Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

Rumput Tentangga memang selalu terlihat lebih hijau. Ya, sepenggal kalimat tersebut sangat cocok kiranya mengambarkan pandangan dan pikiran kita terhadap cara menyikapi hidup ini. Kehidupan tetangga selalu terlihat lebih bahagia ketimbang kehidupan kita. Pekerjaan orang lain selalu terlihat lebih baik dan enak ketimbang pekerjaan kita. Orang sekitar sering terlihat lebih kaya dan lebih besar penghasilannya ketimbang kita. Orang lain terilihat lebih berprestasi ketimbang kita. Pokoknya orang lain akan selalu terlihat lebih jika dibandingkan kita. Meski sebanarnya belum tentu demikian pada kenyataannya. Tapi pikiran picik kita telah terlanjur menciptakan perasaan seperti itu. Dan malangnya telah berhasil mengerogoti sebahagian besar dari hati dan perasaaan kita. 

Kita sadari atau tidak perasaan seperti tadi, perasaan yang melihat orang lain selalu lebih dari kita itu akan menciptakan sebuah virus berbahaya dalam hati kita. Virus berbahaya itu dinamakan iri dan dengki. Virus yang dapat melenyapkan kebahagian dari kehidupan kita. Virus yang akan mengikis habis dan tak bersisa rasa senang dan kepuasan dari dalam hati dan pikiran kita. Virus yang mungkin akan dapat dan mungkin bisa menciptakan sebuah virus baru yang juga berbahaya, yaitu rasa dendam. Na’uzubilahi min zalik,.!!

Tahukah kawan apa dengki itu? Secara sederhana iri atau dengki dapat diartikan sebagai sebuah emosi atau perasaan yang muncul ketika seseorang melihat dirinya memiliki kekurangan dan melihat orang yang didengkinya memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya. Kepemilikan orang yang didengki bisa berupa : kualitas kekayaan, kecerdasan, kepribadian, atau bahkan prestasi dan jaringan pertemanan atau komunitas soisal. Sebenarya sebab dasar timbulnya sikap iri dan dengki ini adalah karena didasari oleh rasa cemburu. Sebab lainnya adalah kurang mampu mensyukuri apa yang telah dianugrahkan Allah kepada kita sehingga berkat dari apa yang telah dimiliki tidak begitu terasa dan membekas dalam kehidupan. Akibatnya, pancaran kebahagian tidak bisa dirasakan oleh mereka yang menyimpan rasa iri dan dengki.


Aeschylus (525 SM - 456 SM) seorang dramawan Yunani kuno yang telah berhasil menulis lebih dari tujuh puluh naskah drama mengatakan “ Hanya sedikit orang yang bisa untuk menghormati keberhasilan orang lain tanpa rasa iri hati”. Ya, karena memang terkadang sangat sulit menerima kenyataan bahwa orang lain lebih sukses dan berhasil ketimbang kita. Dan sangat susah melihat orang lain lebih hebat daripada kita. Alasanya hanya satu, yaitu sikap egois yang masih bersemayam indah di hati dan jiwa kita manuisa. 


Iri hati hanya akan merusak dan merampas kebahagiaan dan keindahan hidup seseorang. Iri dan dengki akan menjauhkan kita dari rasa damai, sejahtera dan sukacita. Iri hati hanya akan mempersempit ruang kehidupan dan membuat penganutnya terjun bebas ke dalam jurang kesengsaraan. Hidup pengiri akan terasa hambar dan selalu dihantui oleh ketidaktenangan kerana terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki oleh orang lain sehingga lupa terhadap arti kehidupannya sendiri. Iri hati adalah virus yang mematikan. Setidaknya membuat hati kita mati dan tidak bisa bersyukur akan karunia dan nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepada kita. 


Jika kita telah menyadari bahwa tidak ada untungnya menyimpan dan memelihara salah satu sifat buruk ini. Lalu, mengapa kita masih mau menyimpan sifat buruk itu? Kenapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Dan kenapa kita kita masih saja mau diperdaya olehnya? Mulai saat ini mari kita berusah untuk membuang sifat buruk itu. Ayo kita belajar menerima kelebihan orang lain yang ada di sekitar kita, karena terkadang kita harus mengakui kebenaran sepenggal kalimat bijak ini, “bahwa di atas langit masih ada langit”


Mari melihat kelebihan dan kesuksesan orang lain atau teman di sekeliling kita kita sebagai sebahagian dari kesuksesan kita. Karena dengan beranggapan seperti itu kita telah berusaha membunug sikap iri yang ada dalam diri kita. Setidaknya dengan bersikap seperti itu kita dapat bergaul dan belajar dengan mereka untuk menggapai kesuksesan dalam hidup kita. Yang pada akhirnya kita akan mampu menjadikan hal itu sebgai lecutan dan motivasi untuk bekerja lebih maksimal. Jika kita tetap memelihara sikap iri dan dengki tentu kita tidak akan mau bergaul dengan orang yang lebih dulu sukses dari kita atau seorang yang lebih baik dari kita. Jelas sifat seperti ini sangat merugikan diri kita.


Untuk mengikis habis sikap iri dari diri kita mari kita sibukkan diri kita untuk bersiap menjadi pribadi yang lebih baik dan berkualitas dari ke hari. Sehingga demikian kita tidak punya waktu lagi untuk merasa iri dengan orang lain di sekitar kita. Fokuslah untuk memperbaiki diri, bukan melihat kelebihan orang lain.


“Rasa iri menggerogoti suka cita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis”~Billy Graham

Oleh: Heru Perdana Putra
Padang, 25 Juli 2011, 00.19 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Cinta Oh Cinta

Dia datang bagaikan setetes cahaya yang akan menerangi segumpalan hati mereka yang di hampirinya.. Ketika dia datang dunia seolah berputar pelan dan dan anginpun berhembus tenang. Dunia serta merta terasa lapang dan indah. Begitulah alam terasa ketika cinta mulai menyapa dan meyeruak masuk ke dalam relung hati dua insan berbeda jenis. Sulit memang diungkapkan dengan kata-kata, tapi dia begitu nyata terasa dan memenuhi setiap relung hati manusia yang dihampirinya, tidak jarang juga tergambar jelas dalam laku manusia.

Cinta akan berbeda makna jika sampai pada tangan dan pandangan individu yang berbeda pula. Mereka yang tidak begitu menyukai cinta, menyebut cinta sebagai tanggung jawab. Mereka yang bermain dengan cinta, akan memandang cinta sebagai permainan. Mereka yang belum memiliki dan mendapatkan cinta, menerjemahkan cinta dalam bentuk impian. Mereka yang mencintai, menyebut cinta adalah takdir. Mereka yang telah bahagia dengan cinta menganggap cinta sebagai nafas kehidupan dan berkah pembawa nikmat. Ya, cinta itu relative tergantung sudut pandang kita memandang.

Cinta bukanlah barang baru yang menjadi penghias kehidupan manusia di bumi ini. Boleh dikatakan umur cinta itu sama tuanya dengan bumi ini. Bukankah Allah menciptakan bumi nan elok ini adalah sebagai wujud cintaNya kepada hambaNya, yaitu kita─manusia─. Cinta itu akan tetap ada selama manusia dan makhluk lain juga masih ada. Kita lahir ke muka bumi ini adalah karena buah cinta antara ayah dan ibu kita. Kita tumbuh menjadi sesosok manusia dewasa adalah karena cinta dan kasih orang tua kepada kita. Cinta adalah bahan dasar kehidupan hati seorang manusia. orang yang tidak punya cinta pada hakikatnya hanya mengenggam dunia dari kulit luarnya saja.

Bicara soal cinta, belum ada seorangpun ahli yang bisa mendefinisikan cinta secara jelas dan mendalam. Belum ada defenisi baku tentang cinta. Juga belum ada teori yang mengulas persoalan cinta. Dan belum ada terdengar sampai saat ini ada seseorang yang dikenal sebagai pakar cinta. Cinta sangat sulit untuk didefenisikan dan disamakan maksudnya antara satu individu dengan individu yang lain. Karena memang cinta dan rasa cinta itu berbeda antara yang dirasakan oleh seseorang dan orang lain. Cinta juga akan berbeda tergantung waktu, tempat, cara menikmati dan penikmat cinta itu sendiri, seperti yang telah dikemukakan di atas.

Meskipun terjemahan dan defenisi cinta itu sangat banyak dan tidak ada yang sama. Namun yang jelas tujuan utama dari cinta itu adalah membahagiakan para penganutnya. Kebahagian yang memberikan percikan-percikan kenikmatan dan kepuasan bagi mereka yang tengah dimabuk cinta. Tidak hanya itu, kadang kala nikmatnya cinta justru akan lebih terasa setelah seseorang merasakan bagaimana pedihnya sayatan sembilu cinta. Intinya tujuan utama dari cinta adalah tetap untuk mendatangkan kebahagian kepada manusia yang telah dihinggapi hatinya oleh cinta. Kalau pun ada tangis dalam cinta itu adalah bumbu-bumbu agar cinta lebih bermakna dan bisa lebih dinikmati oleh para penganutnya, jika para pecinta dapat melihat sisi positif dari setiap adengan yang disajikan oleh cinta. Setidaknya bisa untuk menghargai cinta.

Cinta bukanlah barang aneh untuk dikenal dan dibicarakan. Cinta bukanlah produk haram yang tidak boleh dirasakan dan dinikmati. Tapi cinta adalah bagian dari sisi indah kehidupan manusia di muka bumi ini. Cinta adalah pemberian dan anugrah Allah yang diberikan kepada setiap hambaNya. Cinta adalah bumbu nikmat menambah gairah dua insan dalam mengharungi bahtera kehidupan.

Cinta itu adalah fitrah manusia yang dianugrahkan Rabb Maha Pengasih kepada hambaNya. Cinta kadang mewarkan gelak tawa, kadang menyuguhkan derita. Indah, ceria, dan kadang merana itulah rasa cinta. Rasa seperti itu terjadi bukan karena cintanya, tapi lebih disebabkan oleh kesalahan dan kegagalan kita dalam menyikapi cinta. Bisa jadi kesalahan dalam melabuhkan cinta pada hati yang tidak tepat. Atau bisa juga karena melabuhkan cinta pada waktu yang tidak tepat.

Yang jelas sejatinya cinta itu tetap akan memberikan kebahagiaan yang memercikan kenikmatan, kepuasan, dan ketentraman pada penikmatnya. Maka bersyukurlah orang yang telah dikaruniai cinta dan dapat menyikapinya dengan baik dan bijak. Cinta itu unik, bisa membuat mereka yang merasakannya tidak berselera makan atau tidak nafsu makan. Bahkan tak jarang cinta bisa membuat seseorang nekat mengakhiri hidup.

Lalu bagaiman jika cinta telah menghampiri hati kita? Apakah perlu syarat untuk menerima dan memulainya? Jika Tuhan menuntun kita dan menghantarkan kita pada cinta, maka terimalah cinta itu seraya tetap menilai dan mengenal cinta yang datang itu cocok atau tidak dengan pribadi kita. Ketika mencintai, jangan pernah menyesal meskipun cinta itu pada akhirnya akan menyakiti kita. Sejatinya ketika Tuhan sang Pemilik cinta membawa kita kepada cinta, maka Dia akan memampukan kita mengahadapi setiap persoalan dan permasalahan yang disodorkan oleh cinta. Kalaupun kita gagal dan kecewa, anggaplah itu sebagai sarana pendewasaan diri dan batu loncatan untuk menggapai cinta yang lebih baik dan lebih membahagiakan. Karena kita tidak akan mungkin bisa hidup tanpa cinta.

Jika kita boleh sedikit beranalogi, maka melabuhkan cinta itu sama ibaratnya dengan orang yang sedang menunggu angkot atau bis kota. Kadang kita terlalu memilih dan banyak syarat untuk menaikin angkot atau bus kota itu, padahal tujuannya tetap sama yaitu mengantarkan kita ke tujuan. Angkot pertama datang dan berhenti di depan kita. Kita melihat sejenak. Ah, angkotnya penuh, sesak, dan tidak nyaman. Tunggu saja angkot berikutnya. Angkot selanjutnya datang dan berhenti di hadapan kita. Kita lihat dan berkata dalam hati, “angkotya tidak bagus, musiknya tidak enak dan terlalu banyak orang tua di dalamnya. Tunggu angkot selanjutnya”. Angkot selanjutnya pun datang. Angkotnya bagus, nyaman, musiknya menarik, dan kita berminat. Namun sayang, angkotnya berlalu begitu saja seolah tidak melihat kita yang sedang menunggu.

Waktu terus berlalu, dan kita baru sadar kalau kita akan terlambat menuju tempat yang akan kita tuju. Sesaat kemudian angkot datang. Kita sudah tak sabar dan sudah tidak terlalu memperhatikan lagi angkot yang akan kita naiki. Pikiran kita terlalu fokus kepada takut terlambat setelah terlalu memilih diawal-awal tadi. Angkot tadi berhenti di hadapan kita. Kita segera menghambur menaiki angkot itu. Setelah beberapa saat, kita baru sadar bahwa angkot yang kita tumpangi tadi jurusannya tidak sama dengan tujuan yang kita tuju. Kita pun tersadar bahwa telah menyia-nyiakan waktu, dan keterlambatan menuju tujuanpun tidak terelakan lagi.

Dari analogi yang kita utarakan tadi dapat diambil kesimpulan bahwa dalam melabuhkan dan menambatkan cinta di hati seseorang kita terlalu memilih. Mencari yang ideal 100% untuk menjadi pasangan kita dalam mengharungi samudra kehidupan dengan berbidukan cinta yang akan kita bina. Padahal tidak ada di dunia ini manusia yang benar-benar ideal 100%. Tidak ada pribadi yang sempurna. Dan kalau boleh jujur, kita pun tidak akan pernah 100% ideal sesuai dengan yang dia─pasangan kita tadi¬─ inginkan.

Memberi syarat dan menggariskan syarat-syarat tertentu kepada calon pasangan kita boleh-boleh saja dan wajar adanya. Namun, juga tidak ada salahnya jika kita memberi kesempatan kepada mereka yang berhenti di depan kita dan berusaha mencoba mengisi ruang hati kita dengan cintanya. Toh, kalaupun tidak cocok, kita bias berteriak “kiri!” dan turun dengan sopan. Dengan kata lain kita dapat mengakhiri hubungan itu dengan cara baik dan sopan. Yang jelas, memberi kesempatan atau tidak kepada orang yang datang membawa cintannya kepada kita itu tergantung kita. Pertimbangannya, daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju tujuan kita, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi. Semuanya berpulang kepada pribadi kita masing-masing. Karena cinta adalah persoalan pribadi.

Kawan, cinta nan suci dan agung itu akan selalu tumbuh dan berkembang dalam kehidupan. Sering kali untuk menemukan cinta sejati dan agung itu membutuhkan waktu yang lama dan penantian yang panjang. Karena terkadang untuk memberikan sesuatu yang indah itu Tuhan mewujudkan dalam waktu yang lama. Bukankah kota Roma nan elok itu tidak dibangun dalam waktu semalam bukankah kuntum mawar merah yang indah itu tidah tumbuh dalam waktu sehari. Adrea hirata bilang “Tuhan tahu, tapi menunggu”. Tidak ada salahnya menunggu dan bersabar menanti cinta sejati, dari pada memilih yang ada namun tidak membahagiakan dan sia-sia. Hidup ini terlalu singkat untuk dihiasi dengan sesuatu yang sia-sia.

Allah yang mengetahui hal terbaik untuk kita kadang akan menguji kita untuk mengetahui kesungguhan kita. Tak jarang Allah juga melukai hati kita dengan cinta. Dan membuat kita menagis tersedu-sedu karena cinta. Yakin hal itu adalah supaya kita dapat merasakan hikmah dan nikmat dari cinta yang kita bina. Lebih jauh lagi, agar kita tidak menyia-nyiakan cinta yang agung dan suci itu.
Gapailah cinta sejatimu, dan berbahagialah dengan cinta…!!!

Padang, 21 Juli 2011, 18: 08 WIB
Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Menabung dan Berbagi Penyakit dengan Rokok

Bicara tentang rokok , tentu pembicaraan tentang sebuah benda berbahan dasar tembakau yang dikemas dalam berbagai corak ini sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Hampir setiap hari dalam kehidupan ini kita disuguhkan dengan pemandangan bagaimana manusia begitu asik menghisap makluk bernama rokok itu. Entah itu di jalan, entah itu di angkutan umum, di warung, dan bahkan di kampus-kampus pemandangan seperti itu sudah lumrah kita temui. Bahkan tak jarang di area yang sudah dipasang peringatan dilarang merokokpun masih kerap kita temukan kepulan asap rokok dari hidung dan mulut para perokok yang seolah tidak membaca peringatan itu. 

Sepertinya sudah sulit untuk menemukan tempat yang terbebas dari asap rokok di negeri ini. Rumah sakit yang notabene adalah tempat pemuliahan orang sakit, tempat yang seharusnya bebas dari asap rokok, tempat yang tidak sedikit tulisan “dilarang merokoknya”, ternyata juga tidak terlepas dari asap rokok. Ironisnya sebahagian dari asap rokok itu adalah sumbangan dari hisapan rokok para petugas medis yang tahu tentang betapa pentingnya nilai kesehatan. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Dan yang lebih aneh lagi pemandangan seperti itu dinilai biasa-biasa saja oleh mereka pecandu makhluk aneh berbentuk selinder itu.

Pernah suatu ketika saya bertanya kepada para pengemar berat benda selinder berukuran sekitar 8 cm yang berisi tembakau itu. “sebenarnya apa sih enak dan untungnya merokok itu?” begitu saya bertanya kepada mereka. Tidak satu pun dari mereka yang bisa menjawab pertanyaan saya itu dengan benar dan logis serta dapat diterima akal sehat. Dan tak jarang juga dari mereka hanya menjawab dengan erengan senyum yang tak jelas maksud dan maknanya. Lagi-lagi saya dihadapkan kepada kejadian aneh dan sedikit lucu terkait persolan rokok dan para pencandunya.

Bahkan ada yang ketika saya tanya, bukannya memberikan jawaban, eh malah menyuruh saya merokok. Aneh bukan? Mengaku pecandu dan penggemar rokok, yang kadang rela tak makan asal bisa menghirup asap rokok yang penuh racun itu, ditanya apa nikmat rokok saja tidak bisa jawab. Kenapa mereka tidak bisa menjawab? Karena memang tak ada manfaat dari aktivitas merokok itu. kalau pun ada mereka yang mengatakan bahwa merokok dapat menghilangkan stress dan membangkikan semangat kerja, itu hanya bualan dan omong kosong belaka. Seolah tidak ada saja sarana penghilang stress selain merokok. Betapa piciknya pemikiran seerti itu.

Tahukah kawan, di balik kemasannya yang apik. Bentuknya yang unik rokok menyimpan sekitar 4000 racun yang jelas-jelas berdampak negatif terhadap kesehatan kita. Dengan demikian ketika merokok sama saja kita sedang menabung penyakit dan berbagi penyakit dengan orang yang di sekitar kita. Karena menurut penelitian terbaru pengaruh buruk asap rokok tidak hanya berdampak buruk terhadap orang yang merokok saja, namun juga berpengaruh bagi mereka yang tidak merokok tapi berada di sekitar orang merokok. Yang lebih popular dikenal dengan istilah perokok pasif.

Bahaya merokok terhadap kesehatan telah banyak diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin serta berbagai penykit lainnya. Para produsen rokokpun agaknya menyadari akan bahaya ini, sehingga mereka memampang dengan jelas efek negatif dari merokok. Saya rasa para pecandu rokok pun menyadari akan bahaya asap rokok itu. Tapi entah kenapa mereka tetap saja merokok?

Di tengah mengerikannya bahaya rokok yang telah ditemukan oleh para ahli kesehatan dan di sadari oleh banyak orang, ada fakta menyedihkan yang patut jadi perhatian kita bersama. Di mana saat ini jumlah perokok remaja kian meningkat. dan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) fakta menyedihkan itu banyak ditemukan di nagara-negara sedang berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Bahkan WHO telah memperingati bahwa pada tahun 2020-2030 tembakau akan membunuh sepuluh juta orang per tahun. Ini jelas merupakan tantangan terbesar dalam meningkati kualitas kesehatan masyarakat.

Berangkat dari fakta nyata tentang bahaya rokok, agaknya para ulama Indonesia juga turut andil dalam memperhatikan kesehatan umat dengan mengeluarkan fatwa tentang pelarangan dan pengharaman merokok. Namun sayang fatwa tersebut tidak mengikat secara keseluruhan. Hanya beberapa aspek saja yang tecakup dalam fatwa pengharaman rokok tersebut. Merokok hanya dihramkan bagi ibu hamil, anak-anak dan merokok di tempat-tempat umum. Setidaknya kebijakan itu juga harus kita dukung dan kita beri apresiasi, untuk langkah awal mewujudkan negeri bebas asap rokok.

Jika dilihat dari sisi kebijakan pemerintah, ternyata pemerintah juga tidak bisa berbuat banyak terkait persoalan rokok ini. Karena memang pemerintah tidak bisa menghilangkan rokok di Negara kita tercinta ini. Setidaknya ada dua pertimbangan kenapa pemerintah masih membiarkan paprik rokok beroperasi di Indonesia. Yang Pertama, karena memang salah satu penyumbang cukai terbesar Negara adalah dari rokok. Kedua, pemerintah belum siap menyediakan lapangan kerja baru untuk para buruh yang bekerja dan hidup dari rokok, jika seandainya pabrik rokok ditutup serta impor rokok dihentikan.

Mengingat begitu sulitnya mewujudkan negeri bebas asap rokok, maka solusi paling baik serta paling cerdas untuk saat ini bagi kita yang menyadari akan penting dan mahalnya kesehatan adalah menjauhkan diri dari rokok.



Padang, 11 Juli 2011, 18:10 WIB

*Oleh: Heru Perdana

[ Selengkapnya...]
Label:

Mengatasi Rasa Kehilangan

*Pernah dimuat di HALUAN edisi Minggu, 26 juni 2011

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Rasa kehilangan umumnya sifatnya adalah pribadi. Kecuali jika kita menceritakannya pada orang lain. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Saya, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya. Ironisnya, tak seorangpun diantara kita yang tidak pernah merasakan kehilangan. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya. Dan inilah persoalan sesungguhnya dari sebuah pristiwa kehilangan.

Kehilangan akan tetap terjadi dalam setiap fase kehidupan kita. Karena memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan berubah dan selalu akan melibatkan “rasa kehilangan” dalam persoalan ini. Di samping itu, kehilangan ini merupakan bahagian dari takdir Allah yang harus kita terima selaku hamba Allah di muka bumi ini. Jika kehilangan itu tidak bisa kita hilangkan secara total dari kehidupan kita, tentu kita perlu mempersiapkan cara jitu agar kehilangan itu tidak membuat kita terkurung dalam lingkaran kesedihan yang tidak berujung dan akan membuat hari-hari kita begitu terasa sulit dan menjemukan.

Sebanarnya tidak ada cara baku dalam mengahadapi rasa kehilangan ini. Kerana seperti yang disinggung di awal tadi, rasa kehilangan adalah persoalan pribadi dan tentunya membutuhkan cara secara pribadi pula dalam mengatasi persoalan ini. Namun demikian setidaknya saya akan berbagi beberapa cara dalam mengatasi rasa kehilangan dan kesedihan karena kehilangan. Pertama, biarkan diri kita sejenak hanyut dalam luapan perasaan dan emosi ketika kehilangan. Emosi dan rasa sedih itu perlu pelampiasan. Namun ingat, kita juga harus melepasknnya dengan cara yang tepat. Mungkin menagis atau berbagi dengan orang lain adalah salah salah satu caranya. Dan yang paling penting, jangan biarkan diri kita terlalu lama dalam kondisi ini. Sepuluh menit saja mungkin cukup, setelah itu lemparkan rasa kehilangan dan kesedihan itu jauh-jauh dari diri kita. Lalu tatap masa depan!

Kedua, selalu melihat sebuah peristiwa dari sisi positifnya. Setidaknya dengan selalu berfikir positif dan melihat sebuah pristiwa dari sisi positifnya kita telah berusaha mengahadirkan energi positif ke dalam diri kita. Kehilangan yang awalnya menyakitkan jika dipandang dari sisi positif mungkin akan jadi sesuatu yang bisa membuat kita bisa belajar agar lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, yakinkan diri kita bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemapuan kita. Setiap hamba di muka bumi ini tentu tidak akan luput dari ujian dari Allah. Dan salah satu bentuk ujian itu adalah kehilangan. Jika kebetulan kehilangan itu mengahmpiri kita, berarti Allah menilai kita sanggup untuk menerima ujian tersebut sebagai sarana naik kelas menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik. Yakinlah setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan. Dan ini adalah janji Allah yang telah termaktub dalam Al-quran. Tidak usah bersedih dan hanyut dalam kesedihan.

Keempat, yakin bahwa Allah maha Pengasih dan Maha Penyayang. Firman Allah yang termaktub dalam surat al-Fatihah yang berbunyi,”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang” memberikan kekuatan kepada kita agar kita tidak berputus asa dan larut dalam kesedihan jika dilanda persoalan kehidupan, termasuk rasa kehilangan. Ayat ini memotivasi kita agar senantiasa berjuang, karena masih banyak rahmat dan nikmat Allah yang bisa kita raih di atas bumi ini.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan Allah dalam persoalan kehilangan. Jangan sampai kita menyalahkan diri sendiri dengan kehilangan yang melanda kita, karena hal itu hanya akan membuat kita makin terpuruk dalam jurang kesedihan. Kita juga jangan sampai menyalahkan Allah dalam masalah rasa kehilangan ini, karena hal itu akan memicu kita menjadi hamba yang mudah berputus asa dari nikmat dan karunia Allah.

Keenam, jangan fokuskan pikiran pada rasa kehilangan, tapi lihatlah berapa banyak nikmat dan Karunia Allah yang telah kita terima. Pernahkan kita merenungkan berapa banyak nikmat dan karunia Allah yang telah kita terima selama hidup di dinia ini? Ketika kita diuji oleh Allah dalam bentuk kehilangan sesuatu yang kita cintai, maka ingatlah masih banyak nikmat Allah yang lain yang patut kita syukuri. Berhentilah bersedih, lalu bersyukurlah!

Yang terakhir, perbanyaklah berdoa dan mengingat Allah, Rabb Yang Maha Berkehendak. Karena dengan memperbanyak mengingat Allah dan memasrahkan diri kepada-Nya adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dalam menerima kenyaataan hidup. Ingatlah, tidak ada kejadian yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tanpa hikmah, dan kehilangan merupakan bagian dari proses perubahan kehidupan kita.

Sekali lagi, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, setidaknya dengan merenungi beberapa hal di atas ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan itu antara lain, Belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Padang, 22 Juni 2011, 14.30 WIB
*Oleh: Heru Perdana



[ Selengkapnya...]
Label:

Hiduplah Bagaikan Padi

Ketika menamatkan pendidikan di sebuah madrasah, aku melanjutkan pendidikanku ke sebuah perguruan tinggi agama. Semenjak berubah status dari siswa menjadi mahasiswa ini aku mulai sering mengunjungi kampung halamanku alias pulang kampung. Sebuah kegiatan yang jarang aku lakukan ketika aku masih duduk di bangku madrasah dulu. Sekarang aku telah kuliah dan telah menjadi mahasiswa, momen ini aku gunakan untuk bisa lebih sering pulang kampung, karena memang jadwal kuliahku tidak sepadat jadwalku ketika sekolah dulu. Selain bisa lebih sering bertemu orang tuaku, rutinitas ini juga membuat aku bisa lebih merasa dekat dengan kawan-kawan kecilku dulu yang telah aku tinggalkan semenjak tamat SD. 

Suatu ketika, aku pulang kampung ketika orang di kampungku tengah sibuk menanam padi, di kamupungku momen itu diistilahkan dengan musim bertanam. Di kampungku memang kegiatan utama ekonomi masyarakat adalah bertani. Alasan aku pulang pun juga untuk membantu orang tuaku untuk menanam padi di sawah. Ya, karena aku tidak bisa pungkiri, aku bisa bersekolah seperti ini banyak sedikitnya adalah dari hasil sawah yang diolah oleh orang tuaku. 


Kira-kira dua setengah bulan berselang semenjak musim bertanam itu berlalu, padi yang kami tanam sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir yang akan berkembang menjadi buah padi. Semakin hari bulir tersebut semakin berisi. Aku pun masih sering pulang ke kampung dan menyaksikan perkembangan pertumbuhan padi itu.

Kawan, kali ini aku tidak akan membahas tentang masalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, karena aku bukanlah mahasiswa pertanian. Tapi ada satu hal menarik yang patut kita tiru dan kita contoh dari padi. Kawan tentu ingat dengan sebuah nesehat orang bijak ini, “jadilah seperti padi, semakin berisi semakin meruduk”. Nah, itulah yang akan coba aku bagi dengan kawan-kawan.

Kala itu, aku tengah duduk di belakang rumahku di suatu pagi yang cerah. Di belakang rumahku memang ada beberapa petak sawah dan salah satunya adalah sawah milik orang tuaku. Entah kenapa pagi itu aku tiba-tiba saja teringat perkatan habat orang bijak itu. Mungkin saja karena hanyut dengan pemandangan yang aku lihat ketika itu atau mungkin juga karena sebuah bacaan yang aku baca malam tadi. Dan juga tidak tertutup kamungkinan kedua alasan yang aku sebutkan tadi adalah penyebabnya. Tidak penting membahas itu, yang lebih penting adalah aku ingin berbagi dengan kawan melalui tulisan ini.

Allah yang Maha Kuasa melalui alam ciptaan-Nya memang telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita. Pelajaran itu tentu akan kita dapatkan jika kita benar-banar mau memperhatikan ciptaan-Nya. Padi adalah salah satu contoh ciptaan Allah yang patut kita tiru dan teladani.

Padi jika semakin berisi, maka akan semakin merunduk. Kita hendaknya selaku manusia juga harus bisa seperti itu. Idealnya semakin banyak kita tahu dan mememiliki ilmu bukan lantas membuat kita menjadi sumbong dan angkuh, lalu meremehkan orang lain. Berlakulah layaknya padi, semakin berisi dan berpengetahuan kita harus rendah hati.

Tahukah kawan bahwa penyebab kahancuran sesorang itu lebih banyak disebabkan oleh faktor dalam dirinya sendiri.? Kesombongan adalah salah satu sifat yang memberikan kontribusi terbesar dalam proses kehancuran itu, jika kita tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Kesombongan adalah awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul. Seperti gelas yang telah terisi penuh, orang sombong tidak akan mau menerima pengetahuan dan informasi baru dari orang lain, karena telah meresa dirinya hebat dan tidak butuh orang lain. Orang sombong juga sulit untuk membagi apa yang ia punya dengan orang lain, karena takut tersaingi oleh orang lain.

Berlakulah seperti padi yang semakin merunduk jika berisi. Kita harus selalu berlaku rendah hati, karena dengan demikian kita akan mudah memperoleh dan menrima informasi serta ilmu baru. Sehingga membuat kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dengan begitu kehidupan akan lebih terasa indah dan ringan untuk dijalani.

Selain semakin berisi semakin merunduk, ada lagi yang menarik dari padi. Padi adalah tanaman yang sangat banyak memberikan manfaat buat kita manusia. Sifat ini dari padi juga patut kita tiru. Kita harus jadi manusia yang memberikan manfaat buat orang dan lingkungan di sekitar kita. Bukankah manusia paling mulia itu adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain.?

Ya, kita harus siap menularkan ilmu dan kelebihan materi yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Kita tidak boleh menyimpan ilmu itu sendiri, karena hal itu akan bisa membuat kita terjerumus ke dalam jebakan-jebakan kesepian kehidupan. Ketika kita tidak mau lagi berbagi dengan orang lain tentu orang lain juga tidak akan mau lagi berinteraksi dengan kita, alhasil kita akan terjerembab kedalam jebakan kesepian yang kita ciptakan sendiri. Kalau sudah begini maka hidup dan dunia ini akan terasa sempit. Kawan, bagaimana pun juga manusia tidak akan bisa mengingkari fitrahnya sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial itu hidup membutuhkan orang lain.

Padi adalah tanaman hebat, yang bisa beradaptasi dengan lingkungan. Selain di sawah, padi juga bisa tumbuh di ladang atau perbukitan. Jika padi ditanam di sawah maka kehidupan padi itu relatif enak dan mudah karena pasokan air tersedia cukup. Lalu bagaimana dengan padi di ladang atau perbukitan? Padi juga bisa hidup di sana, walau harus ditanam pada musim hujan dan padi harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berat itu.

Lagi-lagi sifat seperti ini patut kita teladani dari tanaman yang bernama padi. Kita juga harus bisa menyesuikan diri dengan lingkungan. Kita harus tahan banting dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar tepat kita hidup. Karena hidup tidak melulu dihiasi dengan kesenangan belaka, selalu saja ada duka menyertainya. Kita harus siap dengan setiap kemungkinan kehidupan yang akan kita temui. Sesulit apapun kehidupan, kita harus berusaha tetap memberikan manfaat terhadap orang di sekeliling kita, layaknya padi tadi.

Sungguh luar biasa, pesan-pesan kehidupan itu disampaikan Allah melalui tanaman padi. Mari kita buka mata kita untuk selalu mempelajari ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari alam.


Oleh: Heru Perdana
Padang, 03 Juni 2011, 11: 15 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Antara Pinta dan syukur

Allah, Tuhan semesta alam adalah Rabb yang maha penggasih dan lagi Maha Penyayang kepada umatnya. Kasih dan sayang Allah itu tidak bertepi, tanpa batas. Bahkan pada saat tertntu, belum kita minta Allah sudah berikan untuk kita. Sebut saja udara dan air, dua elemen penting yang sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup setiap insan di muka bumi ini, Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma tanpa harus membayar. Coba kawan bayangkan, jika udara dan air itu harus kita bayar. Berapa rupiah yang harus kita keluarkan setiapa hari hanya untuk udara dan air, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Namun, persoalannya disini bukanlah soal bayar membayar, akan tetapi sudah sejauh mana kita bersyukur atas karunia Allah kepada kita selama ini.

Air dan udara adalah dua contoh kecil karunia Allah, namun bermanfaat sangat besar dalam kehidupan kita, yang diberikan kepada saya, anda dan kita semua tanpa harus kita minta dan tersedia sangat banyak di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan karunia Allah yang sering kita minta dan dikabulkan, apakah kita sudah bersyukur atas semua itu? Jawablah dengan setulus hati dan penuh kejujuran.

Allah itu Tuhan yang Maha mengabulkan pinta setiap hamba-Nya. Hal itu telah dijanjikan Allah kepada kita dan telah termaktub dalam kitab suci al-qur’an. ”Mintalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan”, begitu janji Allah kepada kita.
Namun perlu kita ketahui bersama bahwa tidak semua pinta hambaNya dikabulkan begitu saja oleh Allah.

Kita sering berdoa dan memohon pinta kepada Allah. Kita sadari atau tidak, kadang doa dan pinta kita itu terkesan menyuruh Allah. Begitu banyak doa yang telah kita panjatkan kepada Allah, namun kadang tak kunjung dikabulkan dan dijawab oleh Allah. Apakah Allah tidak lagi sayang kepada hambaNya? Belum tentu, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan dan langsung menuduh Allah tidak sayang kepada kita. Alangkah bijak rasanya jika kita mau bercermin diri, mungkin saja sebabnya ada pada diri kita sendiri yang mebuat doa dan pinta kita tak kunjung diijabah oleh Allah.

Ketika doa kita tidak dikabulkan oleh Allah, bukan berarti Allah tidak sayang lagi kepada kita. Juga tidak berarti Allah tidak mendengar doa kita. Allah itu Maha mendengar dan Maha Mengabulkan pinta hambaNya. Mungkin persolannya disini adalah kita terlalu sibuk meminta dan selalu berdoa sehingga lupa memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah berupa pengabulan doa. Kadang kita juga tidak ingat bersyukur akan karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Ketahuilah wahai kawan, syukur juga erat kaitannya dengan pengkabulan doa dan pinta kita.

Analoginya seperti ini, ketika kita meminta atau meminjam barang kepada seorang teman, katakanlah meminjam atau meminta sebuah buku. Lalu kita lupa untuk menjaganya sehingga buku yang kita pinjam itu rusak dan tidak terawat. Beberapa waktu kemudian, kita mau minta atau meminjam lagi barang yang lebih besar nilanya kepada teman tersebut sementara dia tahu kita tidak merawat peberian dan barang yang dipinjamkannya beberapa waktu yang lalu kepada kita. Maka sang teman tadi akan berpikir dua kali untuk meminjamkan atau memberikan sesuatu kepada kita lagi. Karena dia merasa kita belum pantas menerima pemberiannya. Teman kita itu akan mengira bahwa kita tidak bersyukur atas pemberiannya karena kita tidak merawat apa yang dia beri atau pinjamkan.

Jika manusia saja bisa berlaku seperti itu, apalagi Allah. Allah akan lihat seberapa banyak syukur yang kita panjatkan kepadaNya untuk mengabulkan doa dan pinta yang selalu kita mohonkan kepada Allah. Ya, semua kembali kepada kata “Syukur”, sebuah kata yang sangat ringan diucapkan, namun kadang sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan. Menurut dr. Andhyka P. Sedyawan, “Syukur tidak sekedar mengucapkan terimakasih terhadap sebuah sebuah pemberian, tapi cara kita bertanggung jawab terhadap pemberian itu”.

Terkait persoalan syukur ini Allah juga telah mengingatkan kita melalui firmanNya:
“Jika kamu bersyukur pasti akan Ku tamabah (nikmatKu) untukmu, dan apabila kamu ingkar maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)
Firman Allah dalam surat ibrahim ayat 7 tersebut tidak hanya sekedar janji kosong belaka, pasti Allah akan tepati janji-Nya itu. Oleh sebab itu, kita jangan hanya pandai meminta dan berdoa saja. Doa dan pinta itu perlu diiringi dengan rasa syukur.

Kawan, syukur itu memang sangat penting adanya. Tidak hanya ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan kita harus bersyukur, akan tetapi ketika kita tidak mendapatkan sesuatu atau gagal pun sejatinya kita harus bersyukur, karena dengan kegagalan itu kita bisa belajar untuk bisa lebih baik agar tidak gagal lagi di kemudian hari. Ketika kita berada pada saat-saat sulit, kita juga harus tetap bersyukur. Karena di masa itulah kita tumbuh dan memperkuat mental dalam mengharungi bahtera kehidupan yang sangat sulit untuk ditebak.

Kawan, ketika doa dan pinta kita ditolak jangan langsung putus asa dan mengumpat kepada Allah. Kadang Allah tidak berikan apa yang kita mau, namun Allah akan berikan apa yang kita butuh. Belum tentu apa yang kita minta dan baik menurut kita itu benar-benar baik untuk kehidupan kita. Berhentilah menyalahkan Allah jika keinginan kita tidak dikabulkan. Mari kita bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita seraya tetap memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah dalam bentuk pengabulan doa dan pinta kita.

Tahukah kawan di dalam buku the secret pernah ditulis, bahwa syukur adalah anak tangga mutlak untuk memastikan hadirnya kesuksesan dalam kehidupan kita. Kesuksesan sangat erat kaitannya denga “syukur”.

Mintalah, lalu pantaskanlah diri Anda untuk menerima anugrah pengabulan atas pinta Anda dari Allah dengan memperbanyak Syukur…!!!

Oleh: Heru Perdana
Padang, 18 Mai 2011, 18:13 WIB



[ Selengkapnya...]
Label:

Seuntai Do’a

Teruntuk buatmu yang mungkin telah jauh
Untukmu yang sedang tersenyum di sana
Bagimu yang tidak di sisiku lagi
Tersusun kata, terselip harapan, terangkai do’a
Agar kau bahagia dan selalu bahagia di sana

Kita mungkin telah jauh
Tidak lagi seperti dulu
Tidak pernah terbersit dihati ini untuk itu
Meski semua harap telah sirna
Segala asa telah pupus
Dari jauh ku kirim suntai do’a
Semoga bibir simpulmu nan indah tetap memancarkan senyum
Senyum indah, peneduh jiwa, penebar harapan

Engkau mungkin telah lupa
Tapi sungguh di relung kalbu ini kenangan itu masih nyata
Hidup dan tak terlupa
Semoga kau sudih terima seuntai do’a dari lubuk hati ini
Tak ada lagi hanya ini
Sebagai tanda dulu kita bisa bersama
Meniti tali kasih,
Menyonsong derasnya badai kehidupan

Sungguh, aku tak bisa lagi memberi
Hanya seuntai do’a ini yang bisa ku kirim
Bersama dinginnya hembusan angin malam ku pesankan
Agar disampaikan kepadamu
Seuntai do’a berjuta kasih
Semoga kau bahagia di sana
Dan selalu menikmati manisnya madu kebahagiaan


Padang, 11 Mai 2011, 01: 06 WIB
Oleh: Heru Perdana

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers