Mengatasi Rasa Kehilangan

*Pernah dimuat di HALUAN edisi Minggu, 26 juni 2011

Kehilangan merupakan salah satu keadaan dan fenomena hidup yang akan kita hadapi dalam mengaharungi bahtera kehidupan. Rasa kehilangan umumnya sifatnya adalah pribadi. Kecuali jika kita menceritakannya pada orang lain. Lebih lanjut, kehilangan adalah sebuah momen yang sangat tidak disukai oleh siapapun. Saya, anda dan kita semua tentu tidak suka jika kehilangan harus mampir dalam sejarah perjalanan kehidupan kita. Kerana memang kehilangan akan sangat menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya. Ironisnya, tak seorangpun diantara kita yang tidak pernah merasakan kehilangan. Kita sadari atau tidak, seringkali kehilangan ini akan memicu munculnya sebuah rasa kesedihan dalam hati mereka yang mengalaminya. Dan inilah persoalan sesungguhnya dari sebuah pristiwa kehilangan.

Kehilangan akan tetap terjadi dalam setiap fase kehidupan kita. Karena memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan berubah dan selalu akan melibatkan “rasa kehilangan” dalam persoalan ini. Di samping itu, kehilangan ini merupakan bahagian dari takdir Allah yang harus kita terima selaku hamba Allah di muka bumi ini. Jika kehilangan itu tidak bisa kita hilangkan secara total dari kehidupan kita, tentu kita perlu mempersiapkan cara jitu agar kehilangan itu tidak membuat kita terkurung dalam lingkaran kesedihan yang tidak berujung dan akan membuat hari-hari kita begitu terasa sulit dan menjemukan.

Sebanarnya tidak ada cara baku dalam mengahadapi rasa kehilangan ini. Kerana seperti yang disinggung di awal tadi, rasa kehilangan adalah persoalan pribadi dan tentunya membutuhkan cara secara pribadi pula dalam mengatasi persoalan ini. Namun demikian setidaknya saya akan berbagi beberapa cara dalam mengatasi rasa kehilangan dan kesedihan karena kehilangan. Pertama, biarkan diri kita sejenak hanyut dalam luapan perasaan dan emosi ketika kehilangan. Emosi dan rasa sedih itu perlu pelampiasan. Namun ingat, kita juga harus melepasknnya dengan cara yang tepat. Mungkin menagis atau berbagi dengan orang lain adalah salah salah satu caranya. Dan yang paling penting, jangan biarkan diri kita terlalu lama dalam kondisi ini. Sepuluh menit saja mungkin cukup, setelah itu lemparkan rasa kehilangan dan kesedihan itu jauh-jauh dari diri kita. Lalu tatap masa depan!

Kedua, selalu melihat sebuah peristiwa dari sisi positifnya. Setidaknya dengan selalu berfikir positif dan melihat sebuah pristiwa dari sisi positifnya kita telah berusaha mengahadirkan energi positif ke dalam diri kita. Kehilangan yang awalnya menyakitkan jika dipandang dari sisi positif mungkin akan jadi sesuatu yang bisa membuat kita bisa belajar agar lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ketiga, yakinkan diri kita bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemapuan kita. Setiap hamba di muka bumi ini tentu tidak akan luput dari ujian dari Allah. Dan salah satu bentuk ujian itu adalah kehilangan. Jika kebetulan kehilangan itu mengahmpiri kita, berarti Allah menilai kita sanggup untuk menerima ujian tersebut sebagai sarana naik kelas menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik. Yakinlah setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan. Dan ini adalah janji Allah yang telah termaktub dalam Al-quran. Tidak usah bersedih dan hanyut dalam kesedihan.

Keempat, yakin bahwa Allah maha Pengasih dan Maha Penyayang. Firman Allah yang termaktub dalam surat al-Fatihah yang berbunyi,”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang” memberikan kekuatan kepada kita agar kita tidak berputus asa dan larut dalam kesedihan jika dilanda persoalan kehidupan, termasuk rasa kehilangan. Ayat ini memotivasi kita agar senantiasa berjuang, karena masih banyak rahmat dan nikmat Allah yang bisa kita raih di atas bumi ini.

Kelima, jangan menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan Allah dalam persoalan kehilangan. Jangan sampai kita menyalahkan diri sendiri dengan kehilangan yang melanda kita, karena hal itu hanya akan membuat kita makin terpuruk dalam jurang kesedihan. Kita juga jangan sampai menyalahkan Allah dalam masalah rasa kehilangan ini, karena hal itu akan memicu kita menjadi hamba yang mudah berputus asa dari nikmat dan karunia Allah.

Keenam, jangan fokuskan pikiran pada rasa kehilangan, tapi lihatlah berapa banyak nikmat dan Karunia Allah yang telah kita terima. Pernahkan kita merenungkan berapa banyak nikmat dan karunia Allah yang telah kita terima selama hidup di dinia ini? Ketika kita diuji oleh Allah dalam bentuk kehilangan sesuatu yang kita cintai, maka ingatlah masih banyak nikmat Allah yang lain yang patut kita syukuri. Berhentilah bersedih, lalu bersyukurlah!

Yang terakhir, perbanyaklah berdoa dan mengingat Allah, Rabb Yang Maha Berkehendak. Karena dengan memperbanyak mengingat Allah dan memasrahkan diri kepada-Nya adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kesabaran, ketabahan dan keikhlasan dalam menerima kenyaataan hidup. Ingatlah, tidak ada kejadian yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tanpa hikmah, dan kehilangan merupakan bagian dari proses perubahan kehidupan kita.

Sekali lagi, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, setidaknya dengan merenungi beberapa hal di atas ada pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah persoalan kehilangan itu antara lain, Belajar menjadi pribadi yang lebih menghargai keberadaan sesuatu, belajar memanfaatkan waktu dengan baik dan optimal, menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna, serta belajar ikhlas menerima kenyataan hidup berupa kehilangan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Padang, 22 Juni 2011, 14.30 WIB
*Oleh: Heru Perdana



[ Selengkapnya...]
Label:

Hiduplah Bagaikan Padi

Ketika menamatkan pendidikan di sebuah madrasah, aku melanjutkan pendidikanku ke sebuah perguruan tinggi agama. Semenjak berubah status dari siswa menjadi mahasiswa ini aku mulai sering mengunjungi kampung halamanku alias pulang kampung. Sebuah kegiatan yang jarang aku lakukan ketika aku masih duduk di bangku madrasah dulu. Sekarang aku telah kuliah dan telah menjadi mahasiswa, momen ini aku gunakan untuk bisa lebih sering pulang kampung, karena memang jadwal kuliahku tidak sepadat jadwalku ketika sekolah dulu. Selain bisa lebih sering bertemu orang tuaku, rutinitas ini juga membuat aku bisa lebih merasa dekat dengan kawan-kawan kecilku dulu yang telah aku tinggalkan semenjak tamat SD. 

Suatu ketika, aku pulang kampung ketika orang di kampungku tengah sibuk menanam padi, di kamupungku momen itu diistilahkan dengan musim bertanam. Di kampungku memang kegiatan utama ekonomi masyarakat adalah bertani. Alasan aku pulang pun juga untuk membantu orang tuaku untuk menanam padi di sawah. Ya, karena aku tidak bisa pungkiri, aku bisa bersekolah seperti ini banyak sedikitnya adalah dari hasil sawah yang diolah oleh orang tuaku. 


Kira-kira dua setengah bulan berselang semenjak musim bertanam itu berlalu, padi yang kami tanam sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir yang akan berkembang menjadi buah padi. Semakin hari bulir tersebut semakin berisi. Aku pun masih sering pulang ke kampung dan menyaksikan perkembangan pertumbuhan padi itu.

Kawan, kali ini aku tidak akan membahas tentang masalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, karena aku bukanlah mahasiswa pertanian. Tapi ada satu hal menarik yang patut kita tiru dan kita contoh dari padi. Kawan tentu ingat dengan sebuah nesehat orang bijak ini, “jadilah seperti padi, semakin berisi semakin meruduk”. Nah, itulah yang akan coba aku bagi dengan kawan-kawan.

Kala itu, aku tengah duduk di belakang rumahku di suatu pagi yang cerah. Di belakang rumahku memang ada beberapa petak sawah dan salah satunya adalah sawah milik orang tuaku. Entah kenapa pagi itu aku tiba-tiba saja teringat perkatan habat orang bijak itu. Mungkin saja karena hanyut dengan pemandangan yang aku lihat ketika itu atau mungkin juga karena sebuah bacaan yang aku baca malam tadi. Dan juga tidak tertutup kamungkinan kedua alasan yang aku sebutkan tadi adalah penyebabnya. Tidak penting membahas itu, yang lebih penting adalah aku ingin berbagi dengan kawan melalui tulisan ini.

Allah yang Maha Kuasa melalui alam ciptaan-Nya memang telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada kita. Pelajaran itu tentu akan kita dapatkan jika kita benar-banar mau memperhatikan ciptaan-Nya. Padi adalah salah satu contoh ciptaan Allah yang patut kita tiru dan teladani.

Padi jika semakin berisi, maka akan semakin merunduk. Kita hendaknya selaku manusia juga harus bisa seperti itu. Idealnya semakin banyak kita tahu dan mememiliki ilmu bukan lantas membuat kita menjadi sumbong dan angkuh, lalu meremehkan orang lain. Berlakulah layaknya padi, semakin berisi dan berpengetahuan kita harus rendah hati.

Tahukah kawan bahwa penyebab kahancuran sesorang itu lebih banyak disebabkan oleh faktor dalam dirinya sendiri.? Kesombongan adalah salah satu sifat yang memberikan kontribusi terbesar dalam proses kehancuran itu, jika kita tidak mampu mengendalikan diri dengan baik. Kesombongan adalah awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul. Seperti gelas yang telah terisi penuh, orang sombong tidak akan mau menerima pengetahuan dan informasi baru dari orang lain, karena telah meresa dirinya hebat dan tidak butuh orang lain. Orang sombong juga sulit untuk membagi apa yang ia punya dengan orang lain, karena takut tersaingi oleh orang lain.

Berlakulah seperti padi yang semakin merunduk jika berisi. Kita harus selalu berlaku rendah hati, karena dengan demikian kita akan mudah memperoleh dan menrima informasi serta ilmu baru. Sehingga membuat kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Dengan begitu kehidupan akan lebih terasa indah dan ringan untuk dijalani.

Selain semakin berisi semakin merunduk, ada lagi yang menarik dari padi. Padi adalah tanaman yang sangat banyak memberikan manfaat buat kita manusia. Sifat ini dari padi juga patut kita tiru. Kita harus jadi manusia yang memberikan manfaat buat orang dan lingkungan di sekitar kita. Bukankah manusia paling mulia itu adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain.?

Ya, kita harus siap menularkan ilmu dan kelebihan materi yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Kita tidak boleh menyimpan ilmu itu sendiri, karena hal itu akan bisa membuat kita terjerumus ke dalam jebakan-jebakan kesepian kehidupan. Ketika kita tidak mau lagi berbagi dengan orang lain tentu orang lain juga tidak akan mau lagi berinteraksi dengan kita, alhasil kita akan terjerembab kedalam jebakan kesepian yang kita ciptakan sendiri. Kalau sudah begini maka hidup dan dunia ini akan terasa sempit. Kawan, bagaimana pun juga manusia tidak akan bisa mengingkari fitrahnya sebagai makhluk sosial. Makhluk sosial itu hidup membutuhkan orang lain.

Padi adalah tanaman hebat, yang bisa beradaptasi dengan lingkungan. Selain di sawah, padi juga bisa tumbuh di ladang atau perbukitan. Jika padi ditanam di sawah maka kehidupan padi itu relatif enak dan mudah karena pasokan air tersedia cukup. Lalu bagaimana dengan padi di ladang atau perbukitan? Padi juga bisa hidup di sana, walau harus ditanam pada musim hujan dan padi harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berat itu.

Lagi-lagi sifat seperti ini patut kita teladani dari tanaman yang bernama padi. Kita juga harus bisa menyesuikan diri dengan lingkungan. Kita harus tahan banting dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar tepat kita hidup. Karena hidup tidak melulu dihiasi dengan kesenangan belaka, selalu saja ada duka menyertainya. Kita harus siap dengan setiap kemungkinan kehidupan yang akan kita temui. Sesulit apapun kehidupan, kita harus berusaha tetap memberikan manfaat terhadap orang di sekeliling kita, layaknya padi tadi.

Sungguh luar biasa, pesan-pesan kehidupan itu disampaikan Allah melalui tanaman padi. Mari kita buka mata kita untuk selalu mempelajari ayat-ayat Allah di muka bumi ini. Masih banyak yang bisa kita pelajari dari alam.


Oleh: Heru Perdana
Padang, 03 Juni 2011, 11: 15 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Antara Pinta dan syukur

Allah, Tuhan semesta alam adalah Rabb yang maha penggasih dan lagi Maha Penyayang kepada umatnya. Kasih dan sayang Allah itu tidak bertepi, tanpa batas. Bahkan pada saat tertntu, belum kita minta Allah sudah berikan untuk kita. Sebut saja udara dan air, dua elemen penting yang sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup setiap insan di muka bumi ini, Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma tanpa harus membayar. Coba kawan bayangkan, jika udara dan air itu harus kita bayar. Berapa rupiah yang harus kita keluarkan setiapa hari hanya untuk udara dan air, belum lagi untuk kebutuhan yang lain. Namun, persoalannya disini bukanlah soal bayar membayar, akan tetapi sudah sejauh mana kita bersyukur atas karunia Allah kepada kita selama ini.

Air dan udara adalah dua contoh kecil karunia Allah, namun bermanfaat sangat besar dalam kehidupan kita, yang diberikan kepada saya, anda dan kita semua tanpa harus kita minta dan tersedia sangat banyak di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan karunia Allah yang sering kita minta dan dikabulkan, apakah kita sudah bersyukur atas semua itu? Jawablah dengan setulus hati dan penuh kejujuran.

Allah itu Tuhan yang Maha mengabulkan pinta setiap hamba-Nya. Hal itu telah dijanjikan Allah kepada kita dan telah termaktub dalam kitab suci al-qur’an. ”Mintalah kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan”, begitu janji Allah kepada kita.
Namun perlu kita ketahui bersama bahwa tidak semua pinta hambaNya dikabulkan begitu saja oleh Allah.

Kita sering berdoa dan memohon pinta kepada Allah. Kita sadari atau tidak, kadang doa dan pinta kita itu terkesan menyuruh Allah. Begitu banyak doa yang telah kita panjatkan kepada Allah, namun kadang tak kunjung dikabulkan dan dijawab oleh Allah. Apakah Allah tidak lagi sayang kepada hambaNya? Belum tentu, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan dan langsung menuduh Allah tidak sayang kepada kita. Alangkah bijak rasanya jika kita mau bercermin diri, mungkin saja sebabnya ada pada diri kita sendiri yang mebuat doa dan pinta kita tak kunjung diijabah oleh Allah.

Ketika doa kita tidak dikabulkan oleh Allah, bukan berarti Allah tidak sayang lagi kepada kita. Juga tidak berarti Allah tidak mendengar doa kita. Allah itu Maha mendengar dan Maha Mengabulkan pinta hambaNya. Mungkin persolannya disini adalah kita terlalu sibuk meminta dan selalu berdoa sehingga lupa memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah berupa pengabulan doa. Kadang kita juga tidak ingat bersyukur akan karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Ketahuilah wahai kawan, syukur juga erat kaitannya dengan pengkabulan doa dan pinta kita.

Analoginya seperti ini, ketika kita meminta atau meminjam barang kepada seorang teman, katakanlah meminjam atau meminta sebuah buku. Lalu kita lupa untuk menjaganya sehingga buku yang kita pinjam itu rusak dan tidak terawat. Beberapa waktu kemudian, kita mau minta atau meminjam lagi barang yang lebih besar nilanya kepada teman tersebut sementara dia tahu kita tidak merawat peberian dan barang yang dipinjamkannya beberapa waktu yang lalu kepada kita. Maka sang teman tadi akan berpikir dua kali untuk meminjamkan atau memberikan sesuatu kepada kita lagi. Karena dia merasa kita belum pantas menerima pemberiannya. Teman kita itu akan mengira bahwa kita tidak bersyukur atas pemberiannya karena kita tidak merawat apa yang dia beri atau pinjamkan.

Jika manusia saja bisa berlaku seperti itu, apalagi Allah. Allah akan lihat seberapa banyak syukur yang kita panjatkan kepadaNya untuk mengabulkan doa dan pinta yang selalu kita mohonkan kepada Allah. Ya, semua kembali kepada kata “Syukur”, sebuah kata yang sangat ringan diucapkan, namun kadang sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan. Menurut dr. Andhyka P. Sedyawan, “Syukur tidak sekedar mengucapkan terimakasih terhadap sebuah sebuah pemberian, tapi cara kita bertanggung jawab terhadap pemberian itu”.

Terkait persoalan syukur ini Allah juga telah mengingatkan kita melalui firmanNya:
“Jika kamu bersyukur pasti akan Ku tamabah (nikmatKu) untukmu, dan apabila kamu ingkar maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih” (QS. Ibrahim:7)
Firman Allah dalam surat ibrahim ayat 7 tersebut tidak hanya sekedar janji kosong belaka, pasti Allah akan tepati janji-Nya itu. Oleh sebab itu, kita jangan hanya pandai meminta dan berdoa saja. Doa dan pinta itu perlu diiringi dengan rasa syukur.

Kawan, syukur itu memang sangat penting adanya. Tidak hanya ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan kita harus bersyukur, akan tetapi ketika kita tidak mendapatkan sesuatu atau gagal pun sejatinya kita harus bersyukur, karena dengan kegagalan itu kita bisa belajar untuk bisa lebih baik agar tidak gagal lagi di kemudian hari. Ketika kita berada pada saat-saat sulit, kita juga harus tetap bersyukur. Karena di masa itulah kita tumbuh dan memperkuat mental dalam mengharungi bahtera kehidupan yang sangat sulit untuk ditebak.

Kawan, ketika doa dan pinta kita ditolak jangan langsung putus asa dan mengumpat kepada Allah. Kadang Allah tidak berikan apa yang kita mau, namun Allah akan berikan apa yang kita butuh. Belum tentu apa yang kita minta dan baik menurut kita itu benar-benar baik untuk kehidupan kita. Berhentilah menyalahkan Allah jika keinginan kita tidak dikabulkan. Mari kita bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita seraya tetap memantaskan diri untuk menerima anugrah Allah dalam bentuk pengabulan doa dan pinta kita.

Tahukah kawan di dalam buku the secret pernah ditulis, bahwa syukur adalah anak tangga mutlak untuk memastikan hadirnya kesuksesan dalam kehidupan kita. Kesuksesan sangat erat kaitannya denga “syukur”.

Mintalah, lalu pantaskanlah diri Anda untuk menerima anugrah pengabulan atas pinta Anda dari Allah dengan memperbanyak Syukur…!!!

Oleh: Heru Perdana
Padang, 18 Mai 2011, 18:13 WIB



[ Selengkapnya...]
Label:

Seuntai Do’a

Teruntuk buatmu yang mungkin telah jauh
Untukmu yang sedang tersenyum di sana
Bagimu yang tidak di sisiku lagi
Tersusun kata, terselip harapan, terangkai do’a
Agar kau bahagia dan selalu bahagia di sana

Kita mungkin telah jauh
Tidak lagi seperti dulu
Tidak pernah terbersit dihati ini untuk itu
Meski semua harap telah sirna
Segala asa telah pupus
Dari jauh ku kirim suntai do’a
Semoga bibir simpulmu nan indah tetap memancarkan senyum
Senyum indah, peneduh jiwa, penebar harapan

Engkau mungkin telah lupa
Tapi sungguh di relung kalbu ini kenangan itu masih nyata
Hidup dan tak terlupa
Semoga kau sudih terima seuntai do’a dari lubuk hati ini
Tak ada lagi hanya ini
Sebagai tanda dulu kita bisa bersama
Meniti tali kasih,
Menyonsong derasnya badai kehidupan

Sungguh, aku tak bisa lagi memberi
Hanya seuntai do’a ini yang bisa ku kirim
Bersama dinginnya hembusan angin malam ku pesankan
Agar disampaikan kepadamu
Seuntai do’a berjuta kasih
Semoga kau bahagia di sana
Dan selalu menikmati manisnya madu kebahagiaan


Padang, 11 Mai 2011, 01: 06 WIB
Oleh: Heru Perdana

[ Selengkapnya...]
Label:

Bak Ijuk Tak Bersaga

Jika kawan bertanya tentang seberapa penting kekuatan mental dalam mengharungi samudra kehidupan ini, maka jawaban terbaik yang bisa diberikan adalah” sangat penting”, dan bahkan lebih penting dari kehebatan kemampuan intelektual. Meskipun antara keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Kemampuan berfikir yang sangat hebat dan luar bisa tanpa didukung oleh kekuatan mental yang mupuni maka tidak akan berati apa-apa, alias tidak ada kekuatanya. Pepatah minang menyebutkan “bak ijuak indak basaga”. Tidak memiliki kekuatan.


Kita sadari atau tidak, hidup ini tidak melulu lurus-lurus saja. Hidup penuh lika-liku. Dalam hidup tentu ada halangan, yang lebih populer kita kenal dengan istilah masalah. Untuk mengahdapi masalah dalam kehidupan ini tentu tidak akan cukup hanya dengan kecerdasan pikiran saja tanpa didukung oleh kekuatan mental yang hebat pula. Banyak orang yang gagal karena tidak mampu menata mental dan emosi dengan baik.

Ada sebuah cerita tentang seorang kawan yang memiliki kecerdasan intelektual yang sangat luar biasa dan pantas diacungi jempol. Sebut saja namanya Uyung. Uyung adalah sesosok manusia cerdas yang pernah bersekolah di sebuah SMA faforit di kotanya. Semua pengahargaan dan prestasi akademik telah berhasil diraihnya. Tropi dan mendali hasil dari kecerdasannya juga telah berjejer rapi di lemari rumahnya. Namun, petaka mulai datang ketika Uyung menginjak masa-masa duduk di kelas tiga, ia memutuskan untuk tidak sekolah sampai selama delapan bulan hanya karena merasa tidak dihargai oleh teman-teman seangkatannya. Untung saja dia masih bisa mengikuti ujian karena pertimbangan keerdasannya dan segenap prestasi yang telah ditorehkannya untuk sekolahnya itu. Akhirnya ia bisa juga lulus dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Ketika kuliah di perguruan tinggipun Uyung memiliki cerita menarik sekaligus memilukan. Dia diterima di sebuah perguruan tinggi faforit yang juga masih berada di kotanya. Ia diterima pada pilihan keduanya, yaitu farmasi. Sebuah jurusan yang mungkin tidak semua orang mampu untuk mencapainya. Akan tetapi, Uyung hanya bertahan di sana tidak lebih dari dua semester saja. Alasan dia meninggalkan kampusnya itu juga masih desebabkan karena hal-hal “spele”. Kecerdasan Uyung yang luar biasa dapat perhatian khusus dari dosennya dan memicu kecemburuan sosial di kalangan kawan seangkatan dan para seniornya. Celakanya, Uyung tidak siap mental dengan keadaan itu. Padahal kalau saja dia bisa sedikit cerdas mengelola kekuatan mentalnya , mungkin keputusan “bodoh” meninggalkan kampusnya itu tak perlu ditempuhnya.

Akhirnya, Uyung memutuskan untuk memulai kembali kuliahnya disebuah perguruan tinggi agama, yang lagi-lagi masih di kotanya. Di sana ia mulai mendapati sedikit ketenangan dan bisa menikmati kecerdasannya. Namun sayang, hal itu juga tidak bisa bertahan lama. Ironisnya, Uyung mengalami “mimpi buruknya” kembali di saat-saat ia dan kawan-kawannya mulai menyusun tugas akhir sebelum diwisuda dan dinobatkan menjadi seorang sarjana. Uyung tidak cukup kuat mental dalam menghadapi birokrasi yang sedikit agak berbeli-belit dan “bertele-tele”.

Di saat kawan-kawannya mampu menata mental untuk mengahdapi itu semua, Uyung malah memilih mundur dan keluar dari jalur perjuangan menuju tangga sarjana, tidak melanjutkan kuliahnya lagi. Padahal hanya tinggal selangkah lagi untuk meniti tangga sukses di kampus itu. Ironis memang, tapi itulah yang terjadi dengan seorang Uyung yang begitu cerdas. Tapi sayang kecerdasannya yang laur biasa tidak didukung dengan kekuatan mental dan emosi yang mupuni. Sehingga ia mundur, dan mengalah pada nasib. Uyung bak ijuk yang tak bersaga. Semoga saja kita tidak menjadi Uyung-uyung selanjutnya.

Sepenggal kisah miris tentang seorang Uyung tadi sudah cukup kiranya bagi kita betapa pentingnya bagi kita menata kekuatan mental untuk menghadapi pergolakan permasalahan kehidupan ini. Kekuatan mental inilah yang sering disebut oleh para ahli kita dengan kecerdasan emosional (EQ). Yang dewasa ini dipercaya kedudukannya lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). 


Telah banyak juga dipertontonkan di pentas kehidupan bahwa mereka yang sukses itu adalah mereka yang memiliki kekuatan mental dan emosi yang hebat. Sebut saja sederetan nama besar seperti Andri Wongso seorang motivator ternama di Indonesia, Bob Sadino seorang pengusaha sukses yang selalu mengenakan celana pendek kemana pergi, Purdi Chandra pemilik lembaga bimbingan belajar primagama, dan banyak lagi mereka yang sukses karena kemampuan dalam menata mental dan emosi.

Nama-nama besar yang kita sebutkan di atas tadi, terbilang memiliki kemampuan intektual yang tergolong biasa-biasa saja, namun mereka mampu mengelola kekuatan mental dan emosi dengan baik. Kekuatan mental yang luar biasa itulah yang mereka gunakan untuk bangkit dari setiap kegagalan yang mereka terima. Kekuatan emosi yang bagus pula yang telah berhasil membuat mereka keluar dari segenap masalah kehidupan yang menerpa kehidupan mereka. Mereka memandang kegagalan dan masalah kehidupan bukanlah akhir dari segala-galanya, namun merupakan awal dari sebuah kehidupan yang lebih baik dan sarana pendewasaan diri.

Jadi, mari mulai saat ini kita tata kekuatan mental dan emosi kita dengan baik, agar kita tidak seperti ijuk tak bersaga.


*Oleh: Heru Perdana
Padang, 27 April 2011, 15:33 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Segenggam Kepercayaan

Ibu, sesulit itukah mendapatkan kepercayaanmu?
Ibu, semahal itukah kepercayaanmu?
Ibu, tolonglah dengar jeritan hati anakmu ini
Jeritan hati seorang anak yang merindukan kepercayaan seorang ibu
Oh Ibu, tolonglah

Ibu, kenapa baru saja kami akan mulai engkau sudah katakan
Jangan nak, nanti kau gagal
Ibu, kenapa baru saja kami akan melangkah, engkau sudah katakan
Jangan nak, nanti kau celaka
Gagal dan celakakah yang membuat engkau gamang memberikan kepercayaan itu?
Ibu, tidakkah engkau sadari
Gagal dan celaka adalah bagian dari takdir Tuhan
Untuk kami,
Untuk anakmu yang haus akan kepercayaanmu ini.

Ibu, kami tahu ibu sangat menyayangi kami
Ibu, kami sadar, ibu sangat mengasihi kami
Ibu, kami yakin akan ketulusan cintamu
Ibu, kami sangat mempercayai dan tidak ragu akan itu semua
Tapi, kami mohon berikanlah segenggam kepercayaan itu.
Kepercayaan yang tulus dari hati lembut seorang ibu


Ibu, berikanlah
Berikanlah segenggam kepercayaan itu
Agar kami mampu mengenggam dunia dan kehidupan ini.
Ibu, dengarlah,…..





*oleh: Heru Perdana
Padang, 25 April 2011, 09: 13 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Di suatu Senja

Senja itu,..
Di persimpangan itu,..
Tiga boca berwajah lugu
Berlari mengejar, mengaharap belas kasih dari pengendara
Yang berhenti di persimpangan lampu merah

Ah, mereka mengahapiri kami
Mengahampiri aku dan temanku
Yang kebetulan tengah berhenti di sana saat itu
“kak, minta kuenya kak”, begitu kata mereka mengiba
Tak kuasa melihat wajah tak berdosa itu, memohon dan mengharap,
akhirnya kami berikan saja kue itu kepada mereka
mereka berhamburan berlari ke emperan toko tak jauh dari persimpangan itu

Di sana mereka buka bungkusan kue itu
Berebut, gelak tawa terhambur keluar dari bibir-bibir mungil mereka
Ada sedikit rasa bahagia terasa di hati ini melihat tingkah mereka
Namun, di sis lain hatiku juga ditusuk rasa gundah melihat mereka
Mengapa mereka harus di sana senja itu?
Dengan perawakans sedikit kumal
Harusnya mereka sudah bersih dan siap untuk mengaji di mesjid
Ke mana orang tua mereka?
Siapa yang salah dengan pemandangan itu?

Padang, 19 April 2010, 18:52 WIB
Oleh: Heru Perdana

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers