Teruntuk buatmu yang mungkin telah jauh
Untukmu yang sedang tersenyum di sana
Bagimu yang tidak di sisiku lagi
Tersusun kata, terselip harapan, terangkai do’a
Agar kau bahagia dan selalu bahagia di sana
Kita mungkin telah jauh
Tidak lagi seperti dulu
Tidak pernah terbersit dihati ini untuk itu
Meski semua harap telah sirna
Segala asa telah pupus
Dari jauh ku kirim suntai do’a
Semoga bibir simpulmu nan indah tetap memancarkan senyum
Senyum indah, peneduh jiwa, penebar harapan
Engkau mungkin telah lupa
Tapi sungguh di relung kalbu ini kenangan itu masih nyata
Hidup dan tak terlupa
Semoga kau sudih terima seuntai do’a dari lubuk hati ini
Tak ada lagi hanya ini
Sebagai tanda dulu kita bisa bersama
Meniti tali kasih,
Menyonsong derasnya badai kehidupan
Sungguh, aku tak bisa lagi memberi
Hanya seuntai do’a ini yang bisa ku kirim
Bersama dinginnya hembusan angin malam ku pesankan
Agar disampaikan kepadamu
Seuntai do’a berjuta kasih
Semoga kau bahagia di sana
Dan selalu menikmati manisnya madu kebahagiaan
Padang, 11 Mai 2011, 01: 06 WIB
Oleh: Heru Perdana
Ibu, sesulit itukah mendapatkan kepercayaanmu?
Ibu, semahal itukah kepercayaanmu?
Ibu, tolonglah dengar jeritan hati anakmu ini
Jeritan hati seorang anak yang merindukan kepercayaan seorang ibu
Oh Ibu, tolonglah
Ibu, kenapa baru saja kami akan mulai engkau sudah katakan
Jangan nak, nanti kau gagal
Ibu, kenapa baru saja kami akan melangkah, engkau sudah katakan
Jangan nak, nanti kau celaka
Gagal dan celakakah yang membuat engkau gamang memberikan kepercayaan itu?
Ibu, tidakkah engkau sadari
Gagal dan celaka adalah bagian dari takdir Tuhan
Untuk kami,
Untuk anakmu yang haus akan kepercayaanmu ini.
Ibu, kami tahu ibu sangat menyayangi kami
Ibu, kami sadar, ibu sangat mengasihi kami
Ibu, kami yakin akan ketulusan cintamu
Ibu, kami sangat mempercayai dan tidak ragu akan itu semua
Tapi, kami mohon berikanlah segenggam kepercayaan itu.
Kepercayaan yang tulus dari hati lembut seorang ibu
Ibu, berikanlah
Berikanlah segenggam kepercayaan itu
Agar kami mampu mengenggam dunia dan kehidupan ini.
Ibu, dengarlah,…..
*oleh: Heru Perdana
Padang, 25 April 2011, 09: 13 WIB
Senja itu,..
Di persimpangan itu,..
Tiga boca berwajah lugu
Berlari mengejar, mengaharap belas kasih dari pengendara
Yang berhenti di persimpangan lampu merah
Ah, mereka mengahapiri kami
Mengahampiri aku dan temanku
Yang kebetulan tengah berhenti di sana saat itu
“kak, minta kuenya kak”, begitu kata mereka mengiba
Tak kuasa melihat wajah tak berdosa itu, memohon dan mengharap,
akhirnya kami berikan saja kue itu kepada mereka
mereka berhamburan berlari ke emperan toko tak jauh dari persimpangan itu
Di sana mereka buka bungkusan kue itu
Berebut, gelak tawa terhambur keluar dari bibir-bibir mungil mereka
Ada sedikit rasa bahagia terasa di hati ini melihat tingkah mereka
Namun, di sis lain hatiku juga ditusuk rasa gundah melihat mereka
Mengapa mereka harus di sana senja itu?
Dengan perawakans sedikit kumal
Harusnya mereka sudah bersih dan siap untuk mengaji di mesjid
Ke mana orang tua mereka?
Siapa yang salah dengan pemandangan itu?
Padang, 19 April 2010, 18:52 WIB
Oleh: Heru Perdana
Dia datang begitu saja
Tak pernah memberi kabar dan berita
Datangnya bak setetes cahaya
Menerangi segumpal hati
Yang telah kelam oleh balutan kesepian dan kegundahan
Ketika dia menghampiri hati ini
Dunia serasa berputar pelan
Indah dan memberikan harapan
Indah dan bahagia, hanya itu yang terasa
Saat dia datang
Anginpun berhembus tenang
Menerpa relung hati yang sedang gundah
Membawakan seuntai harapan
Menghantarkan berjuta keping kasih dan sayang
Kedatanganya telah membuat duniaku terasa indah dan begitu lapang
Tak ada lagi lara
Tak ada lagi tangisan duka
Yang tersisa hanya guratan senyum bahagia
Oh cinta
Inikah yang disebut cinta
Aku tak tahu
Yang ku tahu
Hanya itu
Ya, begitulah cinta yang Aku tahu
Padang, 01 Maret 2011, 04:26 pm
*Oleh: Heru Perdana P
