sekarang aku merasa sangat sulit sekali merenda tulisan di lembaran kertas putih. Ah, rasanya saat ini jiwaku terkungkung. Susah rasanya menuangkan ide itu. Kadang ide itu ada, tapi memulainya sangat rumit sekali.


Pagi ini, kejenuhan itu kian memuncak, dan di sisi lain keinginan untuk kembali menulis itu kian kuat menhentak. Akahirnya aku coba untuk menuliskan tulisan ini. Inilah secarik catatan di selasa pagi. Oh semangat kembalilah,..!!!

[ Selengkapnya...]
Label:

Teruslah Berbagi

Tidak ada manusia yang sempurna. Ya, tak seorang pun di dunia ini yang terlahir sebagai sesosok manusia yang sempurna. Saya, anda dan kita semua terlahir dengan berbagai kekurangan di tengah segelintir kelebihan yang kita miliki. Agaknya ini merupakan bagian dari takdir Maha Besar Allah, agar kita manusia bisa hidup saling berdampingan dan saling berbagi. Ya, kita memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin bisa untuk hidup sendiri di hamparan bumi Allah yang elok ini. Dengan alasan apapun kita tidak akan mungkin bisa mengingkari sunatullah ini. 

Apapun profesi kita, bagaimana pun status sosial kita dan seberapa pun tingginya pendidikan kita, serta tak peduli seberapa banyak gelar yang kita miliki, tetap saja kita akan membutuhkan orang lain untuk menunjang dan menjamin kelangsungan kehidupan kita di muka bumi ini. Di samping kita membutuhkan orang lain, kita juga dianjurkan untuk bisa berbagi dan membatu orang lain yang berada di sekeliling kita. Inilah bagian dari takdir Allah yang saya maksud di atas tadi. Allah tidak akan menciptakan sesuatu di kolong langit ini tanpa hikmah. Singkatnya, kita sangat dianjurkan untuk saling meberi dan menerima.

Manusia terlahir sudah ditakdirkan sebagai makhluk sosial. Itu artinya kita akan selalu saling berinteraksi antar sesama manusia dalam kehidupan ini. Di mana pun kita berada interaksi itu pasti akan terjadi. Bukankah keberadaan kita di dunia ini sangat terkait erat dengan lingkungan kita? Kita akan selalu bersosialisasi dengan orang yang ada di sekeliling kita. Nah, di dalam proses sosialisasi itulah adanya proses tukar menukar manfaat melalui kegiatan saling memberi dan menerima. Kita sangat butuh orang lain dan tidak tertutup kemungkinan oranglain juga sangat membutuhkan kita.

Karena kita sangat dianjurkan untuk memberi dan berbagi kepada sesama, maka alangkah sangat mulianya orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Bukankah baginda Rasulullah SAW pernah berpesan melalui haditsnya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan salah satu cara member manfaat kepada orang lain adalah dengan berbagi dan memberi.

Agaknya hadits Rasulluah di atas sudah cukup bagi kita untuk membuktikan bahwa kita sangat dianjurkan untuk bisa memberikan dan berbagi kepada orang lain dan lingkungan sekitar kita. Memberi dan berbagi tidak harus berupa uang atau materi. Banyak hal lain yang dapat kita berikan untuk orang di sekeliling kita. Apakah pemberian itu berbentuk ide, sumbangan pikiran, saran dan nasehat atau berupa tenaga misalnya. Apapun itu, selagi itu bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan kita, kenapa tidak kita bagi dengan orang lain.

Jika kita adalah seorang yang berilmu, maka berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Berilah manfaat orang dan lingkungan di sekeliling kita dengan ilmu yang kita punya. Ilmu jika tidak dimanfaatkan ibarat pohon tanpa buah. Tidak ada artinya. Tahukah kawan bahwa tidak ada orang yang serba tahu di dunia ini. Kita memiliki keterbatasan pengetahuan. Oleh sebab itu kita sangat dianjurkan untuk saling berbagi ilmu agar pengetahuan kita lebiah luas. Tidak ada untungnya menyembunyikan ilmu. Berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh. Jika berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh, lalu masih adakah alasan bagi kita untuk tidak berbagi ilmu? Jawablah dengan jujur dan setulus hati.

Jikalau seandainya kita adalah seseorang yang kebetulan diberikan kelimpahan materi oleh Allah, maka berbagilah dengan materi yang kita punya. Karena di dalam harta yang kita miliki itu juga terdapat hak orang lain. Gunakanlah harta dan kelimpahan materi yang kita punya itu untuk bisa membantu dan memberi maanfaat kepada orang yang hidupnya masih kurang beruntung ketimbang kita. Alangkah indahnya hidup ini jika kita mampu berbagi dengan sesama melalui kelebihan harta yang diberikan Allah kepada kita. Toh, kelebihan harta yang kita miliki juga tidak akan kita bawa mati bukan? Bukankah tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah?


Kemudian jika kita tergolong orang yang bijak, maka berbagilah dengan nasehat-nasehat yang baik yang dapat mecerahkan kehidupan seseorang. Lihatlah sekeliling kita. Pekalah terhadap lingkungan. Mungkin saja banyak orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan motivasi dan semangat dari kita.

Kalaupun kita tidak memiliki semua itu, dengan senyuman pun kita bisa berbagi. Tebarkanlah senyuman kedamaian dan persahabatan di lingkungan kita. Semoga dengan senyuman tersebut bisa memberikan kedamaian dan keharmonisan pergaulan kita di tengah-tengah masyarakat. Tetap berbagi, meskipun hanya dengan senyuman yang penuh kedamaian.

Apapun profesi dan kedudukan kita di tengah masyarakat, teruslah berbagi dan meberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Menjadi orang sukses itu memang baik dan terhormat, namun jauh lebih baik dan terhormat jika kesuksesan kita itu bisa juga dirasakan dan memberi manfaat bagi orang yang ada di sekitar kita. Dengan kata lain orang yang sukses sejati itu adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Memberi tidak akan membuat kita kekurangan. Belum ada sejarahnya orang miskin karena memberi. Juga belum ada tercatat dalam sejarah orang yang bodoh karena berbagi ilmu dengan orang lain. Namun, kenyataannya adalah sebaliknya. Dengan memberi kita akan hidup berkelimpahan. Melalui berbagi kehidupan kita akan terasa lebih bermakna.
Teruslah berbagi, dan rasakan keberkahannya…!!!

*Oleh: Heru Perdana P
Padang, 18 Oktober 2011, 14:08 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Wisuda, Keluar dari Mulut Harimau Masuk Mulut Buaya

Dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan dan sudah dimulai semenjak beberapa minggu belekangan ini, acara wisuda telah digelar di berbagai kampus di negeri ini. Baik itu kampus umum maupun kampus kesehatan. Semuanya mengelar perhelatan yang sangat dinanti dan didambakan oleh para mahasiswa. Karena memang dalam rentang bulan September dan oktober ini adalah masanya kampus mengelar acara wisuda. Mungkin ini adalah salah satu momen maha penting dalam sejarah perjalanan kehidupan saya, anda dan kita semua, manusia yang beruntung bisa menikmati pendidikan di bangku perguruan tinggi. Karena saking pentingnya, sehingga untuk merayakan dan menyaksikan pengukuhan gelar serjana, tak jarang para wisudawan dan wisudawati memboyong seluruh keluarganya. Mulai dari orang tua, kakak, adik, keponakan, teman dan bahkan tetangga diundang untuk ikut serta menyaksikan hari bahagia itu.

Selesai kuliah, bagaikan lepas dari himpitan beban yang sangat berat dan menyesak pikiran. Tamat kuliah serasa bebas dari kurungan penjara yang menjemukan. Ibarat burung yang lepas dari sangkar dan siap terbang melayang melepaskan segala beban selama dalam sangkar. Napas di dada terasa lapang, padangan terang menerawang, mata berbinar menyiratkan gurat bahagia. Rasa bangga berbalut bahagia memenuhi setiap inci ruang dada. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh para sarjana, jika kita bertanya kepada para sarjana pada hari pengukuhan gelar kesesarjanaan mereka itu. Ya, kira-kira sperti itulah perasaan yang berkecamuk dihati mereka.

Kawan, mari kita sejenak kembali melayangkan pikiran kita ke masa lalu. Masa di mana untuk mengecap pendidikan di perguruan tinggi itu sangat susah. Pada waktu itu gelar sarjana adalah suatu gelar yang sangat terhormat. Mereka yang memiliki gelar sarjana waktu itu sangat dihormati. Jika ada saja salah satu dari anggota keluarga kita yang sarjana, maka dengan sendirinya keluarga kita akan disegani oleh orang sekitar. Ya, begitu mahal dan berharganya gelar sarjana waktu itu. Orang yang menyandang gelar sarjana kala itu indentik dengan orang yang sangat pintar dan beruang. Tapi itu dulu kawan.!! Sekarang keadaan itu sudah sangat berubah.

Kita patut bersyukur, seiring berputarnya waktu dan bergantinya zaman, keadaan itu sudah mulai berubah. Sekarang kesempatan untuk bisa kuliah dan mengecap pendidikan di perguruan tinggi sangat terbuka luas. Kesempatan itu juga diiringi dengan tersedianya berbagai macam pilihan perguruan tinggi. Kita tinggal pilih mau masuk dan kuliah di mana. Namun sayang, kesempatan itu tidak bisa termanfaatkan dengan baik.

Telah banyak di sekitar kita orang yang menyandang gelar sarjana tanpa memandang derajat, status ekonomi, IQ tinggi atau tidak, dan lain sebagainya. Terlepas dari bagaimana dan dengan cara apa kita menyandang gelar itu, kita tetap harus bangga menjadi seorang sarjana. Namun bangga saja tidak cukup, gelar sarjana yang disadang itu akan melahirkan beberapa tangungjawab dan tuntutan. Bukan hanya untuk berjalan pongah di dapan para siswa SMA, SMP, SD bahwa kita lebih berpendidikan ketimbang mereka. Kita ─para sarjana─ bertanggungjawab untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik, baik untuk diri sendiri, maupun keluarga dan lingkungan kita. Para sarjana dituntut untuk tidak menambah panjang rentetan daftar pengangguran di Negara ini. Jika tidak mampu, maka gelar sarjana tidak ada gunanya. Sama dengan bohong.!!

Ada sebuah pepatah lama yang kira-kira cocok untuk mengambarkan keadaan para sarjana yang baru saja wisuda, “lepas dari mulut harimau, masuk mulut buaya”. Ya, sangat cocok sekali. Tahukah kawan, bahwa kebahagiaan yang dirasakan oleh para wisudawan dan wisudawati itu tak lebih dari satu hari saja. Kebahagiaan itu akan lenyap dan menguap dengan sendirinya ketika mereka sadar bahwa ada permasalahan baru yang siap menunggu mereka. Persoalan itu adalah “bagaimana mendapatkan” pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu dan keahlian yang mereka miliki. Dulu ketika SMA ingin cepat tamat lalu kuliah. Setelah tamat kuliah lalu diwisuda, setelah itu binggung mau kerja di mana.

Ternyata Setelah bermandikan peluh pilu, bersimbah keringat suka dan duka di bangku kuliah. Tertawa bahagia ketika wisuda. Jika tidak pandai-pandai dan gesit dalam melihat peluang, maka gelar sarjana tidak akan ada artinya. Kelak kita akan sadari bahwa lulus dengan IPK di atas tiga saja tidak cukup untuk bisa menembus dunia kerja. Dunia kerja tidak hanya soal nilai, tapi banyak aspek lain yang perlu kita pahami. Dibutuhkan sedikit keberanian dan keberuntungan untuk bisa menembus dunia kerja. Jika tidak, maka siap-siaplah untuk masuk ke dalam daftar “sarjana penganguran”. Dan itu artinya kita telah menambah berat kerja pemerintah dalam mengatasi dan menggurangi angka pengangguran di ranah Indonesia ini. Sungguh sebuah kebanggaan serta kebahgiaan semu, bukan?

Tahukah kawan, bahwa dari sekitar 40 juta orang total keseluruhan pengangguran di Indonesia, 2,6 juta orang diantaranya adalah pengguran bertitelkan sarjana, terlepas dari apakah mereka pengaguran suka rela atau tidak. Sebuah angka yang cukup fantastis bukan? Jika kita tidak siap maka tidak tertutup kemungkin kita akan menjadi salah seorang dari mereka. Tentu jauh dari lubuk hati yang paling dalam kita berharap kita tidak ikut serta meramaikan daftar penganguran terdidik di negeri ini.

Entah apa yang salah dengan kenyataan pahit itu. Yang jelas sistem pendidikan di Negara kita ikut andil dalam kenyataan itu. Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa sistem pendidikan yang ditawarkan di Negara kita saat ini masih berada pada taraf mempersiapkan mahasiswanya untuk jadi pekerja bukan pencipta lapangan kerja. Sementara di sisi lain ketersediaan lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah sarjana yang lulus dari berbagai institusi pendidikan. Para mahasiswa hanya disiapkan jadi robot-robot pintar, sementara dunia kerja tidak sanggup menerima robot-robot pintar dengan titel sarjana yang semakin hari semakin banyak itu. Dunia pendidikan kita tidak cukup memuat mahasiswa berani menatap masa depan dan menantang kehidupan.
Lalu sampai kapan keadaan seperti ini kita biarkan berlanjut..???



*Oleh: Heru Perdana
Padang, 26 September 2011, 22: 16 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Berlayar Menuju Pulau Kesuksesan

Kawan tentu pernah bermain ke pantai, mampir ke dermaga serta pelabuhan, atau hanya sekedar lewat di tepian laut dan melihat kapal akan dan sedang berlayar mengharungi samudra. Apa yang kawan pikirkan ketika melihat pemandangan seperti itu? Ke mana pikiran kawan menerawang ketika menyaksikan pemandangan itu? Apa yang terlintas dipikiran kawan? Dan pelajaran apa yang dapat kawan petik dari proses berlayarnya sebuah kapal?

Mengenai pemandangan tetang berlayarnya sebuah kapal maka saya sangat sering melihat itu, karena memang jika akan pulang ke kampung halaman saya di pesisir bagian selatan Sumatera Barat sana, saya selalu melewati tepian laut yang menawarkan pemandangan seperti itu. Sampai suatu ketika mucul dipikiran saya bahawa proses berlayarnya kapal mengharungi samudra nan luas itu tidak ubahnya dengan bagaimana seharusnya kita mengharungi samudra kehidupan ini untuk mencapai kesuksesan. Ya, sama persis.

Kapal berlayar butuh persiapan dan harus ada tujuan. Begitu juga dengan hidup ini, butuh persiapan dan harus memiliki tujuan yang jelas. Kesuksesan seperti apa yang kita iginkan. Pulau kesuksesan seperti apa yang akan kita tuju. Dalam berlayar sebuah kapal tidak akan berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Tentu banyak halagan dan rintangan yang mau tidak mau, suka atau tidak suka mesti dihadapi demi menuju sebuah pulau yang akan dituju. Kenyataan seperti itu, tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita di dunia ini. Hidup tidak akan melulu berjalan mulus. Hidup selalu akan menawarkan masalah dan rintangan yang harus kita hadapi dan selesaikan. Hidup dan permasalahan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Lihatlah kapal yang akan berlayar itu, segala sesuatu telah dipersiapkan. Sebelum berlayar tujuanpun telah ditentukan. Agar tujuan bisa dituju dengan mudah maka dibutuhkan sebuah kompas penujuk arah dan selembar peta untuk menetukan di mana posisi kapal sedang berada. Jika tidak ada penunjuk arah maka sudah sangat dapat dipastikan bahwa kapal akan tersesat. Didalam perjalanan pun tidak sedikit hambatan yang akan ditemui. Mulai dari ombak samudra yang menggila hingga amukan badai yang siap menengelamkan kapal.

Jika kapal itu adalah kita, maka mulai saat ini kita sudah harus mulai mempersiapakan diri untuk mengharungi derasnya samudra kehidupan untuk menuju sebuah pulau kesuksesan. Kita harus tetapkan tujuan kita dari sekarang, bahwa tujuan kita hidup adalah untuk meraih kesuksesan, baik itu sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Teruslah belajar dan membaca tanda-tanda untuk menuju kesuksesan.

Kesuksesan selalu meninggkalkan petunjuk-petunjuk yang dapat kita ikuti. Petunjuk itu dapat kita lihat dan kita pelajari melalui orang-orang terdahulu yang telah merasakan manisnya madu kesuksesan setelah puas menelan pahitnya empedu kegagalan. Tidak ada salahnya meniru mereka dan menjadikan pengalaman hidup mereka sebagai kompas bagi kita agar kita tidak tersesat dan tidak terobang-ambing dalam mangharungi samudara kehidupan yang begitu deras dan keras untuk samapai ke pulau kesuksesan yang sangat kita impikan itu. Intinya, kesuksesan itu dapat kita tiru lalu ditularkan. Jalan kesuksesan itu dapat kita tiru lalu sedikit dimodifikasi, sehingga memudahkan kita untuk mencapainya, tidak perlu mencari dan meraba-raba kembali dari awal.

Selayaknya kapal yang akan berlayar, tentu kita juga butuh selembar peta perjalanan menuju pulau kesuksesan. Kita butuh sebuah peta rencana kesuksesan, agar energi dan pikiran kita tidak terbuang dengan sia-sia serta dapat menghemat waktu dalam menuju pulau kesuksesan yang menawarkan serta menjanjikan berjuta kebahagiaan. Dengan peta rancana kesuksesan tersebut kita bisa tahu sudah sejauh mana kita berlayar menuju pulau kesuksesan. Dengan peta tersebut kita sadar di mana posisi kita saat ini. Ya, peta tersebut sangat kita perlukan, bahkan sangat perlu agar kita tidak tersesat serta tengelam diterjang badai permasalahan dan terhempas diterpa obak kehidupan. Menyiapkan peta rencana kesuksesan adalah bagian dari cara mencapai kesuksesan hidup.

Ketahuilah wahai kawan, segala sesuatu memiliki cara dan arah untuk untuk meraihnya, termasuk juga mencapai kesuksesan hidup. Orang yang sukses adalah orang yang tahu dan mengerti akan kesuksesan itu dan paham dengan baik bagaimana cara mewujudkannya untuk kemudian dituangkan dalam peta rencana kesuksesan. Jika tujuan telah ditetapkan dan persiapan telah dilakukan, maka pelayaran menuju pula kesuksesan bisa dimulai. Jika kita mampu mengikuti cara itu dengan baik, maka kesuksesasan hanya perkara waktu. Cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan, berlabuh di dermaga kebahagiaan.

Kawan, dalam perjalanan menuju pulau kesuksesan itu jangan lupa bawa serta bekal kesabaran. Karena kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi terjagan ombak serta kerasnya terpaan badai permasalahan dalam mengharungi luasnya samudra kehidupan sebelum sampai di tepian pulau kesuksesan hidup. Telah banyak dipertontonkan di pentas kehidupan ini bahwa banyak manusia yang gagal sampai ke dermaga kesuksesan karena terlalu sedikit atau tidak membawa bekal kesabaran sama sekali. Hingga akhirnya meraka tengelam di tengah samudra keputus-asaan. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan.

Meraka tengelam gagal bukan karena buruknya peta perencanaan kesuksesan yang mereka susun, bukan juga karena kurangnya potensi yang mereka miliki, melainkan karena kurangnya bekal sabar yang mereka punya dan mereka bawa. Jadi, sudah jelas bagi kita bersama bahwa sikap sabar sangat penting kita miliki dalam rangka meraih kesuksesan hidup. Jika sekarang kita belum berhasil dan banyak menemukan berbagai gelombang permasalahan, tidak perlu berputus asa, tidak usaha bersedih hati dan menyalahkan Takdir Allah, karena bisa jadi ada yang salah dengan proses kerja dan usaha kita. Kesabaran bukanlah hal yang pasif, di mana kita hanya mempasrahkan diri kepada Allah. Sabar menuntut kita aktif dan berfikir untuk memperbaiki kesalahan yang ada, guna mewujudkan kesuksesan yang kelak kita harapkan dapat meberikan percikan kebahagiaan ke dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Mario Teguh pernah mengatakan, “kesabaran adalah kekuatan untuk berlaku tenang dalam penantian”.

Yakinlah wahai kawan, kesabaran itu akan membuahkan keberhasilan serta akan menghantarkan kita ke dermaga kesuksesan. Kita sadari atau tidak, jika kita mau berusahan dan terus berjuang, maka kita tidak akan mungkin terus berada dalam kesulitan. Di balik setiap gelombang kesulitan dan permasalahan pasti ada hamparan pasir jalan keluar. Kesabaran akan membawa kemudahan bagi setiap permasalahan yang kita hadapi. Dan ini telah dijanjikan Allah di dalan al-quran. Sekalai lagi saya tegaskan, jika kita sudah menetapkan tujuan yang jelas, berusaha dengan maksimal serta mengiringi setiap usaha tersebut dengan balutan kesabaran, maka cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan hidup nan indah.
Teruslah berjuang dan selamat berlayar menuju Pulau Kesuksesan..!!!



“Kesuksesan akan didapatkan dengan kesungguhan dan kegagalan terjadi akibat kemalasan bersungguh-sungguh”
~Sholahuddin As-Supadi, wafat 764 H~

*Oleh : Heru Perdana Putra
Padang, 19 September 2011, 15: 59 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers