Perbedaan Itu Indah

Perbedaan itu rahmat,.!!!

Ungkapan singkat namun sarat makna di atas tidak hanya sekedar ungkapan saja, akan tetapi lebih kepada janji Allah terhadap kita, jika kita mampu menyikapi perbedaan yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini dengan baik. Memang menyikapi dan menerima perbedaan itu kadang terasa sulit. Bahkan tidak sedikit juga di antara kita yang gagal dalam menyikapinya. Keyataan seperti itu tidak bisa kita pungkiri.

Kawan, coba mari kita buka mata lalu llihatlah sekeliling kita. Betapa indahnya hidup dan dunia ini dengan segala perbedaannya. Warna-warni bunga dan tanaman, aneka jenis satwa dengan segala keunikannya dan segala keragaman lain yang menambah indah dan menariknya hidup kita di dunia ini. Coba kawan bayangkan, jika saja di dunia ini kita hidup hanya dengan warna hitam atau putih saja tentu hidup ini terasa bosan dan menjemukan. Tanpa ada warna-warni linkungan tentu kita tidak akan bisa menikmati kehidupan seindah saat sekarang ini.

Nah, begitu juga sebenarnya dengan rona kehidupan manusia. Setiap insan di dunia ini selalu saja dihadapkan pada berbagai macam perbedaan dan warna-warni permaslahan hidup. bagaimanapun juga kita tidak akan mungkin terlepas dari kenyaatan seperti ini. Namun sayang, tidak semua orang yang berhasil menyikapi perbedaan ini dengan arif dan bijak. Kadang keegoisan manusialah yang membuat mereka menutup mata dengan indahnya perbedaan itu yang nyata-nyata hanya mengahantarkan mereka ke dalam jurang permasalahan. Akhirnya mereka sendiri yang tersiksa karena tidak mampu menikmati indahnya perbedaan.

Ironisnya lagi, segala bentuk kekerasan dan perpecahan yang terjadi dewasa ini merupakan wujud dari kegagalan dan keegoismean manusia dalam menyikapi perbedaan. Berbagai macam tindak kriminalitas dan kejahatan dimulai hanya karena alasan perbedaan. Apakah itu perbedan budaya, ras, bahasa, agama, tingkat ekonomi, prinsip, pandangan hidup, atau hanya sekedar pendapat. Dan tidak jarang juga berbagai bentuk kegagalan dalam menyikapi perbedaan ini berujung pada hilangnya nyawa seseorang atau sekelompok orang. Tragis bukan,.???

Perbedaan sangat sulit dihilangkan dari permukaan bumi ini, dan bahkan mungkin tidak akan mungkin diwujudkan. Pada dasarnya manusia ini terlahir sudah berbeda antara satu dan yang lainnya lengkap dengan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan bentuk fisik, warna kulit, pola pikir, hobi,kesukaan dan perbedaan lainnya. Allah punya rencana besar dengan penciptaan itu, agar kita bisa berfikir dan kehidupan kita bisa lebih hidup dan berwarna. Bukan malah menjadikankan perbedaan sebagai ajang perpecahan dan pertikaian.

Ketahuilah wahai kawan, tidak mungkin sesuatu hal di dunia ini sama. Dan kesamaanpun tidak selalu menguntungkan. Coba kawan bayangkan, jika saja didunia ini semua orang sama, apa yang akan terjadi? Jika semua orang adalah pedagang, lalu siapa yang akan membeli dagangannya? Jika semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam hal memimpin, maka siapa lagi yang akan dipimpin? Jika semua orang kaya di dunia ini, siapa lagi yang akan menerima zakat dan sedekah? Lalu siapa lagi yang akan bekerja jadi karyawan, jika semua orang ditakdirkan kaya dan punya modal? Inilah contoh kecil dari rencana besar Allah dalam menciptakan hidup kita dalam balutan perbedaan. Sekarang tergantung lagi bagaimana kita meneriman dan menyikapi perbedaan itu. jika kita mampu dengan baik menyikapinya, maka raahmat dan keberkahan hidup yang dijanjikan Allah akan bisa kita dapatkan.

Bahkan, tanpa kawan sadari kegiatan ekonomi yang terjadi di dunia ini juga diawali oleh “pebedaan”. Apakah kegiatan ekonomi yang melibatkan individu dengan individu, individu dengan kelompok atau perusahan, kelompok dengan kelompok, dan Negara dengan individu atau kelompok. Semua berawal dari adanya pihak yang membutuhkan dan pihak yang memiliki kelebihan sehingga terjadilah transaksi jual beli atau hanya sekedar pinjam meminjam. Sungguh indah bukan “perbedaan” jika kita sikapi dengan baik?

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita teguk dari manisnya madu perbedaan. Karena perbedaan tidak mungkin kita hilangkan dan kita hindarkan, maka adalah penting bagi kita menata hati dan pikiran dalam menyikapi perbedaan itu. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan agar perbedaan itu betul-betul menjadi rahmat dalam kehidupan kita.

Kita harus merubah cara pandang kita terhadap perbedaan. Kita harus bisa menerima perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan hidup. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Kita harus bisa mengelola perbedaan dengan baik. Musyawarah dan mufakat adalah salah satu cara mewujutkan itu semua. Tidak meremehkan orang lain dalam bentuk apapun juga merupakan cara cerdas dalam menyikapi perbedaan di tengah derasnya gejolak egoisme kita sebagai manusia. Mengkoreksi diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain juga merupakan jalan terbaik menyikapi perbedaan. Yang jelas banyak cara dan jalan buat kita untuk merubah perbedaan menjadi rahmat dan anugrah. Sekaang tergantung kita mau atau tidak melakukannya.

*Oleh: Heru Perdana
Padang, 26 Maret 2011, 12.55 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Bermimpilah, Lalu Perjuangkan Mimpi Itu

Memiliki sebuah impian dalam kehidupan ini mutlak adanya. Jika kehidupan ini kita ibaratkan dengan sebuah proses pelayaran mengarungi samudra kehidupan, maka impian adalah kompas yang akan berfungsi sebagai petunjuk arah agar kita tidak tersesat dan tidak terombang-ambing oleh badai permasalahan. Dengan impian seseorang akan terdorong memiliki cita-cita. Orang yang tidak memiliki cita-cita kehidupannya akan hambar, tidak terarah, dan apa adanya seolah pasrah saja kepada nasib. Tentu saja kehidupan seperti ini akan terasa sepi dan menjemukan.

Dulu aku adalah seorang manusia yang terjebak dalam kehidupan seperti itu. Dulu bagiku biarkan saja hidup ini mengalir bagaikan air. Aku tinggal mengikutinya saja ke mana arus akan bawa arah kehidupanku. Akhirnya seiring berjalannya waktu, aku menyadari kekeliruan prinsip hidupku ini, dan aku sendiri yang membantahnya. Betapa bodohnya aku ketika itu dengan memegang prinsip yang lebih tepat disebut dengan sebuah bentuk kepasrahan yang tidak berdasar.

Sejatinya bukan nasiblah yang menentukan arah kehidupan kita, tapi kitalah yang menentukan sendiri arah kehidupan kita melalui sebuah impian dan cita-cita. Pilihan itu ada di tangan kita, kawan. Inilah sebuah prinsip yang aku yakini saat ini, dan membuatku harus menata ulang impianku. Aku menulis ini juga karena menyadari betul pentingnya sebuah impian dalam hidup kita. Jangan pasrahkan kehidupan kita ini kepada nasib. Memang nasib merupakan bagian dari takdir Tuhan, namun bukan berarti nasib tidak bisa diubah dengan sebuah impian melalui sebuah tekad dan perjuangan. Diubah dengan sebuah tekad untuk kehidupan yang lebih baik lalu diwujudkan dengan perjuangan yang terencana dengan matang melalui sebuah impian dan cita-cita.

Tahukah kawan bahwa impian itu akan mendorong kita untuk berusaha dan berjuang? Dengan imian saya, anda dan kita semua akan terdorong untuk berjuang dan berusah mewujudkan mimpi-mimpi kita sehingga lahirlah prestasi-prestasi yang membanggakan dan dicatat oleh sejarah. Minimal sejarah keluarga yang nantinya bisa dikenang oleh anak cucu kita.

Berikut ini ada penggalan cerita tentang beberapa orang yang telah berhasil menata impian-impiannya dengan baik yang telah mengkristal menjadi sebuah cita-cita, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan yang patut diacungi jempol dan diteladani. Kita selayaknya menjadikan semangat dan tekad mereka untuk mewujudkan impiannya itu sebagai cambuk pelecut semangat kita untuk meraih sukses. Mereka yang akan aku ceritakan ini bukanlah mereka yang memiliki kesempurnaan fisik seperti kita. Aku sebelumnya mendengar cerita yang mengakumkan ini langsung dari penuturan mereka dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta beberapa hari yang lalu.

Bapak Tolhas Damanik, begitu nama beliau tertulis di layar televisi. Pria yang mengagumkan ini telah menderita kebutaan sejak kecil disebabkan oleh suatu penyakit yang dideritanya. Di usianya yang masih belia, beliau tidak lagi dapat menikmati indahnya pemandangan bumi Allah ini. Pada saat itu dunianya memang telah gelap, namun pancaran semangat telah berpijar dalam dirinya. Dengan semangat itu beliau merajut sebuah impian untuk sukses. Semangat telah jadi mata dalam kehidupannya.

Pria yang memiliki kekurangan dalam hal melihat itu telah mengantungkn impian yang tinggi. Lalu impin itu diwujudkan dengan sebuah usaha yang sangat luar biasa. Beliau memulai perjuangnnya dengan menempuh jejang pendidikan dari mulai TK, lalu lanjut ke SD dan sterusnya di pulau Bangka sana. Yang lebih megagumkan lagi semua jenjang pendidikan yang beliau tempuh itu adalah di sekolah biasa, bukan di sekolah luar biasa seperti kebanyakan anak-anak berkebutuhan khusus lainya. Karena memang hanya sekolah seperti itu yang ada di sana waktu itu.

Pria luar biasa yang sangat mencintai pendidikan ini telah meraih gelar Master di OHIO University di Amerika. Kesempatan kuliah di OHIO University beliau peroleh dari jalur seleksi dan kompetisi tanpa ada perlakuan khusus yang diterimanya dari panitia penyelenggara. Beliau juga mengatakan bahwa satu-satunya yang membedakan beliau dengan yang peserta lain hanya ketika presentasi karya tulis yang mereka buat saja. Di mana peserta ujian yang lain ketika masuk ruang ujian membawa tumpukan buku yang banyak, sementra beliau tidak membawa buku satu pun.

Selama kuliah, beliau menjalani hari-harinya sendiri di Amerika. Kita tentu bisa bayangkan bagaimana sulitnya beliau yang memiliki kekurangan dalam melihat itu dalam mengrus diri dan kebutuhan beliau di negeri orang sana. Tapi itu semua tidak beliau pedulikan, keinginan untuk sukses telah mengalahkan itu semua. Di sana beliau juga diperlakukan dengan baik oleh staf pengajarnya melebihi perlakuan yang beliau dapat ketika kuliah di Indonesia dulu. Akhirnya beliau bisa menyelesaikan pendidikannya di Amerika selama 2,5 tahun dengan IPK 3,9. Sebuah prestasi yang sangat luar biasa dan telah membuat aku berdecak kagum dengan prestasi beliau itu. Semoga saja aku dan kawan-kawan semua bisa meneladani jejak perjuangan beliau itu.

Narasumber selanjutnya yang berkisah di acara tersebut adalah bapak DR.Saharudin Daming. Cerita pria yang juga tunanetra ini tidak jauh berbeda dengan kisah hidup bapak Tolahas Damanik. Hanya saja bedanya beliau mengalami kebutaan pada usia lima belas tahun. Jadi beliau sedikit lebih beruntung ketimbang bapak Tolahas. Ketika kebutaan telah menghingapinya dan dunia telah gelap gulita, tidak lantas membuat beliau patah arang dan menyerah kepada nasib.

Pria yang telah menyandang satus yatim semenjak umur enam tahun ini, tidak menyerah begitu saja pada nasib. Impian dan cita-cita yang telah dirajutnya sejak kecillah yang telah membakar semangatnya untuk tetap berjuang mengapai cita-cita dan impinnya itu di tengah keterbatasan penglihatan yang telah menyelimutinya. Ketika semangat telah jadi mata, maka kekurangan tidak lagi jadi masalah dalam mengapai cita-cita. Perlu kawan ketahui bahwa bapak DR.Saharudin Daming ini merupakan penyandang tunanetra pertama yang meraih gelar doktor di bidang hukum di Indonesia.

Ada cerita menarik tentang beliau dalam mengapai prestasi yang sangat membanggakan itu. Sebuah torehan prestasi yang belum tentu bisa kita dapatkan meski dalam keadaan berkecukupan. Beliau sempat ditolak masuk sebuah SMA ketika beliau ingin melanjutkan studinya. Namun, beliau tidak patah semangat dan terus memperjuangkan impian dan cita-citanya dengan menemui langsung kepla sekolah SMA tersebut,lalu beliau bertanya, “Pak, kenapa saya tidak diterima belajar di SMA ini?”. Kepala sekolah itu menjawab, “Kamu kan tunanetra, sebaiknya kamu cari saja sekolah luar biasa agar kamu bisa belajar dengan baik sesuai kebutuhanmu”. Lalu beliau menjawab,”apakah bapak tidak keliru berkata seperti itu? Logikanya, jika saya harus sekolah di SD luarbiasa, SMP luar biasa, dan SMA luar biasa juga, lalu setelah tamat harus melanjutkan kuliah di perguruan tinggi luar bisa lagi, kemudian jika tamat berarti saya harus kerja di lapangan kerja luar biasa juga dong? Apa pemerintah siap dengan semua ini? Lalu di mana letaknya keadilan?”. Kepala sekolah tidak punya alasan lagi untuk menolak beliau dan harus meluluskannya untuk sekolah di SMA itu.

Perjuangan beliau untuk tetap melanjutkan pendidiknnya tidak berakhir sampai di situ saja. Ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggipun beliau masih tetap tidak diterima. Beliau ditolak oleh kabag akademik waktu itu. ketika sang Kabag itu tahu bahwa yang mendaftar adalah seorang tunanetra lalu ia berkat, “sebaiknya kamu ikut kursus pijat saja ketimbang uliah di kampus ini”. Sebuah penolakan keras dan menyayat hati mereka yang haus ilmu telah beliau terima.

Ditolak seperti itu, beliau tidak langsung putus asa. Beliau segera menemui rector universitas tersebut. Ternyata di sana beliau diterima dengan bi oleh sang rektor. Setelah menceritakan semuanya, lalu rektor menelpon Kabag akademik tadi dan meminta agar DR.Saharudin Daming diluluskan. Begitulah lika-liku perjuangan yang telah beliau lalui untuk mengapai impian dan cita-citanya, hingga akhirnya beliau memperoleh gelar doktor dan sekarang bekerja di KOMNASHAM.

Cerita selanjutnya adalah tentang seorang wanita muda bernama Mimi yang juga tunanetra. Wnita pecinta ilmu pengetahuan ini adalah seorang yang memiliki impian dan cita-cita yang sangat tinggi dan mempunyai tekad yang kuat untuk memperjuangkan impiannya. Hingga beliau bisa melanjutkan pendidikannya dan mengambil program doktor di Belanda setelah sebelumnya menamatkan program masternya di Inggris. Luar biasa bukan? Hanya semangat dan cita-cita yang tinggi yang membuat seorang Mimi bisa meraih itu semuanya.

Kawan, dara yang menamatkan S1nya di Univesitas Indonesia itu mengalmi kebutaan semenjak berumur tujuh belas tahun. Akan tetapi, musibah itu tidak membuatnya surut belajar dan berjuang mengejar impianya. Berbagai cara dilakukan Mimi untuk mewujudkan impianya. Keterbatasan yang dialaminya membuat ia harus berkeliling dari satu saudara ke saudara yang lain, dari satu teman ke teman yang lain untuk mencari dan meminta bantuan mereka untuk membacakan buku-buku pelajaran, lalu direkam. Dengan rekaman itulah sehari-hari Mimi belajar untuk mengapai cita-citanya. Sampai kuliahpun metode ini masih tetap beliau pakai. Hingga akhirnya beliau telah menjadi dosen di UI dan beberapa perguruan tingi lain di pulau Jawa.

Melihat tayangan dan mendengar penuturan serta cerita dari beberapa orang tokoh yang dibalut kekurangan namun memiliki impian dan cita-cita besar itu membuat aku terkagum-kagum dan iri. Cerita mereka seolah telah “menampar” dan menyindirku, orang yang memiliki impian, akan tetapi masih masih kurang dalam memperjuangkan impiannya sendiri. Sering kali impian dan cita-citaku dikalahkan oleh kemalasanku sendiri.

Tiga tokoh yang aku ceritakan di atas telah membuktikan kebenaran sebuah ungkapan “man jadda wa jadda”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapat. Ya, keinginan dalam bentuk impian lalu mengkristal menjadi sebuah cita-cita telah diwujudkan dengan sebuah kesungguhan dan kegigihan yang tercermin melalui sebuah perjuangan yang luar biasa. Orang bijak juga pernah mengatakan, “di mana ada keinginan, maka di situ ada jalan”. Ungkapan itu juga telah terbukti lewat kisah tiga orang yang luar biasa tadi.

Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya saja lagi. Semua contoh dan bukti telah terkuak jelas di depan mata. Tidak ada salahnya untuk meniru sesuatu yang baik bukan? Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ketiga tokoh luar biasa itu, bahwa kesuksesan dan keberhasilan tidak akan terlepas dari sebuah mimpi, cita-cita dan perjuangan yang gigih. Keterbatasan dalam bentuk apapun tidak akan menghalangi untuk maju selagi kita masih mau dan bisa untuk berjuang.

Tahukah kawan mengapa orang-orang di belahan dunia barat sana lebih banyak meraih sukses? Jawabanya adalah semuanya berawal dari sebuah impian, lalu diwujudkan dengan sebuah perjuangan dan tekad yang kuat untuk meraih impian itu. sebut saja dua bersaudara di Barat sana yang telah berhasil menemukan pesawat terbang meski belum sesempurna saat ini. Itu semua berawal dari sebuah impian untuk bisa terbang seperti burung di angkasa. Lalu mereka membuat sebuah pesawat luncur dan akhirnya terukirlah sejarah dengan ditemukannya pesawat terbang yang sampai saat ini masih bisa kita rasakan hasilnya. Dengan kenyataan seperti itu masihkah kita meragukan kekuatan sebuah mimpi dan cita-cita?

Kawan, impian merupakan bagian dari karunia Allah Swt yang patut kita syukuri. Melalui impian Allah ingin menuntun hamba-Nya untuk merangkak menuju tangga sukses. Namun, tidak semua hamba yang punya impian lalu serta-merta dia akan menuai kesuksesan. Hanya hamba yang mau bermimpi lalu berjuang dengan segenap daya dan upaya untuk meraih mimpinya itu yang akan merasakan manisnya madu kesuksesan. Karena antara impian dan perjuangan itu memiliki hubungan “berbanding lurus”. Semakin besar impian yang kita rajut, maka akan semakin besar perjungan yang harus kita lakukan.

Bermimpilah. Lalu berlari mengejar mimpi itu…!!!!! 

 





Pesisir Selatan, 10 Maret 2011, 14.25 WIB
*Oleh: Heru Perdana Putra

[ Selengkapnya...]
Label:

Jadikan “Dia” Seperti Segelas Air putih

Banyak cara dan gaya orang dalam mengekspresikan perasaan dan rasa cintanya. Ada yang berusaha menahan tanpa menjalin hubungan apa pun hingga waktunya tiba. Bagi mereka yang sudah cukup umur dan sudah mapan serta direstui orang tua akan merajut rasa cinta itu dalam bingkai pernikahan. Ada pula mereka yang memproyeksikan rasa cinta itu dengan sebuah hubungan pacaran. Untuk yang satu ini alasan mereka beragam, dan salah satu alasan mereka adalah untuk saling mengenal pasangan sebelum naik level ke hubungan yang lebih serius. 

Terlepas dari segala cara orang mengekspresikan rasa cintanya. Melalui sepenggal tulisan ini Aku hanya ingin mengingatkan kawan yang telah menjalin hubungan pacaran. Bukan sok suci atau pun sok bersih hanya mencoba mengingatkan sembari menasehati diri sendiri. Aku juga bukan orang yang menganjurkan untuk pacaran dan juga bukan termasuk orang yang melarang untuk pacaran. Tinggal bagaimana kawan menjalani dan menyikapi saja.

Jangan sampai kita merusak dan menodai kehormatan dan harga diri pasangan kita sendiri dengan dan dalam bentuk apapun. Ketika kita telah menjalin hubugan pacaran dengan orang yang kita cintai itu belum bisa menjamin kita akan menjadi pendamping─suami atau istri─ dia dalam sebuah ikatan suci yang diakui oleh syari’at. Tidak seorangpun bisa memastikan itu, karena itu bagian dari rahasia Tuhan. Karena kita selaku manusia hanya bisa berancana dan berusaha. Untuk perkara memutuskan itu kuasa Allah, Rabb yang Maha mebolak balikan hati manusia.

Cobalah kawan renungkan sejenak, apakah adil kiranya jika “pacar” kita itu ternyata bukan jodoh kita, namun kita telah menodai kehormatan dan harga dirinya. Mungkin hal itu hanya akan menimbulakan rasa bersalah baik untuk “dia” kepada jodohnya kelak, atau pun bagi kita kepada pasangan kita di kemudian hari. Jadi, sebelum semuanya benar-benar terlambat, mari kita jadikan “dia” bak segelas air putih. Segelas air putih yang akan kita minum.

Kawan, cobalah ambil segelas air putih lalu kawan perhatikan air itu. Segelas air putih akan terasa sejuk dan menyegarkan jika diminum di kala haus. Air putih akan menyehatkan jika belum terkontaminasi dengan zat dan benda yang lain. Kita tentu tidak mungkin juga mengotori segelas air putih tadi jika air itu akan kita minum.

Nah, begitu juga selayaknya kita meperlakukan pasangan kita jika telah terlanjur menjalin hubungan dalam bentuk pacaran. Kehadiran seorang kekasih hati dalam kehidupan meraka yang tengah di mabuk cinta tentu bak segelas air putih yang menyejukan ketika kita berada dalam balutan dahaga kerinduan. Akupun menyadari akan hal itu.

Coba kawan jawab pertanyaan ini dengan jujur dan setulus hati, apakah kawan mau mengotori segelas air putih yang sejatinya adalah jernih dan menyehatkan? Apakah kawan mau mengotori air yang akan kawan minum sendiri? Mangkin jawaban yang akan kawan berikan adalah “tidak”. Jika pertanyaan sedikit kita modifikasi seperti ini, jika pasangan yang tengah menjalin hubungan dengan anda adalah orang yang anda harapkan kelak akan menjadi pandamping anda di kala suka dan duka dalam sebuah ikatan suci pernikahan, layaknya segelas air putih tadi, apakah anda masih tega untuk mengotorinya? Untuk jawaban ini silahkan dijawab saja dalam hati masing-masing.

Layaknya segelas air putih tadi, begitu juga lah seharusnya kita memperlakukan wanita yang akan kita jadikan pendamping hidup kita kelak di kala suka dan duka. Jangan sampai kita rusak harga dirinya, padahal dia adalah orang yang kita harapkan jadi penyejuk dalam kehidupan kita kelak. Jika memang “dia” orangnya maka setelah ada ikatan suci kita juga akan dapatkan semuanya.

Tulisan ini hanya untuk mengngatkan diri penulis sendiri dan semoga saja bermanfaat untuk kita semua yang membaca sebagai bahan renungan. Tak usah lihat siapa yang menulis, namun lihatlah apa yang ditulis.


Padang 04 Maret 2011, 01: 05 am
*oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Mengapa Harus Menulis?

Mengapa harus menulis? Sebuah pertanyaan sederhana yang jika dilontarkan akan menimbulkan beragam jawaban. Karena sampai saat ini belum ada satu pun teori yang menjelaskan masalah ini secara jelas dan terperinci. Jawabanya masih berada pada tataran “relatif”, dengan kata lain tidak ada yang sama antara satu orang dengan yang lainnya.

Di suatu sore aku pernah berdiskusi dengan seorang guru yang sudah ku anggap seperti sahabat sendiri. Dengan beliau aku bisa dan sering berbagi tentang berbagai hal. Sore itu kami berbincang tentang apa saja yang terlintas dalam pikiran kami waktu itu, hingga akhirnya pembicaraan kami menyerempet ke arah bagaimana dan kenapa harus menulis. Aku pun tidak sadar kenapa pembicaraan kami sampai ke sana. Aku juga yakin kalau guru sekaligus sahabatku tadi juga tidak sadar akan hal itu. Yang kami tahu ketika itu kami telah membahas masalah itu.

Pada kesempatan itu aku sempat mengutarakan pertanyaan sederhana itu kepada guruku tadi. Lalu beliau menjawab, bahwa beliau menulis karena itu merupakan bagian dari hobi dan sudah berlangsung lama. Dengan menulis menurut beliau kita bisa berbagi dengan orang lain. Kemudian beliau menambahkan, jika kita berkata mungkin apa yang kita katakan hanya akan bertahan sebentar di memori pendengar, dan dengan menulis maka apa yang kita sampaikan akan membekas lama bagi mereka yang membaca. Kalaupun mereka lupa, maka mereka bisa melihat kembali apa yang kita tulis tanpa harus kembali bertemu kita. Aku sangat setuju dengan apa yang beliau katakan.

Di dalam kehidupan ini banyak kejadian yang unik terjadi. Lakon kehidupan juga menyajikan banyak pelajaran. Orang yang beruntung adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran tersebut lalu berusaha membaginya dengan orang lain yang berada di sekitarnya. Dan menulis adalah salah satu cara kita dalam berbagi pengalaman hidup dengan orang lain.

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja aku kenal lewat dunia maya, juga pernah berujar tentang mengapa dia menulis. Teman duniamayaku ini telah lama bergelu dalam dunia tulis-menulis. Menurutnya salah satu alasan dia menulis adalah untuk anak cucunya kelak. Dia tidak takut kalau tulisannya tidak dimuat di media . Dia juga tidak terlau risau jika tulisannya tidak dibaca orang lain. salah satu alasan yang membuat ia menulis benar-benar hanya untuk memberikan oleh-oleh kepada anak cucunya. Sederhana bukan? Lagi-lagi aku terkesima dengan alasanya yang sederhana itu. Membuat aku semakin salut saja dengan dia, sesosok pria yang aku panggil “abang” itu.

Dua temanku itu merupakan bagian dari mereka yang memberikan pendapat kenapa mereka menulis. Dan mungkin banyak lagi alasan lain kenapa orang mau untuk menulis. Dan bagi aku sendiri menulis itu adalah sarana pembebasan jiwa. Dengan menulis kita bisa mengespresikan dan menuangkan ide-ide dari kepala kita untuk orang lain. Kalaupun tulisan kita dimuat di media atau dibukukan, biarlah itu hanya menjadi bonus dari keinginan yang tulus untuk berbagi melalui tulisan, buan merupakan tujuan utama.

Lalu apa manfaat dari menulis? Jawaban terbaik yang bisa aku berikan adalah “banyak”, banyak hal yang akan kita dapatkan dari menulis. Kita bisa menambah wawasan dengan menulis. Dengan kata lain orang yang mau menulis wawasannya akan luas karena ia akan membaca dan selalu membaca untuk memperkaya inspirasinya. Baik membaca buku, membaca artikel, membaca tulisan-tulisan orang lain ataupun membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terlukis dalam kehidupan sehari-hari manusia. Tidak mungkin kiranya seseorang itu akan bisa mnulis tanpa pernah membaca.

Dengan menulis kita bisa membebaskan angan dan pikiran. Melalui menulis kita bisa menumpahkan apa saja yang menganjal di hati. Dalam menulis kita tidak akan terikat oleh suatu apapun sehingga kita bebas berekspresi dan berimajinasi sesuai keinginan dan kebutuhan kita. Terlebih jika kita menulis sebuah tulisan fiksi, maka hal itu akan membuat imajinasi kita hidup dan berkembang.

Kawan, menulis juga akan membuat kita terkenal. Orang akan bisa menganal kita melalui tulisan-tulisan kita, jika kita mau mepuplikasikan tulisan tersebut di media. Semakin banyak kita menulis maka semakin besar peluang kita untuk dikenal oleh orang lain. Namun, tentu tidak semua tulisan yang akan dimuat oleh media, pasti mereka akan memilih tulisan yang bagus dan layak untuk diterbitkan. Jadi, adalah penting buat kita mengasah kemampuan menulis kita, agar tulisan kita bisa dimuat di media. Dan salah satu cara terbaik mengasah kemampuan menulis adalah dengan terus dan terus menulis. Tunggu apa lagi, mari menulis. Kita tidak akan bisa jika kita belum mencoba.

Banyak orang mengatakan dengan menulis kita juga kan bisa meraup rupiah. Namun aku sendiri belum pernah merasakan hal itu. Karena memang aku baru saja belajar menulis. Dan tulisanku juga masih jauh dari kata “bagus”. Bagiku saat ini tidak terlau penting untuk mengharapkan lembaran upiah dari menulis. Aku juga tidak berharap orang berubah setelah membaca tulisanku, bagiku sebagai penulis pemula, orang mau membaca tulisan aku saja itu sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, aku sangat percaya dan yakin dengan pernyataan orang tenta menulis bisa mengahasilkan uang. Bagaimana tidak, jika kita sering mengirim tulisan ke media maka secara otomatis kita akan mendapatkan “honor” dari tulisan kita yang dimuat itu. Semkin banyak tulisan kita yang dimuat maka akan semakin banyak juga lembaran rupiah mengalir ke tangan kita.

Dan banyak lagi manfaat yang akan bisa kita tuai dari menulis ini. Buat aku pribadi, manfaat yang paling aku rasakan dari menulis adalah meningkatkan minat baca. Karena sumber utama inspirasiku dalam menulis adalah melalui membaca. Jika saja aku kurang membaca, maka aku akan sulit menulis dan aliran kata itu akan mampet di pikiranku, tidak bisa mengalir dengan baik. Sehingga aku sulit menuangkan ide yang ada di pikiranku ke atas lembaran-lembaran kertas. Meskipun banyak manfaat dari menulis, jika kita tidak maumencoba dan memulainya maka manfaat yang telah kita sebutkan tadi tentu tidak akan pernah kita rasakan.

Kawan, cobalah lihat dengan jujur realita kehidupan yang ada saat ini. Bangsa kita semakin hari semakin kehilangan generasi yang suka membaca. Apa lagi generasi yang mau menulis, sangat kurang sekali. Karena memang menulis hanya bisa dilakukan dengan banyak membaca tulisan orang lain. tidak mungkin rasanya orang bisa menulis dengan baik dan benar tanpa pernah membaca. Kalau pun ada, mungkin sangat jarang sekali.

Kalau kita boleh sedikit beranalogi, membuat sebuah perumpamaan, maka menulis itu bisa kita ibaratkan dengan “muntah”. Memuntahkan ide-ide yang telah kita dapatkan dengan banyak “memakan” alias membaca tulisan orang lain. Tidak mungkin kita bisa muntah tanpa pernah makan. Nah, membaca adalah proses “makannya” orang yang akan bisa “memuntahkan” ide-idenya dalam bentuk tulisan. Mari membaca untuk bisa menulis.

Sebenarnya di dunia ini terdapat banyak seniman, dan penulis adalah salah satu bagian dari seniman itu. Jika pelukis berkarya dengan kuas dan cat serta kavasnya, pemusik adalah seniman yang berkarya dengan alat musiknya, pematung menuangkan seni melalui pahat dan kayu, maka penulis adalah seniman yang berkarya melalui rankaian kata yang ditorehkan di atas lebaran-lembaran kertas.

Jika kawan bertanya siapa aku. Maka jawabanya, aku adalah orang yang baru saja mau dan masih belajar menulis, setelah sekian lama tenggelam dalam angan-angan untuk bisa mulai menulis. Aku bukan orang hebat dan juga bukan orang ahli dalam bidang ini. Sebenarnya ketika aku menulis tulisan ini aku sangat risih, karena aku sendiri masih awam dalam masalah tulis-menulis. Namun aku harus menulis tulisan ini, karena keinginan itu begitu kuat menghentak-hentak dalam benakku, hingga aku beranikan juga diri menulis tulisan ini. Semoga saja ulisan ini bisa bermanfaat.

Jadi, mari membaca lalu menulis,..!!


Padang, 04 Maret 2011, 09:23 am
*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Inikah Cinta

Dia datang begitu saja
Tak pernah memberi kabar dan berita
Datangnya bak setetes cahaya
Menerangi segumpal hati
Yang telah kelam oleh balutan kesepian dan kegundahan

Ketika dia menghampiri hati ini
Dunia serasa berputar pelan
Indah dan memberikan harapan
Indah dan bahagia, hanya itu yang terasa

Saat dia datang
Anginpun berhembus tenang
Menerpa relung hati yang sedang gundah
Membawakan seuntai harapan
Menghantarkan berjuta keping kasih dan sayang

Kedatanganya telah membuat duniaku terasa indah dan begitu lapang
Tak ada lagi lara
Tak ada lagi tangisan duka
Yang tersisa hanya guratan senyum bahagia

Oh cinta
Inikah yang disebut cinta
Aku tak tahu
Yang ku tahu
Hanya itu
Ya, begitulah cinta yang Aku tahu



Padang, 01 Maret 2011, 04:26 pm
*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Hidup Dengan Bumbu Sukses dan Kegagalan

Kitika kita hidup di dunia ini, kita selalu dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatu itu diciptakan kebanyakan berpasang-pasang.ada yang tinggi dan ada yang rendah. Ketika ada pendakian, juga akan diikuti dengan penurunan. Kesusahan akan selalu disandingkan dengan kemudahan. Keindahan berpasangan dengan kejelekan. Adanya yang kaya juga membuat adanya yang miskin. Dan keadaan perpasangan yang lainnya. Semua telah diatur begitu indah oleh Yang Maha Kuasa dengan pasangannya masing-masing. 

Layaknya yang lain, adanya kesuksesan juga menghendaki adanya kegagalan. Karena memang itulah pasangannya. Kenyataan seperti itu juga sudah merupakan hukum alam yang akan selalu menghiasi alur kehidupan kita di hamparan bumi Allah yang indah ini. Kita tentu tidak mungkin mengecap manisnya madu kesuksesan tanpa tahu dahulu bagaiman pahitnya sebuah kegagalan.

Siapapun dia, saya, anda dan kita semua mungkin sudah sangat sering menemukan sebuah kenyataan yang sering disebut dengan istilah “kegagalan dan kesuksesan”. Dari mana pun kita berasal, dengan kondisi dan latar belakang keluarga bagaimanapun, dan apapun suku dan bangsa kita, kita tidak akan mungkin terlepas dari dua kata yang saling berpasangan itu. Suka ataupun tidak, rala atau terpaksa, kesuksesan dan kegagalan akan tetap menghampiri hidup kita. Mungkin saja intensitas dan kualitasnya saja yang akan berbeda-beda antara kita dan orang lain.

Kadang kita hanya suka dengan yang namanya “kesuksesan” saja tanpa mau menerima “kegagalan”. Jangankan untuk menerima lalu mersakan, bahkan untuk mendengar dan membicarakan kegagalan saja kita enggan. Kita terlalu takut dengan hadirnya kegagalan dalam hidup kita ini. Seolah kata kegagalan itu adalah momok paling yang menakutkan dalam hidup kita. Sehingga sering kali hal itu membuat kita lupa bahwa sebuah kesuksesan tidak akan serta-merta diraih tanpa hadirnya sebuah kenyataan pahit “kegagalan”. Sejatinya dari kegagalanlah kita tahu apa itu kesuksesan dan keberhasilan.

Memang sebagian besar jiwa manusia tidak suka akan hadirnya kegagalan, jiwa kita lebih cendrung kepada kesuksean saja. Karena memang begitulah sifat dasar manusia, maunya enak saja. Kita selalu berharap dalam setiap usaha yang kita lakoni dalam setiap babak kehidupan ini selalu dihiasi dengan kesuksesan, namun kenyataan seperti itu tidak pernah selalu terjadi. Tidak ada orang yang dalam hidupnya meraih seratus persen sukses, tatap saja ada kegagalan yang mengikuti gerak langkah hidupnya. Kita harus menyadari bahwa tidak semua akhir dari sebuah usaha adalah sukses, dan juga tidak akan selalu gagal. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan selau terjadi silih berganti dalam kehidupan insan di dunia ini.

Jika kita kembali menilik sejarah,memperhatikan perjalanan hidup orang-orang terdahulu yang sukses, yang telah memberikan kehidupan nan begitu indah kepada kita saat ini melalui kesuksesan yang diraihnya, maka kita akan banyak menemukan catatan-catatan kegagalan yang menemui setiap derap langkah perjuangan mereka, hingga akhirnya manisnya madu kesuksesan dapat direguknya dan diwariskannya kepada kita saat ini. kita jangan mengira bahwa kesuksesan yang mnereka raih itu adalah tanpa melalui kegagalan terlebih dahulu. Mereka yang sukses itu adalah mereka yang sudah kenyang dengan yang namanya kegagalan.

Sebut saja seorang fisikawan besar abad dua puluh, Albert Einsten yang telah puas dengan bumbu kegagalan dalam hidupnya. Ia pernah berkata tentang kegigihan dan ketekunan kerja yang ia jalani sepanjang karirnya. Einsten mengatakan, “ saya berfikir terus menerus, berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun . Sembilan puluh Sembilan dari kesimpulan saya adalah keliru. Namun kesimpulan saya yang keseratus saya berhasil dan sukses”.

Pernyataan Albert Einsten tadi telah menjelaskan secara gamblang kepada kita bahwa dalam sejarah panjang kehidupan seorang ilmuan besar seperti dirinya lebih banyak didominasi oleh kegagalan sebelum akhirnya ia berhasil meraih sukses yang telah berhasil membuat namanya dikenang sampai saat ini.

Belum lagi Thomas Alfa Edison, seorang ilmuan yang telah berhasil menemukan bola lampu pijar dan telah memegang rekor 1.093 paten atas namanya. Pria ini juga tidak kalah dengan Albert Einsten dalam merasakan yang namanya kegagalan. Namun ia tidak patah arang dan berhenti melakukan penelitian dan percobaan. Ia juga pernah berkata, “Saya percaya, hidup merupakan sebuah perjuangan. Kegagalan adalah suatu jalan menuju pintu kesuksesan. Kita bisa belajar dari kegagalan”. Thomas Alfa Edison menemukan ribuan cara agar lampu tidak dapat menyala karena ia gagal beribu-ribu kali pula.

Jadi jelas, bahwa kesuksesan yang mereka perolah bukanlah hasil kerja kemaren sore. Itu semua mereka dapatkan dengan usaha yang luar biasa dan pengalaman kegagalan yang mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya. Bahkan nabi Muhammad Saw, orang yang begitu suci dan telah dijamin oleh Allah kehidupannya juga pernah mengecap yang namanya gagal. Beliau pernah gagal dalam beberapa perperangan yang terjadi, sebelum sukses dengan gilang gemilang dalam menaklukan kota Makah. Gagal dan sukses akan menghampiri siapa pun. Dia datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu dan melihat status sosial mereka.

Kita juga tidak bisa pungkiri bahwa sukses dan gagal yang hadir dalam kehidupan kita juga sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh seberapa gigih serta giatnya kita bekerja dan berusaha. Mereka yang giat dan gigih dalam berusaha akan lebih berpeluang banyak memperoleh kesuksesan. Dan sebaliknya, bagi mereka yang lebih banyak malas dalam berusaha, maka akan berpeluang mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya. Kalau ia jadi siswa, ia akan jadi siswa yang gagal. Jika ia jadi mahasiswa, maka ia akan jadi mahasiswa yang gagal. Seandainya ia jadi pengusaha, maka ia juga akan jadi pengusaha yang gagal. Mungkin saja kalau ia berkeluarga, maka ia akan jadi suami, istri, ayah atau ibu yang gagal pula. Yang jelas bagi mereka yang malas sejarah hidupnya akan lebih banyak diwarnai oleh tinta “kegagalan”.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditentukan dengan uang atau materi. Memang secara teori , mereka yang kaya akan berpeluang untuk meraih sukses yang lebih banyak ketimbang mereka yang miskin. Namun pada kenyataannya dalam realita kehidupan tidak selalu demikian. Tidak selamanya orang kaya yang bergelimang materi itu selalu sukses. Dan juga tidak selamanya mereka yang kurang beruntung alias miskin selalu memperoleh kegagalan. Allah Yang Maha Kuasa akan memberikan sukses dan gagal itu kepada hambanya secara adil sesuai dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seorang hamba.

Sukses dan gagal tidak bisa diukur dengan uang dan materi saja. Sukses dan gagal itu mencakup semua hal. Betapa tidak, berapa banyak kita lihat mereka yang kaya dan berlimpah materi yang selalu bergelut kemewahan, namun kehidupan keluarganya kacau dan berantakan. Berapa banyak pula mereka yang berasal dari keluarga miskin dan hidup prihatin berhasil jadi pemimpin, penjabat, tokoh masyarakat, dan pengusaha yang sukses. Satu pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari sini, bahwa sukses dan gagal itu akan hadir menghampiri semua orang, apapun latar belakang kehidupan mereka.

Sukses dan gagal juga tidak bisa ditunjukan dengan hanya melihat dari satu sisi kehidupan saja. Boleh jadi seseorang itu gagal di satu sisi dan meraih sukses di sisi yang lain. Intinya kesuksesan dan kegagalan akan terus terjadi dalam kehidupan kita sesuai dengan tingkat usaha yang kita lakukan.

Antara kesuksesan dan kegagalan ibarat dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dalam hidup kita. Jadi kita tidak usah terlalu takut dalam menghadapi kegagalan. Yang lebih penting dan yang harus kita tahu adalah bagaimana cara menghadapi, menerima serta menyikapi sebuah kegagalan. Agar kita bisa belalajar dari pahitnya kegagalan, lalu mereguk manisnya madu kesuksesan dengan belajar dari pengalaman kegagalan yang harus kita sikapi dengan cerdas dan dewasa.

Lalu bagai mana dengan kesuksesan? Kesuksesan juga bukan barang langka yang sulit kita rasakan dalam kehidupan kita. Selagi kita mau berusaha, maka harapan untuk sukses itu masih tetap ada. Kadang kawan, menyikapi sebuah kesuksesan itu jauh lebih sulit ketimbang meraihnya. Betapa banyak orang yang salah dan keliru dalam menyikapai kesuksesannya. Mereka gelap mata lalu sombong dan lupa bersyukur dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Seolah mereka lupa siapa yang memberikan kesuksesan itu kapada mereka. Jadi, layaknya kegagalan, kita juga harus bisa menyikapi kesuksesan dengan baik dan sesuai sehingga kesuksesan di dunia akan bisa menghantarkan kita kepada kebahagiaan di akhirat kelak.



*Oleh: Heru Perdana P.

[ Selengkapnya...]
Label:

Anak Petani dan Sebuah Cita-cita


Pagi itu masih saja seperti pagi-pagi sebelumnya. Udara yang dingin ala perbukitan tetap terasa menusuk tulang. Kicauan burung di pohon kedondong di samping rumah seorang petani menambah syahdunya pagi itu. Embun di halaman rumah belum juga kering, dan mentari masih saja seperti malu-malu bersembunyi di balik bukit menandakan hari masih sangat pagi untuk mulai beraktivitas.

Namun,di sebuah rumah di tepi sawah telah terjadi aktivitas kehidupan jauh sebelum fajar menyingsing. Di rumah sederhana namun asri itu telah berlangsung rutinitas sehari-hari layaknya keluarga petani. Seorang ibu telah mulai menanak nasi,memanaskan air dan menyeduh teh tanpa di saring untuk seorang lelaki kepala keluarga yang tengah asik membaca sebuah buku bertulisan arab melayu tanpa baris duduk di sebuah kursi kayu usang di dekat jendela sembari menunggu  segelas  teh panas buatan sang istri, sebelum berangkat menuju kebun karet, tempat  beliau mengais rezeki untuk keluarga.  Begitulah kebiasan laki-laki yang tidak tamat sekolah rakyat dan menyukai ilmu serta menghargai pendidikan itu. 
Sementara di sebuah kamar sederhana berdindingkan papan namun ditata dengan apik seorang anak gadis, Wati begitu orang biasa memanggilnya tengah bersiap-siap  berangkat ke sekolah untuk menerima ilmu dari guru di sebuah sekolah sederhana di tepi sungai yang tidak terlalu jauh dari rumah petani tadi. Sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta yang dibangun dengan swadaya dari penduduk sekitar. Dan untuk masuk ke sekolah itu Wati juga hanya diantarkan oleh pamannya. Meskipun sangat sederhana dan jauh dari kata “mewah”,akan tetapi anak sulung dari petani itu tetap semangat dalam menimba ilmu penegtahuan. Agaknya kecintaan terhadap ilmu dari seorang lelaki petani yang tidak sempat menamatkan sekolah rakyat itu telah mengalir deras dalam darah anak gadis kecil nan ayu itu. Seorang anak gadis yang diharapkan akan menyambung asa keluarga.

Mentari sudah merangkak naik meninggalkan peraduannya, suasana kampung pun telah  telah ramai oleh hilir mudik petani yang akan pergi ke sawah dan ladang serta beberapa orang anak sekolah yang akan berangkat sekolah seperti halnya si Wati, karena memang tidak semua anak yang sekolah di kampung itu. Jujur saja kesadaran akan pentingnya  pendidikan di kampung yang dikelilingi oleh bukit itu masih sangat rendah. Lebih banyak orang tua yang menyuruh anaknya pergi ke sawah dan ladang ketimbang ke sekolah untuk menuntut ilmu. Karena memang kalau ke sekolah tidak langsung menghasilkan uang dan bahkan harus mengabiskan uang. Lain halnya dengan ke sawah, ke ladang atau mengembala ternak yang langsung dalam waktu dekat dapat dilihat hasilnya, dengan kata lain lebih cepat menghasilkan uang. Begitu menurut pemahaman mereka. Bahkan mereka beranggapan lebih baik menanam kelapa dari pada menyekolahkan anak. Ah, sebuah pemahaman yang sangat keliru.

Agaknya kondisi seperti itu dipicu oleh susahnya dan  keterbatasan keadaan ekonomi mayarakat di kampung itu. Sebuah kampung yang asri namun masih jauh dari yang namanya kemajuan teknologi. Jangankan untuk mengenal teknologi, untuk membicarakannya saja bibir mereka masih kaku. Program pemerintah untuk listrik masuk desapun belum menyentuh kampung itu. Sehingga akses informasi juga agak sulit untuk sampai kepada mereka.  Jadi tidak heran jika pemahaman masyarakat seperti itu di kampung terebut. Namun keadaan demikian tidak membuat Aminah surut untuk menuntut ilmu dan mengapai cita-citanya.

***

Enam tahun sudah Wati menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Swasta dengan segala kesederhanaannya. Sekarang tiba saatnya Wati  harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sebuah SMP yang berjarak belasan kilo meter dari kampungnya adalah pilihannya. Jarak yang cukup jauh dengan keadaan transportasi yang terbatas saat itu dan diperburuk dengan kondisi jalan yang sangat meprihatinkan. Jika hujan jalan itu sangat sulit sekali dilalui oleh sepeda. Namun, keputusan itu harus diambil Wati demi sebuah cita-cita untuk penghidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Buntut dari pilihanya itu Wati harus siap berangkat pagi-pagi sekali di saat mata hari belum keluar dari peraduannya. Untuk berangkat sekolah Wati harus mengunakan senter dan dibonceng oleh temannya yang juga wanita.

Tiga tahun Wati menimba ilmu dalam balutan suka dan duka di SMP pilihannya itu. Tiga tahun juga dia harus berangkat sekolah setelah subuh di mana hari masih gelap dan suasana kampung masih sunyi. Walaupun jauh, namun pantang baginya untuk terlambat masuk ke sekolah. Kondisi seperti itulah yang telah membuat seorang Wati jadi gadis remaja yang memiliki keinginan kuat bagaikan karang di lautan untuk mengapai cita-cita dan kesuksesan. Cita-cita dan kesuksesan baginya meskipun hidup bergelimang kesederhanaan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Wati telah menamatkan pendidikannya di SMP pilihannya. Itu artinya, demi sebuah cita-cita ia harus melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah merundingkan rencananya dengan ayahnya──sang petani──tadi, maka dapatlah kata sepakat bahwa ia harus melanjutkan sekolahnya di sebuah SMA dua lapis bukit dari kampungnya, yang berjarak sekitar tiga puluh kilo meter dengan jalan yang sangat meprihatinkan dan sulit untuk dilalui kendaraan. Dengan keadaan seperti itu Wati dan ayah serta ibunya sepakat kalau Wati harus tinggal di sebuah rumah penduduk ──ngekos istilah sekarang── di dekat SMA pilihannya tersebut. Hal itu dilakukan mengingat biaya dan waktu yang terlalu banyak terpakai jika Wati harus berangkat dari rumah. Alhasil terpaksa Wati harus berpisah dari Ayah, Ibu dan adik-adiknya untuk sementara dan hanya bertemu sekali seminggu, itupun jika memungkinkan. Tapi tidak mengapa, demi sebuah cita-cita Wati dan keluarganya rela.

Memasuki tahun kedua Wati di SMA itu, badai kesusahan mulai membuat oleng biduk kehidupannya dan nyaris saja membuat dia tamat paksa dari SMA itu. Permasalahannya tidak jauh dari masalah uang, karena hasil pertanian  memang agak merosot kala itu. Namun, untunglah Wati bukanlah sosok wanita yang bermental kerupuk, dengan tekad yang sudah bulat dia tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan sekolah. Wati sudah terlanjur mengantungkan sebuah cita-cita dan baginya tiada kata surut untuk itu semua.

“sekali layar terkembang pantang untuk surut kembali”, begitu prinsipnya.
 Walaupun dia harus menaggung resiko dibekali uang belanja seadanya. Hanya beras yang agak banyak yang bisa dibawanya. Selaku anak sulung dari seorang petani miskin Wati cukup tau diri dan rela berbagi uang belanja dengan beberapa orang adiknya yang juga sekolah, karena kondisi ekonomi sangat sulit pada masa itu.

Dengan segala keterbatasan akhirnya Wati bisa juga menamatkan pendidikan di SMA. Berlinang air mata pak Tani melihat selambar kertas bertuluskan angka-angka, yang lebih banyak dipenuhi oleh angka Sembilan dan delapan yang dipersembahkan oleh anaknya. Segala harapan keluarganya dijawab lunas dengan selembar ijazah dengan nilai yang bagus oleh Wati.

Di tengah kebahagian yang dirasakan Wati dan keluarganya, terselip sebuah kegetiran dan kegusaran. Wati gusar kalau-kalau dia tidak dapat melanjutkan pendidikan yang sangat diidam-idamkannya. Setali tiga uang, sang ayah juga merasakan hal yang sama dengan Wati. Ditatapnya anaknya dalam-dalam. Tampak jelas di mata lelaki itu gurat kegalaun dan kebimbangan. Ia bangga punya anak dengan cita-cita tinggi dan di sisi lain himpitan ekonomi cukup keras medera keluarga itu yang membuat sang ayah ragu dapat mewujudkan cita-cita anaknya.
***

Senja telah merayap menyelimuti desa yang dilalui sungai Batang nyiur itu. Mata hari telah lama bersembunyi di balik bukit dan kembali ke peraduannya. Di beranda rumah nan sederhana, terlihat sesosok gadis termenung dengan penuh harap. Berharap ada keajaiban dan perubahan nasib baginya. Tanpa di sadari oleh sang gadis di balik pintu ada sepasang mata yang tengah mengamati dan meprihatikannya dengan tatapan nanar. Dialah ibu Wati yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk masa depan anaknya. Lama Ia memperhatikan anaknya, hingga akhirnya dikuatkan hatinya untuk menemui anaknya dan berbicara dari hati ke hati dengan anaknya.

“Apa lagi yang Kau pikirkan nak”, sapa beliau sambil duduk di samping Wati. “bukannya nilai ujianmu sudah sangat bagus, dan kami bangga denganmu”, sambung ibu tadi.

Wati mengankat wajahnya, butiran hangat meleleh dari sudut matanya. Ia tatap wajah ibunya dalam-dalam dan berkata, “iya Ibu, tapi itu belum cukup. Aku ingin melanjutkan pendidikanku. Aku ingin mengapai cita-citaku”.

Digengamnya tangan Wati oleh ibunya, “ibu mengerti perasaanmu nak, tapi apa boleh buat keadaan kita sangat susah saat ini. Lihatlah tiga orang adikmu juga butuh biaya untuk sekolah”. Ibu itu berhenti sejenak dan menhela nafas, lalu melanjutkan ucapannya, “bukankah sekolahmu itu sudah cukup tinggi untuk ukuran anak-anak seusiamu di kampung kita ini”.

“kamu bisa belajar menjahit dengan etek Inur, seperti kawan-kawanmu yang lain”, imbuh ibu itu.

Tak kuasa Wati menahan tangisnya, meledaklah tangis anak gadis yang memiliki cita-cita tinggi itu di pangkuan ibunya. Di sela-sela tangisnya Wati masih sempat berkata yang lebih cocok disebut permohonan seorang anak kepada ibunya,

“Ibu, tolonglah! Aku hanya ingin melanjutkan sekolahku. Kalau masalah belajar menjahit, bisa aku lakukan jika aku libur kulaih”, ucap Wati setengah berharap.

Lama mereka hanyut dalam lamunan masing-masing. Suasana hening, hanya terdengar sesekali suara jangrik dan katak sawah yang saling bersahutan. Dua anak beranak itu tetap saja tengelam dalam awan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya lantunan azan isya yang terdengar dari tua usang musahalah yang berada tidak jauh dari rumah Wati.

“sudah masuk waktu isya, mari kita shalat dulu. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini dengan ayahmu”, ibu itu berkata sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Wati masuk ke dalam rumah.

Wati mengikuti dengan gontai langkah ibunya, lalu langsung menuju ke sumur dan mengambil whudu’. Malam itu mereka tidak shalat  berjemaah karena sang ayah sedang tidak di rumah. Setelah shalat, Wati berdo’a dan bermunajat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih agar keinginan dan cita-cita yang telah lama ia rajut dapat terwujud. Lama ia membenamkan kepalanya dalam sujud setelah berdo’a.

Wati tersentak oleh panggilan ibunya. Dibukanya mukenah yang ia kenakan tadi dan segera berjalan menuju daput tempat ibunya memangigl tadi. Ibunya menyuruh Wati makan.

“Makanlah dulu, jangan terlau Kau pikirkan masalah tadi. Nanti kita bicarakan lagi dengan ayahmu”, suara ibu menghibur Wati sambari menyodorkan sebuah piring ke tangannya.

“ya bu”, jawab Wati pelan dan mengambil piring dari tangan ibunya.

Jelas sekali Wati tidak ada selara makan waktu itu. Selera makannya menguap entah ke mana. Lama ditatapnya saja nasi yang ada di piringnya dengan tatapan nanar dan dalam yang menyimpan sebuah harapan. Dadanya sesak, batinya berkecamuk antara realita hidup dan sebuah cita-cita yang telah terpatri di hatinya.

“Makan lah dulu!”, ibunya kembali menegur.

Dengan susah payah akhirnya bisa juga ditelan habis nasi yang ada di piringnya itu. Setelah mencuci semua piring dan membereskan dapur, Wati segera masuk kamar dan membaringkan diri di tempat tidur. Sudah beberapa kali ia coba memajamkan mata, dan sebanyak itu pula ia gagal melakukannya. Percakapannya dengan ibunya di beranda rumah tadi masih terngiang jelas di telinganya. Sementara di sisi lain, waktu  pendaftaran kuliah hanya tinggal satu minggu lagi.

Sampai sepertiga malam terakhir matanya juga tidak kunjung terpejam. Wati bangkit dari pembaringannya, dan berjalan menuju ke sumur di belakang rumahnya. Dia berwudhu’ dan kembali ke kamarnya lalu mengambil mukenah dan kain sarung yang terlipat di atas meja di sudut kamarnya. Dia bersiap bermunajat kembali kepada Allah. Ia ingin mengadukan semua kegalauan hatinya kepada Tuhan. Berharap Tuhan mendengar lalu mengabulkan keinginannya.
***

Pagi itu setelah membersihkan rumah, Ibunya memanggil Wati ke baranda rumah. Seperti kerbau yang ditusuk hidungnya Wati berjalan di belkang ibunya menuju beranda rumahnya. Di mendapati ayahnya telah duduk menunggunya di sana ditemani segelas teh hangat tanpa disaring.

“Duduklah, ayah ingin bicara denganmu”, begitu ayahnya membuka pembicaraan sembari menghisap rokok tanpa filter dan mengepulkan asapnya.

“Ada apa ayah?”, Wati bertanya dan duduk di samping ibunya.

“ini soal sekolahmu”, sambil menguk teh hangat  ayahnya menjawab.

“Ayah dan ibumu sudah sepakat dan putuskan untuk tetap mengizinkan kamu untuk melanjutkan kuliah. Kejarlah impianmu nak, buat kami bangga telah memiliki anak sepertimu”, ujar sang ayah sambil memegang kepala anak gadisnya itu.

“Benarkah itu Ayah?”, Tanya Wati seolah tak percaya.
“iya, benar”, ayahnya mengangguk.

Tak terasa butiran hangat mengalir dari sudut mata Wati. Kali ini bukan air mata kegalauan lagi, tapi adalah aliran air mata kebahagiaan. Sungguh tak terkira girangnya hati Wati mendengar ucapan ayahnya. Batinya bersorak gembira. Burung gereja di batang kedongdong juga ikut bernyanyi seolah turut merasakan getaran kebahagiaan dari batin sorang anak gadis petani miskin, seorang petani yang menyadari betapa pentingnya sebuah pendidikan.

Pagi itu adalah pagi yang sangat bersejarah dalam sejarah hidup Wati. Sekaligus merupakan pagi yang menentukan masa depannya. Allah telah mengijabah do’a yang dipanjatkan seorang anak petani yang memiliki  sebuah cita-cita. Do’a dan usahanya membuahan hasil. Belum selesai Wati meluapkan kebahagiannya, terlintas lagi sebuah persoalan di pikirannya. Lalau ia bertanya kepada ayahnya.

“ayah bagaiman dengan biaya masuk kuliah yang cukup besar untuk ukuran keluarga kita itu”, Tanya Wati kepada ayahnya.

Dengan sedikit senyuman tersunggging di bibir ayahnya menjawab,”Tidak usah kau pikirkan itu, ayah telah persiapkan semuanya. Ayah akan jual sapi kita, dan jika kurang akan ditambah dengan sedikit tabungan ibumu”.
Ibunya hanya tersenyum dn mengangguk tanda setuju dengan ucapan ayahnya.
***

Dengan berbekal uang seadanya, Wati berangkat menuju kota bersama ayahnya untuk mendaftar di sebuah kampus dan menjemput impiannya. Dengan menumpang sebuah truk pengangkut padi ayah dan anak gadisnya itu bertolak meninggalkan kampung mereka.  Dengan mata berbinar Aminah menatap ayahnya. Dalam tatapannya terguratsebuah ucapan terimakasih kepada ayahnya.

Berselang lima jam kemudian Wati dan ayahnya telah sampai di sebuah kampus keguruan. Wati segera masuk antrian untuk mendaftar dan mengambil formulir. Wati ingin mengambil jurusan esakta sesuai dengan jurusannya di SMA dulu. Tapi takdir berkata lain, formulir esekta telah habis. Terpaksa Wati mengalihkan pilihanya kepada jurusan sosial karena memang itu jurusan yang tersisa lagi. Bagi dia itu tidak masalah, yang  penting baginya bisa jadi orang yang berguna bagi orang sekitarnya. Dan jadi seorang guru menurutnya adalah salah satu cara dalam mewujudkannya.

Formulir telah di ambil dan juga telah diisi. Untuk bisa duduk di salah satu bangku di kampus itu Wati harus melalui sebuah tes tertulis dulu. Namun sayang, tesnya harus dilaksanakan besok malam harinya. Itu artinya Wati tidak bisa lagi ditemani oleh ayahnya untuk mengikuti tes. Ayahnya harus pulang karena masih banyak kerja yang harrus diselesaikan.

“Ayah, tesnya besok malam”, begitu Aminah melapor kepada ayahnya.
Kemudian Wati dan ayahnya bergegas menuju rumah sesorang yang masih terhitung saudara dengan Wati. Di rumah saudaranya itulah Wati akan menginap sementara. Dari rumah itu juga nantinya Aminah akan berangkat tes. Setelah istrahat sebentar ayahnya  segera bergegas kembali untuk pulang agar tidak kemalaman sampai di kampung.

“Ti, ayah pulang dulu, baik-baik kamu di sini. Isilah lembar ujianmu nanti dengan sepenuh hati. Yakinlah Allah pasti akan berikan yang terbaik untukmu nak”, begitu ayahnya berujar sebelum meninggalkan Wati.

“Iya Ayah, mohon do’a dan restunya”, jawab Wati seraya mencium tangan ayahnya. Ditatapnya kepergian ayahnya dengan tatapan haru bercampur bahagia. Haru karena berpisah dengan beliau, dan bahagia karena bisa mencapai mimpinya. Ayahnya sudah tak tampak lagi dari padangannya, dan ia segera nasuk rumah.
***

Wati bangun pagi-pagi sekali. Walaupun ujiannya nanti malam, namun Wati telah bersiap-siap  dari pagi. Karena hari itu adalah hari yang cukup penting dalam sejarah hidupnya. Setelah membereskan rumah bersama saudaranya Wati kembali mebalik-balik catatannya waktu SMA dulu. Dalam hati kecilnya ia berharap agar catatan itu dapat membantu ujiannya. Karena memang hanya catatan itulah yang dia punya. Waktu SMA dulu ayahnya tidak sangup memelikan buku pelajaran. Wati hanya mengandalkan buku temannya dan mencatat poin-poin penting yang ada dalam buku itu.

Hari telah senja, bumi telah diselimuti langit berwarna keemasan. Setelah shalat magrib Wati berkemas dan bersiap untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ditemani saudaranya tadi dengan membawa sebuah tekad dan harapan Wati berangkat. Batuh dua kali naik angkutan kota untuk bisa sampai ke kampus tempat Wati ujian dari rumah keluarganya.

Wati telah sampai di kampus tempat dia mengikuti ujian. Karena ujian akan dimulai lima belas menit lagi, Wati duduk dulu di sebuah bangku di temani saudaranya tadi. Kembali dipriksa perlengkapan ujian oleh Wati. Semuanya sudah lengkap dan Wati segera masuk ke lokal.
“Uni, masuk dulu ya Ana”
“ ya uni, hati-hati ujiannya uni. Semoga sukses”, saudaranya tadi menyemangati. “biarlah saya menunggu uni di sini saja”, imbuh saudaranya tadi.
Wati tersenyum dan berlalu masuk ke lokal.

Hampir dua jam Wati berkutat dengan soal-soal ujian yang dierikan pengawas. Semua sola berhasil dijawab oleh Wati. Dilihatnya kembali lembar jawabanya itu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Semua beres, dan Wati tersenyum. Segera dikmpulkannya lembaran jawaban kepada pengawas dan tidak lupa Wati melemparkan senyum termanisnya dan mengucapkan terimakasih, lalu keluar dari ruangan ujian dan  menghampiri saudaranya yang telah lama menunggunya.

“Bagaimana Uni? Sukses ujiannya?”, sapa saudaranya tadi.
“Alhamdulilah sukses na” jawab Wati dengan senyum tersungging di bibirnya.

Lalu mereka berdua berlalu meningalkan kampus itu setelah menyempatkan diri mampir di papan  pengumuman. Hasil ujian dan kelulusan akan diumumkan seminggu kemudian. Itu artinya seminggu juga lamanya Wati akan diselimuti rasa harap-harap cemas. Berharap agar lulus, dan cemas kalau ia tidak bisa lulus dan mengecewakan ayahnya.
***

Hari itu adalah hari yang sangat dinanti-nati oleh Wati. Pada hari itu akan diumumkan hasil ujian dan siapa yang berhak menimba ilmu di perguruan tinggi itu. Wati telah bersiap untuk melihat hasil ujiannya. Ia berharap menjadi salah seorang dari ribuan nama yang berhak kuliah di kampus itu. Masih ditemani oleh saudaranya Wati bertolak menuju kampu tempat ia ujian dulu.

Sesampainya di kampus, wati segera menuju papan pengumuman dan sudah tidak sabar ingin melihat hasil ujiannya. Sangat ramai manusia berkerumun di depan papan pengumumun kala itu. Memanfaatkan badanya yang mungil Wati akhirnya bisa menyusup ke dalam kerumunan itu. Segera dicarinya namanya di ribuan deretan nama di papan pengumuman itu. Akirnya ditemukannya juga namanya terpampang di papan itu. “Ernawati”, begitu namamya tertulis dipapan pengumuman itu.

“Alhamdulilah, Aku lulus” ia membatin dan segera keluar dari kerumunan itu, lalu menemui saudaranya yang juga harap-harap cemas menunggu berita dari wati yang berdiri tidak jauh dari kerumunan itu.

“Ana, alhamdulilah uni lulus”, Wati bersorak girang sembari memeluk saudaranya.
“Selamat uni”, jawab Ana dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.
Setelah puas meluapkan kebahagian lalu mereka berdua pulang ke rumah. Dalam bercalanan pulang tidak henti-hentinya bibir wati mengucapkan syukur kepada Allah. Allah betul-betul telah mendengar do’anya dan mengabulkan pinta gadis itu.
***

Hari itu adalah hari pertama Wati si anak petani kuliah. Dia  tidak lagi tinggal di rumah saudaranya. Dengan alasan ekonomi Ia harus kos di dekat kampus tempat dia kuliah. Hal itu dilakukan agar bisa menghemat waktu dan biaya Wati selama kuliah. Di kos itu juga Wati menemukan teman baru dam mulai membiasakan diri dengan kehidupan baru. Hanya satu yang tidak berubah dari seorang Wati, yaitu kesederhanaannya.

Selama kuliah wati hidup penuh kesederhanaan. Uang belanja yang diberikan ayah dan iunya betul-etul dia manfaatkan sebaik mungkin. Pantang baginya menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Hebatnya lagi, ditengah keterbatasan uang belanja yang diberikan orang tuanya Wati masih bisa untuk menabung. Jika kawan ingin tahu berapa uang belanja yang diberikan orangtuanya untuk Wati, maka jawabnya adalah “sangat kurang” untuk kehidupan mahasiswa saat ini. Namun, dengan keadaan seperti itu Wati tetapbisa juga makan dan kuliah.

Begitulah kawan jika sebuat tekad untuk sukses telah terpatri kuat di hati. Uang dan keterbatasan ekonomi tidak lagi jadi soal dan masalah untuk bisa mengapai impian dan cita-cita. Betul kata orang bijak, “jika ada kemaun, pasti ada jalan”. Dan itu sudah dibuktikan dengan baik oleh seorang Wati, anak seorang petani miskin dari sebuah kampung untuk kita jadikan pelajaran.

Tiga tahun lamanya Wati menimba ilmu di kampus keguruan itu. Banyak suka dan duka yang telah dirasakannya. Suka dan duka itulah yang akan menjadi sejarah manis yang akan dikisahkan kepada anak cucunya kelak. Berbagai ilmu telah didapatkannya selama tiga tahun di kampus itu. Terlebih ilmu pendidikan.  

Seorang wati akan diwisuda dan telah siap dinobatkan sebagi seorang guru. Bukan main senangnya ayah Wati mendengar berita itu. Beliau hanya bisa tersenyum dan matanya berkaca-kaca karena bahagia.  Akhirnya dengan segala keterbatasannya petani itu bisa juga menyampaikan cita-cita yang telah lama dirajut oleh anaknya.

Setelah diwisuda, Wati kembali ke kampungnya untuk menerapkan dan berbagi ilmu pengetahuannya. Wati telah menjadi seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Swasta tempat dia bersekolah dulu. Meskipun bukan guru tetap, namun Wati cukup bahagia menjalani pekerjaan barunya itu.

Berselang enam bulan kemudian Wati diangkat sebagai seorang guru tetap di sebuah SMA dan masih tetap di kampungnya. Namun jaraknya agak jauh dari rumahnya. Di SMA itulah Seorang Wati mengabdikan ilmunya sampai sekarang. Cita-citanya untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya telah terwujud.


 ──Untuk seorang ibu yang luar biasa──

*oleh: Heru Perdana P __Mahasiswa Ekonomi Islam IAIN Imam Bonjol Padang

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers