Wisuda, Keluar dari Mulut Harimau Masuk Mulut Buaya

Dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan dan sudah dimulai semenjak beberapa minggu belekangan ini, acara wisuda telah digelar di berbagai kampus di negeri ini. Baik itu kampus umum maupun kampus kesehatan. Semuanya mengelar perhelatan yang sangat dinanti dan didambakan oleh para mahasiswa. Karena memang dalam rentang bulan September dan oktober ini adalah masanya kampus mengelar acara wisuda. Mungkin ini adalah salah satu momen maha penting dalam sejarah perjalanan kehidupan saya, anda dan kita semua, manusia yang beruntung bisa menikmati pendidikan di bangku perguruan tinggi. Karena saking pentingnya, sehingga untuk merayakan dan menyaksikan pengukuhan gelar serjana, tak jarang para wisudawan dan wisudawati memboyong seluruh keluarganya. Mulai dari orang tua, kakak, adik, keponakan, teman dan bahkan tetangga diundang untuk ikut serta menyaksikan hari bahagia itu.

Selesai kuliah, bagaikan lepas dari himpitan beban yang sangat berat dan menyesak pikiran. Tamat kuliah serasa bebas dari kurungan penjara yang menjemukan. Ibarat burung yang lepas dari sangkar dan siap terbang melayang melepaskan segala beban selama dalam sangkar. Napas di dada terasa lapang, padangan terang menerawang, mata berbinar menyiratkan gurat bahagia. Rasa bangga berbalut bahagia memenuhi setiap inci ruang dada. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh para sarjana, jika kita bertanya kepada para sarjana pada hari pengukuhan gelar kesesarjanaan mereka itu. Ya, kira-kira sperti itulah perasaan yang berkecamuk dihati mereka.

Kawan, mari kita sejenak kembali melayangkan pikiran kita ke masa lalu. Masa di mana untuk mengecap pendidikan di perguruan tinggi itu sangat susah. Pada waktu itu gelar sarjana adalah suatu gelar yang sangat terhormat. Mereka yang memiliki gelar sarjana waktu itu sangat dihormati. Jika ada saja salah satu dari anggota keluarga kita yang sarjana, maka dengan sendirinya keluarga kita akan disegani oleh orang sekitar. Ya, begitu mahal dan berharganya gelar sarjana waktu itu. Orang yang menyandang gelar sarjana kala itu indentik dengan orang yang sangat pintar dan beruang. Tapi itu dulu kawan.!! Sekarang keadaan itu sudah sangat berubah.

Kita patut bersyukur, seiring berputarnya waktu dan bergantinya zaman, keadaan itu sudah mulai berubah. Sekarang kesempatan untuk bisa kuliah dan mengecap pendidikan di perguruan tinggi sangat terbuka luas. Kesempatan itu juga diiringi dengan tersedianya berbagai macam pilihan perguruan tinggi. Kita tinggal pilih mau masuk dan kuliah di mana. Namun sayang, kesempatan itu tidak bisa termanfaatkan dengan baik.

Telah banyak di sekitar kita orang yang menyandang gelar sarjana tanpa memandang derajat, status ekonomi, IQ tinggi atau tidak, dan lain sebagainya. Terlepas dari bagaimana dan dengan cara apa kita menyandang gelar itu, kita tetap harus bangga menjadi seorang sarjana. Namun bangga saja tidak cukup, gelar sarjana yang disadang itu akan melahirkan beberapa tangungjawab dan tuntutan. Bukan hanya untuk berjalan pongah di dapan para siswa SMA, SMP, SD bahwa kita lebih berpendidikan ketimbang mereka. Kita ─para sarjana─ bertanggungjawab untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik, baik untuk diri sendiri, maupun keluarga dan lingkungan kita. Para sarjana dituntut untuk tidak menambah panjang rentetan daftar pengangguran di Negara ini. Jika tidak mampu, maka gelar sarjana tidak ada gunanya. Sama dengan bohong.!!

Ada sebuah pepatah lama yang kira-kira cocok untuk mengambarkan keadaan para sarjana yang baru saja wisuda, “lepas dari mulut harimau, masuk mulut buaya”. Ya, sangat cocok sekali. Tahukah kawan, bahwa kebahagiaan yang dirasakan oleh para wisudawan dan wisudawati itu tak lebih dari satu hari saja. Kebahagiaan itu akan lenyap dan menguap dengan sendirinya ketika mereka sadar bahwa ada permasalahan baru yang siap menunggu mereka. Persoalan itu adalah “bagaimana mendapatkan” pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu dan keahlian yang mereka miliki. Dulu ketika SMA ingin cepat tamat lalu kuliah. Setelah tamat kuliah lalu diwisuda, setelah itu binggung mau kerja di mana.

Ternyata Setelah bermandikan peluh pilu, bersimbah keringat suka dan duka di bangku kuliah. Tertawa bahagia ketika wisuda. Jika tidak pandai-pandai dan gesit dalam melihat peluang, maka gelar sarjana tidak akan ada artinya. Kelak kita akan sadari bahwa lulus dengan IPK di atas tiga saja tidak cukup untuk bisa menembus dunia kerja. Dunia kerja tidak hanya soal nilai, tapi banyak aspek lain yang perlu kita pahami. Dibutuhkan sedikit keberanian dan keberuntungan untuk bisa menembus dunia kerja. Jika tidak, maka siap-siaplah untuk masuk ke dalam daftar “sarjana penganguran”. Dan itu artinya kita telah menambah berat kerja pemerintah dalam mengatasi dan menggurangi angka pengangguran di ranah Indonesia ini. Sungguh sebuah kebanggaan serta kebahgiaan semu, bukan?

Tahukah kawan, bahwa dari sekitar 40 juta orang total keseluruhan pengangguran di Indonesia, 2,6 juta orang diantaranya adalah pengguran bertitelkan sarjana, terlepas dari apakah mereka pengaguran suka rela atau tidak. Sebuah angka yang cukup fantastis bukan? Jika kita tidak siap maka tidak tertutup kemungkin kita akan menjadi salah seorang dari mereka. Tentu jauh dari lubuk hati yang paling dalam kita berharap kita tidak ikut serta meramaikan daftar penganguran terdidik di negeri ini.

Entah apa yang salah dengan kenyataan pahit itu. Yang jelas sistem pendidikan di Negara kita ikut andil dalam kenyataan itu. Tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa sistem pendidikan yang ditawarkan di Negara kita saat ini masih berada pada taraf mempersiapkan mahasiswanya untuk jadi pekerja bukan pencipta lapangan kerja. Sementara di sisi lain ketersediaan lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah sarjana yang lulus dari berbagai institusi pendidikan. Para mahasiswa hanya disiapkan jadi robot-robot pintar, sementara dunia kerja tidak sanggup menerima robot-robot pintar dengan titel sarjana yang semakin hari semakin banyak itu. Dunia pendidikan kita tidak cukup memuat mahasiswa berani menatap masa depan dan menantang kehidupan.
Lalu sampai kapan keadaan seperti ini kita biarkan berlanjut..???



*Oleh: Heru Perdana
Padang, 26 September 2011, 22: 16 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Berlayar Menuju Pulau Kesuksesan

Kawan tentu pernah bermain ke pantai, mampir ke dermaga serta pelabuhan, atau hanya sekedar lewat di tepian laut dan melihat kapal akan dan sedang berlayar mengharungi samudra. Apa yang kawan pikirkan ketika melihat pemandangan seperti itu? Ke mana pikiran kawan menerawang ketika menyaksikan pemandangan itu? Apa yang terlintas dipikiran kawan? Dan pelajaran apa yang dapat kawan petik dari proses berlayarnya sebuah kapal?

Mengenai pemandangan tetang berlayarnya sebuah kapal maka saya sangat sering melihat itu, karena memang jika akan pulang ke kampung halaman saya di pesisir bagian selatan Sumatera Barat sana, saya selalu melewati tepian laut yang menawarkan pemandangan seperti itu. Sampai suatu ketika mucul dipikiran saya bahawa proses berlayarnya kapal mengharungi samudra nan luas itu tidak ubahnya dengan bagaimana seharusnya kita mengharungi samudra kehidupan ini untuk mencapai kesuksesan. Ya, sama persis.

Kapal berlayar butuh persiapan dan harus ada tujuan. Begitu juga dengan hidup ini, butuh persiapan dan harus memiliki tujuan yang jelas. Kesuksesan seperti apa yang kita iginkan. Pulau kesuksesan seperti apa yang akan kita tuju. Dalam berlayar sebuah kapal tidak akan berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Tentu banyak halagan dan rintangan yang mau tidak mau, suka atau tidak suka mesti dihadapi demi menuju sebuah pulau yang akan dituju. Kenyataan seperti itu, tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita di dunia ini. Hidup tidak akan melulu berjalan mulus. Hidup selalu akan menawarkan masalah dan rintangan yang harus kita hadapi dan selesaikan. Hidup dan permasalahan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Lihatlah kapal yang akan berlayar itu, segala sesuatu telah dipersiapkan. Sebelum berlayar tujuanpun telah ditentukan. Agar tujuan bisa dituju dengan mudah maka dibutuhkan sebuah kompas penujuk arah dan selembar peta untuk menetukan di mana posisi kapal sedang berada. Jika tidak ada penunjuk arah maka sudah sangat dapat dipastikan bahwa kapal akan tersesat. Didalam perjalanan pun tidak sedikit hambatan yang akan ditemui. Mulai dari ombak samudra yang menggila hingga amukan badai yang siap menengelamkan kapal.

Jika kapal itu adalah kita, maka mulai saat ini kita sudah harus mulai mempersiapakan diri untuk mengharungi derasnya samudra kehidupan untuk menuju sebuah pulau kesuksesan. Kita harus tetapkan tujuan kita dari sekarang, bahwa tujuan kita hidup adalah untuk meraih kesuksesan, baik itu sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Teruslah belajar dan membaca tanda-tanda untuk menuju kesuksesan.

Kesuksesan selalu meninggkalkan petunjuk-petunjuk yang dapat kita ikuti. Petunjuk itu dapat kita lihat dan kita pelajari melalui orang-orang terdahulu yang telah merasakan manisnya madu kesuksesan setelah puas menelan pahitnya empedu kegagalan. Tidak ada salahnya meniru mereka dan menjadikan pengalaman hidup mereka sebagai kompas bagi kita agar kita tidak tersesat dan tidak terobang-ambing dalam mangharungi samudara kehidupan yang begitu deras dan keras untuk samapai ke pulau kesuksesan yang sangat kita impikan itu. Intinya, kesuksesan itu dapat kita tiru lalu ditularkan. Jalan kesuksesan itu dapat kita tiru lalu sedikit dimodifikasi, sehingga memudahkan kita untuk mencapainya, tidak perlu mencari dan meraba-raba kembali dari awal.

Selayaknya kapal yang akan berlayar, tentu kita juga butuh selembar peta perjalanan menuju pulau kesuksesan. Kita butuh sebuah peta rencana kesuksesan, agar energi dan pikiran kita tidak terbuang dengan sia-sia serta dapat menghemat waktu dalam menuju pulau kesuksesan yang menawarkan serta menjanjikan berjuta kebahagiaan. Dengan peta rancana kesuksesan tersebut kita bisa tahu sudah sejauh mana kita berlayar menuju pulau kesuksesan. Dengan peta tersebut kita sadar di mana posisi kita saat ini. Ya, peta tersebut sangat kita perlukan, bahkan sangat perlu agar kita tidak tersesat serta tengelam diterjang badai permasalahan dan terhempas diterpa obak kehidupan. Menyiapkan peta rencana kesuksesan adalah bagian dari cara mencapai kesuksesan hidup.

Ketahuilah wahai kawan, segala sesuatu memiliki cara dan arah untuk untuk meraihnya, termasuk juga mencapai kesuksesan hidup. Orang yang sukses adalah orang yang tahu dan mengerti akan kesuksesan itu dan paham dengan baik bagaimana cara mewujudkannya untuk kemudian dituangkan dalam peta rencana kesuksesan. Jika tujuan telah ditetapkan dan persiapan telah dilakukan, maka pelayaran menuju pula kesuksesan bisa dimulai. Jika kita mampu mengikuti cara itu dengan baik, maka kesuksesasan hanya perkara waktu. Cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan, berlabuh di dermaga kebahagiaan.

Kawan, dalam perjalanan menuju pulau kesuksesan itu jangan lupa bawa serta bekal kesabaran. Karena kesabaran sangat dibutuhkan dalam menghadapi terjagan ombak serta kerasnya terpaan badai permasalahan dalam mengharungi luasnya samudra kehidupan sebelum sampai di tepian pulau kesuksesan hidup. Telah banyak dipertontonkan di pentas kehidupan ini bahwa banyak manusia yang gagal sampai ke dermaga kesuksesan karena terlalu sedikit atau tidak membawa bekal kesabaran sama sekali. Hingga akhirnya meraka tengelam di tengah samudra keputus-asaan. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan.

Meraka tengelam gagal bukan karena buruknya peta perencanaan kesuksesan yang mereka susun, bukan juga karena kurangnya potensi yang mereka miliki, melainkan karena kurangnya bekal sabar yang mereka punya dan mereka bawa. Jadi, sudah jelas bagi kita bersama bahwa sikap sabar sangat penting kita miliki dalam rangka meraih kesuksesan hidup. Jika sekarang kita belum berhasil dan banyak menemukan berbagai gelombang permasalahan, tidak perlu berputus asa, tidak usaha bersedih hati dan menyalahkan Takdir Allah, karena bisa jadi ada yang salah dengan proses kerja dan usaha kita. Kesabaran bukanlah hal yang pasif, di mana kita hanya mempasrahkan diri kepada Allah. Sabar menuntut kita aktif dan berfikir untuk memperbaiki kesalahan yang ada, guna mewujudkan kesuksesan yang kelak kita harapkan dapat meberikan percikan kebahagiaan ke dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Mario Teguh pernah mengatakan, “kesabaran adalah kekuatan untuk berlaku tenang dalam penantian”.

Yakinlah wahai kawan, kesabaran itu akan membuahkan keberhasilan serta akan menghantarkan kita ke dermaga kesuksesan. Kita sadari atau tidak, jika kita mau berusahan dan terus berjuang, maka kita tidak akan mungkin terus berada dalam kesulitan. Di balik setiap gelombang kesulitan dan permasalahan pasti ada hamparan pasir jalan keluar. Kesabaran akan membawa kemudahan bagi setiap permasalahan yang kita hadapi. Dan ini telah dijanjikan Allah di dalan al-quran. Sekalai lagi saya tegaskan, jika kita sudah menetapkan tujuan yang jelas, berusaha dengan maksimal serta mengiringi setiap usaha tersebut dengan balutan kesabaran, maka cepat atau lambat kita akan sampai di pulau kesuksesan hidup nan indah.
Teruslah berjuang dan selamat berlayar menuju Pulau Kesuksesan..!!!



“Kesuksesan akan didapatkan dengan kesungguhan dan kegagalan terjadi akibat kemalasan bersungguh-sungguh”
~Sholahuddin As-Supadi, wafat 764 H~

*Oleh : Heru Perdana Putra
Padang, 19 September 2011, 15: 59 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

Rumput Tentangga memang selalu terlihat lebih hijau. Ya, sepenggal kalimat tersebut sangat cocok kiranya mengambarkan pandangan dan pikiran kita terhadap cara menyikapi hidup ini. Kehidupan tetangga selalu terlihat lebih bahagia ketimbang kehidupan kita. Pekerjaan orang lain selalu terlihat lebih baik dan enak ketimbang pekerjaan kita. Orang sekitar sering terlihat lebih kaya dan lebih besar penghasilannya ketimbang kita. Orang lain terilihat lebih berprestasi ketimbang kita. Pokoknya orang lain akan selalu terlihat lebih jika dibandingkan kita. Meski sebanarnya belum tentu demikian pada kenyataannya. Tapi pikiran picik kita telah terlanjur menciptakan perasaan seperti itu. Dan malangnya telah berhasil mengerogoti sebahagian besar dari hati dan perasaaan kita. 

Kita sadari atau tidak perasaan seperti tadi, perasaan yang melihat orang lain selalu lebih dari kita itu akan menciptakan sebuah virus berbahaya dalam hati kita. Virus berbahaya itu dinamakan iri dan dengki. Virus yang dapat melenyapkan kebahagian dari kehidupan kita. Virus yang akan mengikis habis dan tak bersisa rasa senang dan kepuasan dari dalam hati dan pikiran kita. Virus yang mungkin akan dapat dan mungkin bisa menciptakan sebuah virus baru yang juga berbahaya, yaitu rasa dendam. Na’uzubilahi min zalik,.!!

Tahukah kawan apa dengki itu? Secara sederhana iri atau dengki dapat diartikan sebagai sebuah emosi atau perasaan yang muncul ketika seseorang melihat dirinya memiliki kekurangan dan melihat orang yang didengkinya memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya. Kepemilikan orang yang didengki bisa berupa : kualitas kekayaan, kecerdasan, kepribadian, atau bahkan prestasi dan jaringan pertemanan atau komunitas soisal. Sebenarya sebab dasar timbulnya sikap iri dan dengki ini adalah karena didasari oleh rasa cemburu. Sebab lainnya adalah kurang mampu mensyukuri apa yang telah dianugrahkan Allah kepada kita sehingga berkat dari apa yang telah dimiliki tidak begitu terasa dan membekas dalam kehidupan. Akibatnya, pancaran kebahagian tidak bisa dirasakan oleh mereka yang menyimpan rasa iri dan dengki.


Aeschylus (525 SM - 456 SM) seorang dramawan Yunani kuno yang telah berhasil menulis lebih dari tujuh puluh naskah drama mengatakan “ Hanya sedikit orang yang bisa untuk menghormati keberhasilan orang lain tanpa rasa iri hati”. Ya, karena memang terkadang sangat sulit menerima kenyataan bahwa orang lain lebih sukses dan berhasil ketimbang kita. Dan sangat susah melihat orang lain lebih hebat daripada kita. Alasanya hanya satu, yaitu sikap egois yang masih bersemayam indah di hati dan jiwa kita manuisa. 


Iri hati hanya akan merusak dan merampas kebahagiaan dan keindahan hidup seseorang. Iri dan dengki akan menjauhkan kita dari rasa damai, sejahtera dan sukacita. Iri hati hanya akan mempersempit ruang kehidupan dan membuat penganutnya terjun bebas ke dalam jurang kesengsaraan. Hidup pengiri akan terasa hambar dan selalu dihantui oleh ketidaktenangan kerana terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki oleh orang lain sehingga lupa terhadap arti kehidupannya sendiri. Iri hati adalah virus yang mematikan. Setidaknya membuat hati kita mati dan tidak bisa bersyukur akan karunia dan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepada kita. 


Jika kita telah menyadari bahwa tidak ada untungnya menyimpan dan memelihara salah satu sifat buruk ini. Lalu, mengapa kita masih mau menyimpan sifat buruk itu? Kenapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Dan kenapa kita kita masih saja mau diperdaya olehnya? Mulai saat ini mari kita berusah untuk membuang sifat buruk itu. Ayo kita belajar menerima kelebihan orang lain yang ada di sekitar kita, karena terkadang kita harus mengakui kebenaran sepenggal kalimat bijak ini, “bahwa di atas langit masih ada langit”


Mari melihat kelebihan dan kesuksesan orang lain atau teman di sekeliling kita kita sebagai sebahagian dari kesuksesan kita. Karena dengan beranggapan seperti itu kita telah berusaha membunug sikap iri yang ada dalam diri kita. Setidaknya dengan bersikap seperti itu kita dapat bergaul dan belajar dengan mereka untuk menggapai kesuksesan dalam hidup kita. Yang pada akhirnya kita akan mampu menjadikan hal itu sebgai lecutan dan motivasi untuk bekerja lebih maksimal. Jika kita tetap memelihara sikap iri dan dengki tentu kita tidak akan mau bergaul dengan orang yang lebih dulu sukses dari kita atau seorang yang lebih baik dari kita. Jelas sifat seperti ini sangat merugikan diri kita.


Untuk mengikis habis sikap iri dari diri kita mari kita sibukkan diri kita untuk bersiap menjadi pribadi yang lebih baik dan berkualitas dari ke hari. Sehingga demikian kita tidak punya waktu lagi untuk merasa iri dengan orang lain di sekitar kita. Fokuslah untuk memperbaiki diri, bukan melihat kelebihan orang lain.


“Rasa iri menggerogoti suka cita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis”~Billy Graham

Oleh: Heru Perdana Putra
Padang, 25 Juli 2011, 00.19 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Cinta Oh Cinta

Dia datang bagaikan setetes cahaya yang akan menerangi segumpalan hati mereka yang di hampirinya.. Ketika dia datang dunia seolah berputar pelan dan dan anginpun berhembus tenang. Dunia serta merta terasa lapang dan indah. Begitulah alam terasa ketika cinta mulai menyapa dan meyeruak masuk ke dalam relung hati dua insan berbeda jenis. Sulit memang diungkapkan dengan kata-kata, tapi dia begitu nyata terasa dan memenuhi setiap relung hati manusia yang dihampirinya, tidak jarang juga tergambar jelas dalam laku manusia.

Cinta akan berbeda makna jika sampai pada tangan dan pandangan individu yang berbeda pula. Mereka yang tidak begitu menyukai cinta, menyebut cinta sebagai tanggung jawab. Mereka yang bermain dengan cinta, akan memandang cinta sebagai permainan. Mereka yang belum memiliki dan mendapatkan cinta, menerjemahkan cinta dalam bentuk impian. Mereka yang mencintai, menyebut cinta adalah takdir. Mereka yang telah bahagia dengan cinta menganggap cinta sebagai nafas kehidupan dan berkah pembawa nikmat. Ya, cinta itu relative tergantung sudut pandang kita memandang.

Cinta bukanlah barang baru yang menjadi penghias kehidupan manusia di bumi ini. Boleh dikatakan umur cinta itu sama tuanya dengan bumi ini. Bukankah Allah menciptakan bumi nan elok ini adalah sebagai wujud cintaNya kepada hambaNya, yaitu kita─manusia─. Cinta itu akan tetap ada selama manusia dan makhluk lain juga masih ada. Kita lahir ke muka bumi ini adalah karena buah cinta antara ayah dan ibu kita. Kita tumbuh menjadi sesosok manusia dewasa adalah karena cinta dan kasih orang tua kepada kita. Cinta adalah bahan dasar kehidupan hati seorang manusia. orang yang tidak punya cinta pada hakikatnya hanya mengenggam dunia dari kulit luarnya saja.

Bicara soal cinta, belum ada seorangpun ahli yang bisa mendefinisikan cinta secara jelas dan mendalam. Belum ada defenisi baku tentang cinta. Juga belum ada teori yang mengulas persoalan cinta. Dan belum ada terdengar sampai saat ini ada seseorang yang dikenal sebagai pakar cinta. Cinta sangat sulit untuk didefenisikan dan disamakan maksudnya antara satu individu dengan individu yang lain. Karena memang cinta dan rasa cinta itu berbeda antara yang dirasakan oleh seseorang dan orang lain. Cinta juga akan berbeda tergantung waktu, tempat, cara menikmati dan penikmat cinta itu sendiri, seperti yang telah dikemukakan di atas.

Meskipun terjemahan dan defenisi cinta itu sangat banyak dan tidak ada yang sama. Namun yang jelas tujuan utama dari cinta itu adalah membahagiakan para penganutnya. Kebahagian yang memberikan percikan-percikan kenikmatan dan kepuasan bagi mereka yang tengah dimabuk cinta. Tidak hanya itu, kadang kala nikmatnya cinta justru akan lebih terasa setelah seseorang merasakan bagaimana pedihnya sayatan sembilu cinta. Intinya tujuan utama dari cinta adalah tetap untuk mendatangkan kebahagian kepada manusia yang telah dihinggapi hatinya oleh cinta. Kalau pun ada tangis dalam cinta itu adalah bumbu-bumbu agar cinta lebih bermakna dan bisa lebih dinikmati oleh para penganutnya, jika para pecinta dapat melihat sisi positif dari setiap adengan yang disajikan oleh cinta. Setidaknya bisa untuk menghargai cinta.

Cinta bukanlah barang aneh untuk dikenal dan dibicarakan. Cinta bukanlah produk haram yang tidak boleh dirasakan dan dinikmati. Tapi cinta adalah bagian dari sisi indah kehidupan manusia di muka bumi ini. Cinta adalah pemberian dan anugrah Allah yang diberikan kepada setiap hambaNya. Cinta adalah bumbu nikmat menambah gairah dua insan dalam mengharungi bahtera kehidupan.

Cinta itu adalah fitrah manusia yang dianugrahkan Rabb Maha Pengasih kepada hambaNya. Cinta kadang mewarkan gelak tawa, kadang menyuguhkan derita. Indah, ceria, dan kadang merana itulah rasa cinta. Rasa seperti itu terjadi bukan karena cintanya, tapi lebih disebabkan oleh kesalahan dan kegagalan kita dalam menyikapi cinta. Bisa jadi kesalahan dalam melabuhkan cinta pada hati yang tidak tepat. Atau bisa juga karena melabuhkan cinta pada waktu yang tidak tepat.

Yang jelas sejatinya cinta itu tetap akan memberikan kebahagiaan yang memercikan kenikmatan, kepuasan, dan ketentraman pada penikmatnya. Maka bersyukurlah orang yang telah dikaruniai cinta dan dapat menyikapinya dengan baik dan bijak. Cinta itu unik, bisa membuat mereka yang merasakannya tidak berselera makan atau tidak nafsu makan. Bahkan tak jarang cinta bisa membuat seseorang nekat mengakhiri hidup.

Lalu bagaiman jika cinta telah menghampiri hati kita? Apakah perlu syarat untuk menerima dan memulainya? Jika Tuhan menuntun kita dan menghantarkan kita pada cinta, maka terimalah cinta itu seraya tetap menilai dan mengenal cinta yang datang itu cocok atau tidak dengan pribadi kita. Ketika mencintai, jangan pernah menyesal meskipun cinta itu pada akhirnya akan menyakiti kita. Sejatinya ketika Tuhan sang Pemilik cinta membawa kita kepada cinta, maka Dia akan memampukan kita mengahadapi setiap persoalan dan permasalahan yang disodorkan oleh cinta. Kalaupun kita gagal dan kecewa, anggaplah itu sebagai sarana pendewasaan diri dan batu loncatan untuk menggapai cinta yang lebih baik dan lebih membahagiakan. Karena kita tidak akan mungkin bisa hidup tanpa cinta.

Jika kita boleh sedikit beranalogi, maka melabuhkan cinta itu sama ibaratnya dengan orang yang sedang menunggu angkot atau bis kota. Kadang kita terlalu memilih dan banyak syarat untuk menaikin angkot atau bus kota itu, padahal tujuannya tetap sama yaitu mengantarkan kita ke tujuan. Angkot pertama datang dan berhenti di depan kita. Kita melihat sejenak. Ah, angkotnya penuh, sesak, dan tidak nyaman. Tunggu saja angkot berikutnya. Angkot selanjutnya datang dan berhenti di hadapan kita. Kita lihat dan berkata dalam hati, “angkotya tidak bagus, musiknya tidak enak dan terlalu banyak orang tua di dalamnya. Tunggu angkot selanjutnya”. Angkot selanjutnya pun datang. Angkotnya bagus, nyaman, musiknya menarik, dan kita berminat. Namun sayang, angkotnya berlalu begitu saja seolah tidak melihat kita yang sedang menunggu.

Waktu terus berlalu, dan kita baru sadar kalau kita akan terlambat menuju tempat yang akan kita tuju. Sesaat kemudian angkot datang. Kita sudah tak sabar dan sudah tidak terlalu memperhatikan lagi angkot yang akan kita naiki. Pikiran kita terlalu fokus kepada takut terlambat setelah terlalu memilih diawal-awal tadi. Angkot tadi berhenti di hadapan kita. Kita segera menghambur menaiki angkot itu. Setelah beberapa saat, kita baru sadar bahwa angkot yang kita tumpangi tadi jurusannya tidak sama dengan tujuan yang kita tuju. Kita pun tersadar bahwa telah menyia-nyiakan waktu, dan keterlambatan menuju tujuanpun tidak terelakan lagi.

Dari analogi yang kita utarakan tadi dapat diambil kesimpulan bahwa dalam melabuhkan dan menambatkan cinta di hati seseorang kita terlalu memilih. Mencari yang ideal 100% untuk menjadi pasangan kita dalam mengharungi samudra kehidupan dengan berbidukan cinta yang akan kita bina. Padahal tidak ada di dunia ini manusia yang benar-benar ideal 100%. Tidak ada pribadi yang sempurna. Dan kalau boleh jujur, kita pun tidak akan pernah 100% ideal sesuai dengan yang dia─pasangan kita tadi¬─ inginkan.

Memberi syarat dan menggariskan syarat-syarat tertentu kepada calon pasangan kita boleh-boleh saja dan wajar adanya. Namun, juga tidak ada salahnya jika kita memberi kesempatan kepada mereka yang berhenti di depan kita dan berusaha mencoba mengisi ruang hati kita dengan cintanya. Toh, kalaupun tidak cocok, kita bias berteriak “kiri!” dan turun dengan sopan. Dengan kata lain kita dapat mengakhiri hubungan itu dengan cara baik dan sopan. Yang jelas, memberi kesempatan atau tidak kepada orang yang datang membawa cintannya kepada kita itu tergantung kita. Pertimbangannya, daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju tujuan kita, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi. Semuanya berpulang kepada pribadi kita masing-masing. Karena cinta adalah persoalan pribadi.

Kawan, cinta nan suci dan agung itu akan selalu tumbuh dan berkembang dalam kehidupan. Sering kali untuk menemukan cinta sejati dan agung itu membutuhkan waktu yang lama dan penantian yang panjang. Karena terkadang untuk memberikan sesuatu yang indah itu Tuhan mewujudkan dalam waktu yang lama. Bukankah kota Roma nan elok itu tidak dibangun dalam waktu semalam bukankah kuntum mawar merah yang indah itu tidah tumbuh dalam waktu sehari. Adrea hirata bilang “Tuhan tahu, tapi menunggu”. Tidak ada salahnya menunggu dan bersabar menanti cinta sejati, dari pada memilih yang ada namun tidak membahagiakan dan sia-sia. Hidup ini terlalu singkat untuk dihiasi dengan sesuatu yang sia-sia.

Allah yang mengetahui hal terbaik untuk kita kadang akan menguji kita untuk mengetahui kesungguhan kita. Tak jarang Allah juga melukai hati kita dengan cinta. Dan membuat kita menagis tersedu-sedu karena cinta. Yakin hal itu adalah supaya kita dapat merasakan hikmah dan nikmat dari cinta yang kita bina. Lebih jauh lagi, agar kita tidak menyia-nyiakan cinta yang agung dan suci itu.
Gapailah cinta sejatimu, dan berbahagialah dengan cinta…!!!

Padang, 21 Juli 2011, 18: 08 WIB
Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Menabung dan Berbagi Penyakit dengan Rokok

Bicara tentang rokok , tentu pembicaraan tentang sebuah benda berbahan dasar tembakau yang dikemas dalam berbagai corak ini sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Hampir setiap hari dalam kehidupan ini kita disuguhkan dengan pemandangan bagaimana manusia begitu asik menghisap makluk bernama rokok itu. Entah itu di jalan, entah itu di angkutan umum, di warung, dan bahkan di kampus-kampus pemandangan seperti itu sudah lumrah kita temui. Bahkan tak jarang di area yang sudah dipasang peringatan dilarang merokokpun masih kerap kita temukan kepulan asap rokok dari hidung dan mulut para perokok yang seolah tidak membaca peringatan itu. 

Sepertinya sudah sulit untuk menemukan tempat yang terbebas dari asap rokok di negeri ini. Rumah sakit yang notabene adalah tempat pemuliahan orang sakit, tempat yang seharusnya bebas dari asap rokok, tempat yang tidak sedikit tulisan “dilarang merokoknya”, ternyata juga tidak terlepas dari asap rokok. Ironisnya sebahagian dari asap rokok itu adalah sumbangan dari hisapan rokok para petugas medis yang tahu tentang betapa pentingnya nilai kesehatan. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Dan yang lebih aneh lagi pemandangan seperti itu dinilai biasa-biasa saja oleh mereka pecandu makhluk aneh berbentuk selinder itu.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepada para pengemar berat benda selinder berukuran sekitar 8 cm yang berisi tembakau itu. “sebenarnya apa sih enak dan untungnya merokok itu?” begitu saya bertanya kepada mereka. Tidak satu pun dari mereka yang bisa menjawab pertanyaan saya itu dengan benar dan logis serta dapat diterima akal sehat. Dan tak jarang juga dari mereka hanya menjawab dengan erengan senyum yang tak jelas maksud dan maknanya. Lagi-lagi saya dihadapkan kepada kejadian aneh dan sedikit lucu terkait persolan rokok dan para pencandunya.

Bahkan ada yang ketika saya tanya, bukannya memberikan jawaban, eh malah menyuruh saya merokok. Aneh bukan? Mengaku pecandu dan penggemar rokok, yang kadang rela tak makan asal bisa menghirup asap rokok yang penuh racun itu, ditanya apa nikmat rokok saja tidak bisa jawab. Kenapa mereka tidak bisa menjawab? Karena memang tak ada manfaat dari aktivitas merokok itu. kalau pun ada mereka yang mengatakan bahwa merokok dapat menghilangkan stress dan membangkikan semangat kerja, itu hanya bualan dan omong kosong belaka. Seolah tidak ada saja sarana penghilang stress selain merokok. Betapa piciknya pemikiran seerti itu.

Tahukah kawan, di balik kemasannya yang apik. Bentuknya yang unik rokok menyimpan sekitar 4000 racun yang jelas-jelas berdampak negatif terhadap kesehatan kita. Dengan demikian ketika merokok sama saja kita sedang menabung penyakit dan berbagi penyakit dengan orang yang di sekitar kita. Karena menurut penelitian terbaru pengaruh buruk asap rokok tidak hanya berdampak buruk terhadap orang yang merokok saja, namun juga berpengaruh bagi mereka yang tidak merokok tapi berada di sekitar orang merokok. Yang lebih popular dikenal dengan istilah perokok pasif.

Bahaya merokok terhadap kesehatan telah banyak diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin serta berbagai penykit lainnya. Para produsen rokokpun agaknya menyadari akan bahaya ini, sehingga mereka memampang dengan jelas efek negatif dari merokok. Saya rasa para pecandu rokok pun menyadari akan bahaya asap rokok itu. Tapi entah kenapa mereka tetap saja merokok?

Di tengah mengerikannya bahaya rokok yang telah ditemukan oleh para ahli kesehatan dan di sadari oleh banyak orang, ada fakta menyedihkan yang patut jadi perhatian kita bersama. Di mana saat ini jumlah perokok remaja kian meningkat. dan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) fakta menyedihkan itu banyak ditemukan di nagara-negara sedang berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Bahkan WHO telah memperingati bahwa pada tahun 2020-2030 tembakau akan membunuh sepuluh juta orang per tahun. Ini jelas merupakan tantangan terbesar dalam meningkati kualitas kesehatan masyarakat.

Berangkat dari fakta nyata tentang bahaya rokok, agaknya para ulama Indonesia juga turut andil dalam memperhatikan kesehatan umat dengan mengeluarkan fatwa tentang pelarangan dan pengharaman merokok. Namun sayang fatwa tersebut tidak mengikat secara keseluruhan. Hanya beberapa aspek saja yang tecakup dalam fatwa pengharaman rokok tersebut. Merokok hanya dihramkan bagi ibu hamil, anak-anak dan merokok di tempat-tempat umum. Setidaknya kebijakan itu juga harus kita dukung dan kita beri apresiasi, untuk langkah awal mewujudkan negeri bebas asap rokok.

Jika dilihat dari sisi kebijakan pemerintah, ternyata pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak terkait persoalan rokok ini. Karena memang pemerintah tidak bisa menghilangkan rokok di Negara kita tercinta ini. Setidaknya ada dua pertimbangan kenapa pemerintah masih membiarkan paprik rokok beroperasi di Indonesia. Yang Pertama, karena memang salah satu penyumbang cukai terbesar Negara adalah dari rokok. Kedua, pemerintah belum siap menyediakan lapangan kerja baru untuk para buruh yang bekerja dan hidup dari rokok, jika seandainya pabrik rokok ditutup serta impor rokok dihentikan.

Mengingat begitu sulitnya mewujudkan negeri bebas asap rokok, maka solusi paling baik serta paling cerdas untuk saat ini bagi kita yang menyadari akan penting dan mahalnya kesehatan adalah menjauhkan diri dari rokok.



Padang, 11 Juli 2011, 18:10 WIB

*Oleh: Heru Perdana

[ Selengkapnya...]
Label:

Mengatasi Rasa Kehilangan

*Pernah dimuat di HALUAN edisi Minggu, 26 juni 2011

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Rasa kehilangan umumnya sifatnya adalah pribadi. Kecuali jika kita menceritakannya pada orang lain. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Saya, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya. Ironisnya, tak seorangpun diantara kita yang tidak pernah merasakan kehilangan. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya. Dan inilah persoalan sesungguhnya dari sebuah pristiwa kehilangan.

Kehilangan akan tetap terjadi dalam setiap fase kehidupan kita. Karena memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan berubah dan selalu akan melibatkan “rasa kehilangan” dalam persoalan ini. Di samping itu, kehilangan ini merupakan bahagian dari takdir Allah yang harus kita terima selaku hamba Allah di muka bumi ini. Jika kehilangan itu tidak bisa kita hilangkan secara total dari kehidupan kita, tentu kita perlu mempersiapkan cara jitu agar kehilangan itu tidak membuat kita terkurung dalam lingkaran kesedihan yang tidak berujung dan akan membuat hari-hari kita begitu terasa sulit dan menjemukan.

Sebanarnya tidak ada cara baku dalam mengahadapi rasa kehilangan ini. Kerana seperti yang disinggung di awal tadi, rasa kehilangan adalah persoalan pribadi dan tentunya membutuhkan cara secara pribadi pula dalam mengatasi persoalan ini. Namun demikian setidaknya saya akan berbagi beberapa cara dalam mengatasi rasa kehilangan dan kesedihan karena kehilangan. Pertama, biarkan diri kita sejenak hanyut dalam luapan perasaan dan emosi ketika kehilangan. Emosi dan rasa sedih itu perlu pelampiasan. Namun ingat, kita juga harus melepasknnya dengan cara yang tepat. Mungkin menagis atau berbagi dengan orang lain adalah salah salah satu caranya. Dan yang paling penting, jangan biarkan diri kita terlalu lama dalam kondisi ini. Sepuluh menit saja mungkin cukup, setelah itu lemparkan rasa kehilangan dan kesedihan itu jauh-jauh dari diri kita. Lalu tatap masa depan!

Kedua, selalu melihat sebuah peristiwa dari sisi positifnya. Setidaknya dengan selalu berfikir positif dan melihat sebuah pristiwa dari sisi positifnya kita telah berusaha mengahadirkan energi positif ke dalam diri kita. Kehilangan yang awalnya menyakitkan jika dipandang dari sisi positif mungkin akan jadi sesuatu yang bisa membuat kita bisa belajar agar lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, yakinkan diri kita bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemapuan kita. Setiap hamba di muka bumi ini tentu tidak akan luput dari ujian dari Allah. Dan salah satu bentuk ujian itu adalah kehilangan. Jika kebetulan kehilangan itu mengahmpiri kita, berarti Allah menilai kita sanggup untuk menerima ujian tersebut sebagai sarana naik kelas menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik. Yakinlah setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan. Dan ini adalah janji Allah yang telah termaktub dalam Al-quran. Tidak usah bersedih dan hanyut dalam kesedihan.

Keempat, yakin bahwa Allah maha Pengasih dan Maha Penyayang. Firman Allah yang termaktub dalam surat al-Fatihah yang berbunyi,”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang” memberikan kekuatan kepada kita agar kita tidak berputus asa dan larut dalam kesedihan jika dilanda persoalan kehidupan, termasuk rasa kehilangan. Ayat ini memotivasi kita agar senantiasa berjuang, karena masih banyak rahmat dan nikmat Allah yang bisa kita raih di atas bumi ini.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan Allah dalam persoalan kehilangan. Jangan sampai kita menyalahkan diri sendiri dengan kehilangan yang melanda kita, karena hal itu hanya akan membuat kita makin terpuruk dalam jurang kesedihan. Kita juga jangan sampai menyalahkan Allah dalam masalah rasa kehilangan ini, karena hal itu akan memicu kita menjadi hamba yang mudah berputus asa dari nikmat dan karunia Allah.

Keenam, jangan fokuskan pikiran pada rasa kehilangan, tapi lihatlah berapa banyak nikmat dan Karunia Allah yang telah kita terima. Pernahkan kita merenungkan berapa banyak nikmat dan karunia Allah yang telah kita terima selama hidup di dinia ini? Ketika kita diuji oleh Allah dalam bentuk kehilangan sesuatu yang kita cintai, maka ingatlah masih banyak nikmat Allah yang lain yang patut kita syukuri. Berhentilah bersedih, lalu bersyukurlah!

Yang terakhir, perbanyaklah berdoa dan mengingat Allah, Rabb Yang Maha Berkehendak. Karena dengan memperbanyak mengingat Allah dan memasrahkan diri kepada-Nya adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dalam menerima kenyaataan hidup. Ingatlah, tidak ada kejadian yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tanpa hikmah, dan kehilangan merupakan bagian dari proses perubahan kehidupan kita.

Sekali lagi, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, setidaknya dengan merenungi beberapa hal di atas ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan itu antara lain, Belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Padang, 22 Juni 2011, 14.30 WIB
*Oleh: Heru Perdana



[ Selengkapnya...]
Label:

Hiduplah Bagaikan Padi

Ketika menamatkan pendidikan di sebuah madrasah, aku melanjutkan pendidikanku ke sebuah perguruan tinggi agama. Semenjak berubah status dari siswa menjadi mahasiswa ini aku mulai sering mengunjungi kampung halamanku alias pulang kampung. Sebuah kegiatan yang jarang aku lakukan ketika aku masih duduk di bangku madrasah dulu. Sekarang aku telah kuliah dan telah menjadi mahasiswa, momen ini aku gunakan untuk bisa lebih sering pulang kampung, karena memang jadwal kuliahku tidak sepadat jadwalku ketika sekolah dulu. Selain bisa lebih sering bertemu orang tuaku, rutinitas ini juga membuat aku bisa lebih merasa dekat dengan kawan-kawan kecilku dulu yang telah aku tinggalkan semenjak tamat SD. 

Suatu ketika, aku pulang kampung ketika orang di kampungku tengah sibuk menanam padi, di kamupungku momen itu diistilahkan dengan musim bertanam. Di kampungku memang kegiatan utama ekonomi masyarakat adalah bertani. Alasan aku pulang pun juga untuk membantu orang tuaku untuk menanam padi di sawah. Ya, karena aku tidak bisa pungkiri, aku bisa bersekolah seperti ini banyak sedikitnya adalah dari hasil sawah yang diolah oleh orang tuaku. 


Kira-kira dua setengah bulan berselang semenjak musim bertanam itu berlalu, padi yang kami tanam sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir yang akan berkembang menjadi buah padi. Semakin hari bulir tersebut semakin berisi. Aku pun masih sering pulang ke kampung dan menyaksikan perkembangan pertumbuhan padi itu.

Kawan, kali ini aku tidak akan membahas tentang masalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, karena aku bukanlah mahasiswa pertanian. Tapi ada satu hal menarik yang patut kita tiru dan kita contoh dari padi. Kawan tentu ingat dengan sebuah nesehat orang bijak ini, “jadilah seperti padi, semakin berisi semakin meruduk”. Nah, itulah yang akan coba aku bagi dengan kawan-kawan.

Kala itu, aku tengah duduk di belakang rumahku di suatu pagi yang cerah. Di belakang rumahku memang ada beberapa petak sawah dan salah satunya adalah sawah milik orang tuaku. Entah kenapa pagi itu aku tiba-tiba saja teringat perkatan habat orang bijak itu. Mungkin saja karena hanyut dengan pemandangan yang aku lihat ketika itu atau mungkin juga karena sebuah bacaan yang aku baca malam tadi. Dan juga tidak tertutup kamungkinan kedua alasan yang aku sebutkan tadi adalah penyebabnya. Tidak penting membahas itu, yang lebih penting adalah aku ingin berbagi dengan kawan melalui tulisan ini.

Allah yang Maha Kuasa melalui alam ciptaan-Nya memang telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita. Pelajaran itu tentu akan kita dapatkan jika kita benar-banar mau memperhatikan ciptaan-Nya. Padi adalah salah satu contoh ciptaan Allah yang patut kita tiru dan teladani.

Padi jika semakin berisi, maka akan semakin merunduk. Kita hendaknya selaku manusia juga harus bisa seperti itu. Idealnya semakin banyak kita tahu dan mememiliki ilmu bukan lantas membuat kita menjadi sumbong dan angkuh, lalu meremehkan orang lain. Berlakulah layaknya padi, semakin berisi dan berpengetahuan kita harus rendah hati.

Tahukah kawan bahwa penyebab kahancuran sesorang itu lebih banyak disebabkan oleh faktor dalam dirinya sendiri.? Kesombongan adalah salah satu sifat yang memberikan kontribusi terbesar dalam proses kehancuran itu, jika kita tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Kesombongan adalah awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul. Seperti gelas yang telah terisi penuh, orang sombong tidak akan mau menerima pengetahuan dan informasi baru dari orang lain, karena telah meresa dirinya hebat dan tidak butuh orang lain. Orang sombong juga sulit untuk membagi apa yang ia punya dengan orang lain, karena takut tersaingi oleh orang lain.

Berlakulah seperti padi yang semakin merunduk jika berisi. Kita harus selalu berlaku rendah hati, karena dengan demikian kita akan mudah memperoleh dan menrima informasi serta ilmu baru. Sehingga membuat kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dengan begitu kehidupan akan lebih terasa indah dan ringan untuk dijalani.

Selain semakin berisi semakin merunduk, ada lagi yang menarik dari padi. Padi adalah tanaman yang sangat banyak memberikan manfaat buat kita manusia. Sifat ini dari padi juga patut kita tiru. Kita harus jadi manusia yang memberikan manfaat buat orang dan lingkungan di sekitar kita. Bukankah manusia paling mulia itu adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain.?

Ya, kita harus siap menularkan ilmu dan kelebihan materi yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Kita tidak boleh menyimpan ilmu itu sendiri, karena hal itu akan bisa membuat kita terjerumus ke dalam jebakan-jebakan kesepian kehidupan. Ketika kita tidak mau lagi berbagi dengan orang lain tentu orang lain juga tidak akan mau lagi berinteraksi dengan kita, alhasil kita akan terjerembab kedalam jebakan kesepian yang kita ciptakan sendiri. Kalau sudah begini maka hidup dan dunia ini akan terasa sempit. Kawan, bagaimana pun juga manusia tidak akan bisa mengingkari fitrahnya sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial itu hidup membutuhkan orang lain.

Padi adalah tanaman hebat, yang bisa beradaptasi dengan lingkungan. Selain di sawah, padi juga bisa tumbuh di ladang atau perbukitan. Jika padi ditanam di sawah maka kehidupan padi itu relatif enak dan mudah karena pasokan air tersedia cukup. Lalu bagaimana dengan padi di ladang atau perbukitan? Padi juga bisa hidup di sana, walau harus ditanam pada musim hujan dan padi harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berat itu.

Lagi-lagi sifat seperti ini patut kita teladani dari tanaman yang bernama padi. Kita juga harus bisa menyesuikan diri dengan lingkungan. Kita harus tahan banting dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar tepat kita hidup. Karena hidup tidak melulu dihiasi dengan kesenangan belaka, selalu saja ada duka menyertainya. Kita harus siap dengan setiap kemungkinan kehidupan yang akan kita temui. Sesulit apapun kehidupan, kita harus berusaha tetap memberikan manfaat terhadap orang di sekeliling kita, layaknya padi tadi.

Sungguh luar biasa, pesan-pesan kehidupan itu disampaikan Allah melalui tanaman padi. Mari kita buka mata kita untuk selalu mempelajari ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari alam.


Oleh: Heru Perdana
Padang, 03 Juni 2011, 11: 15 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers