Persahabatan dan lika-likunya

Manusia merupakan makhluk sosial. Itu artinya kita selaku manusia, tidak akan mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena kita tidak akan mungkin mengigkari kodrat kita sebagai makhluk sosial. Bagaimana pun juga kita tetap memerlukan bantuan orang lain dalam kehidupan ini. Saya, anda dan kita semua butuh teman dan sahabat untuk melangsungkan kehidupan kita. Adalah bohong jika ada orang yang mengaku dia tidak butuh sahabat ataupun teman. Terlalu sombong seseorang jika mengatakan mampu hidup sendiri tanpa hadirnya seorang sahabat dan orang lain dalam kehidupannya.

Kehadiran seorang teman dan sahabat memang penting dalam kehidupan kita. Dengan alasan apapun itu tidak bisa kita pungkiri. Namun mencari seorang teman untuk dijadikan sahabat di kala suka dan duka bukanlah perkara mudah. Mencari seorang sahabat sejati itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Akan tetapi, mendapatkan seorang sahabat sejati juga bukan suatu hal yang mustahi. Hanya saja semuanya butuh proses dan usaha. Untuk mewujudkan itu hanya perkara waktu saja. Cepat atau lambat kita akan bisa menemukan sahabat sejati asal kita mau membuka diri. 

Dalam mencari dan memilih sahabat kita jugatidak boleh sembarangan saja. Karena ada orang bijak yang berpetuah seperti ini, “memilih seorang sahabat sama artinya dengan memilih masa depan kita”. Karena sahabat adalah cerminan diri kita sendiri. Teman yang ada ketika kita sedang bahagia, namu menghilang ketika kita sedang duka dan dirundung masalah bukanlah sahabat. Maka berhati-hatilah dam memilih dan menentukan sahabat.


Hadirnya seorang sahabat sangat berarti dalam hidup kita. Sahabat adalah orang yang nantinya kita harapkan ada ketika kita dirundung masalah kapan dan di mana pun kita berada. Ketika ada masalah dengan keluarga, ketika kita memiliki masalah di kampus, juga ketika kita ada masalah di lingkungan tempat tinggal kita dan dalam keadaan-keadaan sulit yang tidak mungkin kiranya kita lalui seorang diri. Hadirnya seorang sahabat akan sangat membantu buat kita dalam melewati masa-masa sulit. Sahabat bisa membarikan kita nasehat. Sahabat bisa menawarkan kita kenyamanan. Dan sahabat juga merupakan orang yang akan mendukung kita di kala sedang dilanda kesedihan. Ya, begitulah sejatinya sahabat. 


Kita harus sadari bahwa persahabatan tidak akan berjalan baik dan lancar-lancar saja. Kita juga harus siap bahwa konflik dan perselisihan akan turut serta mewarnai jalinan pershabatan kita, yang butuh kelapangn dada dan kejernihan pikiran dalam menyikapinya. Jika tidak pandai-pandai dalam menyikapinya maka hal itulah nantinya yang akan menjadi perusak dan bahkan bisa jadi pemutus tali pershabatan yang telah terjalin kuat. Namun jika kita bisa menyikapinya dengan arif lagi bijaksana maka konflik dan perselisihan itu kan menjadi bumbu penyedap dalam jalinan persahabatan. Bukan tidak mungkin jika disikapi dengan bijak hal itu akan menjadi lem perkat menambah eratnya tautan hati dalam persahabatan. Perselisihan pendapat dan konflik dalam persahabatan itu adalah hal biasa, yang penting itu adalah bagaiman cara kita menghadapi dan menyikapi konflik dan perselisihan itu.


Kadang kita sering kali lupa bahwa persahabatan itu perlu dijaga dan dipupuk layaknya tanaman. Jika tanaman dipupuk dengan pupuk buatan manusia, maka pershabatan juga harus dipupuk dengan saling mengahargai. Apabila tanaman disiram dengan air, maka persahabatan juga perlu disirami dengan kasih sayang dan timbang rasa secara dewasa. Jangan pernah mengabaikan sekecil apapun bantuan dari seorang sahabat, tanggapi dan hargailah secara wajar. Kadang kita hanya menuntut untuk dipahami tanpa mau memahami. Jika kita telalu lama tidak memupuk dan menyiram persahabatan, layaknya tanaman persahabatan itu juga bisa layu dan mati di dalam hati kita.


Sebelum persahabatan itu retak dan pecah berkeping-keping, maka sudah seharusnya kita menjaga dan merawatnya mulai dari sekarang. Orang bijak pernah mengatakan, “mencegah itu lebih baik dari mengobati”. Jagalah persahabatan dengan tetap berkomunikasi dengan teman. Di abad yang serba canggih ini tidak ada sulitnya untuk berkomunikasi dengan seorang sahabat walaupun dipisahkan oleh jarak, ruang dan waktu. Kita bisa gunakan bebagai media kumunikasi abad 21 untuk tetap menjaga hangatnya persahabatan. Telephone, hendphone, Facebook, dan saudara-saudaranya yang lain bisa membantu kita untuk melakukan itu semua. Tidak akan menyita waktu berjam-jam untuk mengirim sebuah SMS kepada seorang sahabat hanya untuk menyapa dan menanyakan kabarnya. Namun efeknya akan dapat mempererat tali persahabatan.


Berbicara dengan kepala dingin dan hati yang lapang dengan sahabat jika ada pertentangan pendapat atau konflik dalam persahabatan juga merupakan bagian dari cara menjaga utuhnya sebuah jalinan persahabatan. Ajaklah teman pergi jalan-jalan ke pantai atau hanya sekedar pergi minum kopi, lalu selesaikan dan bicarakan setiap persoalan dan permaslahan yang menganjal di hati dengan cerdas dan penuh kedewasaan. Jangan biasakan menyimpan dan memendam masalah sendiri apa lagi masalah itu menyangkut masa depan persahabatan, karena itu jika berlangsung lama maka akan berpotensi sebagai pemecah dan pemutus tali persahabatan.


Percayalah, tidak ada ruginya menjaga dan menjalin tali persahabatan.!!



*Oleh: Heru Perdana P

[ Selengkapnya...]
Label:

Paul Scholes, si Pemalu

Hanya ada sedikit pemain yang loyal dengan satu klub sepanjang kariernya. Salah satunya adalah Paul Scholes, salah seorang gelandang terbaik digenerasinya. Sama seperti Francesco Totti atau Paolo Maldini. Bersama Ryan Giggs, Scholes adalah pemain yang menghabiskan seluruh karirnya untuk membela Manchester united, sama sekali tak pernah berfikri untuk mencari klub lain kendati banyak tawaran main dari berbagai klub besar lainnya.

Ketika David Beckham baru pertama kali berlatih bersama tim Madrid, pertanyaan yang pertama kali muncul dari rekan barunya bukan bagaimana rasanya pindah ke Spanyol. Bukan pula akan tinggal di daerah mana di Madrid. Tentu saja bukan tentang isterinya, Victoria Adams alias Posh. Tetapi, “bagaimana rasanya bermain satu tim dengan Paul Scholes ?” Ya, Paul Scholes. Si wajah pucat yang merupakan gelandang serang Manchester United. Walaupun penggemar bola sering meremehkan pemain ini tapi dalam lingkungan sepakbola Eropa namanya memang dihormati dan dijunjung tinggi.

Dia merupakan salah satu anggota generasi emas Manchester united bersama David Beckham, Ryan Giggs, Nicky Butt, serta Neville bersaudara (Phil Neville dan Garry Neville). Tapi disbanding dengan rekan angkatannya itu Scholes seperti lepas dari radar.


Mungkin ini tak lepas dari pribadi Scholes yang pemalu dan sengaja menutup diri dari sorotan media. Dia sendiri jarang memberikan wawancara kepada wartawan, tidak pernah datang ke pesta selebriti apalagi keluyuran di club malam, sangat pendiam bahkan dengan teman-teman akrabnya. Konon selama hampir dua puluh tahun bermain sepakbola Scholes hanya empat kali memberi wawancara eksklusif. Sungguh pribadi yang tertutup. Salah satu dari sedikti pesepakbola yang tidak memiliki agen, seluruh negosiasi kontrak diurus oleh dirinya sendiri.


Ketika dipertandingan Scholes beraksi sangat hebat dan wartawan berebut untuk mewawancarainya dia langsung menghilang dari peredaran, orang tak akan tahu apa yang dipikirkannya. Jika di lapangan dia adalah seseorang yang berbahaya bahkan bisa menjadi predator bagi lawan-lawanya, tapi begitu pertandingan usai dia langsung berubah jadi pribadi yang pendiam.
Scholes termasuk yang enggan mengespresikan diri kecuali di lapangan. Setelah Eric Cantona mundur dialah yang menjadi denyut permainan MU. Permainan satu-duanya diakui pesepakbola sebagai yang terbaik di Eropa.


Imajinasinya dalam memberi umpan tidak lumrah. Yang hebatnya, menurut Ruud Gullit, mantan bintang tim Orange dan AC Milan ini mengatakan bahwa Scholes melakukan semua itu dengan sangat sederhana, bagi penonton yang menyaksikannya mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi lawan dan rekannya sering terbengong-bengong. Luar biasa !


Tak hanya sebagai pengalir serangan, dia juga bisa menciptakan gol-gol spektakuler lewat kepala dan tendangannya yang terkenal keras dan akurat, terbukti dari 458 kali tampil bagi MU ia sudah mencetak 102 gol, hmm…tidak buruk untuk seorang gelandang.


Menyebut sukses MU orang akan menyebut pemain seperti : Eric Cantona, Ryan Giggs, David Beckham, Nicky Butt, Keane, Neville bersaudara, bahkan Ronaldo dan pemain-pemain besar lainnya, Tapi cabutlah Paul Scholes dari tim Manchester united maka semua bintang itu akan mengatakan jangan.
Saat ia memilih mundur dari Tim nasional isu yang beredar adalah Sven Goran Eriksson memainkanya di posisi yang bukan menjadi posisinya dan bosan dengan gaya permainan yang ditampilkannya. Tapi dia tak pernah mengatakan apapun. Tidak mengkritik, tidak menjelekan, atau mencela. Steve McLaren yang menggantikan Eriksson berulangkali membujuknya untuk masuk tim nasional Inggris, berulangkali pula ia menolaknya dengan alasan untuk meluangkan waktu bagi keluarga.


Bahkan diusianya yang ke-35 disaat kemampuannya sudah berkurang terutama staminanya untuk menusuk kotak penalti, Fabio Capello tetap memanggilnya untuk dibawa ke Afrika Selatan namun Capello sudah menutup pintu untuk pemain dengan profil besar di Inggris, David Beckham dengan alasan sudah terlalu tua, dan Scholes kembali menolak dengan alasan salah satunya tidak enak dengan pemain Inggris yang sudah berjuang selama kualifikasi.


Ketika Manchester United bertemu AC Milan di Liga Champions. Di hadapan wartawan pelatih Milan saat itu Carlo Ancelotti (kini melatih Chelsea) mengatakan tidak ada satupun pemain MU yang akan masuk ke 11 pemain utama Milan. Padahal di situ ada Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo atau Wayne Rooney dan sejumlah nama lain. Tapi Ancelotti kemudian terdiam sejenak lalu berkata, “yahh…kecuali Paul Scholes”.



Oleh Aulia Fikri__dari berbagai sumber

[ Selengkapnya...]
Label:

Waspadai Serangan Jantung

DEWASA ini, pasien jantung cenderung meningkat, terutama di kota-kota besar. Gaya hidup tidak seimbang ditengarai merupakan pemicu utama serangan jantung.

Data terakhir World Health Organization (WHO), serangan jantung mendadak masih menjadi pembunuh manusia nomor wahid di negara maju dan berkembang dengan menyumbang 60 persen dari seluruh kematian. Sementara di Indonesia, 17 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah.

Pada umumnya, masyarakat akan mengaitkan pola dan jenis makanan sebagai penyebab penimbunan plak pada saluran arteri yang kemudian berakibat serangan jantung.

Gejala serangan jantung

Sebuah sumbatan di arteri jantung mengurangi atau sama sekali memotong suplai darah ke sebagian jantung. Hal ini menyebabkan bekuan darah dan menghentikan aliran darah arteri koroner, sehingga terjadi serangan jantung.

Serangan jantung biasanya terjadi saat bantuan medis tidak segera diterima. Sayang, sudah umum bagi orang untuk mengabaikan gejala serangan jantung. Apa saja tanda-tanda peringatan dari serangan jantung? Simak paparan The American Heart Association, seperti dikutip dari MedicineNet berikut:

1. Tekanan tidak nyaman, rasa sesak, sensasi diremas, atau nyeri di tengah dada yang berlangsung lebih dari beberapa menit.
2. Nyeri menjalar ke leher, bahu, perut bagian atas, rahang, dan lengan bagian dalam. Rasa sakit mulai dari ringan hingga intensif.
3. Mual, tubuh berkeringat, sakit gigi, sakit kepala.
4. Cemas, gugup dan/atau kedinginan.
5. Wajah pucat.
6. Meningkatnya atau denyut jantung tidak teratur.

Mengetahui tanda-tanda peringatan dini serangan jantung sangat penting untuk penanganan dan pengobatan segera. Sebab, banyak serangan jantung dimulai secara perlahan hingga banyak penderitanya tidak yakin dengan kondisi yang dialaminya.

Gejala serangan jantung bervariasi antara tiap individu, bahkan seseorang yang telah mengalami serangan jantung bisa memiliki gejala berbeda dalam serangan jantung berikutnya.

*Dari berbagai sumber

[ Selengkapnya...]
Label:

Tips & Trik Komputer

Pada kesempatan ini penulis akan mencoba memberikan tips & trik singkat kepada pembaca semua seputar ilmu komputer bagi anda yang melek mengotak-atik komputer


1. Tips Menggerakan Kursor Tanpa Mouse

Berikut saya memberikan tips untuk menggerakkan kursor dengan keyboard apabila mouse anda rusak atau anda hanya ingin coba-coba. Baiklah, Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Tekan tombol ALT (sebelah kiri)+Shift (sebelah kiri)+NumLock secara bersamaan.
Cara ini akan memunculkan windows MouseKeys.

b. Selanjutnya klik tombol Settings, beri tanda centang pada pilihan Use MouseKeys.
Nah sampai disini fungsi mousekeys sudah aktif.
lanjut baca.....>>

Silahkan coba menggerakkan kursor menggunakan tombol-tombol angka di keypad numerik.
Angka 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, dan 9 digunakan untuk menggerakkan kursor ke atas, bawah, samping kanan/kiri, dan ke arah diagonal.
Sedangkan angka 5 berfungsi seperti tombol “klik” pada mouse.
Untuk “drag & drop” gunakan kombinasi angka dengan tombol “insert”.

2.Tips Mempercepat Booting Windows XP

Mungkin anda pernah mengalami booting windows yang sangat lambat sehingga membuat anda sedikit kesal dengan komputer anda
Berikut langkah-langkahnya agar booting windows anda menjadi lebih cepat :

Langkah 1 :
Buka aplikasi notepad pada windows
Ketikkan “del c:\windows\prefetch\ntosboot-*.*/q” (Tanpa tanda kutip/bercetak biru)
dan Save as dengan nama ntosboot.bat dalam drive C:\

Langkah 2 :
Lalu klik menu Start–>Run–> dan ketikkan “gpedit.msc” (tanpa tanda kutip)

Langkah 3 :
Klik Computer Configuration–>Windows Settings–>Script–>lalu klik 2 kali pada Shutdown

Langkah 4 :
Dalam Windows Shutdown Properties klik add lalu browse. lalu cari letak file ntosboot.bat yang anda buat tadi dan klik open

Langkah 5 :
Lalu klik OK ,Apply dan OK sekali lagi untuk menyelesaikannya

Langkah 6 :
Lalu klik menu Start–>Run–> dan devmgmt.msc

Langkah 7 :
Klik IDE ATA/ATAPI controllers–>Primary IDE Channel ( Klik 2 kali untuk membuka properties )

Langkah 8 :
Pilih Advanced Settings
Pada Device 0 atau Device 1
Ganti Device Type menjadi None ( Ganti saja pilihan Device Type yang tidak terkunci )

Langkah 9 :
Klik IDE ATA/ATAPI controllers–>Secondary IDE Channel ( Klik 2 kali untuk membuka properties )
Ulangi seperti Langkah 8

Langkah 10 :
Restart Komputer anda dan anda bisa lihat perubahannya.

Mungkin saat ini saya baru bisa meberikan 2 tips tersebut mudah-mudahan dapat berguna atau setidaknya menambah pengetahuan bagi pembaca, lain kali kalau saya ada tips-tips lainnya, saya akan bagi pada pembaca semua, oh..ya tolong kirim kritik & sarannya ya, Trims



sumber : Blog Aulia Fikri

[ Selengkapnya...]
Label:

Ketelitian, Prinsip dan sebuah Perjuangan

Pagi itu tidak begitu cerah. Mentari seolah malu-malu memancarkan cahayanya. Awan masih setia bergelayut di langit menutupi ganasnya sengatan matahari. Pagi itu aku berangkat menuju kota Solok menemani seorang guruku sesuai dengan janjiku dengan beliau setelah sempat dua kali tertunda. Dengan mengendarai motor keluaran Jepang, kami berangkat menuju kota Solok sekitar pukul 09.10 WIB dengan membawa sebuah harapan seraya mengaharap ridho yang Maha Kuasa setelah sebelumnya mampir dulu ke kantor POS dan mengisi bahan bakar di SPBU.

Motor mulai dipacu menyusuri setiap jengkal aspal hitam yang dihiasi oleh lobang-lobang akibat ulah para sopir truk yang selalu saja kelebihan muatan. Ditmbah lagi dengan debu-debu jalanan yang membuat perih mata.

Tidak terasa kami telah memasuki medan yang cukum menantang. Tikungan tajam dan dihiasi lobang serta aspal yang begelombang dan membuat motor tidak bisa berlari kencang. Pendakian yang terjal yang telah membuat motor kami kehilangan tenaga untuk berlari kencang. Belum lagi suara truk-truk pengangkut batu bara yang meraung-raug di pendakian serta jurang yang terjal di samping kanan jalan membuat aku yang mengemudikan motor saat itu harus ekstara hati-hati, karena jika lengah sedikit saja mungkin nyawa kami berdua yang akan jadi taruhannya. Tentu saja aku tidak mau kelalaian membuat diriku tamat kalimat di jalan raya dan mengisi sejarah perjalannan hidupku.

Udara dingin khas pegunungan telah terasa menerpa wajahku. Medan yang kami lalui juga tidak seekstrim tadi. Lobang dan aspal yang begelombang sudah berkurang. Motor jepang yang kami tunggangi tadi juga sudah mulai menemukan tenaganya lagi dan siap berlari kencang mengantarkan kami menuju kota Solok. Motor dengan tenaga penuh meliuk-liuk di tikungan menyusuri aspal yang hitam. 


Sejurus kemudian setelah melewati sebuah tikungan aku dan guruku dikejutkan dengan segerombolan polisi lalu lintas yang tengah razia. Mereka menghetikan setiap mobil dan beberapa motor yang lewat. Untung saja kami bukan salah satu di antara pengendara yang dihentikan dan tidak perlu mendengarkan sapaan khas pak polentas berikut beberap pertanyaan klsiknya. Biasanya polisi itu akan menyapa dengan sapaan seperti ini, “selamat siang pak, maaf menganggu perjalanannya”. Dan biasanya sapaan tersebut juga akan dilenjukan dengan sebuah pertanyaan yang masih juga tetap klasik karena tidak pernah diubah redaksinya dari dulu. Pertanyaan seperti ini, : ”bisa diperlihatkan SIM dan STNKnya pak?” dan jika sedang malang sapaan dan pertanyaan klasik tadi juga akan bisa berangkai dengn beberapa pertanyaan lain dan tidak jarang berujung pada selembar surat tilang tau tawar menawar hukum bak menawar kipas angin bekas di pasar loak.


Melintasi gerombolan polisi itu motor ku pacu saja dengan gontai sembari memperhatikan mereka menananyi pengendara yang mereka hentikan. Motor terus ku pacu dengan kecepatan sedang dan sesekali-kali meliuk menyalip beberapa truk batu bara yang beriring rapi bagaikan itik pulang senja yang berjalan gontai. Perjalanan terus berlanjut sembari kami bercengkrama tentang berbagai hal termasuk pemandangan yang baru saja kami lihat tadi. Di sela-sela cengkrama kami aku sempat menanyakan tentang kelengkapan surat-surat motor. STNK ada, dan SIM pun sudah di tangan. Tidak ada lagi yang perlu dirisaukan, begitu batinku bergumam.


Namun, belum selesai kami berbincang soal peandangan tadi, aku dan guruku sudah dikejutkan dengan sekelompok polisi berseragam lengkap sedang mengelar razia dan lebih banyak dari yang kami temukan sebelumnya. Kali ini semua kendaraan diberhentikan oleh mereka tak terkecuali motor yang kami tunggangi. Karena merasa lengkap, dengan pedenya akupun segera menepi dan berhenti. Lalu seorang polisi mengahampiri kami dan mengucapkan salam klasik seperti yang ku sebutkan tadi.


Aku segera menunjukan SIM dan STNK. Dipandangnya SIM dan STNK tersebut sembari sesekali dia melihat ke arah wajahku, seolah ingin mencocokkan foto yang ada di SIM itu adalah aku. Dan sayangnya aku dan guruku adalah salah satu dari orang yang sedang tidak beruntung kala itu dan harus mendapatkan pertanyaan lain dari polisi tersebut. Ternyata lampu rem motor yang kami kendarai warnanya bening dan itu menyalahi.


“Ini kenapa kok lampu remnya bening?”, begitu pak polisi berseragam lengkap dengan tanda pangkat di bahu menanyaiku. Aku diam saja dan mengerenyitkan dahi, tidak tahu mau jawab apa.


“Mari kita selesaikan di sana!”, ajaknya sambil menunjuk sebuah mobil patroli. Bagai kerbau yang ditusuk hidungnya aku mengikuti polisi itu. Selembar surat tilang dikeluarkanya. Dan aku masih saja tetap diam. Sebelum dia menulis surat tilang tersebut masih sempat aku melihat tatapan wajah polisi berpangkat briptu ──yang belangkan aku ketahui dari selembar surat tilang yang aku terima── kepada kami seolah mengisyaratkan kami mau melakukan tawar menawar hukum dengannya. Namun kami tidak melakukannya dan hanya diam menungu dia selasai menulis surat tilang.


Sambil menunggu pak polisi itu selesai menulis, di dalam diam aku mengutuk diriku. Kenapa aku tidak pastikan kalau motor yang kami bawa itu aman. Aman dari resiko kecelakaan dan aman dari razia polisi. Ya, begitulah kekhilafan dan kecerobohanku. Andai saja aku mengamalkan dan tidak mengabaikan sebuah kata “ketelitian” yang sering diteriak-teriakan di depan kelas oleh guruku kala aku masih memakai seragam sekolahan dulu, muungkin saja hal itu tidak akan terjadi dan kami tidak perlu berurusan dengan polisi dan harus mengikuti siding seminggu setelahnya. Ternyata sebuah ketelitian memang sangat penting dalam hidup ini. Satu pelajaran yang dapat aku petik, jangan sekali-kali abaikan kata-kata “ketelitian” jika kamu tidak mau berurusan dengan polisi dan harus mengiuti sidang. Ketelitian adalah kata sederhana yang jika diabaikan akan membuat masalah bagi yang mengabaikannya.


Setelah menyelesaikan semuanya dan menerima selembar surat tilang dari polisi berpangkat briptu tadi, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Di jalan aku bertanya kepada guruku.


“Ustadz──begitulah aku dari dulu memanggil beliau── kenapa tidak dikasih uang saja dan kita tidak usah repot-repot lagi ke solok untuk sidang”, ujarku. 


Dengan tenang beliau menjawab, “ini adalah masalah prinsip, bukan soal uang dan waktu. Ustadz, hanya tidak ingin melangar prinsip yang telah jadi harga mati dan tidak bisa ditawar lagi. Kita pernah menulis tentang itu, tidak mungkin bukan kita sendiri yang akan melanggarnya? Jika berbicara saja lalu dilanggar maka akan diganjar dengan “kaburamaqtan” sebagaiman yang telah termaktub di dalam al-qur’an, apa lagi yang kita tulis dan kemudian kita sendiri yang melanggar di mana semua orang bisa membacanya ”. Aku hanya mengangkuk takzim sembari tetap fokus mengendarai motor yang kami tunggangi.


Satu hal lagi pelajaran yang aku dapatkan di jalan raya Padang-Solok, tentang arti sebuah “prinsip”. Kadang untuk menegakkan sebuah prinsip yang kita buat kita butuh sedikat atau mungkin saja pengorbanan yang banyak. Seperti yang telah kami──Aku dan guruku── alami ini. Kami harus rela ikut ikut sidang dan kembali merogoh kocek untuk biaya trasportasi kami ke Solok seminggu setelahnya serta merelakan waktu kami untuk itu semua. Namun satu keyakinan dalam hatiku, bahwa Tuhan tidak akan sia-sia dengan semua itu. 


Dan pelajaran yang paling berharga dari semua yang telah aku alami itu adalah tentang sebuah harapan untuk menuju kesuksesan itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Semua butuh proses dan perjuangan serta pengorbanan. pengorbana uang, waktu, dan pikiran serta perasaan. 


Sukses tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan dan tanpa istiqamah.



*Oleh: Heru Perdana P──Sebuah Catatan──

[ Selengkapnya...]
Label:

Totalitas Total Football

Total Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.

Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.

Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda"

Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.

Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.

Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.

Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.

Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.

Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.

Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.

Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.

Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.

Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?

Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.

Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.

Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.

Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.

Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.

Lalu apa yang dilakukan?

Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.

Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.

Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.

Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.

Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.

Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.

Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.

Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.



*Oleh: Aulia Fikri__Dari berbagai Sumber


[ Selengkapnya...]
Label:

Warisan Mentalitas

Apa persamaan Argentina dan Indonesia? Kalau pertanyaan ini dikemukakan dalam konteks sepakbola, mungkin cukup banyak orang yang menganggapnya lelucon belaka. Boleh jadi yang muncul adalah jawaban guyonan juga. Misalnya persamaan kompetisi liga Argentina maupun Indonesia, sama-sama dimeriahkan oleh Mario Kempes. Bedanya di Argentina Kempes tampil lagi hebat-hebatnya. Sedangkan penonton liga Indonesia dan klub Pelita Jaya cuma kebagian ampasnya. 
Atau jangan-jangan malah jawaban konyol ini yang anda berikan. Yang namanya main bola tak di Argentina ataupun Indonesia, sama-sama dimainkan11 lawan 11 orang yang merebutkan satu bola. Ya, masih banyak lagi jawaban-jawaban aneh yang mungkin tercetus. Intinya, memang sulit mencari persamaan yang rasional di antara kedua negara. Ibaratnya, jarak yang memisahkan persepakbolaan Indonesia dan Argentina bagaikan langit dan bumi. Begitu jauhnya.

Sesungguhnya, cukup banyak kok ihwal persamaan antara kedua negara apalagi bila meluas ke sisi-sisi kehidupan di luar lapangan hijau. Misalnya dari segi politis Indonesia dan argentina sama-sama tergolong negara Dunia Ketiga dan Perserikatan Bangsa Bangsa. Keduanya juga bergiat dalam gerakan Non-Blok, meskipun kini tak jelas lagi menghadapi persaingan blok Amerika lawan siapa. Sama-sama dikategorikan masih belajar berdemokrasi. Hanya saja, Argentina lebih dulu menikmati iklim keterbukaan itu.

Makanya Liga Indonesia maupun Argentina sama-sama masih sering diwarnai kerusuhan massa. Fanatisme yang kelewat sempit sehingga di Argentina memunculkan kelompok pendukung Barrabravas yang sama berandalnya dengan Bonek di Indonesia.

Fakta paling nyata dari kesamaan itu adalah kondisi klub sepakbola kedua negara. Rupanya, seperti di Indonesia klub-klub Argentina pun gemar menunggak gaji pemainnya. Bahkan tunggakan itu sudah sedemikian besarnya sampai-sampai para pemain tak tahan lagi. Mereka akhirnya mogok. Kendati tak sampai membatalkan kompetisi seperti dengan gagah-berani pernah terjadi di Tanah Air.

Satu hal lagi yang tak kalah penting ialah latar belakang sejarahnya. Sama-sama pernah dijajah kaum kolonialisme selama berabad-abad. Argentina dikuasai Spanyol selama lebih dari 2,5 abad, adapun Indonesia diperbudak Belanda selama 3,5 abad plus bonus diduduki Jepang selama 3,5 tahun. Pada titik faktor-faktor kesamaan itu kemudian menjadi kian menarik. Bahkan, menurut saya bisa jadi faktor krusial yang menentukan perjalanan kedua bangsa pada masa-masa selanjutnya. Setidaknya dalam bidang tendang menendang si kulit bundar.

Entah mengapa sebagai penjajah, Belanda seperti bukan sosok guru yang ideal. Coba kita perhatikan negeri-negeri bekas jajahan Belanda, adakah yang sukses di lapangan hijau? Nyaris tak ada. Indonesia, Suriname, atau Antiles cuma noktah kecil dalam percaturan sepakbola dunia. Mungkin cuma nama Afrika Selatan yang bisa jadi pengecualian. Tapi jangan lupa, kehadiran Belanda di Afrika Selatan tidak begitu berbekas. Terhadap Indonesia, negeri jajahannya Belanda praktis tak meninggalkan warisan apapun yang bisa dibanggakan. Tidak sistem pembinaan, infrastuktur, apalagi kultur sepakbola yang kuat.

Bahkan, maaf, Belanda juga tidak mewariskan bibit unggul pemain berpostur Eropa. Postur orang Indonesia, ya, tetap saja khas Asia. Tak terlalu jangkung tidak juga pendek. Tak terlalu kurus tidak juga bisa dibilang kekar.
Mungkin warisan Negeri Tulip itu cuma mengantarkan tim Hindia-Belanda ke percaturan Piala Dunia 1938. Sesuatu yang mungkin terasa sangat sulitl dicapai timnas kita.

Disitulah bedanya dengan Argentina. Sebagai penjajah, Spanyol memang hampir sama serakahnya dengan Belanda terutama menyangkut kekayaan alam. Namun Spanyol cukup berbaik hati mewarisi koloninya itu dengan beragam sisi positif. Misalnya proses pertukaran gen yang berlangsunsung secara produktif. Sehingga postur-postur orang Argentina nyaris tak ada bedanya dengan kebanyakan orang Eropa. Sependek-pendeknya Diego Maradona, Pablo Aimar, Ariel Ortega, atau Lionel Messi toh masih di atas 165 cm.

Budaya persepakbolaan juga tumbuh subur di sana secara positif. Mereka mengembangkan sepakbola dengan klub bukan perserikatan, seperti di Indonesia sebagai basisnya. Makanya, usia klub-klub Argentina banyak yang sudah di atas satu abad. Suka-tak suka, semakin panjang usia klub semakin matang penerapan dasar-dasar profesionalisme.


Namun di atas semua itu, saya kira yang terpenting adalah warisan mentalitasnya. Selama dijajah Belanda dengan politik adu dombanya, mereka lebih banyak mengajari kita saling curiga dan memusuhi sesama anak bangsa. Sehingga minimal dalam sepakbola, melahirkan sikap negatif kurang bisa menghargai lawan. Apalagi menerima kekalahan secara dewasa. Padahal justru itulah pilar utama semangat kompetisi yang sehat. Manakala kita bisa mengakui kelebihan lawan, di situlah kita menemukan titik terang untuk melangkah lebih maju.

Spanyol mungkin tak sangggup mewariskan mentalitas gentleman ala Inggris bagi negeri-negeri persemakmurannya. Namun, setidaknya mereka masih mau mengajari orang Argentina bagaimana selalu berfikir positif dang menghargai nilai-nilai persaingan yang seahat. Mentalitas semacam itulah yang dibawa orang Argentina ke perantauan. Makanya, jarang sekali kasus-kasus aneh dan kontroversial melibatkan pemain Argentina.

Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Diego Milito, Carlos Tevez atau Angel Di Maria adalah anak-anak manis yang menyenangkan hati para pengurus dan pemilik klub. Benar, Maradona memang badung tapi, selama membela Napoli, ia memberikan sepenuh kemampuannya untuk membawa klub itu juara Serie A untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Citra pemain Argentina di Eropa memang diidentik dengan kerja keras, disiplin dan kooperatif. Di sisi lain sebagai orang Amerika Selatan, aroma Latin tetap tak bisa dilepaskan dari diri mereka.
Dan tentunya kita berharap agar pemain Indonesia bisa seperti pemain Argentina, bekerja keras dan disiplin tinggi sehingga tim nasional Indonesia bisa perlahan bangkit dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan, setidaknya di Asia ataupun Asia Tenggara, sebagai langkah awal kita berharap gelar juara Piala AFF 2010 ini bisa direbut oleh timnas kita. Mudah-mudahan.



*OLeh: Aulia Fikri__Dari berbagai sumber







[ Selengkapnya...]
Label:

Search

Tentang Saya

Foto Saya
Heru Perdana
Menulis adalah sarana pembebasan jiwa
Lihat profil lengkapku

Add Me on Facebook

Download

Download ebook gratis Download ebook gratis

Blog Info

free counters
Powered by  MyPagerank.Net

Followers