Zakat Produktif dan Permasalahanya

Pembicaraan tentang zakat produktif kian hari makin hangat dibicarakan, baik itu di kalangan akedemisi, praktisi bahkan telah menyentuh lapisan masyarakat umum. Munculnya pembicaraan tentang zakat produktif ini, agaknya tidak terlepas dari kekecewaan masyarakat tentang zakat yang seyogyanya adalah salah satu elemen penting dalam mengentaskan kemiskinan yang juga tidak kunjung terlihat membuahkan hasil dalam mengurangi angka kimiskinan di Indonesia. Karena sistem pendistribusian zakat yang ada selama ini hanya digunakan untuk hal-hal konsumtif saja.

Sebenarnya zakat produktif ini bukan lagi barang baru. Penyaluran zakat secara produktif ini pernah terjadi dan dilakukan di zaman Rasulullah SAW. Hal ini dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, “bahwa Rasulullah telah memberikan zakat kepadanya lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi”.

Zakat produktif juga bukan jenis zakat baru. Zakat pruduktif ini lebih kepada tata cara pengelolaan zakat, dari yang sebelumya hanya digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif dan pemenuhan kebutuhan sesaat saja, lalu diubah penyaluran dana zakat yang telah dihimpun itu kapada hal-hal yang bersifat produktif dalam rangka pemberdayaan umat. Dengan kata lain dana zakat tidak lagi diberikan kepada mustahik lalu habis dikonsumsi. Akan tetapi dana zakat itu diberikan kepada mustahik untuk mengembangkan sebuah usaha produktif dimana pelaksanaanya tetap dibina dan dibimbing oleh pihak yang berwenang seperti BAZ dan LAZ.

Jika kita tetap bertahan pada sistem pendistribuisan zakat yang bersifat konsumtif maka kenginan dan cita-cita untuk cepat mengurangi dan menghapus kemiskinan di ranah Indonesia ini hanya akan jadi mimpi belaka. Karena mustahik yang menerima zakat pada tahun ini akan kembali menerima zakat pada tahun tahun berikutnya. Dengan kata lain, mustahik saat ini akan melahirkan mustahik-mustahik baru dari keturunanya. Hal ini tentu tidak akan bisa menggambarkan bahwa zakat itu adalah salah satu media untuk mencapai pemerataan kesejahtaraan masyarakat.

Nah, jika kita mau sedikit merubah tata cara pendistribusian zakat kepada yang bersifat produktif, maka diharapkan zakat sebagai salah satu instrumen penting kebijakan fiskal Islam akan dapat mengurangi atau bahkan mengahapuskan kemiskinan di Republik ini. Kita berharap dengan adanya zakat produktif ini akan bisa memunculkan muzakki-muzakki baru. Dengan bahsa lain, mereka yang tahun ini adalah penerima zakat mungkin dengan adanya zakat produktif akan bisa membayar zakat satu, dua atau tiga tahun ke depan. Tidak hanya itu, dengan adanya kebijakan zakat prduktif ini juga akan bisa mengenjot laju pertumbuhan ekonomi umat.

Bukankah salah satu tujuan disyaria’tkannya zakat adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat khususnya kaum du’afa, baik dari segi moril maupun materil. Penyaluran zakat secara produktif adalah salah satu cara cerdas untuk meujudkan itu semua. Tentu saja, agar hal itu bisa direalisasikan dengan baik dan tepat sasaran, maka kerja keras dan profesionalisme pihak-pihak atau institusi-institusi pengumpul dan menyalur dana zakat. Mulai dari pemilihan program pemberdayaan yang tepat, disertai dengan proses pendampingan dan pembinaan para mustahik secara berkesinambungan dan termenajemen dengan baik harus dilakukan. Ini akan menjadi kata kunci kesuksesan pendayagunaan zakat.

Penerapan pola penyaluran zakat produktif ini bukan berarti tanpa hambatan dan kendala. Pada praktikya di lapangan banyak ditemukan kandala dan permasalahan menyertai program ini. Mulai dari kendala pengumpulan dana zakat dari para muzakki, pengelolaan, hingga pendistribusian serta pembinaannya kerap kali menuai masalah. Sehingga program ini belum begitu banyak terlihat berperan dalam pemberdayaan ekonomi umat.

Minimnya dana zakat yang terkumpul oleh lembaga-lembaga amil zakat adalah satu kendala utama tidak berjalannya program ini dengan baik. Disenyalir hal itu disebabkan karena kurangnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga pengelola zakat yang dipandang kurang anamah, sehingga mereka lebih memilih mendistribusikan zakat langsung kepada mustahik, dan oleh mustahik dana zakat yang mereka terima itu habis dikonsumsi. Akibatnya tahun ini mereka menerima zakat, tahun depan juga tetap menirima zakat. Tidak ada perubahan dan hanya akan menampah panjang daftar penduduk miskin Indonesia.

Kendala seperi ini sebenarnya bisa diatasi dengan adanya transparansi pengelolaan zakat oleh lembaga-lembaga pengumpul dan pengelola dana zakat. Hal ini bisa direalisasikan dengan melibatkan akuntan profesional, lalu mempuplikasikan hasil penghitungan dan penyaluran zakat itu di media masa, seperti koran-koran nasional atau media televisi. Diharapkan dengan adanya upaya seperti itu akan kembali meningkatkan kepercayaan masyarakat, hingga dana zakat bisa dihimpun secara maksimal.

Belum memadainya sumber daya manusia yang dimiliki oleh lembaga-lembaga pengumpul zakat untuk menjalankan program ini. Apakah itu pada bagian pengelolaan atau pada tahap pembinaan. Karena mustahil rasanya program ini akan berjalan dengan baik sesuai harapan jika tidak dilakukan pembinaan yang berkesinambungan terhadap para mustahik penerima zakat. Pemberian zakat produktif ini tidak akan berhasil jika bantuan modal kerja diberikan tanpa diiringi proses perubahan mindset mustahik penerima zakat. Selama ini mustahik beranggapan bahwa dana zakat hanya untuk dikonsumsi, dengan adanya pembinaan maka akan terjadi perubahan mindset mustahik dan juga bisa menumbulkan jiwa enterpreniur dalam diri mereka. Pendistribusian zakat secara produktif, mulai dari proses pemilihan mustahik yang tepat, meberikan pelatihan dan bimbingan tentunya akan menghasilkan SDM yang tidak hanya berbeda dari pola fikir tetapi juga kuat dan mandiri secara ekonomi.

Minimnya dukungan politik dari pemerintah dalam betuk undang-undang juga dipandang sebagai salah satu kendala dalam penerapan zakat produktif ini. Selama ini pemerintah terkesan setenga hati dalam menyikapai permasalahn zakat ini. Padahal tanpa dukungan dari pemerintah tersebut, zakat tidak akan pernah menjadi gejala objektif masyarakat yang bersifat nasional. Sehingga kebanyakan lembaga-lembaga pengumpul zakat seperti PKPU, dompet duafa, rumah zakat indonesia dan LAZ yang lainnya bergerak sendiri-sendiri dalam menarik para muzakki untuk mau menyalurkan zakat mereka melalui lembaga amil zakat untuk bisa didistribusikan secara produktif.

Jadi, mari kita dukung bersama tata cara pengelolaan zakat secara produktif ini. Agar zakat sebagai salah satu kebijakan fiskal dalam mengentakan kemiskinan dan sarana pemerataan tingkat kesejahteraan umat benar-benar dapat kita rasakan bersama. Denagn terwujutnya itu semua maka Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin akan terbukti dengan sendirinya. Amin.


*Oleh: Heru Pedana P (mhs. Ekonomi Islam IAIN Imam Bonjol Padang)
Padang, 01 April 2011, 15.10 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Perbedaan Itu Indah

Perbedaan itu rahmat,.!!!

Ungkapan singkat namun sarat makna di atas tidak hanya sekedar ungkapan saja, akan tetapi lebih kepada janji Allah terhadap kita, jika kita mampu menyikapi perbedaan yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini dengan baik. Memang menyikapi dan menerima perbedaan itu kadang terasa sulit. Bahkan tidak sedikit juga di antara kita yang gagal dalam menyikapinya. Keyataan seperti itu tidak bisa kita pungkiri.

Kawan, coba mari kita buka mata lalu llihatlah sekeliling kita. Betapa indahnya hidup dan dunia ini dengan segala perbedaannya. Warna-warni bunga dan tanaman, aneka jenis satwa dengan segala keunikannya dan segala keragaman lain yang menambah indah dan menariknya hidup kita di dunia ini. Coba kawan bayangkan, jika saja di dunia ini kita hidup hanya dengan warna hitam atau putih saja tentu hidup ini terasa bosan dan menjemukan. Tanpa ada warna-warni linkungan tentu kita tidak akan bisa menikmati kehidupan seindah saat sekarang ini.

Nah, begitu juga sebenarnya dengan rona kehidupan manusia. Setiap insan di dunia ini selalu saja dihadapkan pada berbagai macam perbedaan dan warna-warni permaslahan hidup. bagaimanapun juga kita tidak akan mungkin terlepas dari kenyaatan seperti ini. Namun sayang, tidak semua orang yang berhasil menyikapi perbedaan ini dengan arif dan bijak. Kadang keegoisan manusialah yang membuat mereka menutup mata dengan indahnya perbedaan itu yang nyata-nyata hanya mengahantarkan mereka ke dalam jurang permasalahan. Akhirnya mereka sendiri yang tersiksa karena tidak mampu menikmati indahnya perbedaan.

Ironisnya lagi, segala bentuk kekerasan dan perpecahan yang terjadi dewasa ini merupakan wujud dari kegagalan dan keegoismean manusia dalam menyikapi perbedaan. Berbagai macam tindak kriminalitas dan kejahatan dimulai hanya karena alasan perbedaan. Apakah itu perbedan budaya, ras, bahasa, agama, tingkat ekonomi, prinsip, pandangan hidup, atau hanya sekedar pendapat. Dan tidak jarang juga berbagai bentuk kegagalan dalam menyikapi perbedaan ini berujung pada hilangnya nyawa seseorang atau sekelompok orang. Tragis bukan,.???

Perbedaan sangat sulit dihilangkan dari permukaan bumi ini, dan bahkan mungkin tidak akan mungkin diwujudkan. Pada dasarnya manusia ini terlahir sudah berbeda antara satu dan yang lainnya lengkap dengan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan bentuk fisik, warna kulit, pola pikir, hobi,kesukaan dan perbedaan lainnya. Allah punya rencana besar dengan penciptaan itu, agar kita bisa berfikir dan kehidupan kita bisa lebih hidup dan berwarna. Bukan malah menjadikankan perbedaan sebagai ajang perpecahan dan pertikaian.

Ketahuilah wahai kawan, tidak mungkin sesuatu hal di dunia ini sama. Dan kesamaanpun tidak selalu menguntungkan. Coba kawan bayangkan, jika saja didunia ini semua orang sama, apa yang akan terjadi? Jika semua orang adalah pedagang, lalu siapa yang akan membeli dagangannya? Jika semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam hal memimpin, maka siapa lagi yang akan dipimpin? Jika semua orang kaya di dunia ini, siapa lagi yang akan menerima zakat dan sedekah? Lalu siapa lagi yang akan bekerja jadi karyawan, jika semua orang ditakdirkan kaya dan punya modal? Inilah contoh kecil dari rencana besar Allah dalam menciptakan hidup kita dalam balutan perbedaan. Sekarang tergantung lagi bagaimana kita meneriman dan menyikapi perbedaan itu. jika kita mampu dengan baik menyikapinya, maka raahmat dan keberkahan hidup yang dijanjikan Allah akan bisa kita dapatkan.

Bahkan, tanpa kawan sadari kegiatan ekonomi yang terjadi di dunia ini juga diawali oleh “pebedaan”. Apakah kegiatan ekonomi yang melibatkan individu dengan individu, individu dengan kelompok atau perusahan, kelompok dengan kelompok, dan Negara dengan individu atau kelompok. Semua berawal dari adanya pihak yang membutuhkan dan pihak yang memiliki kelebihan sehingga terjadilah transaksi jual beli atau hanya sekedar pinjam meminjam. Sungguh indah bukan “perbedaan” jika kita sikapi dengan baik?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita teguk dari manisnya madu perbedaan. Karena perbedaan tidak mungkin kita hilangkan dan kita hindarkan, maka adalah penting bagi kita menata hati dan pikiran dalam menyikapi perbedaan itu. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan agar perbedaan itu betul-betul menjadi rahmat dalam kehidupan kita.

Kita harus merubah cara pandang kita terhadap perbedaan. Kita harus bisa menerima perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan hidup. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Kita harus bisa mengelola perbedaan dengan baik. Musyawarah dan mufakat adalah salah satu cara mewujutkan itu semua. Tidak meremehkan orang lain dalam bentuk apapun juga merupakan cara cerdas dalam menyikapi perbedaan di tengah derasnya gejolak egoisme kita sebagai manusia. Mengkoreksi diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain juga merupakan jalan terbaik menyikapi perbedaan. Yang jelas banyak cara dan jalan buat kita untuk merubah perbedaan menjadi rahmat dan anugrah. Sekaang tergantung kita mau atau tidak melakukannya.

*Oleh: Heru Perdana
Padang, 26 Maret 2011, 12.55 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Bermimpilah, Lalu Perjuangkan Mimpi Itu

Memiliki sebuah impian dalam kehidupan ini mutlak adanya. Jika kehidupan ini kita ibaratkan dengan sebuah proses pelayaran mengarungi samudra kehidupan, maka impian adalah kompas yang akan berfungsi sebagai petunjuk arah agar kita tidak tersesat dan tidak terombang-ambing oleh badai permasalahan. Dengan impian seseorang akan terdorong memiliki cita-cita. Orang yang tidak memiliki cita-cita kehidupannya akan hambar, tidak terarah, dan apa adanya seolah pasrah saja kepada nasib. Tentu saja kehidupan seperti ini akan terasa sepi dan menjemukan.

Dulu aku adalah seorang manusia yang terjebak dalam kehidupan seperti itu. Dulu bagiku biarkan saja hidup ini mengalir bagaikan air. Aku tinggal mengikutinya saja ke mana arus akan bawa arah kehidupanku. Akhirnya seiring berjalannya waktu, aku menyadari kekeliruan prinsip hidupku ini, dan aku sendiri yang membantahnya. Betapa bodohnya aku ketika itu dengan memegang prinsip yang lebih tepat disebut dengan sebuah bentuk kepasrahan yang tidak berdasar.

Sejatinya bukan nasiblah yang menentukan arah kehidupan kita, tapi kitalah yang menentukan sendiri arah kehidupan kita melalui sebuah impian dan cita-cita. Pilihan itu ada di tangan kita, kawan. Inilah sebuah prinsip yang aku yakini saat ini, dan membuatku harus menata ulang impianku. Aku menulis ini juga karena menyadari betul pentingnya sebuah impian dalam hidup kita. Jangan pasrahkan kehidupan kita ini kepada nasib. Memang nasib merupakan bagian dari takdir Tuhan, namun bukan berarti nasib tidak bisa diubah dengan sebuah impian melalui sebuah tekad dan perjuangan. Diubah dengan sebuah tekad untuk kehidupan yang lebih baik lalu diwujudkan dengan perjuangan yang terencana dengan matang melalui sebuah impian dan cita-cita.

Tahukah kawan bahwa impian itu akan mendorong kita untuk berusaha dan berjuang? Dengan imian saya, anda dan kita semua akan terdorong untuk berjuang dan berusah mewujudkan mimpi-mimpi kita sehingga lahirlah prestasi-prestasi yang membanggakan dan dicatat oleh sejarah. Minimal sejarah keluarga yang nantinya bisa dikenang oleh anak cucu kita.

Berikut ini ada penggalan cerita tentang beberapa orang yang telah berhasil menata impian-impiannya dengan baik yang telah mengkristal menjadi sebuah cita-cita, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan yang patut diacungi jempol dan diteladani. Kita selayaknya menjadikan semangat dan tekad mereka untuk mewujudkan impiannya itu sebagai cambuk pelecut semangat kita untuk meraih sukses. Mereka yang akan aku ceritakan ini bukanlah mereka yang memiliki kesempurnaan fisik seperti kita. Aku sebelumnya mendengar cerita yang mengakumkan ini langsung dari penuturan mereka dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu.

Bapak Tolhas Damanik, begitu nama beliau tertulis di layar televisi. Pria yang mengagumkan ini telah menderita kebutaan sejak kecil disebabkan oleh suatu penyakit yang dideritanya. Di usianya yang masih belia, beliau tidak lagi dapat menikmati indahnya pemandangan bumi Allah ini. Pada saat itu dunianya memang telah gelap, namun pancaran semangat telah berpijar dalam dirinya. Dengan semangat itu beliau merajut sebuah impian untuk sukses. Semangat telah jadi mata dalam kehidupannya.

Pria yang memiliki kekurangan dalam hal melihat itu telah mengantungkn impian yang tinggi. Lalu impin itu diwujudkan dengan sebuah usaha yang sangat luar biasa. Beliau memulai perjuangnnya dengan menempuh jejang pendidikan dari mulai TK, lalu lanjut ke SD dan sterusnya di pulau Bangka sana. Yang lebih megagumkan lagi semua jenjang pendidikan yang beliau tempuh itu adalah di sekolah biasa, bukan di sekolah luar biasa seperti kebanyakan anak-anak berkebutuhan khusus lainya. Karena memang hanya sekolah seperti itu yang ada di sana waktu itu.

Pria luar biasa yang sangat mencintai pendidikan ini telah meraih gelar Master di OHIO University di Amerika. Kesempatan kuliah di OHIO University beliau peroleh dari jalur seleksi dan kompetisi tanpa ada perlakuan khusus yang diterimanya dari panitia penyelenggara. Beliau juga mengatakan bahwa satu-satunya yang membedakan beliau dengan yang peserta lain hanya ketika presentasi karya tulis yang mereka buat saja. Di mana peserta ujian yang lain ketika masuk ruang ujian membawa tumpukan buku yang banyak, sementra beliau tidak membawa buku satu pun.

Selama kuliah, beliau menjalani hari-harinya sendiri di Amerika. Kita tentu bisa bayangkan bagaimana sulitnya beliau yang memiliki kekurangan dalam melihat itu dalam mengrus diri dan kebutuhan beliau di negeri orang sana. Tapi itu semua tidak beliau pedulikan, keinginan untuk sukses telah mengalahkan itu semua. Di sana beliau juga diperlakukan dengan baik oleh staf pengajarnya melebihi perlakuan yang beliau dapat ketika kuliah di Indonesia dulu. Akhirnya beliau bisa menyelesaikan pendidikannya di Amerika selama 2,5 tahun dengan IPK 3,9. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa dan telah membuat aku berdecak kagum dengan prestasi beliau itu. Semoga saja aku dan kawan-kawan semua bisa meneladani jejak perjuangan beliau itu.

Narasumber selanjutnya yang berkisah di acara tersebut adalah bapak DR.Saharudin Daming. Cerita pria yang juga tunanetra ini tidak jauh berbeda dengan kisah hidup bapak Tolahas Damanik. Hanya saja bedanya beliau mengalami kebutaan pada usia lima belas tahun. Jadi beliau sedikit lebih beruntung ketimbang bapak Tolahas. Ketika kebutaan telah menghingapinya dan dunia telah gelap gulita, tidak lantas membuat beliau patah arang dan menyerah kepada nasib.

Pria yang telah menyandang satus yatim semenjak umur enam tahun ini, tidak menyerah begitu saja pada nasib. Impian dan cita-cita yang telah dirajutnya sejak kecillah yang telah membakar semangatnya untuk tetap berjuang mengapai cita-cita dan impinnya itu di tengah keterbatasan penglihatan yang telah menyelimutinya. Ketika semangat telah jadi mata, maka kekurangan tidak lagi jadi masalah dalam mengapai cita-cita. Perlu kawan ketahui bahwa bapak DR.Saharudin Daming ini merupakan penyandang tunanetra pertama yang meraih gelar doktor di bidang hukum di Indonesia.

Ada cerita menarik tentang beliau dalam mengapai prestasi yang sangat membanggakan itu. Sebuah torehan prestasi yang belum tentu bisa kita dapatkan meski dalam keadaan berkecukupan. Beliau sempat ditolak masuk sebuah SMA ketika beliau ingin melanjutkan studinya. Namun, beliau tidak patah semangat dan terus memperjuangkan impian dan cita-citanya dengan menemui langsung kepla sekolah SMA tersebut,lalu beliau bertanya, “Pak, kenapa saya tidak diterima belajar di SMA ini?”. Kepala sekolah itu menjawab, “Kamu kan tunanetra, sebaiknya kamu cari saja sekolah luar biasa agar kamu bisa belajar dengan baik sesuai kebutuhanmu”. Lalu beliau menjawab,”apakah bapak tidak keliru berkata seperti itu? Logikanya, jika saya harus sekolah di SD luarbiasa, SMP luar biasa, dan SMA luar biasa juga, lalu setelah tamat harus melanjutkan kuliah di perguruan tinggi luar bisa lagi, kemudian jika tamat berarti saya harus kerja di lapangan kerja luar biasa juga dong? Apa pemerintah siap dengan semua ini? Lalu di mana letaknya keadilan?”. Kepala sekolah tidak punya alasan lagi untuk menolak beliau dan harus meluluskannya untuk sekolah di SMA itu.

Perjuangan beliau untuk tetap melanjutkan pendidiknnya tidak berakhir sampai di situ saja. Ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggipun beliau masih tetap tidak diterima. Beliau ditolak oleh kabag akademik waktu itu. ketika sang Kabag itu tahu bahwa yang mendaftar adalah seorang tunanetra lalu ia berkat, “sebaiknya kamu ikut kursus pijat saja ketimbang uliah di kampus ini”. Sebuah penolakan keras dan menyayat hati mereka yang haus ilmu telah beliau terima.

Ditolak seperti itu, beliau tidak langsung putus asa. Beliau segera menemui rector universitas tersebut. Ternyata di sana beliau diterima dengan bi oleh sang rektor. Setelah menceritakan semuanya, lalu rektor menelpon Kabag akademik tadi dan meminta agar DR.Saharudin Daming diluluskan. Begitulah lika-liku perjuangan yang telah beliau lalui untuk mengapai impian dan cita-citanya, hingga akhirnya beliau memperoleh gelar doktor dan sekarang bekerja di KOMNASHAM.

Cerita selanjutnya adalah tentang seorang wanita muda bernama Mimi yang juga tunanetra. Wnita pecinta ilmu pengetahuan ini adalah seorang yang memiliki impian dan cita-cita yang sangat tinggi dan mempunyai tekad yang kuat untuk memperjuangkan impiannya. Hingga beliau bisa melanjutkan pendidikannya dan mengambil program doktor di Belanda setelah sebelumnya menamatkan program masternya di Inggris. Luar biasa bukan? Hanya semangat dan cita-cita yang tinggi yang membuat seorang Mimi bisa meraih itu semuanya.

Kawan, dara yang menamatkan S1nya di Univesitas Indonesia itu mengalmi kebutaan semenjak berumur tujuh belas tahun. Akan tetapi, musibah itu tidak membuatnya surut belajar dan berjuang mengejar impianya. Berbagai cara dilakukan Mimi untuk mewujudkan impianya. Keterbatasan yang dialaminya membuat ia harus berkeliling dari satu saudara ke saudara yang lain, dari satu teman ke teman yang lain untuk mencari dan meminta bantuan mereka untuk membacakan buku-buku pelajaran, lalu direkam. Dengan rekaman itulah sehari-hari Mimi belajar untuk mengapai cita-citanya. Sampai kuliahpun metode ini masih tetap beliau pakai. Hingga akhirnya beliau telah menjadi dosen di UI dan beberapa perguruan tingi lain di pulau Jawa.

Melihat tayangan dan mendengar penuturan serta cerita dari beberapa orang tokoh yang dibalut kekurangan namun memiliki impian dan cita-cita besar itu membuat aku terkagum-kagum dan iri. Cerita mereka seolah telah “menampar” dan menyindirku, orang yang memiliki impian, akan tetapi masih masih kurang dalam memperjuangkan impiannya sendiri. Sering kali impian dan cita-citaku dikalahkan oleh kemalasanku sendiri.

Tiga tokoh yang aku ceritakan di atas telah membuktikan kebenaran sebuah ungkapan “man jadda wa jadda”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapat. Ya, keinginan dalam bentuk impian lalu mengkristal menjadi sebuah cita-cita telah diwujudkan dengan sebuah kesungguhan dan kegigihan yang tercermin melalui sebuah perjuangan yang luar biasa. Orang bijak juga pernah mengatakan, “di mana ada keinginan, maka di situ ada jalan”. Ungkapan itu juga telah terbukti lewat kisah tiga orang yang luar biasa tadi.

Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya saja lagi. Semua contoh dan bukti telah terkuak jelas di depan mata. Tidak ada salahnya untuk meniru sesuatu yang baik bukan? Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ketiga tokoh luar biasa itu, bahwa kesuksesan dan keberhasilan tidak akan terlepas dari sebuah mimpi, cita-cita dan perjuangan yang gigih. Keterbatasan dalam bentuk apapun tidak akan menghalangi untuk maju selagi kita masih mau dan bisa untuk berjuang.

Tahukah kawan mengapa orang-orang di belahan dunia barat sana lebih banyak meraih sukses? Jawabanya adalah semuanya berawal dari sebuah impian, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan dan tekad yang kuat untuk meraih impian itu. sebut saja dua bersaudara di Barat sana yang telah berhasil menemukan pesawat terbang meski belum sesempurna saat ini. Itu semua berawal dari sebuah impian untuk bisa terbang seperti burung di angkasa. Lalu mereka membuat sebuah pesawat luncur dan akhirnya terukirlah sejarah dengan ditemukannya pesawat terbang yang sampai saat ini masih bisa kita rasakan hasilnya. Dengan kenyataan seperti itu masihkah kita meragukan kekuatan sebuah mimpi dan cita-cita?

Kawan, impian merupakan bagian dari karunia Allah Swt yang patut kita syukuri. Melalui impian Allah ingin menuntun hamba-Nya untuk merangkak menuju tangga sukses. Namun, tidak semua hamba yang punya impian lalu serta-merta dia akan menuai kesuksesan. Hanya hamba yang mau bermimpi lalu berjuang dengan segenap daya dan upaya untuk meraih mimpinya itu yang akan merasakan manisnya madu kesuksesan. Karena antara impian dan perjuangan itu memiliki hubungan “berbanding lurus”. Semakin besar impian yang kita rajut, maka akan semakin besar perjungan yang harus kita lakukan.

Bermimpilah. Lalu berlari mengejar mimpi itu…!!!!! 

 





Pesisir Selatan, 10 Maret 2011, 14.25 WIB
*Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Jadikan “Dia” Seperti Segelas Air putih

Banyak cara dan gaya orang dalam mengekspresikan perasaan dan rasa cintanya. Ada yang berusaha menahan tanpa menjalin hubungan apa pun hingga waktunya tiba. Bagi mereka yang sudah cukup umur dan sudah mapan serta direstui orang tua akan merajut rasa cinta itu dalam bingkai pernikahan. Ada pula mereka yang memproyeksikan rasa cinta itu dengan sebuah hubungan pacaran. Untuk yang satu ini alasan mereka beragam, dan salah satu alasan mereka adalah untuk saling mengenal pasangan sebelum naik level ke hubungan yang lebih serius. 

Terlepas dari segala cara orang mengekspresikan rasa cintanya. Melalui sepenggal tulisan ini Aku hanya ingin mengingatkan kawan yang telah menjalin hubungan pacaran. Bukan sok suci atau pun sok bersih hanya mencoba mengingatkan sembari menasehati diri sendiri. Aku juga bukan orang yang menganjurkan untuk pacaran dan juga bukan termasuk orang yang melarang untuk pacaran. Tinggal bagaimana kawan menjalani dan menyikapi saja.

Jangan sampai kita merusak dan menodai kehormatan dan harga diri pasangan kita sendiri dengan dan dalam bentuk apapun. Ketika kita telah menjalin hubugan pacaran dengan orang yang kita cintai itu belum bisa menjamin kita akan menjadi pendamping─suami atau istri─ dia dalam sebuah ikatan suci yang diakui oleh syari’at. Tidak seorangpun bisa memastikan itu, karena itu bagian dari rahasia Tuhan. Karena kita selaku manusia hanya bisa berancana dan berusaha. Untuk perkara memutuskan itu kuasa Allah, Rabb yang Maha mebolak balikan hati manusia.

Cobalah kawan renungkan sejenak, apakah adil kiranya jika “pacar” kita itu ternyata bukan jodoh kita, namun kita telah menodai kehormatan dan harga dirinya. Mungkin hal itu hanya akan menimbulakan rasa bersalah baik untuk “dia” kepada jodohnya kelak, atau pun bagi kita kepada pasangan kita di kemudian hari. Jadi, sebelum semuanya benar-benar terlambat, mari kita jadikan “dia” bak segelas air putih. Segelas air putih yang akan kita minum.

Kawan, cobalah ambil segelas air putih lalu kawan perhatikan air itu. Segelas air putih akan terasa sejuk dan menyegarkan jika diminum di kala haus. Air putih akan menyehatkan jika belum terkontaminasi dengan zat dan benda yang lain. Kita tentu tidak mungkin juga mengotori segelas air putih tadi jika air itu akan kita minum.

Nah, begitu juga selayaknya kita meperlakukan pasangan kita jika telah terlanjur menjalin hubungan dalam bentuk pacaran. Kehadiran seorang kekasih hati dalam kehidupan meraka yang tengah di mabuk cinta tentu bak segelas air putih yang menyejukan ketika kita berada dalam balutan dahaga kerinduan. Akupun menyadari akan hal itu.

Coba kawan jawab pertanyaan ini dengan jujur dan setulus hati, apakah kawan mau mengotori segelas air putih yang sejatinya adalah jernih dan menyehatkan? Apakah kawan mau mengotori air yang akan kawan minum sendiri? Mangkin jawaban yang akan kawan berikan adalah “tidak”. Jika pertanyaan sedikit kita modifikasi seperti ini, jika pasangan yang tengah menjalin hubungan dengan anda adalah orang yang anda harapkan kelak akan menjadi pandamping anda di kala suka dan duka dalam sebuah ikatan suci pernikahan, layaknya segelas air putih tadi, apakah anda masih tega untuk mengotorinya? Untuk jawaban ini silahkan dijawab saja dalam hati masing-masing.

Layaknya segelas air putih tadi, begitu juga lah seharusnya kita memperlakukan wanita yang akan kita jadikan pendamping hidup kita kelak di kala suka dan duka. Jangan sampai kita rusak harga dirinya, padahal dia adalah orang yang kita harapkan jadi penyejuk dalam kehidupan kita kelak. Jika memang “dia” orangnya maka setelah ada ikatan suci kita juga akan dapatkan semuanya.

Tulisan ini hanya untuk mengngatkan diri penulis sendiri dan semoga saja bermanfaat untuk kita semua yang membaca sebagai bahan renungan. Tak usah lihat siapa yang menulis, namun lihatlah apa yang ditulis.


Padang 04 Maret 2011, 01: 05 am
*oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Mengapa Harus Menulis?

Mengapa harus menulis? Sebuah pertanyaan sederhana yang jika dilontarkan akan menimbulkan beragam jawaban. Karena sampai saat ini belum ada satu pun teori yang menjelaskan masalah ini secara jelas dan terperinci. Jawabanya masih berada pada tataran “relatif”, dengan kata lain tidak ada yang sama antara satu orang dengan yang lainnya.

Di suatu sore aku pernah berdiskusi dengan seorang guru yang sudah ku anggap seperti sahabat sendiri. Dengan beliau aku bisa dan sering berbagi tentang berbagai hal. Sore itu kami berbincang tentang apa saja yang terlintas dalam pikiran kami waktu itu, hingga akhirnya pembicaraan kami menyerempet ke arah bagaimana dan kenapa harus menulis. Aku pun tidak sadar kenapa pembicaraan kami sampai ke sana. Aku juga yakin kalau guru sekaligus sahabatku tadi juga tidak sadar akan hal itu. Yang kami tahu ketika itu kami telah membahas masalah itu.

Pada kesempatan itu aku sempat mengutarakan pertanyaan sederhana itu kepada guruku tadi. Lalu beliau menjawab, bahwa beliau menulis karena itu merupakan bagian dari hobi dan sudah berlangsung lama. Dengan menulis menurut beliau kita bisa berbagi dengan orang lain. Kemudian beliau menambahkan, jika kita berkata mungkin apa yang kita katakan hanya akan bertahan sebentar di memori pendengar, dan dengan menulis maka apa yang kita sampaikan akan membekas lama bagi mereka yang membaca. Kalaupun mereka lupa, maka mereka bisa melihat kembali apa yang kita tulis tanpa harus kembali bertemu kita. Aku sangat setuju dengan apa yang beliau katakan.

Di dalam kehidupan ini banyak kejadian yang unik terjadi. Lakon kehidupan juga menyajikan banyak pelajaran. Orang yang beruntung adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran tersebut lalu berusaha membaginya dengan orang lain yang berada di sekitarnya. Dan menulis adalah salah satu cara kita dalam berbagi pengalaman hidup dengan orang lain.

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja aku kenal lewat dunia maya, juga pernah berujar tentang mengapa dia menulis. Teman duniamayaku ini telah lama bergelu dalam dunia tulis-menulis. Menurutnya salah satu alasan dia menulis adalah untuk anak cucunya kelak. Dia tidak takut kalau tulisannya tidak dimuat di media . Dia juga tidak terlau risau jika tulisannya tidak dibaca orang lain. salah satu alasan yang membuat ia menulis benar-benar hanya untuk memberikan oleh-oleh kepada anak cucunya. Sederhana bukan? Lagi-lagi aku terkesima dengan alasanya yang sederhana itu. Membuat aku semakin salut saja dengan dia, sesosok pria yang aku panggil “abang” itu.

Dua temanku itu merupakan bagian dari mereka yang memberikan pendapat kenapa mereka menulis. Dan mungkin banyak lagi alasan lain kenapa orang mau untuk menulis. Dan bagi aku sendiri menulis itu adalah sarana pembebasan jiwa. Dengan menulis kita bisa mengespresikan dan menuangkan ide-ide dari kepala kita untuk orang lain. Kalaupun tulisan kita dimuat di media atau dibukukan, biarlah itu hanya menjadi bonus dari keinginan yang tulus untuk berbagi melalui tulisan, buan merupakan tujuan utama.

Lalu apa manfaat dari menulis? Jawaban terbaik yang bisa aku berikan adalah “banyak”, banyak hal yang akan kita dapatkan dari menulis. Kita bisa menambah wawasan dengan menulis. Dengan kata lain orang yang mau menulis wawasannya akan luas karena ia akan membaca dan selalu membaca untuk memperkaya inspirasinya. Baik membaca buku, membaca artikel, membaca tulisan-tulisan orang lain ataupun membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terlukis dalam kehidupan sehari-hari manusia. Tidak mungkin kiranya seseorang itu akan bisa mnulis tanpa pernah membaca.

Dengan menulis kita bisa membebaskan angan dan pikiran. Melalui menulis kita bisa menumpahkan apa saja yang menganjal di hati. Dalam menulis kita tidak akan terikat oleh suatu apapun sehingga kita bebas berekspresi dan berimajinasi sesuai keinginan dan kebutuhan kita. Terlebih jika kita menulis sebuah tulisan fiksi, maka hal itu akan membuat imajinasi kita hidup dan berkembang.

Kawan, menulis juga akan membuat kita terkenal. Orang akan bisa menganal kita melalui tulisan-tulisan kita, jika kita mau mepuplikasikan tulisan tersebut di media. Semakin banyak kita menulis maka semakin besar peluang kita untuk dikenal oleh orang lain. Namun, tentu tidak semua tulisan yang akan dimuat oleh media, pasti mereka akan memilih tulisan yang bagus dan layak untuk diterbitkan. Jadi, adalah penting buat kita mengasah kemampuan menulis kita, agar tulisan kita bisa dimuat di media. Dan salah satu cara terbaik mengasah kemampuan menulis adalah dengan terus dan terus menulis. Tunggu apa lagi, mari menulis. Kita tidak akan bisa jika kita belum mencoba.

Banyak orang mengatakan dengan menulis kita juga kan bisa meraup rupiah. Namun aku sendiri belum pernah merasakan hal itu. Karena memang aku baru saja belajar menulis. Dan tulisanku juga masih jauh dari kata “bagus”. Bagiku saat ini tidak terlau penting untuk mengharapkan lembaran upiah dari menulis. Aku juga tidak berharap orang berubah setelah membaca tulisanku, bagiku sebagai penulis pemula, orang mau membaca tulisan aku saja itu sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, aku sangat percaya dan yakin dengan pernyataan orang tenta menulis bisa mengahasilkan uang. Bagaimana tidak, jika kita sering mengirim tulisan ke media maka secara otomatis kita akan mendapatkan “honor” dari tulisan kita yang dimuat itu. Semkin banyak tulisan kita yang dimuat maka akan semakin banyak juga lembaran rupiah mengalir ke tangan kita.

Dan banyak lagi manfaat yang akan bisa kita tuai dari menulis ini. Buat aku pribadi, manfaat yang paling aku rasakan dari menulis adalah meningkatkan minat baca. Karena sumber utama inspirasiku dalam menulis adalah melalui membaca. Jika saja aku kurang membaca, maka aku akan sulit menulis dan aliran kata itu akan mampet di pikiranku, tidak bisa mengalir dengan baik. Sehingga aku sulit menuangkan ide yang ada di pikiranku ke atas lembaran-lembaran kertas. Meskipun banyak manfaat dari menulis, jika kita tidak maumencoba dan memulainya maka manfaat yang telah kita sebutkan tadi tentu tidak akan pernah kita rasakan.

Kawan, cobalah lihat dengan jujur realita kehidupan yang ada saat ini. Bangsa kita semakin hari semakin kehilangan generasi yang suka membaca. Apa lagi generasi yang mau menulis, sangat kurang sekali. Karena memang menulis hanya bisa dilakukan dengan banyak membaca tulisan orang lain. tidak mungkin rasanya orang bisa menulis dengan baik dan benar tanpa pernah membaca. Kalau pun ada, mungkin sangat jarang sekali.

Kalau kita boleh sedikit beranalogi, membuat sebuah perumpamaan, maka menulis itu bisa kita ibaratkan dengan “muntah”. Memuntahkan ide-ide yang telah kita dapatkan dengan banyak “memakan” alias membaca tulisan orang lain. Tidak mungkin kita bisa muntah tanpa pernah makan. Nah, membaca adalah proses “makannya” orang yang akan bisa “memuntahkan” ide-idenya dalam bentuk tulisan. Mari membaca untuk bisa menulis.

Sebenarnya di dunia ini terdapat banyak seniman, dan penulis adalah salah satu bagian dari seniman itu. Jika pelukis berkarya dengan kuas dan cat serta kavasnya, pemusik adalah seniman yang berkarya dengan alat musiknya, pematung menuangkan seni melalui pahat dan kayu, maka penulis adalah seniman yang berkarya melalui rankaian kata yang ditorehkan di atas lebaran-lembaran kertas.

Jika kawan bertanya siapa aku. Maka jawabanya, aku adalah orang yang baru saja mau dan masih belajar menulis, setelah sekian lama tenggelam dalam angan-angan untuk bisa mulai menulis. Aku bukan orang hebat dan juga bukan orang ahli dalam bidang ini. Sebenarnya ketika aku menulis tulisan ini aku sangat risih, karena aku sendiri masih awam dalam masalah tulis-menulis. Namun aku harus menulis tulisan ini, karena keinginan itu begitu kuat menghentak-hentak dalam benakku, hingga aku beranikan juga diri menulis tulisan ini. Semoga saja ulisan ini bisa bermanfaat.

Jadi, mari membaca lalu menulis,..!!


Padang, 04 Maret 2011, 09:23 am
*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Inikah Cinta

Dia datang begitu saja
Tak pernah memberi kabar dan berita
Datangnya bak setetes cahaya
Menerangi segumpal hati
Yang telah kelam oleh balutan kesepian dan kegundahan

Ketika dia menghampiri hati ini
Dunia serasa berputar pelan
Indah dan memberikan harapan
Indah dan bahagia, hanya itu yang terasa

Saat dia datang
Anginpun berhembus tenang
Menerpa relung hati yang sedang gundah
Membawakan seuntai harapan
Menghantarkan berjuta keping kasih dan sayang

Kedatanganya telah membuat duniaku terasa indah dan begitu lapang
Tak ada lagi lara
Tak ada lagi tangisan duka
Yang tersisa hanya guratan senyum bahagia

Oh cinta
Inikah yang disebut cinta
Aku tak tahu
Yang ku tahu
Hanya itu
Ya, begitulah cinta yang Aku tahu



Padang, 01 Maret 2011, 04:26 pm
*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Hidup Dengan Bumbu Sukses dan Kegagalan

Kitika kita hidup di dunia ini, kita selalu dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatu itu diciptakan kebanyakan berpasang-pasang.ada yang tinggi dan ada yang rendah. Ketika ada pendakian, juga akan diikuti dengan penurunan. Kesusahan akan selalu disandingkan dengan kemudahan. Keindahan berpasangan dengan kejelekan. Adanya yang kaya juga membuat adanya yang miskin. Dan keadaan perpasangan yang lainnya. Semua telah diatur begitu indah oleh Yang Maha Kuasa dengan pasangannya masing-masing. 

Layaknya yang lain, adanya kesuksesan juga menghendaki adanya kegagalan. Karena memang itulah pasangannya. Kenyataan seperti itu juga sudah merupakan hukum alam yang akan selalu menghiasi alur kehidupan kita di hamparan bumi Allah yang indah ini. Kita tentu tidak mungkin mengecap manisnya madu kesuksesan tanpa tahu dahulu bagaiman pahitnya sebuah kegagalan.

Siapapun dia, saya, anda dan kita semua mungkin sudah sangat sering menemukan sebuah kenyataan yang sering disebut dengan istilah “kegagalan dan kesuksesan”. Dari mana pun kita berasal, dengan kondisi dan latar belakang keluarga bagaimanapun, dan apapun suku dan bangsa kita, kita tidak akan mungkin terlepas dari dua kata yang saling berpasangan itu. Suka ataupun tidak, rala atau terpaksa, kesuksesan dan kegagalan akan tetap menghampiri hidup kita. Mungkin saja intensitas dan kualitasnya saja yang akan berbeda-beda antara kita dan orang lain.

Kadang kita hanya suka dengan yang namanya “kesuksesan” saja tanpa mau menerima “kegagalan”. Jangankan untuk menerima lalu mersakan, bahkan untuk mendengar dan membicarakan kegagalan saja kita enggan. Kita terlalu takut dengan hadirnya kegagalan dalam hidup kita ini. Seolah kata kegagalan itu adalah momok paling yang menakutkan dalam hidup kita. Sehingga sering kali hal itu membuat kita lupa bahwa sebuah kesuksesan tidak akan serta-merta diraih tanpa hadirnya sebuah kenyataan pahit “kegagalan”. Sejatinya dari kegagalanlah kita tahu apa itu kesuksesan dan keberhasilan.

Memang sebagian besar jiwa manusia tidak suka akan hadirnya kegagalan, jiwa kita lebih cendrung kepada kesuksean saja. Karena memang begitulah sifat dasar manusia, maunya enak saja. Kita selalu berharap dalam setiap usaha yang kita lakoni dalam setiap babak kehidupan ini selalu dihiasi dengan kesuksesan, namun kenyataan seperti itu tidak pernah selalu terjadi. Tidak ada orang yang dalam hidupnya meraih seratus persen sukses, tatap saja ada kegagalan yang mengikuti gerak langkah hidupnya. Kita harus menyadari bahwa tidak semua akhir dari sebuah usaha adalah sukses, dan juga tidak akan selalu gagal. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan selau terjadi silih berganti dalam kehidupan insan di dunia ini.

Jika kita kembali menilik sejarah,memperhatikan perjalanan hidup orang-orang terdahulu yang sukses, yang telah memberikan kehidupan nan begitu indah kepada kita saat ini melalui kesuksesan yang diraihnya, maka kita akan banyak menemukan catatan-catatan kegagalan yang menemui setiap derap langkah perjuangan mereka, hingga akhirnya manisnya madu kesuksesan dapat direguknya dan diwariskannya kepada kita saat ini. kita jangan mengira bahwa kesuksesan yang mnereka raih itu adalah tanpa melalui kegagalan terlebih dahulu. Mereka yang sukses itu adalah mereka yang sudah kenyang dengan yang namanya kegagalan.

Sebut saja seorang fisikawan besar abad dua puluh, Albert Einsten yang telah puas dengan bumbu kegagalan dalam hidupnya. Ia pernah berkata tentang kegigihan dan ketekunan kerja yang ia jalani sepanjang karirnya. Einsten mengatakan, “ saya berfikir terus menerus, berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun . Sembilan puluh Sembilan dari kesimpulan saya adalah keliru. Namun kesimpulan saya yang keseratus saya berhasil dan sukses”.

Pernyataan Albert Einsten tadi telah menjelaskan secara gamblang kepada kita bahwa dalam sejarah panjang kehidupan seorang ilmuan besar seperti dirinya lebih banyak didominasi oleh kegagalan sebelum akhirnya ia berhasil meraih sukses yang telah berhasil membuat namanya dikenang sampai saat ini.

Belum lagi Thomas Alfa Edison, seorang ilmuan yang telah berhasil menemukan bola lampu pijar dan telah memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Pria ini juga tidak kalah dengan Albert Einsten dalam merasakan yang namanya kegagalan. Namun ia tidak patah arang dan berhenti melakukan penelitian dan percobaan. Ia juga pernah berkata, “Saya percaya, hidup merupakan sebuah perjuangan. Kegagalan adalah suatu jalan menuju pintu kesuksesan. Kita bisa belajar dari kegagalan”. Thomas Alfa Edison menemukan ribuan cara agar lampu tidak dapat menyala karena ia gagal beribu-ribu kali pula.

Jadi jelas, bahwa kesuksesan yang mereka perolah bukanlah hasil kerja kemaren sore. Itu semua mereka dapatkan dengan usaha yang luar biasa dan pengalaman kegagalan yang mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya. Bahkan nabi Muhammad Saw, orang yang begitu suci dan telah dijamin oleh Allah kehidupannya juga pernah mengecap yang namanya gagal. Beliau pernah gagal dalam beberapa perperangan yang terjadi, sebelum sukses dengan gilang gemilang dalam menaklukan kota Makah. Gagal dan sukses akan menghampiri siapa pun. Dia datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu dan melihat status sosial mereka.

Kita juga tidak bisa pungkiri bahwa sukses dan gagal yang hadir dalam kehidupan kita juga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh seberapa gigih serta giatnya kita bekerja dan berusaha. Mereka yang giat dan gigih dalam berusaha akan lebih berpeluang banyak memperoleh kesuksesan. Dan sebaliknya, bagi mereka yang lebih banyak malas dalam berusaha, maka akan berpeluang mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya. Kalau ia jadi siswa, ia akan jadi siswa yang gagal. Jika ia jadi mahasiswa, maka ia akan jadi mahasiswa yang gagal. Seandainya ia jadi pengusaha, maka ia juga akan jadi pengusaha yang gagal. Mungkin saja kalau ia berkeluarga, maka ia akan jadi suami, istri, ayah atau ibu yang gagal pula. Yang jelas bagi mereka yang malas sejarah hidupnya akan lebih banyak diwarnai oleh tinta “kegagalan”.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditentukan dengan uang atau materi. Memang secara teori , mereka yang kaya akan berpeluang untuk meraih sukses yang lebih banyak ketimbang mereka yang miskin. Namun pada kenyataannya dalam realita kehidupan tidak selalu demikian. Tidak selamanya orang kaya yang bergelimang materi itu selalu sukses. Dan juga tidak selamanya mereka yang kurang beruntung alias miskin selalu memperoleh kegagalan. Allah Yang Maha Kuasa akan memberikan sukses dan gagal itu kepada hambanya secara adil sesuai dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seorang hamba.

Sukses dan gagal tidak bisa diukur dengan uang dan materi saja. Sukses dan gagal itu mencakup semua hal. Betapa tidak, berapa banyak kita lihat mereka yang kaya dan berlimpah materi yang selalu bergelut kemewahan, namun kehidupan keluarganya kacau dan berantakan. Berapa banyak pula mereka yang berasal dari keluarga miskin dan hidup prihatin berhasil jadi pemimpin, penjabat, tokoh masyarakat, dan pengusaha yang sukses. Satu pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari sini, bahwa sukses dan gagal itu akan hadir menghampiri semua orang, apapun latar belakang kehidupan mereka.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditunjukan dengan hanya melihat dari satu sisi kehidupan saja. Boleh jadi seseorang itu gagal di satu sisi dan meraih sukses di sisi yang lain. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan terus terjadi dalam kehidupan kita sesuai dengan tingkat usaha yang kita lakukan.

Antara kesuksesan dan kegagalan ibarat dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dalam hidup kita. Jadi kita tidak usah terlalu takut dalam menghadapi kegagalan. Yang lebih penting dan yang harus kita tahu adalah bagaimana cara menghadapi, menerima serta menyikapi sebuah kegagalan. Agar kita bisa belalajar dari pahitnya kegagalan, lalu mereguk manisnya madu kesuksesan dengan belajar dari pengalaman kegagalan yang harus kita sikapi dengan cerdas dan dewasa.

Lalu bagai mana dengan kesuksesan? Kesuksesan juga bukan barang langka yang sulit kita rasakan dalam kehidupan kita. Selagi kita mau berusaha, maka harapan untuk sukses itu masih tetap ada. Kadang kawan, menyikapi sebuah kesuksesan itu jauh lebih sulit ketimbang meraihnya. Betapa banyak orang yang salah dan keliru dalam menyikapai kesuksesannya. Mereka gelap mata lalu sombong dan lupa bersyukur dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Seolah mereka lupa siapa yang memberikan kesuksesan itu kapada mereka. Jadi, layaknya kegagalan, kita juga harus bisa menyikapi kesuksesan dengan baik dan sesuai sehingga kesuksesan di dunia akan bisa menghantarkan kita kepada kebahagiaan di akhirat kelak.



*Oleh: Heru Perdana P.

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers