Unforgettable Moments
















TELAH TERBIT:

Judul: Unforgettable Moments
Penulis: Tri Lego Indah FN, Ahmed Ghoseen Al-Qohtany, & SYUMITY Lovers
Tebal: xvi + 374 Hlm
... ISBN : 978-602-19599-6-1
Harga : Rp. 60.000,- (belum termasuk Ongkir)

Dapatkan di TB. Gramedia Kesayangan Anda!!!
Cara Pemesanan Online
Ketik UM#Nama Lengkap#Alamat Lengkap#Jumlah#No.Telp.
kirim ke 08197964001 / 0838 6918 0234


----------------------
ENDORSMENT:
----------------------
"Inspirasi bisa datang dari manapun, dan yang paling berkesan tentu datang dari pengalaman kita sendiri. Kumpulan kisah dalam buku ini akan memberi Anda suntikan inspirasi yang nyata, terjadi setiap hari, dan sangat dekat dengan pengalaman anda sendiri!"- Dedy Dahlan, Passion Coach. Penulis buku Best Selling "PASSION - Ubah Hobi jadi Duit”

----------------------
SINOPSIS :
----------------------
Kisah-kisah yang ada di buku ini, adalah kisah penuh warna yang dialami sendiri oleh para kontributornya. Based True Story yang menjadi keharusan naskah, menjadikan kisah yang ditulis menjadi berjiwa. Membaca setiap chapter di buku ini, membawa kita merefleksi satu tahun perjalanan hidup kita di 2011. Begitu banyak warna terserak yang mewarnai hidup kita. Dari segala kisah yang telah dibagi, kami sangat berharap, kisah-kisah tersebut dapat memberikan pelajaran, hikmah, inspirasi dan manfaat bagi para pembaca.

[ Selengkapnya...]
Label:

Di Persimpangan Kebimbangan

Sore itu hari begitu cerah, seolah mentari enggan untuk berhenti menyinari bumi tanah tumpah darahku. Namun tidak dengan hatiku, hatiku tidak secarah mentari kala itu. Hatiku saat itu dalam kebimbangan, hatiku saat itu dalam kegalauan. Kegalauan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Inilah kegalauan hati seoarang anak kelas enam SD yang baru saja selesai ujian EBTANAS.

Kegalauan hatiku saat itu bukan tanpa sebab, kawan. Ada dilema besar dan pergolakakan batin yang luar biasa merasuk ke dalam hati dan pikiranku. Aku harus memilih satu dari dua pilihan yang orang tuaku tawarkan padaku. Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah pilihan yang mudah, tapi tidak untukku.

Bagiku ini adalah pilihan yang sulit yang harus aku putuskan dalam memilih jalan yang harus aku tempuh demi masa depan dan nasibku kelak. Jujur saja, sungguh berat memutuskan semua ini buatku. Namun aku harus putuskan pilihan yang baik buatku dan baik buat ibu,ayah dan adik-adikku kelak.

Aku harus memilih antara melanjutkan sekolah di kampungku saja atau pergi merantau dan melanjutkan sekolahku di sebuah Pesantren. Pilihan sederhana sebenarnya, tapi entah kenapa begitu sulit untuk aku pilih dan putuskan.

Aku bimbang begini, sebenarnya alasanya sederhana sekali kawan. Aku masih agak enggan untuk meninggalkan kampung halamanku ini. Terlalu banyak kenangan indah yang sudah terlanjur aku ukir di kampungku ini. Sulit rasanya meninggalkan kebersamaan yang begitu indah dengan kawan-kawan kecilku.

Sulit rasanya berpisah dengan si Ardi yang lucu tapi usil, yang selalu buat kami belari tunggang-langgang di kejar pak Sabar karena telah merusak pematang sawahnya untuk mencari belut. Yudi temanku yang baik hati namun pendiam yang sering jadi objek keusilan Ardi. Pino si wajah lugu namun banyak akal yang sangat lihai menangkap ikan di sungai. Aku sangat salut dengan kelihaiannya dalam menangkap ikan. Dalam persoalan yang satu ini aku tak pernah bisa menandingi apa lagi mengalahkannya. Belum lagi, si Uyung sesosok manusia mungil yang tidak pernah kehabisan ide untuk buat kami tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah dan guyonannya yang lucu. Ketika bersamanya, seolah dalam hidup ini hanya ada rasa bahagia dan tertawa. Serta banyak lagi kawan-kawan kecilku yang harus aku tinggalkan jika memang aku harus pergi.

Ah, sulit sekali rasanya meninggalkan kampung ini. Sulit meninggalkan kawan-kawanku yang unik dengan berjuta kenangan bersama mereka. Dengan berbagai keunikan itu mereka telah berhasil membuat aku bimbang dan berkelahi dengan perasaanku sendiri dalam memutuskan arah masa depanku.

Namun di sisi lain, orang tuaku menganjurkan agar melanjutkan pendidikan ke kota saja, di sebuah Pondok Pesantren Modern di kota. Anjuran ini sebenarnya bemula dari cerita seorang teman ayahku yang anaknya sudah bersekolah di sana. Orang tuaku juga pernah melihat anak temannya itu beceramah. Tidak hanya itu saja, ditambah lagi cerita teman ibuku yang juga anaknya telah dulu bersekolah di sana dan telah tamat serta telah melanjutkan kuliah dengan jurusan yang menurut orang tuaku sangat bagus dan membanggakan.

Tidak adil rasanya ayah dan ibuku menyuruh aku melanjutkan sekolah ke kota hanya karena melihat anak temannya. Bagaiman pun juga aku masih berhak menentukan arah hidupku tanpa harus mengukuti anak teman beliau yang harus membuat aku berpisah dengan kawan-kawanku. Aku juga tidak ingin masa depanku adalah masa depan yang aku peroleh hanya karena ikut-ikutan saja.

Aku bingung, entah kenapa orang tuaku begitu ingin aku mengikuti jejak anak temannya itu. Ketika aku bertnaya, “kenapa ibu dan ayah begitu ingin aku melanjutkan sekolahku ke pesantren?”. Ayah dengan sedikt senyum menjawab, “kelak engkau akan tahu jawabannya ketika telah mengikuti anjuran kami ini”. Jawaban ayah buat aku makin bimbang.

***

Mentari telah tenggelam di balik bukit. Aku pulang setalah puas bermain dan mandi di sungai bersama teman-temanku. Ku lemparkan bajuku yang basah ke dalam sebuah ember dekat sumur. Aku ganti baju, lalu makan. Makan pun terasa tidak enak senja itu. Aku masih bingung. Selera makanku telah dikalahkan oleh kebingunganku sendiri. Dalam kebingungan itu aku mengutuki diriku sendiri. Kenapa aku begitu lemah. Memutuskan untuk melanjutkan sekolah saja aku harus bimbang dan kehilangan selera makan seperti orang sedang putus cinta.

Setelah makan aku pun mengambil sarung bersiap untuk pergi mengaji ke mesjid. Inilah kebiasaan kami anak-anak kampung setelah magrib, yaitu belajar mengaji di mesjid. Belajar mengaji dilakukan dalam bentuk halaqah dan dibimbing oleh seorang guru yang sudah tua dan sangat suka kopi. Aku tahu itu karena di saat mengajarkan kami beliau sering menyuruh salah satu di antara kami untuk memesankan kopi ke warung yang tidak jauh dari mesjid.

Biasanya kami mengaji hanya sampai waktu isya. Jika isya telah masuk maka proses belejar dihentikan, lalu shalat isya berjemaah. Kami baru boleh pulang setelah shalat isya dan menggulung kembali tikar yang kami duduki untuk belajar tadi.

Di rumah aku telah ditunggu oleh kedua orang tuaku. Tidak biasanya mereka menungguku seperti ini. Jelas saja keadaan ini menimbulkan sejuta tanda tanya dalam diriku. Aku coba lagi mengingat-ingat perangaiku sehari ini. Rasanya aku tidak ada melakukan salah. Pagi aku sekolah. Siangnya aku bermain berama teman-temanku dan tidak berkelahi. Sorenya aku telah menyiram tanaman, kerja rutinku setiap hari. Dan kali ini baru saja aku pulang mengaji. Aku tidak pernah libur mengaji, kecuali hujan lebat. Tapi kenapa aku di tungggu seperti itu oleh orang tuaku.

Belum hilang kebingunganku, ayahku berkata, “duduklah, kami perlu bicara denganmu”.
“ada apa ayah?”, aku masih belum mengrti apa yang akan dibicarakan orang tuaku.
Lalu ibuku menyahut, “kamu telah selasai ujian EBTANAS, dan besok pengumuman kelulusanmu akan keluar”.
Aku mulai paham kenapa ayah dan ibu menungguku seperti ini. Aku tahu persoalan yang akan dibicarakan tidak jauh dari soal kelanjutan sekolahku.

Aku tatap wajah mereka, “iya bu, tapi aku belum bisa putuskan, aku masih ragu”.
Lalu ibuku melanjutkan pembicaraanya, “kau harus cepat putuskan nak, karena pendaftarannya sudah dibuka dan hampir tutup. Kami sangat ingin kau melanjutkan sekolahmu ke kota, di sebuah pesantren”.

Lalu ayah menyela, “ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu juga”.
Ayah diam sejenak dan melanjutkan pembicaraanya kembali, “Jika tetap di kampung, maka temanmu hanya orang itu-itu saja. Pengalaman yang kau dapatkan juga tak akan banyak dan pola pikirmu juga tak akan banyak berubah. Namun, jika kau pilih untuk sekolah ke kota, maka pengalamanmu akan banyak bertambah. Kamu juga akan mendapatkan teman baru tanpa harus kehilangan teman-teman di kampung. Ayah yakin, pola pikirmu juga akan labih maju dan berkembang”.

Aku hanya menganguk takzim dengan penjelasan beliau. Tak berani lagi aku menjawab. Jangankan untuk menjawab, menatap wajah merekapun aku sudah tak kuasa. Alasan yang mereka berikan sangat tapat. Tak bisa lagi aku berkilah. Setidaknya dengan mendengar penjelasan ayah tadi kebimbanganku sudah agak sedikt berkurang, namun hati ini belum juga mantap mau menjatuhkan pilihan ke mana.

“Pikirkanlah, dan cepat putuskan!”, ayahku setengah mendesak lalu bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan aku bersama ibu.

Sepeninggal ayah, ibu mengusap kepalaku. Ibu melihat jam dinding usang yang menepel dengan anggun di dinding rumahku. Jam usang itu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas malam. Ibu lalu menyuruh ku tidur.
“tidurlah dulu, sudah malam! Pikirkan apa yang ayahmu katakan tadi. Yakinlah ini semua demi kebaikanmu nak. Ini bukan untuk kami, tapi untuk masa depanmu”.

Aku mengangguk menandakan paham, lalu bangkit dari tempat dudukku. Kemudian aku berlalu meninggalkan ibu dan segera menuju kamarku, tapatnya kamarku dan kamar dua orang adik laki-lakiku. Sampai di kamar aku pandangi adik-adiku yang telah lelap dan hanyut entah ke mana di bawa oleh mimpinya. Rona wajah mereka jelas sekali belum ada beban. Berbeda denganku yang tengah diamuk kebimbangan. Aku buka sarung yang ku pakai untuk mengaji tadi, lalu ku lipat dan aku letakkan di sandaran kursi yang ada di kamarku.

Malam itu aku tidak bisa benar-benar tidur nyenyak . aku hanya menerawang menatap langit-langit kamarku yang belum dipasang loteng itu. Pikiranku masih digangu oleh rasa binggung untuk memutuskan dua pilihan yang diberikan orang tuaku. Antara tetap di kampung atau merantau untuk melanjutkan sekolah. Jika tetap di kampung maka perngalaman yang aku dapat hanya itu-itu saja, tidak ada perubahan. Namun jika aku pilih untuk melanjutkan sekolah ke kota, aku harus meninggalkan kawan-kawanku dengan segenap keunikannya. Ah, aku bingung!

Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sumur, lalu aku berwudu’. Aku ingin mengadukan masalah ini pada Allah dengan melakukan shalat istikharah. Akan aku amalkan pelajaran yang pernah di berikan oleh guruku ketika belajar di MDA di sebelah mesjid tempat aku biasa mengaji. Aku bentangkan sajadah, aku shalat dua rakaat. Setelah itu aku mulai mengadukan kebingunganku pada Allah melalui untaian bait-bait do’aku. Do’a anak kelas enam SD. Aku berharap besok ketika bangun pagi aku sudah mendapatkan kemantapan hati untuk memutuskan akan melanjtkan sekolahku ke mana. Setelah mengadukan semuanya kepada Allah, aku baru sedikit tenang dan tertidur.



*Heru Perdana
Padang, 04012012

[ Selengkapnya...]
Label:

“Aku Bersyukur Hal itu Pernah Terjadi”

Hari itu hujan mengguyur bumi pertiwi dengan sangat deras dihiasi tiupan angin yang agak kencang. Praktis suasana terasa sedikit dingin dan membuat aku malas untu beraktifitas. Dalam suasana seperti itu, akupun duduk termenung dan entah kenapa pikiranku berkelana ke masa lalu dan terdampar pada sebuah bayangan peristiwa yang cukup berkesan dalam hidupku. Sebuah peristiwa yang belakangan ini aku syukuri pernah aku alami kala itu. Kalau saja peristiwa itu tidak terjadi entah bagaimana kehidupanku saat ini.

Tentu kawan bertanya, sebanarnya peristiwa apa yang terlitas di benakku saat itu. Perisitiwa itu adalah kejadian di mana ketika itu aku dan beberapa kawanku dihakimi oleh beberapa orang ustadz karena perkara merokok yang sudah jelas-jelas dilarang keras dilakukan di lingkungan pondok pesantren tempat aku bersekolah ketika itu. Walaupun begini keadaanku kawan, setidaknya aku dulu pernah menjadi seorang santri di sebuah pondok pesantren.

Pada saat itu usiaku memang sangat muda dan boleh dikatakan berada pada fase kanak-kanak akhir atau remaja awal. Pada usia itu adalah wajar rasanya ketika kita ingin mencoba untuk melakukan sesuatu yang baru. Dan bodohnya aku waktu itu mencoba hal yang dilarang oleh aturan kehidupan di pondok pesantren. Sehingga hasilnya jadilah aku terdakwa di depan para ustadz yang sudah siap menjatuhkan beberapa hukuman kepada aku dan beberapa kawanku terkait pelanggaran yang kami lakukan.

Masih segar dalam ingatanku, ketika itu aku dan beberapa temanku tengah mengikuti kegiatan belajar di kelas setelah shalat magrib. Tiba-tiba datang seorang teman memanggil aku dan beberapa kawanku yang lain. Setelah mendapat izin dari ustadz yang mengajar ketika itu, kami pun keluar dan segera menuju ke mesjid pondok pesantren. Di sana sudah berdiri beberapa orang ustadz yang sudah siap mencerca kami dengan beberapa pertanyaan tentunya dengan nada yang sangat keras layaknya orang yang sedang marah.


Baru saja kami sampai di hadapan para ustadz itu, setelah berbaris dengan rapi layaknya para tentara yang sudah siap menerima perintah dari sang komandan, langsung saja dua buah tamparan bolak balik dengan sebuah peci mendarat dengan indah di kedua belah pipi kami, para terdakwah. Ah, rasanya tamparan itu seperti ucapan selamat datang saja kepada kami para pelanggar aturan pesantren saat itu. Namun bagaimana pun itu, tetap saja adalah sebuah wujud kasih sayang dari seorang guru kepada muridnya agar para murid tahu dan tidak mengulangi kesalahannya.

Setelah menerima tamparan selamat datang, masing-masing dua kali, selanjutnya kami dihadiahi satu batang rokok yang tidak boleh dipegang dengan tangan dan juga tidak boleh terlebas dari bibir kami. Kemudian pada akhir episode sidang kesalahan kami, rokok itu harus kami kunyah dan tahan beberapa saat dalam mulut. Kawan tentu bisa bayangkan bagaimana rasanya mengunyah tembakau dan menahannnya dalam mulut beberapa saat. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, yang jelas dengan mengunyah tembakau itu cukup membuat selera makanku tak enak selama tiga hari.

Menyesal, tapi sudah terlambat. Dan tidak penyesalan namanya kalau tidak datang di akhir. Semenjak kejadian itu aku berjanji dalam hati kecilku bahwa aku akan berusaha untuk sekuat tenaga tidak menghisap lagi benda selinder berukuran sekitar delapan centi meter barnama rokok itu. Alhamdulilah sejauh ini komitmen tersebut masih tetap terjaga dan aku berharap akan bisa selalu terjaga sampai akhir hayatku. Aku akui bahwa menjaga komitmen itu sangat sulit karena aku hidup di lingkungan para pengemar setia benda selinder itu. Tapi tak maslah, aku akan berusaha.

Sekali lagi aku katakan kawan, bahwa aku bersyukur mengalami kejadian seperti yang telah aku utarakan di atas tadi. Bagaimana tidak, menurut pengamatanku rata-rata kawan-kawanku yang merokok menghabiskan satu bungkus rokok dalam satu hari. Jika saja kita asumsikan harga satu bungkus rokok sepuluh ribu per bungkus, itu artinya mereka harus mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah perbulan dan tiga juta enam ratus ribu selama satu tahun hanya untuk rokok, benda selinder berbahan dasar tembakau.

Coba kawan bayangkan, jika saja mereka tidak merokok mungkin uang yang tiga ratus ribu rupiah itu bisa mereka pergunakan untuk membeli buku, baju, atau keperluan lainnya. Bisa saja uang itu mereka tabungkan dan membatu kawan yang tengah kesusahan dalam hal keuangan dalam bentuk pinjaman. Nah, menyadari hal ini lah, tidak berlebihan rasanya jika aku bersyukur dengan apa yang pernah aku alami delapan tahun yang silam.



*Padang, 20 Desember 2011

[ Selengkapnya...]
Label:

Pulang Kampung yang "Dramatis"

Mentari tak juga kunjung memancarkan sinarnya, masih saja bersembunyi malu-malu di balik gelapnya awan hitam yang mengucurkan air untuk membasahi bumi. Hari ini genap sudah empat hari hujan turun tanpa henti. Itu artinya sudah empat hari juga aku merindukan hangatnya sinar matahari. Mungkin tidak hanya aku, banyak juga orang di luar sana yang merasakan hal yang sama dengan diriku. 

Rintikan hujan kadang memang bisa menghibur jiwa yang sedang gundah. Hujan yang menitik membasahi bumi tak jarang menjadi hiburan tersendiri bagi sebahagian orang. Tapi jika sudah begini keadanya, siapa lagi yang akan terhibur dengan turunnya hujan? Jujur saja, bahkan aku sendiri sudah mulai agak muak dengan guyuran hujan ini. Rindu rasanya hati ini dengan hangatnya sinar matahari pagi, hangatnya terik mentari di kala siang dan rona keemasan di ufuk barat sana ketika mentari sudah mulai masuk ke peraduannya.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana genangan banjir menghadang perjalanan pulang menuju kampung halaman kemarin sore. Hampir saja surut niatku untuk pulang kampung melihat genangan banjir “oleh-oleh” dari langit yang tak kunjung surut kala itu. Kalau saja tidak karena ingin merayakan hari raya qurban bersama keluarga di kampung yang tahun kemarin tidak sempat aku rasakan, mungkin saja aku dan adikku segera balik kanan dan kembali ke kota Padang. Siapa yang tak ciut hatinya menunggu banjir yang mengenangi jalan setinggi pinggang orang dewasa. Belum lagi gelapnya gulugan awan hitam di hulu sana yang siap menumpahkan ribuan gallon air ke bumi, ranah tumpah darahku.

Kalau boleh sedikit ber-lebay-lebay, maka pulang kampung kali ini adalah pulang kampung yang pailing dramatis sepanjang sejarah kehidupanku. Tidak berlibihan rasanya pernyataan seperti itu aku lontarkan jika kawan ikut merasakan bagai mana rasanya menahan perut lapar sambil menunggu banjir yang tak kunjung surut. Mungkin tidak akan menjadi lebay jika kawan tahu bagaimana rasanya menunggu hampir lima jam di tengah rintikan hujan dan dinginnya hembusan angin malam yang menusuk tulang.
Untung saja aku tidak hanya berdua dengan adikku menikmati prosesi pulang kampung yang dramatis itu. Ada puluhan mahasiswa rantau lainnya yang bertujuan sama dengan aku dan adikku terjebak menunggu surutnya banjir yang mengenangi jalan menuju kampung kami. Hanya gelak canda yang sedikit bisa menghangatkan badan kami kala itu. Suasana senja hingga malam itu hanpir mirip dengan acara reunian para alumni SD, hanya saja tidak ada makanan dan orgen tunggalnya.

Kawan, sekali lagi aku bertanya, jika sudah seperti ini keadaannya apakah hujan ini masih manjadi berkah dan hiburan buat kita? Aku rasa jawaban yang paling pas untuk saat ini adalah “tidak”. Aku juga berani bertaruh bahwa kawan akan sepakat dengan jawabanku ini, jika kawan ikut menjadi salah satu rombongan yang menunggu banjir surut, dengan baju basah dan dalam keadaan perut kosong. Belum lagi gelapnya malam karena mati lampu menambah syahdunya suasana di malam itu. Nah, kalau sudah begini saya rasa sangat sulit memberikan jawaban “iya” terhadap pertanyaanku tadi.

Tapi malam itu aku dan segenap rombongan tetap saja sabar menunggu air surut. Mungkin alasan terkuat yang membuat kami tetap bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan itu adalah keinginan untuk bisa merayakan hari raya Qurban bersama keluarga di kampung halaman. Kalaupun ada alasan lain, namun ini adalah alasan utama yang memeberikan semangat tersendiri dalam penantian kami kala itu.

Jujur saja kawan, apa yang kami rasakan ini belum seberapa ketimbang saudara-saudara kita yang ada di belahan Pesisir Selatan arah ke selatan sana. Kami mungkin hanya terhalang untuk lewat ke rumah. Sementara mereka di sana sudah kehilangan rumah dan bahkan kehilangan anggota keluarga. Sungguh musim hujan kali ini telah memancing isak tangis sebahagian besar masyarakat Pesisir Selatan menjelang hari raya qurban.

Hampir lima jam berselang, akhirnya penantian kami berbuah hasil. Air yang menghalangi jalan kami berlahan sudah mulai surut. Hujan telah berhenti. Satu persatu mobil yang ikut dalam barisan rombongan menunggu banjir surut sudah mulai jalan. Namun kami yang mengendarai sepeda motor belum bisa berbuat apa-apa, karena genangan air masih cukup dalam untuk ukuran sepeda motor. Bersabar dan tetap menunggu, hanya itu yang dapat kami lakukan.

Hingga akhirnya penantian kami pun berbuah manis. Air surut dan sepeda motor sudah bisa lewat. Bukan kepalang rasanya girang hati ini, ketika jalan menuju rumah sudah bisa ditempuh. Aku pacu sepeda motorku menerjang genagan banjir yang masih tersisa di jalan. Alhamdulilah, Terimakasih ya Allah, sepenggal kalimat itu terbersit di lubuk hatiku yang paling dalam ketika melalui jalan yang masih digenangi air itu. Mungkin kawan-kawanku yang lain juga merasakan hal yang sama denganku.

Satu pelajaran yang bisa aku dan kita semua petik untuk saat ini, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak akan menjadi baik, dan bahkan akan merusak. Apapun itu, jika berlebihan pasti tidak akan baik. Tidak terkecuali dengan hujan. Hujan jika turun dengan porsi yang pas mungkin akan menjadi berkah buat kehidupan kita di bumi Allah yang elok ini. Akan tetapi, jika sudah berlebihan maka hujan akan menjelma menjadi sebuah bencana atau teguran buat kita. Seperti yang tengah aku, adiku dan segenap warga Pesisir Selatan alami saat ini.

Namun terlepas dari itu, ini adalah teguran Allah kepada kita. Mungkin saja kita sering lupa dan khilaf serta berbuat salah. Allah telah menegur, maka segeralah introspeksi diri dan berubah ke arah yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Semoga saja kita cukup cerdas untuk mengambil hikmah di balik bencana ini. Yakinlah, apapun yang terjadi di bawah kolong langit Allah ini tidak mungkin terjadi tanpa sebuah hikmah. Lihat, rasakan dan renungkan, lalu ambil hikmahnya.

Pesisir Selatan, 05 November 2011
-Ditulis sehari menjelang hari raya qurban dalam kondisi hujan dan banjir masih mengenangi jalan-

[ Selengkapnya...]
Label:

Hujan Menjelang Hari Raya Qurban

Beberapa hari ini hujan tak pernah bosan membasahi bumi pertiwi. Seolah persedian air di langit sana tak pernah habis untuk dikucurkan ke bumi. Sudah lama aku dan penduduk lainnya di negeri ini tak menyaksikan indahnya matahari di kala pagi, dan juga sudah lama kami tak merasakan hangatnya sengatan mentari pagi. Sudah rindu rasanya hati ini dengan panasnya terik matahari di kala siang.

Hujan menjelang hari raya Qurban ini telah meninggalkan kenangan yang sangat tidak enka buat warga di kampongku, kawan. Hujan ini telah merendam dan mengenangi kampong kami dengan banjir ini. Banjir yang telah menelan korban. Tidak hanya korban materi, tapi juga korban nyawa. Sedih memang mendengar berita ini, tapi ini suka atau tidak suka, mau atau tidak mau ini adalah bagian dari teguran Allah buat kita hambaNya yang sering lupa dan salah.

Entah apa yang salah, yang jelas banjir itu telah datang dan merendam segenap ranah kelahiranku dan juga telah berhasil merenggut beberapa nyawa. Itu artinya akan ada beberapa anak yatim atau piatu baru di kampungku setelah ini. Maungkin juga akan ada orang tua yang akan kehilangan anaknya. Tapi, semuanya telah terjadi kawan. Menyesalpun sudah terlambat. Satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah intropeksi diri dan mulai memperbaiki kesalahan. Yakinlah, Allah tidak mungkin menegur kalau kita tak salah.
Tuhan, marahkan Engkau kepada kami.???

Padang, 04 November 2011


[ Selengkapnya...]
Label:

Catatan Selasa Pagi

Sudah hampir dua minggu aku tak menulis sesuatu apapun. Entah apa masalahnya aku juga tak mengerti. Semangat untuk menulis tiba-tiba itu hilang entah ke mana. Gairah untuk menulis meredup dan nyaris padam rasanya. Entah apa yang salah dengan diriku ini, aku juga tak mengerti. Malas, dan malas mungkin itulah alasan paling pas untuk aku kemukakan. Namun jika kawan bertanya kembali, kenapa malas? Maka aku akan binggung sendiri menjawabnya. Jadi, tak usah lah bertanya lagi, kawan. 

Kadang aku sempat berfikir, bagaiamana sih para penulis hebat yang telah menghasilkan ribuan tulisan yang sangat hebat itu memotivai diri mereka untuk tetap dan terus menulis? Apakah mereka pernah kehilangan keinginan untuk menulis? Apakah mood menulis mereka pernah menguap dan menghilang? Ah, meskipun pernah tapi mereka tetap saja telah menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat dan indah. Dengan karya indah itu mereka telah berhasil mencatatkan nama mereka dalam sejarah.

Lalau bagaimana dengan aku? Aku tetap saja aku yang masih kehilangan semangat dan mood untuk menulis sampai saat sekarang ini. Ingin sekali rasanya aku mencoba untuk menulis kembali, mengukir rangkaian tulisan-tulisan di lembaran kertas putih. Berulang kali aku mencoba, dan berulang kali juga aku gagal untuk memulai. 


Dulu bagiku menulis adalah sarana pembabasan jiwa. Nah, sekarang aku merasa sangat sulit sekali merenda tulisan di lembaran kertas putih. Ah, rasanya saat ini jiwaku terkungkung. Susah rasanya menuangkan ide itu. Kadang ide itu ada, tapi memulainya sangat rumit sekali.


Pagi ini, kejenuhan itu kian memuncak, dan di sisi lain keinginan untuk kembali menulis itu kian kuat menhentak. Akahirnya aku coba untuk menuliskan tulisan ini. Inilah secarik catatan di selasa pagi. Oh semangat kembalilah,..!!!

[ Selengkapnya...]
Label:

Teruslah Berbagi

Tidak ada manusia yang sempurna. Ya, tak seorang pun di dunia ini yang terlahir sebagai sesosok manusia yang sempurna. Saya, anda dan kita semua terlahir dengan berbagai kekurangan di tengah segelintir kelebihan yang kita miliki. Agaknya ini merupakan bagian dari takdir Maha Besar Allah, agar kita manusia bisa hidup saling berdampingan dan saling berbagi. Ya, kita memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin bisa untuk hidup sendiri di hamparan bumi Allah yang elok ini. Dengan alasan apapun kita tidak akan mungkin bisa mengingkari sunatullah ini. 

Apapun profesi kita, bagaimana pun status sosial kita dan seberapa pun tingginya pendidikan kita, serta tak peduli seberapa banyak gelar yang kita miliki, tetap saja kita akan membutuhkan orang lain untuk menunjang dan menjamin kelangsungan kehidupan kita di muka bumi ini. Di samping kita membutuhkan orang lain, kita juga dianjurkan untuk bisa berbagi dan membatu orang lain yang berada di sekeliling kita. Inilah bagian dari takdir Allah yang saya maksud di atas tadi. Allah tidak akan menciptakan sesuatu di kolong langit ini tanpa hikmah. Singkatnya, kita sangat dianjurkan untuk saling meberi dan menerima.

Manusia terlahir sudah ditakdirkan sebagai makhluk sosial. Itu artinya kita akan selalu saling berinteraksi antar sesama manusia dalam kehidupan ini. Di mana pun kita berada interaksi itu pasti akan terjadi. Bukankah keberadaan kita di dunia ini sangat terkait erat dengan lingkungan kita? Kita akan selalu bersosialisasi dengan orang yang ada di sekeliling kita. Nah, di dalam proses sosialisasi itulah adanya proses tukar menukar manfaat melalui kegiatan saling memberi dan menerima. Kita sangat butuh orang lain dan tidak tertutup kemungkinan oranglain juga sangat membutuhkan kita.

Karena kita sangat dianjurkan untuk memberi dan berbagi kepada sesama, maka alangkah sangat mulianya orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Bukankah baginda Rasulullah SAW pernah berpesan melalui haditsnya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Dan salah satu cara member manfaat kepada orang lain adalah dengan berbagi dan memberi.

Agaknya hadits Rasulluah di atas sudah cukup bagi kita untuk membuktikan bahwa kita sangat dianjurkan untuk bisa memberikan dan berbagi kepada orang lain dan lingkungan sekitar kita. Memberi dan berbagi tidak harus berupa uang atau materi. Banyak hal lain yang dapat kita berikan untuk orang di sekeliling kita. Apakah pemberian itu berbentuk ide, sumbangan pikiran, saran dan nasehat atau berupa tenaga misalnya. Apapun itu, selagi itu bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan kita, kenapa tidak kita bagi dengan orang lain.

Jika kita adalah seorang yang berilmu, maka berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Berilah manfaat orang dan lingkungan di sekeliling kita dengan ilmu yang kita punya. Ilmu jika tidak dimanfaatkan ibarat pohon tanpa buah. Tidak ada artinya. Tahukah kawan bahwa tidak ada orang yang serba tahu di dunia ini. Kita memiliki keterbatasan pengetahuan. Oleh sebab itu kita sangat dianjurkan untuk saling berbagi ilmu agar pengetahuan kita lebiah luas. Tidak ada untungnya menyembunyikan ilmu. Berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh. Jika berbagi ilmu tidak akan membuat kita bodoh, lalu masih adakah alasan bagi kita untuk tidak berbagi ilmu? Jawablah dengan jujur dan setulus hati.

Jikalau seandainya kita adalah seseorang yang kebetulan diberikan kelimpahan materi oleh Allah, maka berbagilah dengan materi yang kita punya. Karena di dalam harta yang kita miliki itu juga terdapat hak orang lain. Gunakanlah harta dan kelimpahan materi yang kita punya itu untuk bisa membantu dan memberi maanfaat kepada orang yang hidupnya masih kurang beruntung ketimbang kita. Alangkah indahnya hidup ini jika kita mampu berbagi dengan sesama melalui kelebihan harta yang diberikan Allah kepada kita. Toh, kelebihan harta yang kita miliki juga tidak akan kita bawa mati bukan? Bukankah tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah?


Kemudian jika kita tergolong orang yang bijak, maka berbagilah dengan nasehat-nasehat yang baik yang dapat mecerahkan kehidupan seseorang. Lihatlah sekeliling kita. Pekalah terhadap lingkungan. Mungkin saja banyak orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan motivasi dan semangat dari kita.

Kalaupun kita tidak memiliki semua itu, dengan senyuman pun kita bisa berbagi. Tebarkanlah senyuman kedamaian dan persahabatan di lingkungan kita. Semoga dengan senyuman tersebut bisa memberikan kedamaian dan keharmonisan pergaulan kita di tengah-tengah masyarakat. Tetap berbagi, meskipun hanya dengan senyuman yang penuh kedamaian.

Apapun profesi dan kedudukan kita di tengah masyarakat, teruslah berbagi dan meberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Menjadi orang sukses itu memang baik dan terhormat, namun jauh lebih baik dan terhormat jika kesuksesan kita itu bisa juga dirasakan dan memberi manfaat bagi orang yang ada di sekitar kita. Dengan kata lain orang yang sukses sejati itu adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Memberi tidak akan membuat kita kekurangan. Belum ada sejarahnya orang miskin karena memberi. Juga belum ada tercatat dalam sejarah orang yang bodoh karena berbagi ilmu dengan orang lain. Namun, kenyataannya adalah sebaliknya. Dengan memberi kita akan hidup berkelimpahan. Melalui berbagi kehidupan kita akan terasa lebih bermakna.
Teruslah berbagi, dan rasakan keberkahannya…!!!

*Oleh: Heru Perdana P
Padang, 18 Oktober 2011, 14:08 WIB

[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers