Hari ini adalah hari terkhir liburku, besok aku akan ujian. Harusnya aku menikmati hari libur ini, akan tetapi, entah kenapa hari ini kejenuhanku memuncak. Ketika orang-orang di luar sana bersuka cita menikmati hari liburnya, aku malah merana karena rasa suntuk yang melanda selama hari libur ini
Rasa suntuk hari ini berbeda dengan hari kemaren. Hari ini rasa suntuk itu sudah tak ketolongan dan sudah berhasil mengacaukan persipanku untuk menghadapi ujian hari esok. Jika rasa suntuk kemaren bisa aku enyahkan dari pikran ini dengan melakukan aksi bersih rumah lalu dikuti dengan duduk manis di depan televisi sembari menonton pertandingan sepak bola antara Semen Padang, tim kebanggaan urang awak melawan Arema Indonesia. Namun hari ini rasa suntuk itu tak bisa aku hilangkan dengan cara seperti itu. Akupun telah mencoba cara lain, sudah aku coba membaringkan diri di pembaringan sederhana di kamarku, berharap mata ini bisa terpejam barang satu atau dua jam. Lalu ketika bangun rasa suntuk itu sudah melayang dari pikiranku berganti dengan pikiran yang semangat. Tapi apalah daya, setelah hampir lima belas menit mencari posisi yang nyaman untuk tidur, mata ini tak juga kunjung terpejam. Bahkan rasa suntuk itu kian tajam menghujam di pikiran ini dan perasaan tak nyaman pun sudah mulai menghinggapi.
Tak mau rasa suntuk merajai pikiranku, akhirnya aku bangun dari tempat tidur. Kemudian aku putuskan untuk menyambangi Gramedia saja. Aku bergegas menuju kamar mandi, lalu bersiap meluncur ke tempat faforit untuk mengurai kejenuhan dan melepas suntuk. Setelah bekemas ala kadarnya, akupun mendorong sepeda motor kesayangan keluar dan memeberikan sedikit pemanasan sebalum aku paksa motor itu menggantarkan aku ke Gramedia.
Memang bukan kali ini saja gramedia sebagai tujuan bagiku untuk menghilangkan sara suntuk. Aku sudah terbiasa semanjak duduk di bangku kuliah menjambangi toko buku di kala suntuk menghingapi pikiran di sela-sela aktifitas kuliah. Karena dengan berkunjung ke toko buku ada semancam kesegaran tersendiri yang aku peroleh. Kesegaran yang cukup ampuh membuang rasa suntuk dari pikiranku. Dan tak jarang aku menemukan inspirasi-inspirasi baru sepulang dari berkunjung ke toko buku (gramedia).
Selang beberapa menit, aku telah berada di gramedia. Setelah memarkir motor dan menitipkan tas, aku segera bergegas ke lantai dua. Rak buku baru adalah tujuan utamaku. Buku pertama yang aku pegang adalah buku karangan Dahlan Iskan, mantan dirut PLN yang sekarang sudah jadi menteri. Sudah lama sebenarnya, aku menginginkan membaca buku yang ditulis oleh pria nan terkenal sederhana ini. Sebelumnya aku sudah mendengar bagaimana enaknya membaca tulisan beliau dari beberapa orang teman. Dan aku juga sudah pernah membaca beberapa tulisan beliau.
Tidak hanya satu, tiga buah buku Dahlan Iskan aku temukan hari ini. Semuanya bagus dan menggugah. Namun apalah daya, kali ini aku tak bisa memboyong ketiga buah buku itu sekaligus ke rumah, mengingat kondisi kantong yang sudah mulai meprihatinkan menjelang akhir bulan. Masalah klasik yang sudah tak terelakan bagi setiap anak kos, seperti aku ini.
Setelah menimbang-nimbang keadaan kantong, akhirnya aku putuskan untuk membeli satu dari tiga buku Dahlan Iskan tersebut. Meskipun aku sadar betul kosekuensi dari keputusan ini aku harus mengurangi alokasi dana untuk belanja harian. Meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu. Bagiku itu tak masalah. Menurutku dengan membeli buku sama saja kita sedang berinvestasi untuk masa depan. Kawan boleh saja tidak setuju dengan pendapatku, tapi yang jelas itulah prinsipku terkait persoalan ini.
Rasanya jika ke Gramedia, tidak cukup bawa uang hanya seratus atau dua ratus ribu saja. Kadang aku iri, melihat pengunjung yang dengan mudahnya membeli buku tanpa harus cemas dengan keadaan keuangan mereka. Jujur saja kawan, sempat terlintas di pikiranku suatu saat nanti aku akan bisa memebeli semua buku yang aku iginkan, tanpa terkendala urusan keungan. Bahkan aku juga punya impian suatu saat nanti aku akan punya sebuah toko buku. Aku sangat berharap impian ini bisa terwujud dan Allah meloloskan keinginan aku ini. Amiin.
Hari ini rasa suntuk dan kejenuhan yang bersemayam di pikiranku, telah aku tinggalkan di Gramedia. Seperti biasanya, mengunjungi toko buku masih terbukti ampuh menghapus rasa suntuk dari pikiranku. Di samping jalan-jalan, mengunjungi toko buku adalah caraku untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan kejenuhan. Ini caraku, apa caramu?
Padang, 23012012
Segala sesuatu yang dikerjakan pasti akan menuai resiko. Ya, begitu juga dengan berkendaraan di jalan raya. Pasti ada resiko yang akan kita hadapi. Setidaknya ada tiga resiko yang harus siap kita terima. Kalau tidak ditabrak orang, maka akan menabrak atau jatuh terguling sendiri di jalan raya. Ketiga resiko itu juga akan bisa mengantarkan kita ke tiga tempat yang berbeda; ke rumah sakit, penjara, atau ke liang kubur. Meskipun demikan, bukan berarti resiko itu tidak dapat dihindarkan. Jika kita mau labih berhati-hati tentu resiko tersebut bisa diminimalisasi atau bahkan terelakan dengan sempurna.
Hidup dijaman yang serba canggih ini telah membuat orang enggan untuk berjalan kaki. Hal itu didukung dengan ketersediaan kendaraan yang siap untuk mengantarkan kita ke mana saja. Ditambah lagi saat ini memperoleh kendaraan juga tidak begitu sulit. Hanya dengan bermodalkan uang satu juta saja kita sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor, tentu dengan mencicil sejumlah uang setiap bulannya. Sadarkah kawan, bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan di zaman ini ada beberapa resiko yang siap menunggu para pengendara di jalan raya. Bahkan tak jarang resiko itu harus membuat pengendara yang malang meregang nyawa di jalan raya.
Masih segar dalam ingatan saya bagaimana seorang pengendara tergeletak di jalan arah ke lubuk minturun tadi malam. Seorang bapak terkapar di jalan setelah ditabrak sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah yang berlawanan. Bapak yang malang itu terkapar di jalan raya dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Ironisnya tak seorang pun dari orang yang menyaksikan kejadian itu berani untuk menolong si Bapak yang malang. Mereka hanya mematung menatap dengan wajah prihatin si Bapak yang tengah terkapar dengan darah mengalir deras dari kepalanya, sementara kaki sang bapak terjepit motornya yang sudah remuk sebahagian itu.
Jujur saja pemandangan seperti itu sempat membuat perut saya mual tak karuan. Bulu roma saya bergidik menyaksikan sang bapak yang seolah tak ada harapan lagi menikmati kehidupan dunia lebih lama. Terbesit rasa iba di hati saya, namun apalah daya saya juga tak bisa berbuat banyak untuk sang Bapak. Saya tak mungkin turun dari kendaraan ketika itu karena kami─segenap rombongan─ ketika itu juga harus sampai tujuan tepat waktu. Alhasil jadilah kami hanya menyaksikan sepintas kejadian naas itu.
Setidaknya meskipun sepintas lalu saja, pemandangan itu telah cukup memerikan pelajaran kepada saya dan mungkin juga buat kita semua agar selalu berhati-hati di jalan raya. Ketahuilah wahai kawan, berkendara di jalan raya juga memiliki aturan kosopanan yang mesti kita taati bersama, di samping prinsip kehati-hatian yang mesti selalu kita junjung tinggi. Karena jika kita lengah dan mengabaikan prinsip kehati-hatian akan berakibat buruk bagi diri kita sendiri, dan bahkan buat orang lain. Serta juga tidak tertutup kemungkinan akan menimbulkan kerugian kepada keluarga orang lain yang salah satu anggota keluarganya kecelakaan.
Sedianya norma kesopanan di jalan raya tidak hanya milik seseorang, atau sekelompok orang saja. Tapi sejatinya harus dijunjung tinggi dan ditaati oleh seluruh mereka yang memakai dan berkendara di jalan raya. Karena bagai manapun juga, prilaku kita akan berakibat kepada orang yang ada di sekitar kita, atau bahkan kepada orang yang tidak ada hubungan langsung dengan kehidupan kita.
Di kesempatan lain, saya teringat dengan sepenggal kalimat seorang teman yang diucpakanya sembari bercanda, “ugal-ugalan di jalan raya, akan buat kita lebih dekat dengan Tuhan”. Saya pikir ucapan seorang teman tadi ada betulnya juga. Bagaimana tidak, dengan ugal-ugalan dan semberono di jalan raya tentu akan berpontensi menimbulkan kecelakaan. Juga tidak tertutup kemungkinan akan mengakibatkan kehilangan nyawa karena kecelakaan itu. Nah, ketika itu semua terjadi, artinya kita akan ketemu Tuhan bukan?
Jika tidak ingin tamat kalimat di jalan raya, prinsip kehati-hatian mutlak kita pegang. Memang kita tidak bisa pungkiri bahwa perkara ajal dan kematian adalah rahasia Allah dan bagian dari takdir kita. Namun selaku makhluk yang beriman kita bisa pilih bagaimana kita harus mati meskipun ajal kita memang hanya sampai waktu itu. Kita bisa pilih mati dengan cara yang baik, atau meregang nyawa di jalan raya hanya karena kita mengabaikan prinsip ‘hati-hati’ dan melanggar norma kesopanan di jalan raya. Renungkanlah!
Padang, 08012012
TELAH TERBIT:
Judul: Unforgettable Moments
Penulis: Tri Lego Indah FN, Ahmed Ghoseen Al-Qohtany, & SYUMITY Lovers
Tebal: xvi + 374 Hlm
... ISBN : 978-602-19599-6-1
Harga : Rp. 60.000,- (belum termasuk Ongkir)
Dapatkan di TB. Gramedia Kesayangan Anda!!!
Cara Pemesanan Online
Ketik UM#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#No.Telp.
kirim ke 08197964001 / 0838 6918 0234
----------------------
ENDORSMENT:
----------------------
"Inspirasi bisa datang dari manapun, dan yang paling berkesan tentu datang dari pengalaman kita sendiri. Kumpulan kisah dalam buku ini akan memberi Anda suntikan inspirasi yang nyata, terjadi setiap hari, dan sangat dekat dengan pengalaman anda sendiri!"- Dedy Dahlan, Passion Coach. Penulis buku Best Selling "PASSION - Ubah Hobi jadi Duit”
----------------------
SINOPSIS :
----------------------
Kisah-kisah yang ada di buku ini, adalah kisah penuh warna yang dialami sendiri oleh para kontributornya. Based True Story yang menjadi keharusan naskah, menjadikan kisah yang ditulis menjadi berjiwa. Membaca setiap chapter di buku ini, membawa kita merefleksi satu tahun perjalanan hidup kita di 2011. Begitu banyak warna terserak yang mewarnai hidup kita. Dari segala kisah yang telah dibagi, kami sangat berharap, kisah-kisah tersebut dapat memberikan pelajaran, hikmah, inspirasi dan manfaat bagi para pembaca.
[ Selengkapnya...]
Kegalauan hatiku saat itu bukan tanpa sebab, kawan. Ada dilema besar dan pergolakakan batin yang luar biasa merasuk ke dalam hati dan pikiranku. Aku harus memilih satu dari dua pilihan yang orang tuaku tawarkan padaku. Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah pilihan yang mudah, tapi tidak untukku.
Bagiku ini adalah pilihan yang sulit yang harus aku putuskan dalam memilih jalan yang harus aku tempuh demi masa depan dan nasibku kelak. Jujur saja, sungguh berat memutuskan semua ini buatku. Namun aku harus putuskan pilihan yang baik buatku dan baik buat ibu,ayah dan adik-adikku kelak.
Aku harus memilih antara melanjutkan sekolah di kampungku saja atau pergi merantau dan melanjutkan sekolahku di sebuah Pesantren. Pilihan sederhana sebenarnya, tapi entah kenapa begitu sulit untuk aku pilih dan putuskan.
Aku bimbang begini, sebenarnya alasanya sederhana sekali kawan. Aku masih agak enggan untuk meninggalkan kampung halamanku ini. Terlalu banyak kenangan indah yang sudah terlanjur aku ukir di kampungku ini. Sulit rasanya meninggalkan kebersamaan yang begitu indah dengan kawan-kawan kecilku.
Sulit rasanya berpisah dengan si Ardi yang lucu tapi usil, yang selalu buat kami belari tunggang-langgang di kejar pak Sabar karena telah merusak pematang sawahnya untuk mencari belut. Yudi temanku yang baik hati namun pendiam yang sering jadi objek keusilan Ardi. Pino si wajah lugu namun banyak akal yang sangat lihai menangkap ikan di sungai. Aku sangat salut dengan kelihaiannya dalam menangkap ikan. Dalam persoalan yang satu ini aku tak pernah bisa menandingi apa lagi mengalahkannya. Belum lagi, si Uyung sesosok manusia mungil yang tidak pernah kehabisan ide untuk buat kami tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah dan guyonannya yang lucu. Ketika bersamanya, seolah dalam hidup ini hanya ada rasa bahagia dan tertawa. Serta banyak lagi kawan-kawan kecilku yang harus aku tinggalkan jika memang aku harus pergi.
Ah, sulit sekali rasanya meninggalkan kampung ini. Sulit meninggalkan kawan-kawanku yang unik dengan berjuta kenangan bersama mereka. Dengan berbagai keunikan itu mereka telah berhasil membuat aku bimbang dan berkelahi dengan perasaanku sendiri dalam memutuskan arah masa depanku.
Namun di sisi lain, orang tuaku menganjurkan agar melanjutkan pendidikan ke kota saja, di sebuah Pondok Pesantren Modern di kota. Anjuran ini sebenarnya bemula dari cerita seorang teman ayahku yang anaknya sudah bersekolah di sana. Orang tuaku juga pernah melihat anak temannya itu beceramah. Tidak hanya itu saja, ditambah lagi cerita teman ibuku yang juga anaknya telah dulu bersekolah di sana dan telah tamat serta telah melanjutkan kuliah dengan jurusan yang menurut orang tuaku sangat bagus dan membanggakan.
Tidak adil rasanya ayah dan ibuku menyuruh aku melanjutkan sekolah ke kota hanya karena melihat anak temannya. Bagaiman pun juga aku masih berhak menentukan arah hidupku tanpa harus mengukuti anak teman beliau yang harus membuat aku berpisah dengan kawan-kawanku. Aku juga tidak ingin masa depanku adalah masa depan yang aku peroleh hanya karena ikut-ikutan saja.
Aku bingung, entah kenapa orang tuaku begitu ingin aku mengikuti jejak anak temannya itu. Ketika aku bertnaya, “kenapa ibu dan ayah begitu ingin aku melanjutkan sekolahku ke pesantren?”. Ayah dengan sedikt senyum menjawab, “kelak engkau akan tahu jawabannya ketika telah mengikuti anjuran kami ini”. Jawaban ayah buat aku makin bimbang.
***
Mentari telah tenggelam di balik bukit. Aku pulang setalah puas bermain dan mandi di sungai bersama teman-temanku. Ku lemparkan bajuku yang basah ke dalam sebuah ember dekat sumur. Aku ganti baju, lalu makan. Makan pun terasa tidak enak senja itu. Aku masih bingung. Selera makanku telah dikalahkan oleh kebingunganku sendiri. Dalam kebingungan itu aku mengutuki diriku sendiri. Kenapa aku begitu lemah. Memutuskan untuk melanjutkan sekolah saja aku harus bimbang dan kehilangan selera makan seperti orang sedang putus cinta.
Setelah makan aku pun mengambil sarung bersiap untuk pergi mengaji ke mesjid. Inilah kebiasaan kami anak-anak kampung setelah magrib, yaitu belajar mengaji di mesjid. Belajar mengaji dilakukan dalam bentuk halaqah dan dibimbing oleh seorang guru yang sudah tua dan sangat suka kopi. Aku tahu itu karena di saat mengajarkan kami beliau sering menyuruh salah satu di antara kami untuk memesankan kopi ke warung yang tidak jauh dari mesjid.
Biasanya kami mengaji hanya sampai waktu isya. Jika isya telah masuk maka proses belejar dihentikan, lalu shalat isya berjemaah. Kami baru boleh pulang setelah shalat isya dan menggulung kembali tikar yang kami duduki untuk belajar tadi.
Di rumah aku telah ditunggu oleh kedua orang tuaku. Tidak biasanya mereka menungguku seperti ini. Jelas saja keadaan ini menimbulkan sejuta tanda tanya dalam diriku. Aku coba lagi mengingat-ingat perangaiku sehari ini. Rasanya aku tidak ada melakukan salah. Pagi aku sekolah. Siangnya aku bermain berama teman-temanku dan tidak berkelahi. Sorenya aku telah menyiram tanaman, kerja rutinku setiap hari. Dan kali ini baru saja aku pulang mengaji. Aku tidak pernah libur mengaji, kecuali hujan lebat. Tapi kenapa aku di tungggu seperti itu oleh orang tuaku.
Belum hilang kebingunganku, ayahku berkata, “duduklah, kami perlu bicara denganmu”.
“ada apa ayah?”, aku masih belum mengrti apa yang akan dibicarakan orang tuaku.
Lalu ibuku menyahut, “kamu telah selasai ujian EBTANAS, dan besok pengumuman kelulusanmu akan keluar”.
Aku mulai paham kenapa ayah dan ibu menungguku seperti ini. Aku tahu persoalan yang akan dibicarakan tidak jauh dari soal kelanjutan sekolahku.
Aku tatap wajah mereka, “iya bu, tapi aku belum bisa putuskan, aku masih ragu”.
Lalu ibuku melanjutkan pembicaraanya, “kau harus cepat putuskan nak, karena pendaftarannya sudah dibuka dan hampir tutup. Kami sangat ingin kau melanjutkan sekolahmu ke kota, di sebuah pesantren”.
Lalu ayah menyela, “ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu juga”.
Ayah diam sejenak dan melanjutkan pembicaraanya kembali, “Jika tetap di kampung, maka temanmu hanya orang itu-itu saja. Pengalaman yang kau dapatkan juga tak akan banyak dan pola pikirmu juga tak akan banyak berubah. Namun, jika kau pilih untuk sekolah ke kota, maka pengalamanmu akan banyak bertambah. Kamu juga akan mendapatkan teman baru tanpa harus kehilangan teman-teman di kampung. Ayah yakin, pola pikirmu juga akan labih maju dan berkembang”.
Aku hanya menganguk takzim dengan penjelasan beliau. Tak berani lagi aku menjawab. Jangankan untuk menjawab, menatap wajah merekapun aku sudah tak kuasa. Alasan yang mereka berikan sangat tapat. Tak bisa lagi aku berkilah. Setidaknya dengan mendengar penjelasan ayah tadi kebimbanganku sudah agak sedikt berkurang, namun hati ini belum juga mantap mau menjatuhkan pilihan ke mana.
“Pikirkanlah, dan cepat putuskan!”, ayahku setengah mendesak lalu bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan aku bersama ibu.
Sepeninggal ayah, ibu mengusap kepalaku. Ibu melihat jam dinding usang yang menepel dengan anggun di dinding rumahku. Jam usang itu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas malam. Ibu lalu menyuruh ku tidur.
“tidurlah dulu, sudah malam! Pikirkan apa yang ayahmu katakan tadi. Yakinlah ini semua demi kebaikanmu nak. Ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu”.
Aku mengangguk menandakan paham, lalu bangkit dari tempat dudukku. Kemudian aku berlalu meninggalkan ibu dan segera menuju kamarku, tapatnya kamarku dan kamar dua orang adik laki-lakiku. Sampai di kamar aku pandangi adik-adiku yang telah lelap dan hanyut entah ke mana di bawa oleh mimpinya. Rona wajah mereka jelas sekali belum ada beban. Berbeda denganku yang tengah diamuk kebimbangan. Aku buka sarung yang ku pakai untuk mengaji tadi, lalu ku lipat dan aku letakkan di sandaran kursi yang ada di kamarku.
Malam itu aku tidak bisa benar-benar tidur nyenyak . aku hanya menerawang menatap langit-langit kamarku yang belum dipasang loteng itu. Pikiranku masih digangu oleh rasa binggung untuk memutuskan dua pilihan yang diberikan orang tuaku. Antara tetap di kampung atau merantau untuk melanjutkan sekolah. Jika tetap di kampung maka perngalaman yang aku dapat hanya itu-itu saja, tidak ada perubahan. Namun jika aku pilih untuk melanjutkan sekolah ke kota, aku harus meninggalkan kawan-kawanku dengan segenap keunikannya. Ah, aku bingung!
Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sumur, lalu aku berwudu’. Aku ingin mengadukan masalah ini pada Allah dengan melakukan shalat istikharah. Akan aku amalkan pelajaran yang pernah di berikan oleh guruku ketika belajar di MDA di sebelah mesjid tempat aku biasa mengaji. Aku bentangkan sajadah, aku shalat dua rakaat. Setelah itu aku mulai mengadukan kebingunganku pada Allah melalui untaian bait-bait do’aku. Do’a anak kelas enam SD. Aku berharap besok ketika bangun pagi aku sudah mendapatkan kemantapan hati untuk memutuskan akan melanjtkan sekolahku ke mana. Setelah mengadukan semuanya kepada Allah, aku baru sedikit tenang dan tertidur.
*Heru Perdana
Padang, 04012012
[ Selengkapnya...]
Tentu kawan bertanya, sebanarnya peristiwa apa yang terlitas di benakku saat itu. Perisitiwa itu adalah kejadian di mana ketika itu aku dan beberapa kawanku dihakimi oleh beberapa orang ustadz karena perkara merokok yang sudah jelas-jelas dilarang keras dilakukan di lingkungan pondok pesantren tempat aku bersekolah ketika itu. Walaupun begini keadaanku kawan, setidaknya aku dulu pernah menjadi seorang santri di sebuah pondok pesantren.
Pada saat itu usiaku memang sangat muda dan boleh dikatakan berada pada fase kanak-kanak akhir atau remaja awal. Pada usia itu adalah wajar rasanya ketika kita ingin mencoba untuk melakukan sesuatu yang baru. Dan bodohnya aku waktu itu mencoba hal yang dilarang oleh aturan kehidupan di pondok pesantren. Sehingga hasilnya jadilah aku terdakwa di depan para ustadz yang sudah siap menjatuhkan beberapa hukuman kepada aku dan beberapa kawanku terkait pelanggaran yang kami lakukan.
Masih segar dalam ingatanku, ketika itu aku dan beberapa temanku tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas setelah shalat magrib. Tiba-tiba datang seorang teman memanggil aku dan beberapa kawanku yang lain. Setelah mendapat izin dari ustadz yang mengajar ketika itu, kami pun keluar dan segera menuju ke mesjid pondok pesantren. Di sana sudah berdiri beberapa orang ustadz yang sudah siap mencerca kami dengan beberapa pertanyaan tentunya dengan nada yang sangat keras layaknya orang yang sedang marah.
Baru saja kami sampai di hadapan para ustadz itu, setelah berbaris dengan rapi layaknya para tentara yang sudah siap menerima perintah dari sang komandan, langsung saja dua buah tamparan bolak balik dengan sebuah peci mendarat dengan indah di kedua belah pipi kami, para terdakwah. Ah, rasanya tamparan itu seperti ucapan selamat datang saja kepada kami para pelanggar aturan pesantren saat itu. Namun bagaimana pun itu, tetap saja adalah sebuah wujud kasih sayang dari seorang guru kepada muridnya agar para murid tahu dan tidak mengulangi kesalahannya.
Setelah menerima tamparan selamat datang, masing-masing dua kali, selanjutnya kami dihadiahi satu batang rokok yang tidak boleh dipegang dengan tangan dan juga tidak boleh terlebas dari bibir kami. Kemudian pada akhir episode sidang kesalahan kami, rokok itu harus kami kunyah dan tahan beberapa saat dalam mulut. Kawan tentu bisa bayangkan bagaimana rasanya mengunyah tembakau dan menahannnya dalam mulut beberapa saat. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, yang jelas dengan mengunyah tembakau itu cukup membuat selera makanku tak enak selama tiga hari.
Menyesal, tapi sudah terlambat. Dan tidak penyesalan namanya kalau tidak datang di akhir. Semenjak kejadian itu aku berjanji dalam hati kecilku bahwa aku akan berusaha untuk sekuat tenaga tidak menghisap lagi benda selinder berukuran sekitar delapan centi meter barnama rokok itu. Alhamdulilah sejauh ini komitmen tersebut masih tetap terjaga dan aku berharap akan bisa selalu terjaga sampai akhir hayatku. Aku akui bahwa menjaga komitmen itu sangat sulit karena aku hidup di lingkungan para pengemar setia benda selinder itu. Tapi tak maslah, aku akan berusaha.
Sekali lagi aku katakan kawan, bahwa aku bersyukur mengalami kejadian seperti yang telah aku utarakan di atas tadi. Bagaimana tidak, menurut pengamatanku rata-rata kawan-kawanku yang merokok menghabiskan satu bungkus rokok dalam satu hari. Jika saja kita asumsikan harga satu bungkus rokok sepuluh ribu per bungkus, itu artinya mereka harus mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah perbulan dan tiga juta enam ratus ribu selama satu tahun hanya untuk rokok, benda selinder berbahan dasar tembakau.
Coba kawan bayangkan, jika saja mereka tidak merokok mungkin uang yang tiga ratus ribu rupiah itu bisa mereka pergunakan untuk membeli buku, baju, atau keperluan lainnya. Bisa saja uang itu mereka tabungkan dan membatu kawan yang tengah kesusahan dalam hal keuangan dalam bentuk pinjaman. Nah, menyadari hal ini lah, tidak berlebihan rasanya jika aku bersyukur dengan apa yang pernah aku alami delapan tahun yang silam.
*Padang, 20 Desember 2011
[ Selengkapnya...]
Rintikan hujan kadang memang bisa menghibur jiwa yang sedang gundah. Hujan yang menitik membasahi bumi tak jarang menjadi hiburan tersendiri bagi sebahagian orang. Tapi jika sudah begini keadanya, siapa lagi yang akan terhibur dengan turunnya hujan? Jujur saja, bahkan aku sendiri sudah mulai agak muak dengan guyuran hujan ini. Rindu rasanya hati ini dengan hangatnya sinar matahari pagi, hangatnya terik mentari di kala siang dan rona keemasan di ufuk barat sana ketika mentari sudah mulai masuk ke peraduannya.
Masih segar dalam ingatanku bagaimana genangan banjir menghadang perjalanan pulang menuju kampung halaman kemarin sore. Hampir saja surut niatku untuk pulang kampung melihat genangan banjir “oleh-oleh” dari langit yang tak kunjung surut kala itu. Kalau saja tidak karena ingin merayakan hari raya qurban bersama keluarga di kampung yang tahun kemarin tidak sempat aku rasakan, mungkin saja aku dan adikku segera balik kanan dan kembali ke kota Padang. Siapa yang tak ciut hatinya menunggu banjir yang mengenangi jalan setinggi pinggang orang dewasa. Belum lagi gelapnya gulugan awan hitam di hulu sana yang siap menumpahkan ribuan gallon air ke bumi, ranah tumpah darahku.
Kalau boleh sedikit ber-lebay-lebay, maka pulang kampung kali ini adalah pulang kampung yang pailing dramatis sepanjang sejarah kehidupanku. Tidak berlibihan rasanya pernyataan seperti itu aku lontarkan jika kawan ikut merasakan bagai mana rasanya menahan perut lapar sambil menunggu banjir yang tak kunjung surut. Mungkin tidak akan menjadi lebay jika kawan tahu bagaimana rasanya menunggu hampir lima jam di tengah rintikan hujan dan dinginnya hembusan angin malam yang menusuk tulang.
Untung saja aku tidak hanya berdua dengan adikku menikmati prosesi pulang kampung yang dramatis itu. Ada puluhan mahasiswa rantau lainnya yang bertujuan sama dengan aku dan adikku terjebak menunggu surutnya banjir yang mengenangi jalan menuju kampung kami. Hanya gelak canda yang sedikit bisa menghangatkan badan kami kala itu. Suasana senja hingga malam itu hanpir mirip dengan acara reunian para alumni SD, hanya saja tidak ada makanan dan orgen tunggalnya.
Kawan, sekali lagi aku bertanya, jika sudah seperti ini keadaannya apakah hujan ini masih manjadi berkah dan hiburan buat kita? Aku rasa jawaban yang paling pas untuk saat ini adalah “tidak”. Aku juga berani bertaruh bahwa kawan akan sepakat dengan jawabanku ini, jika kawan ikut menjadi salah satu rombongan yang menunggu banjir surut, dengan baju basah dan dalam keadaan perut kosong. Belum lagi gelapnya malam karena mati lampu menambah syahdunya suasana di malam itu. Nah, kalau sudah begini saya rasa sangat sulit memberikan jawaban “iya” terhadap pertanyaanku tadi.
Tapi malam itu aku dan segenap rombongan tetap saja sabar menunggu air surut. Mungkin alasan terkuat yang membuat kami tetap bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan itu adalah keinginan untuk bisa merayakan hari raya Qurban bersama keluarga di kampung halaman. Kalaupun ada alasan lain, namun ini adalah alasan utama yang memeberikan semangat tersendiri dalam penantian kami kala itu.
Jujur saja kawan, apa yang kami rasakan ini belum seberapa ketimbang saudara-saudara kita yang ada di belahan Pesisir Selatan arah ke selatan sana. Kami mungkin hanya terhalang untuk lewat ke rumah. Sementara mereka di sana sudah kehilangan rumah dan bahkan kehilangan anggota keluarga. Sungguh musim hujan kali ini telah memancing isak tangis sebahagian besar masyarakat Pesisir Selatan menjelang hari raya qurban.
Hampir lima jam berselang, akhirnya penantian kami berbuah hasil. Air yang menghalangi jalan kami berlahan sudah mulai surut. Hujan telah berhenti. Satu persatu mobil yang ikut dalam barisan rombongan menunggu banjir surut sudah mulai jalan. Namun kami yang mengendarai sepeda motor belum bisa berbuat apa-apa, karena genangan air masih cukup dalam untuk ukuran sepeda motor. Bersabar dan tetap menunggu, hanya itu yang dapat kami lakukan.
Hingga akhirnya penantian kami pun berbuah manis. Air surut dan sepeda motor sudah bisa lewat. Bukan kepalang rasanya girang hati ini, ketika jalan menuju rumah sudah bisa ditempuh. Aku pacu sepeda motorku menerjang genagan banjir yang masih tersisa di jalan. Alhamdulilah, Terimakasih ya Allah, sepenggal kalimat itu terbersit di lubuk hatiku yang paling dalam ketika melalui jalan yang masih digenangi air itu. Mungkin kawan-kawanku yang lain juga merasakan hal yang sama denganku.
Satu pelajaran yang bisa aku dan kita semua petik untuk saat ini, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak akan menjadi baik, dan bahkan akan merusak. Apapun itu, jika berlebihan pasti tidak akan baik. Tidak terkecuali dengan hujan. Hujan jika turun dengan porsi yang pas mungkin akan menjadi berkah buat kehidupan kita di bumi Allah yang elok ini. Akan tetapi, jika sudah berlebihan maka hujan akan menjelma menjadi sebuah bencana atau teguran buat kita. Seperti yang tengah aku, adiku dan segenap warga Pesisir Selatan alami saat ini.
Namun terlepas dari itu, ini adalah teguran Allah kepada kita. Mungkin saja kita sering lupa dan khilaf serta berbuat salah. Allah telah menegur, maka segeralah introspeksi diri dan berubah ke arah yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Semoga saja kita cukup cerdas untuk mengambil hikmah di balik bencana ini. Yakinlah, apapun yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tidak mungkin terjadi tanpa sebuah hikmah. Lihat, rasakan dan renungkan, lalu ambil hikmahnya.
Pesisir Selatan, 05 November 2011
-Ditulis sehari menjelang hari raya qurban dalam kondisi hujan dan banjir masih mengenangi jalan-
[ Selengkapnya...]
Hujan menjelang hari raya Qurban ini telah meninggalkan kenangan yang sangat tidak enka buat warga di kampongku, kawan. Hujan ini telah merendam dan mengenangi kampong kami dengan banjir ini. Banjir yang telah menelan korban. Tidak hanya korban materi, tapi juga korban nyawa. Sedih memang mendengar berita ini, tapi ini suka atau tidak suka, mau atau tidak mau ini adalah bagian dari teguran Allah buat kita hambaNya yang sering lupa dan salah.
Entah apa yang salah, yang jelas banjir itu telah datang dan merendam segenap ranah kelahiranku dan juga telah berhasil merenggut beberapa nyawa. Itu artinya akan ada beberapa anak yatim atau piatu baru di kampungku setelah ini. Maungkin juga akan ada orang tua yang akan kehilangan anaknya. Tapi, semuanya telah terjadi kawan. Menyesalpun sudah terlambat. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah intropeksi diri dan mulai memperbaiki kesalahan. Yakinlah, Allah tidak mungkin menegur kalau kita tak salah.
Tuhan, marahkan Engkau kepada kami.???
Padang, 04 November 2011
[ Selengkapnya...]





